Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 14
Langkah sepatu mereka bergema di lantai putih mengilap rumah sakit Delfi. Pagi itu, sinar matahari cuma nyelinap sedikit lewat jendela kaca tinggi terpantul di peralatan medis yang terlalu bersih buat tempat yang katanya penuh kasus misterius.
Rodi jalan paling depan, tangannya masih di saku jaket, tapi matanya nyapu tiap sudut ruangan kayak predator yang udah ngendus bau darah.
Driky di belakangnya, pelan-pelan ngeluarin HP, nyatet beberapa hal. Cade nunduk perhatiin lantai, sementara Paul yang dari tadi diem aja, cuma ngelirik papan nama “Pharma, M.D.” di dinding lorong.
Perawat-perawat lewat sambil bawa troli obat, pasien duduk di kursi tunggu semuanya tampak normal. Terlalu normal.
“Loen udah kasih izin penuh buat kita masukin tiap ruangan?” tanya Rodi rendah, suaranya bergetar dikit karena curiga.
Loen yang dari tadi ngikut di belakang, ngangguk pelan. “Udah. Tapi jangan bikin keributan, ya. Pasien masih banyak yang butuh ketenangan.”
Rodi senyum miring, “Tenang aja. Kita cuma cari kebenaran, bukan bikin headline.”
Mereka mulai buka satu per satu ruangan ruang operasi, ruang obat, arsip medis, bahkan gudang. Tapi hasilnya nihil. Cuma bau antiseptik dan suara mesin infus yang monoton.
Cade nyeletuk sambil ngusap tengkuknya, “Sial, rumah sakit ini kayak baru disteril 10 menit sebelum kita dateng.”
Paul diem aja, tapi jari-jarinya ngetuk-ngetuk meja resepsionis, matanya nggak lepas dari arah koridor sayap timur arah ruang tempat Pharma biasa kerja.
“Kalau dia bersih, kenapa rasanya semua bukti ikut disapu bersih juga?” gumam Paul pelan, setengah curiga
Langkah mereka makin dalam ke koridor sayap timur Delfi. Udara di situ beda lebih dingin, lebih sunyi. Lampu-lampu neon di langit-langit kedap-kedip pelan, kayak nahan napas.
Rodi sempat berhenti di depan satu pintu baja abu-abu dengan tulisan kecil di pelat logamnya:
“Akses Terbatas - Hanya untuk Staf Senior.”
Cade nyengir miring, “Klasik. Tempat paling mencurigakan selalu punya tanda ‘jangan masuk’.”
Driky nyeletuk, “Kayak manggil buat dibuka, sumpah.”
Paul yang dari tadi diam, nunduk, nutup matanya sebentar nyoba inget. “Ini… ruangan yang waktu itu ga boleh dimasukin Magnus, kan?”
Rodi ngangguk. “Iya. Dulu dia laporin ruangan ini ga punya data akses resmi, tapi semua CCTV yang ngarah ke sini mati.”
Loen, yang masih berdiri di belakang, tampak ragu. “Kalau kalian masuk tanpa izin direktur, aku bisa dipecat.”
Rodi ngelirik sebentar, senyum tipis tapi matanya tajem, “Loen… sekarang yang megang komando siapa?”
Hening sesaat. Cuma suara pendingin ruangan yang berdesis.
Paul ngambil napas dalam-dalam, ngebuka jaketnya dikit, dan nyiapin senter kecil di tangan.
“Kalau ini ruangan yang Magnus maksud, kita bakal tau kenapa dia dilarang ke sini,” katanya datar.
Mereka semua berdiri di depan pintu logam itu.
Dinginnya nembus kulit.
Cade pelan-pelan naro tangannya di gagang pintu.
Klik.
Pintu nggak kebuka.
Rodi liat Loen, “Kuncinya di mana?”
Loen cuma bisa nunduk, “Itu… udah dikunci manual dari dalam.”
Udara langsung berubah tegang.
Paul ngelirik mereka satu-satu. “Kalau dikunci dari dalam… berarti ada orang di sana."
Rodi akhirnya ngambil keputusan cepat. Suaranya berat tapi tenang, khas pemimpin lapangan yang udah ngeliat terlalu banyak hal gila.
“Loen,” katanya tanpa nengok. “Keluar dari sini.”
