NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️

Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda" 9

"LUCY! LUCY! BANGUN!"

Suara itu memecah keheningan malam dengan seketika. Itu bukan sebuah suara halus atau bisikan lembut, melainkan sebuah teriakan lantang yang menggema tepat di dekat telinganya.

Lucy mengerang kesal, lalu satu tangannya menepuk-nepuk asal ke arah sumber suara untuk menghentikannya. "Lili... ini baru jam berapa..."

"BANGUN! INI SANGAT PENTING!"

Mata biru Lucy langsung terbuka lebar. Itu bukan sepasang mata hitam yang biasa disembunyikan oleh softlens, melainkan mata aslinya yang berkilau dalam gelap layaknya dua safir yang berpendar indah. Dia menatap tajam ke arah jam dinding, di mana jarum pendek menunjuk ke angka dua belas dan jarum panjang tepat di angka dua belas. Waktu telah menunjukkan tengah malam.

"Ini jam dua belas malam, Lili," suara Lucy terdengar rendah dan membawa aura berbahaya. "Ada urusan apa?"

Lili berdiri tegak di atas dadanya. Kucing putih kecil itu benar-benar menginjak-injak tubuhnya tanpa rasa takut. Ekornya mengibas-ngibas cepat dengan bulu yang sedikit mengembang tanda panik.

"Protagonis wanita dalam dunia ini, dia mengalami perubahan."

"Maksudmu Hana?" Lucy masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang tersisa.

"Perubahan apa yang kau maksud?"

"Aku belum bisa mendeteksi detailnya secara menyeluruh. Tapi..." Lili melompat turun dari dada Lucy, lalu duduk di pinggir kasur dengan postur tubuh yang tegang. "Sepertinya dia terlibat dalam kasus pembunuhan keluarga dari Lucy, pemilik asli tubuh yang kau tempati sekarang ini."

Rasa kantuk Lucy menguap seketika tanpa bekas. Dia mendorong tubuhnya untuk duduk tegak, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding kamar. "Apa maksudmu terlibat? Hana Himura? Protagonis wanita yang seharusnya digambarkan polos dan baik hati itu?"

"Aku tidak tahu detail pastinya. Data dunia ini mendadak menjadi sedikit kacau sekarang. Sepertinya dewa yang meminta bantuanmu sedang mengalami kesulitan besar dengan protagonis wanita ini."

"Kesulitan bagaimana?"

"Hana Himura terlibat dengan sesuatu yang sangat gelap, dan hal itu berada jauh di luar alur cerita aslinya."

Lucy mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Jadi Hana yang seharusnya menjadi gadis baik yang tersakiti, sekarang justru terlibat dalam pembunuhan? Pembunuhan keluarga pemilik tubuhku?"

"Kemungkinan besarnya begitu."

"Dan kenapa informasi ini baru ketahuan sekarang?"

"Karena..." Lili terdiam sejenak sementara telinganya bergerak-gerak sensitif. "Karena aku baru bisa mendeteksinya saat ini. Seseorang atau sesuatu yang kuat telah menutupi jejak ini sebelumnya, seperti kabut tebal yang tiba-tiba saja terangkat."

Lucy menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Jadi dewa dari dunia ini meminta tolong padaku untuk membereskan antagonis pria dan wanita, tapi ternyata protagonis wanitanya sendiri yang terlibat masalah besar?"

"Sepertinya memang begitu keadaannya."

"Huh," Lucy mendengus pelan. "Ini menjadi sangat menarik."

"Hanya itu saja reaksimu? Menarik?"

"Lili, aku tidak peduli dengan alasan apa pun di balik semua ini," Lucy menguap santai. "Aku berada di sini murni untuk bersenang-senang, mengumpulkan nilai suka, serta menurunkan nilai kejahatan. Kalau protagonis wanitanya ternyata punya sisi gelap yang tersembunyi, itu malah membuat permainan ini menjadi lebih seru."

"Tapi hal ini bisa mempengaruhi seluruh alur cerita yang ada."

