NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Di Balik Pegunungan Berangin

Setelah meninggalkan Kuil Pertama, perjalanan rombongan menuju ke timur laut menjadi semakin sulit. Medan yang dilalui berubah dari hutan lebat menjadi lereng bukit yang terjal dan berbatu. Angin yang berhembus dari arah puncak gunung terasa kencang dan menusuk, membawa butiran pasir halus yang membuat pandangan menjadi kabur. Di sinilah mereka mulai memasuki wilayah yang dikenal sebagai Pegunungan Berangin — tempat yang namanya sudah cukup menggambarkan bahayanya.

“Di tempat ini, angin bukan sekadar hembusan udara biasa,” kata Kaelen sambil menstabilkan langkahnya di atas jalanan yang miring. “Konon, angin di sini membawa gema kenangan dan suara-suara masa lalu yang bisa membingungkan pikiran siapa saja yang tidak waspada. Kita harus tetap berjalan berdekatan dan tidak terpisah satu sama lain.”

Mereka mengikatkan ujung jubah mereka dengan tali tipis namun kuat, agar jika ada yang tergelincir atau terhanyut hembusan angin, bisa segera ditarik kembali. Valerius berjalan di bagian paling depan, memegang tongkat penunjuk arah yang ujungnya mulai memancarkan cahaya keemasan samar, seolah merespons keberadaan Permata Bumi yang tersimpan di dalam kotak pelindungnya. Di sampingnya, Elara tetap melangkah mantap, sesekali mengangkat tangannya untuk merasakan aliran energi di udara, menjadi penunjuk arah alami yang membantu mereka menghindari jalur yang paling berbahaya.

Setelah mendaki selama sehari penuh dan beristirahat sebentar saat malam tiba, mereka akhirnya tiba di sebuah celah besar di antara dua puncak gunung. Di ujung celah itu, terdengar suara gemuruh air yang keras namun teredam oleh deru angin. Di depan mata mereka terbentang pemandangan yang menakjubkan sekaligus menakutkan: sebuah air terjun raksasa yang jatuh dari ketinggian ratusan meter, namun airnya tidak terlihat mengalir turun dengan bebas — melainkan berputar-putar membentuk pusaran raksasa yang terus bergerak berlawanan arah jarum jam, seolah ditahan oleh kekuatan gaib.

“Ini dia Gua Air Terang,” kata Valerius sambil menunjuk ke balik tirai air yang berputar itu. “Permata Air tersembunyi di dalam ruangan utama gua di balik air terjun ini. Namun, tidak sembarangan orang bisa melewatinya tanpa terseret ke dalam pusaran.”

Mereka mendekati tepi kolam yang terbentuk di dasar air terjun. Airnya terlihat sangat jernih hingga bisa melihat ke dasarnya yang dalam, namun suhunya terasa sedingin es, bahkan hingga jarak beberapa meter dari tepiannya. Saat Elara mendekatkan tangannya ke permukaan air, ia merasakan denyutan energi yang kuat namun tenang, sangat berbeda dengan hawa negatif yang menyelimuti wilayah sekitarnya.

“Air ini mengandung energi yang murni,” katanya kepada yang lain. “Namun ia juga sangat peka terhadap perasaan dan niat orang yang mendekatinya. Jika kita mendekatinya dengan rasa takut atau ragu, ia akan menjadi ganas dan menolak kita.”

Valerius mengangguk setuju. “Catatan kuno menyebutkan bahwa untuk masuk, kita harus membiarkan air itu mengenali kita terlebih dahulu. Kita tidak bisa melawannya dengan kekuatan, melainkan harus menyatu dengan alirannya.”

Dengan hati-hati, mereka mendekat semakin dekat ke dinding air yang berputar. Begitu jari kaki Valerius menyentuh permukaannya, air yang tadinya terasa keras dan dingin perlahan melunak, membuka sebuah lorong berongga yang cukup lebar untuk dilewati, seolah menyambut kedatangan mereka. Namun lorong itu hanya terbuka sebentar, dan jika mereka ragu sedetik saja, air itu akan menutup kembali dengan cepat.