Loen yang tadi masih berdiri di belakang langsung kaget. “Apa? Tapi aku”
“Enggak,” potong Rodi, tajam. “Kau dokter. Bukan polisi. Kami nggak mau kau ikut terseret kalau ini berakhir jelek.”
Cade nyeletuk, “Atau kalau kami nemuin sesuatu yang nggak seharusnya kau liat.”
Nada suaranya lebih dingin dari AC di ruangan itu.
Loen nunduk, kelihatan bimbang. “Tapi… aku orang dalam. Aku bisa bantu kalau”
Paul akhirnya buka suara, lirih tapi mantap. “Kalau lo bantu sekarang, karier lo selesai, Loen. Dan kalau yang di balik pintu itu seburuk yang kami pikir… lo bisa ikut hilang kayak tiga puluh orang itu.”
Keheningan panjang.
Hanya bunyi mesin ventilasi yang berdesis pelan.
Loen akhirnya narik napas berat, matanya menatap mereka satu-satu Rodi, Paul, Cade, Driky dan dalam tatapan itu ada campuran antara takut dan lega.
“Baiklah,” ujarnya pelan. “Kalau kalian butuh akses ke sistem atau kunci cadangan… panggil aku. Tapi aku nggak pernah tau soal ini, paham?”
Rodi ngangguk pelan, “Paham.”
Dia nunggu sampai Loen pergi dan pintu otomatis di ujung lorong nutup rapat baru dia ngomong lagi, kali ini lebih pelan.
“Sekarang… kita buka ini.”
Cade udah siapin alat pembuka kunci elektronik dari tas taktisnya.
Klik klik
Suaranya halus tapi bikin jantung makin kenceng.
Lampu lorong sempat kedip sekali.
Kunci elektronik akhirnya nyerah.
Rodi nengok ke Paul dan angguk pelan.
“Buka.”
Cade narik tuas pintu logam itu pelan-pelan suara besinya gesek berat, bergema ke seluruh lorong.
Rodi dengan hati hati membuka pintu
CKREK!
di saat yang bersamaan di raven medika, tepat nya kamar magnus
Pintu terbuka..
Semua orang yang ada di dalam ruangan reflek menoleh
Pria dengan jas putih bersih, tangan kirinya memegang sekantung martabak yang masih hangat. Dr, pharma andrien, dengan senyum seolah olah tidak ada masalah
"Lloh? pharma, Kok kamu disini?". Tanya lyra, dengan senyum yang masih tercantum
"Yeah, aku aga bosan di delfi, lagi pula kau bilang ingin yang manis manis kan lyra?, kebetulan aku bawa makanan" jawabnya dengan cepat
Magnus yang masih duduk di ranjangnya reflek menoleh ke arah jazz, dengan mata yang melebar dan ekpresi cemas
"Kalau pharma disini, siapa yang ada di delfi??"..bisik nya pelan ke pada jazz
Udara di bawah tanah Delfi berasa lebih pengap dari sebelumnya.
Tim Paul berdiri terpaku di depan meja operasi kosong itu.
Gak ada pasien.
Gak ada dokter.
Cuma noda darah yang baru tumpah
> “Ini mustahil…” Cade mengusap sisa darah di jarinya. “Barusan masih basah.”
“Sekarang kering,” timpal Rodi, nada suaranya lebih ke cemas daripada marah.
“Jadi apa? Kita cuma halu bareng-bareng?” Paul mendesis. Tapi dalam hati ada bagian dirinya yang mulai goyah.
Mereka balik ke atas, nyari CCTV, catatan medis, apapun.
Tapi semua data pasien lengkap. Steril.
Bahkan surat operasi yang mereka kira ilegal, terdaftar resmi.
Tanda tangan valid. Dokter pengawas
> “Semua ini... clean banget,” Rodi akhirnya ngomong.
“Kayak... dibuat buat nyalahin dia.”
“Atau... mungkin kita emang salah.” Cade menghembus napas berat.
Di Medika, Lyra duduk di kursi ruang dokter sambil mainin cangkir teh yang belum diminum.
Pharma berdiri di depan jendela kaca besar, punggungnya tegak sempurna, jas putihnya bersih tanpa noda.
> “Aku dengar kalian sempat memeriksa rumah sakitku,” katanya tenang, masih menatap pantulan cahaya malam.
“Aku tidak marah, Lyra. Mereka hanya... melakukan tugas.”
Lyra gugup, tapi berusaha santai.