"Bagus kalau begitu. Alur cerita yang terlalu mudah ditebak itu sangat membosankan."

Lili menghela napas panjang mendengar respons santai tuannya. "Ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui. Kedatangan Hana Himura ke sekolah ini tertunda selama tiga hari."

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa mendeteksi alasannya secara pasti, tapi sepertinya hal itu terkait erat dengan keterlibatannya dalam sisi gelap tersebut."

Lucy mengangguk pelan memahami situasi. "Jadi aku memiliki waktu tiga hari ekstra sebelum protagonis wanita itu muncul."

"Ya, benar."

"Dan bagaimana dengan Akane?"

"Jadwalnya masih sesuai rencana awal. Dia akan kembali dari luar negeri satu minggu setelah Hana resmi masuk sekolah."

"Baiklah," Lucy menjatuhkan dirinya kembali ke atas kasur, lalu menatap lurus ke langit-langit. "Sekarang, biarkan aku tidur kembali."

Dia memejamkan matanya. Namun dua detik kemudian, dia membukanya lagi secara tiba-tiba.

"Aku tidak bisa tidur."

"Aku sudah tahu hal itu akan terjadi."

"Kau membangunkanku dengan heboh dan sekarang aku tidak bisa tidur lagi."

"Apakah aku harus meminta maaf?"

Lucy mendengus sebal lalu bangkit dari kasurnya. "Sudahlah. Perutku mendadak lapar. Aku akan pergi ke supermarket sekarang."

"Di jam dua belas malam seperti ini?"

"Supermarket yang berada di dekat apartemen ini buka dua puluh empat jam penuh. Aku sudah memeriksanya kemarin."

Dia berjalan menuju lemarinya, lalu mengeluarkan kaos biru tipis dan celana pendek hitam yang santai. Tidak ada orang yang akan melihatnya di tengah malam, jadi dia merasa tidak perlu berdandan rapi. Dia sempat hendak mengambil softlens hitamnya dari atas meja, namun mengurungkan niatnya kembali.

"Malas sekali," gumamnya pelan. "Lagipula ini sudah tengah malam. Memangnya siapa yang akan melihatku?"

Lili memiringkan kepalanya bingung. "Bagaimana dengan mata aslimu?"

"Akan kubiarkan begitu saja untuk malam ini. Rambutku masih berwarna hitam dan itu sudah cukup aman."

Dia mengikat rambut sebahunya ke belakang dengan menggunakan karet gelang sederhana, lalu meraih dompet serta kunci apartemen sebelum akhirnya melangkah keluar.

Angin malam langsung menyambutnya begitu pintu apartemen dibuka. Hawanya terasa dingin, bahkan cukup dingin untuk membuat manusia normal menggigil seketika. Tapi Lucy bukanlah manusia normal. Kekuatan ilahinya mengalir hangat di bawah lapisan kulit, melindunginya dengan sempurna dari hawa dingin yang mencoba menyusup melalui kaos tipis yang dikenakannya.

"Kau bisa masuk angin kalau berpakaian seperti itu," komentar Lili yang berjalan setia di sampingnya. Kucing putih kecil itu menggunakan pelindung sehingga tidak akan terlihat oleh mata manusia biasa.

"Aku adalah seorang Dewi. Kaum kami tidak mengenal istilah masuk angin."

"Tapi tubuh yang kau gunakan ini adalah milik manusia."

"Ini tubuh setengah manusia setelah aku memodifikasinya dengan cukup baik, jadi tidak akan mudah sakit hanya karena embusan angin malam."

Mereka berjalan santai menyusuri trotoar jalanan yang sepi. Distrik Higashi memang terkenal tenang, sehingga tidak banyak orang yang berkeliaran di jam rawan seperti ini. Lampu jalanan memancarkan cahaya oranye temaram yang menciptakan bayangan panjang di atas aspal.