“Cepat, ikuti saya!” seru Valerius, lalu melangkah masuk lebih dulu. Elara segera mengikuti di belakangnya, diikuti oleh Kaelen dan para prajurit. Begitu mereka semua masuk ke dalam, dinding air segera menutup kembali di belakang mereka, memisahkan dunia luar yang berangin dengan tempat baru yang hening dan damai.

Suasana di dalam gua terasa sangat kontras dengan luarnya. Suara gemuruh air masih terdengar samar, namun tidak lagi mengganggu. Dinding guanya terbuat dari batu kristal yang memantulkan cahaya air, menciptakan pantulan warna-warni yang indah dan berkilauan. Udara di dalamnya terasa lembap namun segar, membawa aroma air pegunungan yang murni.

Mereka berjalan menyusuri lorong yang semakin melebar hingga akhirnya sampai di ruangan tengah yang luas. Di sana, di atas sebuah alas batu yang dikelilingi oleh genangan air bening, tergeletak batu bundar sebesar kepalan tangan, berwarna biru cerah yang memancarkan cahaya lembut — itulah Permata Air.

Namun sebelum mereka bisa melangkah lebih dekat, permukaan air di sekeliling alas itu beriak hebat. Dari dalam genangan itu muncul sosok yang terbentuk sepenuhnya dari air yang membeku menjadi wujud tinggi yang anggun, dengan mata yang bersinar seperti air laut dalam. Suaranya terdengar seperti aliran sungai yang tenang namun memiliki kekuatan yang mendalam.

“Selamat datang, pencari kebenaran. Aku adalah penjaga Permata Air. Air adalah unsur yang selalu berubah, mengikuti arus, namun tetap memiliki arah dan tujuan. Ia bisa menyejukkan kehidupan, namun juga bisa menghanyutkan apa pun yang menghalanginya. Jika kalian ingin mengambil kekuatan ini, kalian harus membuktikan bahwa kalian bisa memahami makna keseimbangan dan ketenangan.”

Sekali lagi, cahaya dari penjaga itu menyelimuti ruangan, dan ujian pun dimulai. Namun kali ini, tantangannya terasa berbeda dari sebelumnya. Di depan mereka, lantai gua berubah menjadi hamparan air yang luas dan tenang, namun terlihat tidak berujung.

“Langkah pertama menuju kekuatan adalah menguasai diri sendiri,” lanjut suara itu.

"Berjalanlah menuju permata itu. Namun ingat, setiap kali pikiranmu bergejolak atau hatimu dipenuhi emosi berlebih, air ini akan menjadi gelombang yang akan menjatuhkanmu. Hanya ketenangan yang akan menjaga pijakanmu tetap kokoh.”

Valerius melangkah maju lebih dulu, berusaha mengatur napas dan menenangkan pikirannya. Awalnya langkahnya terasa ringan, dan air itu hanya menopang telapak kakinya tanpa membasahi sepatunya. Namun ketika ia teringat akan bahaya yang mengancam kerajaannya dan rasa khawatir akan keselamatan Elara, hatinya berdebar lebih kencang. Seketika, air di bawah kakinya beriak dan naik sedikit, membuatnya terhuyung hampir terjatuh. Ia segera menutup matanya, mengusir segala kekhawatiran, dan kembali memusatkan perhatian pada keseimbangan batinnya. Perlahan, air itu kembali tenang.

Melihat hal itu, Elara pun melangkah menyusulnya. Ia mengingat pelajaran yang ia dapatkan di dunia asalnya: bahwa untuk mengatasi badai, seseorang tidak perlu melawannya secara langsung, melainkan harus tetap tenang dan membiarkannya berlalu. Ia membayangkan dirinya seperti daun yang terapung di sungai — tetap berada di permukaan meski arusnya bergerak cepat. Hatinya terasa damai, pikirannya jernih tanpa beban, dan setiap langkahnya terasa ringan dan pasti.

Melihat ketenangan Elara, Valerius pun mendapatkan kekuatan baru. Ia mengikuti ketenangan itu, dan bersama-sama mereka melangkah berdampingan melintasi hamparan air yang luas itu. Setiap kali salah satu dari mereka mulai merasa terguncang, sentuhan tangan mereka yang saling menggenggam menjadi pengingat untuk kembali tenang. Ikatan di antara mereka menjadi penyeimbang yang sempurna.