> “Mereka cuma khawatir, Dok. Apalagi setelah banyak korban hilang…”
“Hilangkan rasa curiga itu,” potong Pharma halus, berbalik dengan senyum lembut. “Aku seorang dokter, bukan pemburu organ. Aku hidup untuk memperbaiki bukan menghancurkan.”
Magnus yang duduk di kursi pasien hanya bisa ngangguk kecil.
Semua terasa masuk akal. Terlalu masuk akal, malah.
> “Dan kalau pun aku bersalah,” lanjutnya, suaranya lirih tapi tajam seperti pisau bedah, “harusnya kalian temukan bukti, bukan sekadar cerita.”
Dia tersenyum lagi.
Tapi Lyra sadar, entah kenapa senyum itu gak pernah sampai ke mata.
***
Langkah sepatu boots Paul bergema di koridor bawah tanah rumah sakit Delfi.
Udara di sana dingin, pengap, dan samar bau logam bercampur antiseptik.
Lampu-lampu neon kedip pelan, kayak nyinyir sama setiap langkah yang mereka ambil.
> “Kau yakin pintu ini belum diperiksa waktu pertama?” tanya Cade di belakang.
“Pasti belum,” jawab Paul pelan. “Lihat tanda ini—barcode-nya beda dari yang lain. Ini bukan ruang pasien, ini fasilitas eksperimen.”
Driky menyorotkan senter ke pintu besi abu-abu tinggi itu. Ada bekas goresan di sekitar kuncinya kayak sering dibuka pakai kartu akses yang udah usang.
Paul narik napas panjang, lalu nyeletuk,
> “Kalo ini jebakan, kita udah di titik ga bisa balik.”
Satu hentakan keras.
Pintu itu kebuka sedikit.
Udara dingin banget langsung nyerang, sampai Cade spontan nutup kerah jaketnya.
Ruangan di baliknya remang, cuma ada satu lampu gantung yang bergoyang pelan.
Di tengah-tengahnya… meja operasi.
Dan di atas meja itu, seseorang dalam seragam dokter masker menutupi hampir seluruh wajahnya, tangan berlumur darah, dan alat bedah di genggam erat.
Paul langsung ngerasa jantungnya turun.
> “Tinggalkan alat itu,” katanya pelan tapi tegas.
Dokter itu gak bergerak.
“Saya bilang tinggalkan alat itu!”
“Terlambat,” suaranya dalam, agak serak. “Dia sudah mati… bahkan sebelum kalian tiba.”
Paul ngelirik ke Driky. Mereka maju bareng.
Pas mereka deket, si dokter itu ngangkat wajahnya.
Matanya hitam, tapi bukan kayak orang jahat kayak orang yang udah kehilangan tidur bertahun-tahun.
> “Apa kamu yang…?”
“Mengambil organ pasien? Ya.”
“Dan kamu sadar itu pelanggaran berat?”
“Aku sadar.”
“Kenapa kau lakukan itu?”
“Karena… seseorang harus melakukannya.”
Paul dan Cade saling pandang.
> “Seseorang?”
“Ya. Ada sistem di balik sistem. Aku cuma eksekutor kecil.”
“Siapa yang nyuruh?”
“Kalau aku bilang, kalian gak akan percaya.”
Paul maju satu langkah lagi.
> “Coba aku dengar.”
Dokter itu ngusap darah dari sarung tangannya. Tangannya gemetar halus, antara lelah dan takut.
> “Kalian curiga pada Dr. Pharma, kan?”
Paul terdiam. “Jangan alihkan topik.”
“Dia bukan orang yang kalian cari.”
Cade mulai ngerasa ada yang aneh. “Dari mana kau tahu itu?”
> “Karena… semua ini dirancang supaya dia terlihat bersalah.”
“Dirancang oleh siapa?”
Dokter itu senyum kecil bukan senyum lega, tapi senyum seseorang yang tahu dia udah nyentuh garis merah.
“Aku gak bisa bilang banyak. Aku masih punya keluarga.”
“Nama lo siapa?” Paul nyelipin tangan ke borgol.
“Dr. Kael,” katanya lirih. “Dan kalau kalian pintar… berhentilah di sini. Karena mereka gak bakal berhenti di kalian.”
Sebelum Paul sempat narik dia buat diborgol, alarm darurat rumah sakit tiba-tiba bunyi.
