Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendapat Cassia
Setelah makan siang, Edward dan Sasha pamit duluan dengan alasan ada rapat lain. Cassia tetap duduk di kursinya, menunggu perintah dari Max.
Pria itu sedang menatap jendela kaca, ke arah jalanan yanh cukup padat siang itu.
"Tuan Max, kita kembali ke kantor?" Cassia akhirnya bersuara.
Max tidak menjawab. Cassia menunggu. Satu menit, dua menit. Kebisingan restoran mulai mereda karena sebagian besar pengunjung sudah kembali bekerja.
"Apakah menurutmu aku orang yang brengsek?"
Cassia terkejut. Bukan karena kata-katanya, tapi karena Max jarang sekali mengajukan pertanyaan pribadi. Apalagi pertanyaan seperti itu.
"Aku tidak berhak menilai, Tuan."
"Tapi kau punya pendapat. Semua orang punya." Max akhirnya menoleh. Matanya serius. "Kau sudah bekerja untukku satu tahun, Cass. Selama itu, kau belum pernah mengatakan satu kalimat pun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Apa kau takut padaku? Atau kau menganggapku pria brengsek seperti yang lain?”
Cassia menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang. "Aku tidak tak berpikiran seperti itu, Tuan. Aku juga tidak takut. Aku hanya menjaga profesionalisme dan menghormati anda."
"Kau selalu tenang dan tak banyak bicara atau bertanya. Itu yang kusuka darimu. Kau juga sangat profesional.”
Jantung Cassia semakin berdebar. Dia tak menyangka sang bos akan memujinya seperti itu, meskipun itu masih dalam koridor pekerjaan. “Hidup akan lebih mudah jika kita menjaga jarak yang jelas," Cassia menambahkan dengan suara rendah.
Max menatapnya lama. Terlalu lama. Cassia ingin mengalihkan pandangan, tapi tidak bisa. Ada sesuatu di mata pria itu, tapi bukan gairah atau ketertarikan romantis. Mungkin hanya sekadar keingintahuan.
"Kita kembali ke kantor,” ucap pria itu tiba-tiba.
"Baik, Tuan."
*
*
*
Beberapa hari berlalu. Begitu cepat hingga Cassia hampir tidak menyadari pergantian waktu jika bukan karena alarm di ponselnya berbunyi.
Dan akhirnya pesta jamuan bisnis itu datang.
Sejak pukul sepuluh pagi, Cassia sudah menerima pesan pendek dari manajer butik, Elizabeth.
[Hari ini jangan lupa ke salon yang sudah aku pesankan. Jangan telat]
Sekarang Cassia sudah berdiri tepat di depan pintu pintu setelah keluar dari lift, pukul setengah dua belas siang, dengan pakaian rapi.
"Nona Cassia?" Seorang wanita berjas putih menyambutnya dengan senyuman profesional. "Selamat siang. Elizabeth sudah menginformasikan kedatangan Anda. Silakan masuk."
Cassia masuk dan sedikit canggung.
"Aku akan didampingi oleh kepala salon kami, Nyonya Vera," kata wanita berjas putih itu sambil mempersilakan Cassia duduk di sofa empuk. "Mohon tunggu sebentar."
Cassia duduk dengan kaku. Tangannya meremas tali tas selempangnya. ‘Ini hanya perawatan biasa,’ ujarnya dalam hati. Bukan untukmu, tetapi untuk pekerjaan. Untuk mewakili perusahaan.
*
*
Lima menit kemudian, seorang wanita paruh baya dengan gaya rambut bob pendek dan busana hitam elegan menghampirinya.
Vera menatap Cassia dari ujung rambut hingga ujung sepatu, lalu tersenyum.
"Cassia, ya?" Vera duduk di seberangnya. "Wah, aku mendapat tantangan hari ini."
Cassia mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Jujur. Kau punya bahan mentah yang bagus, tapi kau seperti ... menyembunyikannya." Vera menggeleng kecil. "Jangan khawatir. Aku akan mengubahmu menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri. Bukan menjadi orang lain, tetapi menjadi Cassia yang tidak pernah berani keluar selama ini."
Kata-kata itu anehnya menusuk sesuatu di dalam hati Cassia. Vera seperti tahu segala apa yang dirasakan oleh Cassia.
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