Supermarket tujuan mereka terlihat terang benderang, sangat kontras dengan kegelapan malam di sekelilingnya. Lucy masuk ke dalam dan mulai mengambil apa pun yang menarik perhatian indra pengecapnya, seperti ayam goreng instan, mie kuah, udang keju, cokelat, keripik, serta buah anggur. Itu bukan anggur dari kastilnya melainkan anggur manusia biasa yang rasanya tidak seberapa, namun malam ini dia ingin mencobanya.

Saat dia baru saja keluar dari supermarket sambil membawa dua kantong belanjaan besar, sebuah suara keributan mendadak terdengar.

Ada bunyi pukulan keras, bentakan kasar, serta suara tubuh manusia yang membentur dinding dengan keras.

Lucy seketika menghentikan langkah kakinya. Di ujung jalan, tepatnya di sebuah gang sempit yang berada di antara supermarket dan gedung tua, dia melihat ada pergerakan. Ada sekitar lima atau mungkin enam bayangan manusia yang sedang mengerumuni satu orang yang sudah terjatuh di tanah.

"Jangan terlibat dalam masalah mereka," kata Lili memperingatkan di dalam kepalanya. "Ini sama sekali bukan urusanmu."

"Aku tahu," Lucy melanjutkan kembali langkah kakinya dengan santai. "Aku hanya kebetulan lewat saja."

Tapi saat dia berjalan semakin dekat karena rute menuju apartemennya memang harus melewati gang tersebut, dia bisa melihat situasi dengan lebih jelas. Lima remaja laki-laki yang tampaknya seumuran anak SMA atau sedikit lebih tua, sedang memukuli satu orang yang sudah tersungkur tidak berdaya. Korban itu tidak memberikan banyak perlawanan dan hanya berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

Mereka menghalangi jalur jalanku, pikir Lucy malas. Dan aku sedang tidak ingin berputar arah.

Dia menghela napas pelan. Lalu, dengan satu jentikan jari yang tersembunyi di balik kantong belanjaannya, suara sirine polisi mendadak memekik keras seolah-olah ada mobil patroli yang datang dari ujung jalan.

"POLISI! LARI!"

Kelima remaja nakal itu langsung panik seketika. Mereka berhamburan melarikan diri ke arah yang berlawanan dan menghilang dalam hitungan detik. Suara sirine palsu itu pun berhenti, membuat suasana kembali menjadi sunyi senyap.

Kini, tinggal tersisa satu orang yang terkapar di atas tanah.

Lucy berjalan melewatinya begitu saja. Dia benar-benar berniat untuk terus berjalan pulang, sampai matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang sangat familiar, yaitu sebuah jaket tim basket milik SMA Seiran serta rambut berwarna pirang gelap. Orang itu tampak sedang memegangi perutnya, di mana ada noda merah darah yang mulai merembes keluar.

Lucy tertegun sejenak.

"Lili," bisiknya pelan. "Orang itu adalah Kaito."

"Aku sudah tahu."

Lucy berdiri diam di sana, menatap pemuda yang tampak hampir pingsan di depannya. Kaito Fujiwara, sang antagonis pria dalam dunia ini. Orang yang seharusnya dia dekati secara perlahan-lahan dengan rencana yang matang, justru sekarang malah ditemukan tergeletak mengenaskan di gang gelap pada jam setengah satu malam.

Kejadian ini benar-benar berada di luar rencana, pikirnya. Tapi hal itu tidak menjadi masalah karena dia selalu bisa melakukan improvisasi.

Lucy pun berjongkok dan meletakkan dua kantong belanjaannya di samping tubuh. "Hei. Kau baik-baik saja?"

"Tentu saja dia tidak sedang baik-baik saja! Lihat saja kondisi perutnya!" suara Lili di kepalanya terdengar seperti sebuah bentakan kesal. "Kenapa kau malah bertanya seperti itu?! Jelas-jelas dia sedang terluka parah!"

"Diamlah, Lili."

Kaito mengangkat kepalanya dengan sangat perlahan. Wajah tampannya kini tampak babak belur dengan bibir yang pecah, alis yang berdarah, serta pipi yang memar kebiruan. Tapi sepasang mata cokelat gelap miliknya menatap lurus ke arah Lucy dengan sebuah ekspresi yang sangat sulit untuk diartikan.