Suara keras itu menggema sampai ke dinding beton. Lampu di lorong mulai kedap-kedip, dan suara seseorang dari speaker terdengar:
> “Evakuasi segera. Kebocoran gas terdeteksi di sektor bawah.”
Cade: “Sial, mereka tahu kita di sini!”
Driky: “Siapa ‘mereka’!?”
Paul: “Ambil dia! Kita bawa keluar!”
Mereka narik Dr. Kael, tapi dia menolak keras.
> “Kalau aku keluar dari sini, aku mati! Kalian gak ngerti—semuanya udah diawasi!”
“Kau bakal lebih mati kalau tinggal!” bentak Paul.
“Percaya padaku, lebih baik aku hilang sekarang daripada mereka ngincer kalian semua.”
Dia dorong Paul dengan tenaga sisa, lalu mundur ke dalam ruangan lagi.
Pintu besi itu ketutup otomatis klik!
Detik berikutnya, suara ledakan kecil menggema dari dalam.
Api nyamber ke arah pintu, bikin mereka mundur panik.
Driky: “Sial—KAEL!”
Paul cuma bengong. Gak nyangka secepat itu.
Beberapa jam kemudian,
laporan sementara keluar.
Korban tewas: Dr. Kael.
Data rekam medis pasien hilang. Seluruh server cadangan terbakar.
Dan… Pharma, yang saat kejadian sedang di Raven Medika, punya alibi sempurna.
Tapi Paul gak tenang.
Sesuatu di ekspresi terakhir Kael antara takut dan pasrah—nempel terus di kepalanya.
> “Dia bilang, ‘mereka gak bakal berhenti di kalian’…” gumamnya pelan.
“Berarti ini baru permulaan.”
Paul baru aja berhenti di depan pintu bawah tanah yang setengah kebuka, lampunya redup kedengeran suara mesin dan detak jam yang nyaris sinkron sama degup jantungnya sendiri.
Tiba-tiba krak! suara ledakan kecil dari arah belakang ruangan, diikuti suara listrik korslet.
📞 Loen (di telpon):
> “Paul? Lo di bawah ya? Barusan aku denger ledakan kecil dari sistem generator basement!”
Paul langsung pasang telinganya. “Iya, gue juga denger. Loen, gue mau nanya sesuatu—di daftar pegawai rumah sakit Delfi ada yang namanya dokter Kael gak?”
Ada jeda di ujung sana, cuma suara ketikan cepat dari komputer Loen yang lagi buka database.
> “Tunggu… Dokter Kael siapa dulu nih? Nama lengkap?”
“Cuma Kael. Katanya bagian bedah anatomi.”
“…Paul, gue udah nyari semua data pegawai aktif, magang, bahkan arsip yang udah resign sepuluh tahun terakhir. Gak ada nama itu.”
Paul langsung diam. Napasnya berat, matanya menatap ruangan tempat tadi dia liat seseorang dengan jas lab berdarah, topeng setengah turun, dan name tag bertuliskan Dr. Kael.
Tapi anehnya—bau formalin udah hilang, meja operasi kosong, dan darah di lantai… udah kering kayak udah berhari-hari.
> “Loen,” katanya pelan, “kalau gitu… siapa yang barusan gue liat?”
Dia jalan perlahan ke meja itu, dan di atasnya ada file pasien kosong dengan cap rumah sakit Delfi yang udah lusuh.
Tulisannya: “Project Helix - Discharge handled by Dr. P—”
Tapi huruf terakhir kebakar sebagian.
Paul menatapnya lama.
“Pharma?” bisiknya tapi dia langsung geleng, “Nggak mungkin. Dia sekarang di Medika.”
Lalu dia sadar pintu besi di sebelah kiri ruangan masih sedikit terbuka, dengan hawa dingin keluar dari dalamnya, dan lampu ruangan berkedip-kedip.
Drift dan Rodi di belakangnya nahan napas.
> Rodi: “Paul, jangan asal buka kalau itu perangkap?”
Paul: “Justru itu. Gue harus tau siapa yang udah pakai nama Kael buat nutupin semuanya.”
Pelan-pelan dia dorong pintu itu dan dari dalam, suara langkah kaki pelan terdengar.
Bukan tergesa. Tapi seperti seseorang yang tahu mereka sedang ditunggu.
Udara malam masih lembab pas tim keluar dari gedung Delfi. Lampu-lampu neon di depan rumah sakit kedip pelan, kayak ngucapin selamat tinggal dengan sinis.
