Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERJASAMA YANG TAK TERDUGA
Kirana menghabiskan bubur di mangkuk itu sampai tandas, meskipun tenggorokannya terasa perih saat menelan. Setiap suapan seolah menjadi amunisi baru bagi tubuhnya yang sempat mati rasa. Setelah berminggu-minggu hanya diberi makan nasi basi di dalam sel, kehangatan makanan ini perlahan mengembalikan kesadarannya secara penuh.
Dengan bertumpu pada tiang ranjang, Kirana memaksakan diri untuk turun. Rasa nyeri yang teramat sangat langsung menjalar di sepanjang tulang rusuk dan punggungnya, membuat napasnya sempat tertahan. Namun, ia menolak untuk kembali berbaring. Cangkang rapuh Kirana yang pasrah telah mati di ruang bawah tanah; kini yang tersisa adalah insting waspada yang menuntutnya untuk terus bergerak.
Ia melangkah tertatih-tatih mendekati pintu kamar, membukanya sedikit, lalu menyelinap keluar.
Apartemen Raditya sangat luas, didominasi warna abu-abu gelap dan dinding kaca besar yang menampilkan lanskap gedung-gedung pencakar langit Kota Valerion yang basah oleh sisa hujan. Di ruang tengah, Raditya sedang duduk di balik meja kerja kayu yang penuh dengan tumpukan berkas dan beberapa layar monitor yang menyala.
Mendengar langkah kaki yang diseret, Raditya mendongak. Ia meletakkan penanya, menatap Kirana yang berdiri bersandar pada bingkai pintu dengan wajah pucat, rambut kusut, dan tubuh yang masih sedikit gemetar.
"Kamu nekat," komentar Raditya datar. "Dokter bilang kamu harusnya istirahat total minimal tiga hari lagi."
"Saya tidak punya waktu untuk tidur," balas Kirana, suaranya masih serak namun terdengar dingin. Ia berjalan mendekati sofa, lalu duduk dengan sangat hati-hati agar tidak menekan luka-luka di punggungnya.
Raditya menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan kaki, lalu menatap Kirana lekat-lekat. Ia membuka salah satu laci mejanya, mengeluarkan selembar kertas tebal, lalu berjalan mendekat dan meletakkannya di atas meja kopi di depan Kirana.
Dari jarak dekat, Kirana bisa melihat dengan jelas apa itu: sebuah selebaran poster dengan foto dirinya. Di bawah foto itu tertulis cap besar: "DICARI: BURONAN KASUS PENCURIAN DAN PEMERASAN."
"Sejak kemarin pagi, orang-orang dari Distrik Amethyst menyebar selebaran ini ke seluruh sudut Valerion," ujar Raditya, nadanya tetap tenang tanpa riak. "Mereka bahkan menyuap beberapa oknum di jalanan untuk mencarimu. Nilai imbalan untuk kepalamu sangat tinggi."
Kirana mengepalkan tangannya di atas pangkuan hingga kuku-kukunya memutih. Ketakutan sempat menyengat jiwanya, namun dengan cepat ia kuasai kembali. Ia menatap mata elang Raditya, mencoba mencari tahu apa motif laki-laki ini menyembunyikannya dari kejaran Broto dan Baskara.
"Lalu kenapa kamu masih menahanku di sini?" tanya Kirana menantang. "Kamu tahu aku buronan mereka. Kamu bisa menyerahkanku sekarang dan mendapatkan imbalan itu."
Raditya tidak langsung menjawab. Ia menatap perban yang melilit leher Kirana, lalu beralih ke arah jas panjang pria milik Gunawan yang sempat ia amankan malam itu. Raditya tahu ada cerita yang teramat kelam dan mengerikan di balik kondisi tragis gadis di hadapannya ini. Tubuh yang penuh memar disengaja, baju kurung yang robek, dan ketakutan hebat saat pertama kali sadar.
Namun, Raditya memilih untuk tidak bertanya. Ia tahu, ada luka yang terlalu berdarah untuk dipaksa dibuka dengan pertanyaan.
"Aku tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi padamu di Distrik Amethyst, dan aku tidak akan bertanya urusan apa yang membuatmu dikejar seperti ini," ucap Raditya, suaranya terdengar berat dan tegas. "Aku juga tidak tertarik dengan uang imbalan dari orang-orang kotor itu."
Raditya melangkah mendekati dinding kaca, menatap jalanan kota di bawah sana.
"Alasanku menolongmu sederhana. Orang yang mencarimu adalah orang-orang dari jaringan keluarga Jaya. Dan siapa pun yang menjadi musuh dari keluarga Jaya... adalah sekutuku." Raditya berbalik, menatap Kirana dengan sorot mata yang mendadak dipenuhi kobaran dendam. "Lima tahun lalu, keluarga Jaya merebut paksa aset perusahaan ayahku secara licik, hingga membuat ayahku terkena serangan jantung dan meninggal. Aku sudah lama mencari celah untuk menghancurkan mereka, tapi mereka terlalu rapi bersembunyi di balik bisnis hitam kota ini."
Kirana tertegun. Takdir ternyata mempertemukannya dengan orang yang memiliki akar kemarahan yang sama. Laki-laki di hadapannya ini memiliki kekuasaan dan uang, sementara dirinya memiliki nekat yang tak terbatas dan dendam yang sudah sampai ke ubun-ubun.
Kirana menegakkan punggungnya, mengabaikan rasa perih yang menusuk-nusuk kulitnya.
"Keluarga Jaya sudah menghancurkan hidupku, merenggut ibuku, dan membuat adik-adikku telantar," ucap Kirana, suaranya bergetar oleh amarah yang terstruktur. "Aku tidak butuh belas kasihanmu, Raditya. Aku hanya butuh tempat untuk bersembunyi sampai tubuhku pulih, dan beri aku akses untuk bergerak di kota ini. Aku akan memastikan mereka membayar setiap tetes darah yang tumpah."
Raditya berjalan mendekati sofa, lalu mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Kirana.
"Aku tidak akan mencampuri masa lalumu, Kirana. Aku akan menjadi perisaimu di kota ini, menyediakan apa pun yang kamu butuhkan untuk pulih," ucap Raditya. "Sebagai gantinya, gunakan dendammu untuk membantuku meruntuhkan mereka."
Kirana menatap telapak tangan Raditya sejenak. Tanpa ragu, ia menyambut uluran tangan itu, mencengkeramnya dengan kuat. Aliansi tanpa tanya telah terbentuk malam itu. Di atas puing-puing jiwanya yang hancur, 'Mawar Hitam' kini telah menemukan duri-duri baru yang siap ia gunakan untuk menusuk jantung para musuhnya.