Dan dia hanya diam, terus menatap wajah gadis di depannya.

Lucy menunggu jawaban selama beberapa detik, namun tidak kunjung ada respons yang keluar dari mulut pemuda itu.

"Baiklah," katanya kemudian sambil bersiap untuk berdiri kembali. "Kalau kau memang tidak berniat untuk bicara, maka aku akan pergi..."

"Tolong."

Suara itu terdengar sangat pelan dan parau, bahkan hampir tidak terdengar di keheningan malam. Tapi satu kata itu sudah cukup untuk membuat pergerakan Lucy terhenti.

Dia kembali menatap Kaito. Pemuda itu masih setia memegangi perutnya yang terluka, di mana darah segar terus merembes keluar di sela-sela jarinya. Wajahnya tampak sangat pucat, tetapi matanya menatap Lucy dengan sebuah pandangan yang tersirat rasa putus asa.

Lucy mendesah pelan. "Kenapa kau bisa berada di tempat seperti ini dengan kondisi yang mengenaskan?" Tetap tidak ada jawaban yang keluar.

"Baiklah, tidak perlu bercerita jika tidak mau." Dia mengambil posisi duduk di samping Kaito, menyilangkan kakinya di atas permukaan aspal yang dingin. Tangannya kemudian merogoh ke dalam kantong belanjaan, berpura-pura sedang mencari sesuatu di sana.

"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?!" Lili mulai panik. "Kau jelas-jelas tidak membeli obat apa pun di supermarket tadi!"

"Aku tahu hal itu. Maka dari itu aku akan mengambilnya langsung dari kastil."

"TAPI DIA BISA SAJA MENJADI CURIGA DENGAN TINDAKANMU!"

"Dia sekarang sedang berada dalam kondisi hampir pingsan, Lili. Dia tidak akan memiliki energi untuk memperhatikan detail kecil seperti itu."

Dan tebakan Lucy terbukti benar. Dengan sebuah gerakan tangan yang cepat, Lucy mengambil ramuan obat dari kastilnya melalui cincin penyimpanan tersembunyi, lalu menyembunyikannya di balik kantong belanjaan plastik. Obat itu berupa sebotol kecil bubuk herbal yang sangat manjur untuk menyembuhkan luka manusia, lengkap dengan perban yang bersih. Dia mengeluarkannya seolah-olah barang itu memang baru dibeli dari supermarket.

"Angkat pakaianmu," katanya dengan nada suara datar.

Kaito tidak memberikan respons atau pergerakan sama sekali. Mungkin tubuhnya terlalu sakit untuk bergerak, atau mungkin dia sedang terlalu bingung dengan situasi yang dihadapi.

Lucy memutuskan untuk tidak menunggu lebih lama lagi. Dia menarik tangan Kaito dari perutnya secara sepihak. Ukuran tangannya terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran tangan Kaito yang besar dan kasar. Dia kemudian mengangkat jaket serta kaos pemuda itu ke atas untuk memeriksa lukanya.

Luka di perut Kaito ternyata lumayan dalam. Itu bukan jenis luka tusuk, melainkan lebih terlihat seperti sebuah sobekan akibat hantaman benda tumpul yang keras, mungkin berasal dari pipa besi atau tongkat baseball. Darah masih mengalir keluar dari sana, meskipun tidak terlalu deras.

Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, Lucy mulai membersihkan luka tersebut dengan cekatan. Gerakan tangannya terasa sangat ahli dan sama sekali tidak mencerminkan gerakan seorang gadis SMA biasa. Dia hanya bisa berharap bahwa Kaito sedang terlalu menahan rasa sakit untuk bisa menyadari kejanggalan tersebut. Dia menuangkan bubuk herbal ajaib itu ke atas luka, lalu membalutnya dengan perban bersih, melingkarkannya di perut Kaito dengan cukup kencang.