Paul, Rodi, Drift, sama beberapa anggota lain jalan tanpa ngomong sepatah kata pun.
Mereka semua tau ada sesuatu yang nggak kelihatan di balik semua ini.
Rodi nendang kerikil kecil di jalan.
> “Jadi... semua itu cuma kebetulan, ya?”
Paul nggak jawab. Dia cuma narik napas panjang, buka kancing paling atas jasnya yang udah belepotan debu.
> “Gue gak yakin lagi apa yang kebetulan, Rod. Tapi kalau yang tadi beneran ‘dokter Kael’... dia bukan orang biasa.”
Drift nimpalin, masih dengan nada waspada.
> “Atau bukan orang sama sekali.”
Semua diam. Angin lewat, bikin papan nama ‘Delfi Medical Research Center’ bergoyang pelan, nyaris copot dari dinding.
Mereka naik ke mobil patroli tanpa banyak bicara. Sirine gak dinyalain, cuma lampu biru di atas yang berputar pelan.
Paul bersandar ke kursi depan, tatapannya kosong nembus kaca.
Di genggamannya, file bekas terbakar tadi masih disimpan rapat-rapat di saku jas.
Beberapa jam kemudian, mereka udah di kantor polisi pusat.
Lampu putih menyilaukan ruangan interogasi, kopi dingin di meja, dan suara printer di ujung ruangan.
> “Nggak ada bukti kuat, nggak ada nama valid, dan nggak ada yang bisa dibilang bersalah,” kata salah satu penyidik.
“Semua laporan bakal disimpan dulu sampai ada keterangan lanjutan.”
Paul cuma ngangguk lelah.
> “Terserah… asal lo catet satu hal: jangan tutup kasus ini kayak yang lain.”
Dia berdiri, ninggalin ruangan. Di luar, Rodi nunggu sambil nyender di tembok, ngerokok.
> “Lo masih mikirin itu?”
“Hmm.”
“Kael?”
“Bukan. Pharma.”
Rodi ngehembus asap pelan.
> “Dia masih di Medika kan?”
“Iya. Tapi selama nama dia masih ada di file itu…”
“Lo gak bakal tenang, ya?”
Paul cuman ngelirik, senyum miris.
> “Enggak. Gak bakal.”
Raven Medika, jam 8 malam.
Ruangan mulai sepi. Pasien lain udah banyak yang pulang, cuma suara detak mesin infus dan langkah suster yang sesekali lewat di lorong.
Magnus masih di tempat tidur setengah rebahan, tangannya diinfus, tapi matanya udah awas lagi kayak orang siap rapat.
Di sebelahnya ada Lyra, nunduk sambil motong kue kecil yang tadi dikasih salah satu staf.
> Lyra: “Dokter bilang, kamu harus istirahat dua hari lagi.”
Magnus: “Dua jam juga cukup.”
Ratchet: (nyerocos dari meja) “Coba ngomong gitu sekali lagi, gue tambahin dosis obat penenangmu.”
Jazz ketawa dari kursi di pojok.
> “Classic Magnus moment.”
Pharma baru masuk. Masih dengan gaya cool-nya kemeja putih, dasi longgar, bau antiseptik lembut yang khas banget dari dia.
> Pharma: “Wah, ruangan ini berisik banget buat tempat orang rawat jalan.”
Magnus cuma ngelirik, senyum dikit.
> “Lo harusnya seneng, pasien lo hidup semua.”
Pharma: “Itu karena aku dokter yang baik.”
(dia jalan pelan ke meja Ratchet, ngebaca laporan)
“Oh, darahnya Magnus stabil. Nice. Gak perlu operasi tambahan.”
Suasana agak cair, tapi Lyra ngerasa aneh Pharma tenang banget, kayak gak peduli berita soal ledakan di bawah Delfi yang baru dikabarkan Loen lewat telepon barusan ke Ratchet.
> Ratchet: “Pharma, lo denger kabar itu?”
Pharma: (senyum tipis) “Tentu. Tapi kalian udah periksa, kan? Gak ada yang terluka parah. Gak perlu panik.”
Jazz: “Kita bukan panik, bro. Kita curiga.”
Pharma: (ngangkat alis) “Curiga… sama aku lagi?”
(senyumnya berubah dingin sekejap, tapi langsung balik hangat)
“Kalian lucu. Aku disini aja dari sore.”