Saat akhirnya mereka berdiri tepat di depan alas tempat Permata Air berada, penjaga itu muncul kembali, kali ini dengan ekspresi yang lebih lunak.

“Kalian telah membuktikan bahwa kalian mengerti. Kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan mengendalikan segala sesuatu di luar diri, melainkan pada kemampuan mengendalikan apa yang ada di dalam hati dan pikiran. Air akan mengikuti mereka yang tahu kapan harus mengalir dan kapan harus tenang.”

Cahaya biru yang menyelimuti penjaga itu kemudian mengalir masuk ke dalam Permata Air, membuatnya bersinar lebih terang dan memancarkan energi yang menyebar ke seluruh penjuru gua.

“Ambillah, dan biarkan kekuatannya melindungi kalian serta menyejukkan tanah yang sedang menderita. Namun ingat, semakin banyak kekuatan yang kalian kumpulkan, semakin jelas keberadaan kalian bagi Morgrath. Ia pasti akan mengirimkan hambatan yang lebih berbahaya lagi untuk merebut kembali apa yang menjadi miliknya.”

Valerius mengulurkan tangannya dan mengambil permata itu. Begitu disentuh, ia merasakan aliran energi yang menyejukkan mengalir menyatu dengan kekuatan dari Permata Bumi yang sudah ia miliki sebelumnya. Dua kekuatan itu saling melengkapi, memberikan rasa seimbang yang baru dalam dirinya.

Mereka kembali melangkah mundur menuju pintu keluar, dan begitu melintasi dinding air terjun itu lagi, pemandangan di luar sudah berubah. Angin kencang yang tadinya menerpa wajah mereka kini berhembus lebih lembut, awan gelap yang menutupi langit mulai menipis, dan di kejauhan terlihat sungai-sungai kecil yang airnya mulai jernih kembali mengalir turun ke lembah.

Namun kegembiraan itu terhenti saat Kaelen tiba-tiba berseru dan menunjuk ke arah selatan. Di langit yang baru saja cerah itu, terlihat awan hitam tebal yang bergerak sangat cepat, disertai kilatan cahaya merah yang melesat di dalamnya. Dari balik awan itu, terdengar suara tawa yang menggelegar dan menusuk telinga, membuat tanah di bawah kaki mereka sedikit bergetar.

“Bagus sekali… kalian telah bergerak lebih cepat dari yang kuduga,” terdengar suara berat dan dingin yang bergema di udara, milik Morgrath sendiri. “Namun jangan kira perjalanan ini akan semudah itu. Aku akan membuat kalian merasakan penderitaan yang sama seperti yang aku alami selama ratusan tahun terkurung!”

Suara itu menghilang seketika, namun ketegangan yang ditinggalkannya terasa terasa menyesakkan dada. Valerius memegang erat kedua permata di dalam kotak pelindungnya, matanya menatap tajam ke arah awan yang bergerak menjauh.

“Ia sudah mulai menyerang kita secara langsung,” katanya dengan nada tegas. “Kita hanya memiliki dua dari tujuh permata. Masih ada lima lagi yang harus dicari, dan waktu kita semakin sedikit.”

Elara menoleh ke arahnya, matanya bersinar dengan tekad yang tak tergoyahkan. “Maka kita tidak boleh berhenti. Di mana permata berikutnya?”

“Menurut peta, Permata Api tersembunyi jauh di dalam Kawah Berasap, di sebelah barat daya. Tempat itu adalah wilayah yang paling berbahaya, karena paling dekat dengan sumber energi kegelapan itu sendiri.”

Mereka memandang satu sama lain, lalu mengangguk bersama. Dengan dua kekuatan baru yang kini melindungi mereka, dan ikatan hati yang semakin kuat, mereka melanjutkan langkahnya ke arah bahaya yang semakin mendekat. Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai, dan mereka harus terus melaju sebelum kegelapan itu melahap seluruh cahaya di Aetheris.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!