"Semua sudah selesai," katanya sambil menurunkan kembali kaos yang dikenakan Kaito. Dia kemudian berdiri dan mengambil kembali kantong belanjaannya. "Jangan banyak melakukan gerakan berat dahulu. Luka itu akan segera sembuh."

Dia membalikkan badannya dan mulai melangkah pergi.

"Terima kasih."

Suara parau itu kembali menghentikan langkah kakinya untuk yang kedua kali. Lucy menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Kaito masih duduk bersandar di tanah dengan satu tangan menyentuh perban baru di perutnya. Wajahnya masih tampak pucat, tetapi sepasang matanya menatap Lucy dengan sebuah intensitas yang terasa sangat berbeda dari sebelumnya.

"Sama-sama," jawab Lucy singkat, lalu kembali melanjutkan langkah jalannya.

"Tunggu dulu."

Lucy terpaksa menghentikan langkahnya lagi. Kali ini dia membalikkan tubuhnya secara penuh, menatap Kaito dengan sebelah alis yang terangkat. "Ada apa lagi?"

Kaito membuka mulutnya seolah hendak berbicara, namun kemudian menutupnya kembali karena dia baru saja menyadari sesuatu yang sangat mengejutkan.

Itu adalah tentang sepasang mata milik Lucy.

Di bawah temaram cahaya lampu jalanan yang redup, warna mata gadis itu ternyata bukan hitam seperti yang selama ini dia ingat di sekolah. Mata itu berwarna biru, sebuah warna biru permata yang sangat dalam dan berkilau indah, layaknya ada kerlip bintang yang terjebak di dalam sana.

"Matamu..." kata Kaito secara refleks tanpa sadar.

Lucy mengerutkan keningnya heran. "Apa?"

Kaito menggelengkan kepalanya cepat, menyadari bahwa dia sudah menatap mata gadis itu terlalu lama. Dia kemudian melepaskan jaket tim basketnya yang sudah kotor serta sedikit robek, lalu mengulurkannya ke arah Lucy.

"Ini. Ambil dan pakailah."

"Untuk apa aku memakainya?"

"Hari sudah semakin malam dan udaranya sangat dingin. Sedangkan kau..." Kaito menelan ludahnya sejenak. "...kau hanya mengenakan kaos yang tipis."

Lucy menatap jaket yang diulurkan padanya, lalu beralih menatap wajah Kaito, sebelum akhirnya kembali menatap jaket tersebut.

"Jangan pernah menerima pemberian itu," Lili memberikan peringatan keras. "Kejadian ini sama sekali tidak ada di dalam rencana awal kita."

Tapi Lucy memilih untuk tidak mendengarkan peringatan kucingnya. Karena pada saat dia menatap jaket tersebut, indra ilahinya mencium sebuah aroma yang membuat jiwanya bergetar hebat.

Itu adalah aroma murni dari jiwa seorang Kaito. Aromanya terasa sangat kuat, liar, serta sangat menggoda.

Energi yang sangat luar biasa, pikir Lucy senang. Ini bisa menjadi sumber energi yang sangat bagus untukku.

"Baiklah," katanya kemudian sambil mengambil jaket tersebut dan langsung memakainya. Ukuran jaket itu tentu saja terlalu besar untuk tubuh kecilnya, membuat bagian lengannya menggantung melewati ujung jari dan ujung bawahnya hampir mencapai lutut. Tapi jaket itu terasa sangat hangat, dan aromanya seketika memenuhi seluruh indra penciumannya.

"Terima kasih," katanya singkat, lalu berbalik dan benar-benar berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

Kaito terus menatap punggung gadis itu yang perlahan semakin mengecil di kegelapan malam, dengan jaket kebesarannya yang tampak membungkus tubuh mungil tersebut. Kilauan mata biru indah itu masih terngiang-ngingang dengan sangat jelas di dalam kepalanya. Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasakan sebuah rasa penasaran yang teramat besar pada seorang perempuan.

Sekitar lima menit kemudian, suara langkah kaki yang berlarian terdengar mendekat ke arah gang.