Magnus diem. Tatapannya gak sekeras biasanya, tapi dalem banget lebih kayak ngamatin daripada nuduh.
Sementara Lyra, yang duduk paling deket Pharma, bisa ngerasain hawa aneh dari senyumannya. Ada… sesuatu yang gak sinkron antara ekspresi dan nada suaranya.
> Lyra: “Kamu yakin gak apa-apa, Doc?”
Pharma: (balik nanya, matanya nyala dikit di bawah cahaya neon)
“Pertanyaan yang menarik, Lyra. Tapi harusnya aku yang nanya itu ke kalian semua.”
Keheningan turun. Mesin infus beep pelan.
Dan di luar jendela, kilatan lampu polisi nyala samar tim Paul baru sampai lagi di Medika.
Raven Medika, pukul 22.37.
Pintu kaca depan kebuka keras.
Udara dingin luar langsung nyelonong masuk bareng langkah tergesa Paul, masih dengan jas abu gelap yang udah belel di ujung lengan.
Di belakangnya Cade dan Rodi sama dua polisi lain bawa map tebel dan tablet hasil investigasi.
> Paul: “Ratchet, Magnus kita perlu bicara sekarang.”
Ratchet langsung berdiri dari kursinya, ngerasa nada suara Paul gak main-main.
> Ratchet: “Santai dulu. Ada pasien.”
Paul: “Justru karena itu. Masalahnya pasien.”
Magnus duduk tegak, pandangannya nyapu seluruh ruangan terus nancep di Pharma, yang masih tenang ngetik sesuatu di tabletnya sambil nyeruput kopi.
> Magnus: “Kau dapet apa?”
Paul: (narik napas panjang, lalu buka map)
“Kita periksa hasil catatan ‘dokter Kael’ di Delfi. Semua nama pasien yang hilang ada di daftar jadwal operasinya.”
Cade langsung bengong, “Tapi tadi Loen bilang gak ada dokter Kael di daftar pegawai.”
> Paul: “Ya. Dan lebih gila lagi detiap operasi di bawah nama Kael… dilakuin di ruang Pharma.”
Ruangan langsung hening.
Bahkan Jazz yang biasanya nyengir pun diam kali ini.
Lyra, yang dari tadi diem di kursi, pelan-pelan berdiri.
> Lyra: “…itu gak mungkin. Pharma bareng kita waktu kejadian.”
Pharma senyum kecil senyum yang gak sepenuhnya manusiawi.
> Pharma: “Tepat. Aku di sini. Aku gak bisa di dua tempat sekaligus.”
(dia nyender santai ke meja)
“Jadi… kalau ada ‘aku’ lain di sana, mungkin kalian yang harusnya mulai takut.”
Rodi melotot. “Ngomong jelas, dok!”
> Pharma: “Tenang.” (senyumnya makin dingin) “Aku cuma bilang, mungkin seseorang meminjam identitasku.”
“Atau…” (suara jadi rendah) “mereka nyoba nyalinin aku.”
Paul ngegebrak meja.
> Paul: “Jangan main kata-kata, Pharma! Semua bukti ke arahmu!”
Pharma: “Oh, Paul… aku dokter. Bukan pembunuh.”
(lirih) “Tapi kalau orang yang nyalinin aku membunuh… bukankah itu tetap salahku juga?”
Seketika lampu di Medika kedip.
Monitor di belakang nyala sendiri, menampilkan data pasien dengan label “Unknown Surgeon: P.KAEL”.
Ratchet langsung ngeh.
> “Kode ruangannya sama kayak ruang operasi lama di Delfi… yang udah ditutup dari tiga tahun lalu.”
Pharma ngelirik layar, terus pelan nyengir.
> Pharma: “Heh… jadi dia masih hidup.”
> Paul: “Siapa ‘dia’?”
Pharma: (berjalan keluar ruangan pelan, suaranya nyaring di lorong sepi)
“Seseorang yang gak seharusnya bisa hidup lagi…”
Lyra berdiri spontan, mau ngikutin, tapi Magnus nahan tangannya.
> Magnus: “Biarkan dulu. Aku mau liat sejauh mana dia pura-pura.”
Dan di layar monitor itu, tepat sebelum mati lagi, muncul satu kalimat pendek, diketik otomatis dari sistem Delfi:
> “PHARMA SEE YOU IN THE LOWER WARD.”