NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Gerakan Kecil

Pagi itu Rubi terbangun lebih awal dari biasanya.

Sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar, membuat ruangan yang luas itu terasa sedikit hangat. Untuk beberapa saat ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit.

Sudah hampir dua minggu sejak ia terbangun di tubuh Rubi Casandra Dimitri.

Dua minggu yang terasa aneh.

Kadang ia masih merasa seperti orang asing di rumah ini.

Namun di sisi lain, perlahan-lahan ia mulai terbiasa.

Rubi mengusap perutnya yang kini semakin terlihat membesar.

Sejak beberapa hari terakhir ia sering melakukan itu tanpa sadar.

Bahkan terkadang ia berbicara sendiri kepada bayi yang ada di dalam kandungannya.

Meski terdengar aneh.

Tetapi hal itu membuatnya merasa tidak sendirian.

"Pagi..."

gumamnya sambil tersenyum kecil.

Tak lama kemudian seorang pelayan masuk membawa sarapan.

"Nyonya muda sudah bangun?"

"Sudah."

Pelayan itu membantu menyiapkan meja kecil di dekat jendela.

Rubi memperhatikan makanan yang disajikan.

Sup hangat.

Roti panggang.

Buah segar.

Dan susu khusus ibu hamil.

Entah kenapa akhir-akhir ini semua orang di mansion seolah berlomba memastikan dirinya makan tepat waktu.

Dan ia tahu siapa penyebabnya.

Alexander.

Mengingat pria itu membuat Rubi menghela napas.

Hubungan mereka masih terasa canggung.

Namun dibandingkan sebelumnya, sekarang mereka setidaknya bisa mengobrol tanpa suasana yang terlalu kaku.

Meski kebanyakan percakapan tetap singkat.

Setelah selesai sarapan, Rubi memutuskan berjalan-jalan ke taman.

Udara pagi terasa segar.

Bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan setapak.

Beberapa tukang kebun sedang bekerja merawat tanaman.

Ketika melihat Rubi, mereka langsung menyapa dengan hormat.

"Selamat pagi, Nyonya Muda."

"Pagi."

Rubi membalas dengan senyum.

Beberapa pelayan yang melihatnya masih sering terkejut setiap kali Rubi menyapa lebih dulu.

Karena menurut mereka, Rubi yang dulu jarang berbicara.

Sementara Rubi yang sekarang justru mudah bergaul.

Saat sedang berjalan perlahan, tiba-tiba ia merasakan sesuatu.

Sebuah sentuhan kecil.

Sangat kecil.

Rubi langsung berhenti.

Tangannya refleks memegang perut.

"Apa itu?"

Ia berkedip.

Lalu menunggu.

Beberapa detik berlalu.

Dan...

Tap.

Ada gerakan kecil lagi.

Mata Rubi langsung membesar.

"Ya ampun..."

Jantungnya berdegup cepat.

Bayi itu bergerak.

Untuk pertama kalinya ia merasakan gerakan kecil dari dalam kandungannya.

Perasaan hangat langsung memenuhi dadanya.

Air matanya bahkan hampir jatuh.

Meski bukan anak yang dikandung tubuh aslinya.

Meski awalnya semua ini terasa asing.

Namun sekarang...

Ia benar-benar merasa menjadi seorang ibu.

Rubi tersenyum sambil mengusap perutnya perlahan.

"Halo."

Suaranya terdengar pelan.

"Aku Rubi."

Ia tertawa sendiri.

"Tentu saja kamu belum ngerti."

Meski begitu ia tetap berbicara.

Seolah bayi itu bisa mendengarnya.

"Aku nggak tahu siapa ibu aslimu sekarang."

Suara Rubi melembut.

"Tapi aku janji akan menjagamu."

Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, ia mengucapkan kata-kata itu dengan sungguh-sungguh.

---

Siang harinya.

Alexander baru kembali dari kantor pusat.

Hari ini rapat berlangsung lebih lama dari biasanya.

Belum lagi beberapa masalah bisnis yang membuat suasana hatinya cukup buruk.

Begitu memasuki mansion, kepala pelayan segera menghampiri.

"Tuan muda."

"Hm."

Ada senyum tipis di wajah pria tua itu.

Hal yang cukup jarang terjadi.

Alexander langsung menyadarinya.

"Ada apa?"

"Kabar baik."

Alexander mengangkat alis.

"Kabar apa?"

"Nyonya muda merasakan gerakan bayi untuk pertama kalinya pagi tadi."

Langkah Alexander terhenti.

Untuk pertama kalinya ekspresi wajahnya berubah.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Namun cukup membuat kepala pelayan menyadarinya.

"Dokter mengatakan itu hal yang baik."

Alexander tidak menjawab.