"Kaito! Kaito! Kau berada di sini?!"

Teman-temannya dari kelompok Five Shadows akhirnya muncul dari ujung gang dengan wajah panik dan napas yang terengah-engah. Orang yang pertama kali tiba di depan Kaito adalah Riku, wakil kapten tim basket yang berambut cokelat.

"ASTAGA! KAITO! ADA BANYAK DARAH!" Riku langsung memegang kedua bahu Kaito dengan cemas. "Siapa bajingan yang sudah melakukan perbuatan ini padamu?! Ke mana mereka pergi?!"

"Mereka semua sudah pergi," jawab Kaito dengan nada suara singkat.

"Kita harus segera membawamu ke rumah sakit sekarang..."

"Tidak perlu ke rumah sakit," potong Kaito cepat. "Bawa saja aku pulang ke rumah dan panggil dokter pribadi keluarga."

Riku mengangguk patuh. Kemudian dengan bantuan dari dua teman lainnya, mereka membantu memapah tubuh Kaito untuk berdiri dan berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di ujung jalan.

Satu jam kemudian, di dalam kediaman mewah milik Kaito yang berupa sebuah penthouse di puncak gedung tertinggi kota, dokter pribadi keluarga Fujiwara sedang membuka perban yang melilit perut Kaito. Namun setelah perban itu terlepas, sang dokter mendadak terdiam kaku dengan ekspresi wajah tidak percaya.

"Ini... ini adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi," gumam sang dokter lirih.

"Ada masalah apa, Dokter?" tanya Riku yang sedang berdiri memantau di sudut ruangan.

"Kondisi luka ini..." Dokter itu menunjuk ke arah perut Kaito. "Lukanya sudah hampir tertutup sepenuhnya. Ini lebih terlihat seperti sebuah luka lama yang sudah berumur tiga atau empat hari, bukan sebuah luka baru yang baru saja didapat. Tapi Tuan Kaito mengatakan bahwa kejadiannya baru terjadi malam ini?"

Kaito tidak memberikan jawaban apa pun atas pertanyaan dokternya. Dia hanya fokus menatap ke arah perutnya sendiri. Luka yang beberapa waktu lalu masih terbuka lebar dan mengeluarkan banyak darah, kini anehnya hanya menyisakan sebuah bekas garis merah samar saja, persis seperti luka lama yang sudah hampir sembuh total.

Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi? batinnya heran.

Pikirannya seketika kembali melayang pada sosok gadis misterius tadi malam, pada gerakan tangannya yang sangat cekatan saat membersihkan luka, pada bubuk obat aneh yang ditaburkannya, serta pada sepasang mata biru indah yang begitu memikat.

"Siapa sebenarnya gadis itu?" bisiknya lirih pada diri sendiri.

"Ada sesuatu yang kau butuhkan, Tuan Kaito?" tanya dokternya yang mendengar bisikan tersebut.

"Tidak ada apa-apa," Kaito menyandarkan punggungnya ke sofa mewah dengan lemas. "Kalian semua sudah boleh pergi meninggalkan ruangan ini."

Setelah dokter dan teman-temannya pergi keluar meskipun dengan perasaan yang masih dipenuhi keraguan, Kaito kini duduk sendirian di dalam ruang tamunya yang sangat luas. Lampu-lampu pemandangan kota malam hari tampak berkilauan indah di balik jendela kaca besar, namun fokus pandangannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan tersebut.

Bayangan mata biru indah, rambut hitam sebahu, serta kaos tipis yang dikenakan gadis itu terus berputar-putar di dalam benaknya.

Siapa sebenarnya dirimu yang sesungguhnya?

Sementara itu, di dalam apartemen kecilnya, Lucy tampak sedang duduk bersila dengan santai di atas kasur. Di hadapannya, berbagai macam makanan instan yang dibelinya tadi sudah tersebar rapi seperti sebuah pesta kecil, mulai dari ayam goreng, mie kuah yang masih mengepulkan uap hangat, udang keju, cokelat, hingga keripik. Dia juga sedang menikmati buah anggur manusia yang rasanya biasa saja itu.