Tetapi entah kenapa dadanya terasa aneh.

Selama ini keberadaan bayi itu memang penting baginya.

Karena bayi itu adalah pewaris keluarga Dimitri.

Penerus yang akan memperkuat posisinya.

Namun saat mendengar bayi itu bergerak...

Perasaannya berbeda.

Bukan sekadar urusan keluarga.

Bukan sekadar urusan warisan.

Ada sesuatu yang lebih personal.

Dan hal itu membuatnya tidak nyaman.

Alexander tidak suka perasaan yang tidak bisa ia kendalikan.

---

Sore harinya Rubi sedang membaca buku di taman belakang.

Seperti biasa.

Tempat itu sudah menjadi lokasi favoritnya.

Ia duduk di bawah gazebo sambil menikmati angin sepoi-sepoi.

Sesekali tangannya mengusap perut.

Masih teringat kejadian pagi tadi.

Senyumnya tidak bisa hilang.

Sampai tiba-tiba sebuah bayangan jatuh di atas bukunya.

Rubi mengangkat kepala.

Alexander berdiri di depannya.

"Oh."

Rubi langsung menutup buku.

"Anda sudah pulang?"

"Hm."

Alexander duduk di kursi seberang.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Lalu pria itu bertanya.

"Kudengar bayi bergerak."

Rubi sedikit terkejut.

Ia tidak menyangka Alexander sudah mendengarnya.

"Iya."

Senyumnya muncul lagi.

"Pertama kali."

Alexander memperhatikan ekspresi itu.

Ada kebahagiaan tulus di wajah Rubi.

Bukan dibuat-buat.

Bukan karena ingin menyenangkan siapa pun.

Melihatnya entah kenapa membuat Alexander terus memperhatikan.

"Rasanya bagaimana?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Bahkan dirinya sendiri sedikit heran.

Rubi tampak berpikir.

"Hm..."

Lalu ia tertawa kecil.

"Susah dijelaskan."

Alexander menunggu.

"Kayak ada yang nyolek dari dalam."

Alexander hampir tersenyum mendengar penjelasan itu.

Hampir.

"Tapi menyenangkan."

Rubi menatap perutnya.

"Sangat menyenangkan."

Tatapan itu membuat Alexander terdiam.

Ia tidak pernah membayangkan seorang wanita bisa terlihat sebahagia itu hanya karena gerakan kecil dari bayi.

Mungkin karena ia tidak pernah memiliki keluarga yang hangat.

Sejak kecil hidupnya dipenuhi persaingan.

Kekuasaan.

Dan pengkhianatan.

Bahkan hubungan dengan orang tuanya sendiri tidak terlalu dekat.

Karena itu pemandangan di depannya terasa asing.

Namun anehnya...

Ia tidak membencinya.

---

Hari mulai menjelang malam.

Setelah makan malam bersama, sesuatu yang kini mulai sering terjadi, Rubi kembali ke kamar.

Ia sedang menyisir rambut ketika pintu diketuk.

"Masuk."

Alexander masuk sambil membawa sebuah kotak kecil.

Rubi terlihat bingung.

"Ada apa?"

Alexander meletakkan kotak itu di meja.

"Untukmu."

"Untuk saya?"

Rubi semakin heran.

Ia membuka kotak tersebut perlahan.

Di dalamnya terdapat sepasang sepatu datar yang terlihat sangat nyaman.

Bukan sepatu mahal yang penuh hiasan.

Melainkan sepatu sederhana khusus ibu hamil.

Rubi menatapnya beberapa detik.

Lalu kembali menatap Alexander.

"Kenapa?"

"Dokter bilang penggunaan hak tinggi tidak bagus."

Rubi berkedip.

Ia bahkan tidak pernah mengeluh soal sepatu.

Lalu bagaimana Alexander bisa memikirkan hal seperti ini?

Seolah bisa membaca pikirannya, Alexander berkata,

"Kemarin aku melihatmu hampir terpeleset."

Rubi langsung ingat.

Kemarin memang sempat terjadi.

Namun hanya sebentar.

Ia bahkan tidak menganggapnya penting.

Ternyata Alexander memperhatikannya.

Perasaan hangat muncul di dadanya.

"Terima kasih."

Untuk beberapa saat Alexander tidak menjawab.

Kemudian ia mengangguk singkat.

"Hm."

Rubi tersenyum kecil.

Dan tanpa disadari, untuk pertama kalinya sejak menikah, suasana di antara mereka terasa jauh lebih nyaman dibanding sebelumnya.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada kesalahpahaman.

Hanya dua orang yang perlahan mulai mengenal satu sama lain.

Meski keduanya belum menyadari satu hal.

Bahwa perasaan yang awalnya hanya berupa kepedulian kecil...

Sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!