Lili duduk di sisi lain kasur sambil asyik menikmati makanannya sendiri, sebuah makanan kucing kalengan varian premium yang sengaja Lucy ambilkan dari supermarket tadi.

"Aku memiliki data persentase terbaru," kata Lili secara tiba-tiba dengan suara yang terdengar sedikit tercekat di tenggorokan.

"Hm? Bagaimana hasilnya?" tanya Lucy sambil mengunyah ayam gorengnya santai.

"Untuk Kaito Fujiwara, rasa suka yang dimilikinya kini berada di angka 30%. Nilai ketertarikan ini sudah hampir setara dengan nilai rasa sukanya pada tokoh protagonis wanita di cerita asli."

Lucy mengunyah makanannya dengan perlahan mendengar laporan tersebut. "Tiga puluh persen? Hanya karena aku kebetulan menolong lukanya semalam, nilainya langsung melonjak naik sebanyak dua puluh persen?"

"Dan itu belum merupakan keseluruhan kabarnya," Lili menelan ludahnya sejenak sebelum melanjutkan. "Tingkat nilai kejahatan yang dimiliki oleh Kaito juga mengalami penurunan yang drastis. Yang tadinya berada di angka 80%, kini nilainya menyusut hingga menjadi 60%."

"Huh," Lucy meraih sepotong udang keju di depannya. "Hasil yang cukup bagus untuk sebuah pekerjaan sampingan di malam hari."

"REAKSIMU HANYA SEBATAS 'CUKUP BAGUS' SAJA?! APA KAU SAMA SEKALI TIDAK MERASA PEDULI?!"

"Tentu saja aku merasa peduli karena ini merupakan sebuah kemajuan yang baik," Lucy menjilati sisa bumbu di jarinya dengan santai. "Tapi untuk saat ini, aku jauh lebih peduli pada makanan-makanan lezat di depanku ini karena perutku benar-benar terasa sangat lapar."

"Kau baru saja berhasil menaikkan persentase ketertarikan karakter secara drastis tanpa menggunakan rencana atau strategi rumit apa pun, murni hanya karena sebuah faktor kebetulan belaka. Dan reaksimu hanya santai seperti ini?!"

"Lili," Lucy menatap lurus ke arah kucingnya dengan sepasang mata biru yang memancarkan ketenangan mendalam. "Aku sudah pernah mengatakannya padamu sebelumnya bahwa aku berada di dunia ini murni untuk bersenang-senang. Jika sebuah keberuntungan memang sedang berpihak padaku, maka aku tentu tidak akan menolak hadiah tersebut."

Lili akhirnya hanya bisa menghela napas panjang menerima argumen dari tuannya itu.

Lucy segera menyelesaikan sesi makan malamnya, lalu merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas kasur. Matanya menatap lurus ke arah jaket basket yang sengaja dia gantungkan di sandaran kursi kamar, yaitu jaket milik Kaito yang sampai saat ini masih memancarkan aroma kuat dari jiwa sang pemilik asli. Aromanya terasa samar namun sangat menggoda bagi indra ilahinya.

Dia menjilati bibirnya pelan dengan sebuah senyuman penuh arti.

"Inti jiwa yang dimiliki oleh sang antagonis pria itu sepertinya akan terasa sangat lezat jika dicicipi," gumamnya lirih pada keheningan kamar. "Tapi makanan instan manusia ini ternyata bisa membuat perutku kenyang dengan lebih cepat. Aku rasa aku akan menikmati hidangan penutup utamaku nanti saja."

"Apa yang kau maksud dengan hidangan penutup?" tanya Lili yang masih terjaga.

"Kaito, Ren, dan siapa pun karakter lain yang sekiranya menarik di dunia ini," Lucy tersenyum manis penuh misteri. "Tapi untuk saat ini..."

Dia memejamkan kedua matanya perlahan dengan sisa senyuman yang masih tercetak di wajahnya.

"Aku sudah merasa sangat kenyang malam ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!