NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Udara malam di rumah Kyai Abdullah terasa sangat hening.

Para santriwati sudah lama tertidur dengan lampu-lampu halaman padam satu per satu, menyisakan suasana yang syahdu.

Di kamar khusus yang sudah dipersiapkan, Yudiz membuka pintu dengan tangan kirinya sambil menoleh ke Rani.

“Silakan masuk duluan, istriku.”

Rani hanya mendengus pelan dan melangkah masuk.

Langkahnya terdengar berat dan ia melihat kamar yang begitu luas, penuh wangi kayu gaharu.

Ada rak berisi buku-buku agama dan tafsir, sajadah tergulung rapi di pojok dan ranjang besar berhias kelambu putih.

Rani diam tak banyak bicara dan saat ini ia masih mengenakan gamis pemberian Nyai Salmah.

Ia merasakan tidak nyaman nyaman, tapi juga tak ingin terlalu terlihat liar di hadapan pria yang kini sudah menjadi suaminya secara sah.

Yudiz menutup pintu perlahan dan menatap Rani dari kejauhan.

“Masya Allah, cantik sekali istriku.”

“Masya Allah…?”

Belum sempat ia menjawab, Yudiz mendekat dan perlahan-lahan mengecup kening Rani dengan penuh adab.

Kemudian ia menunduk dan berbisik lembut sambil membaca doa.

"Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi…”

“Tunggu! Apa itu? Apa kamu barusan baca mantra?!” tanya Rani yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.

“Itu doa malam pertama, Rani. Sunnah Rasulullah.”

“Astaga, aku pikir kamu lagi mau ruqyah aku! Apakah aku ada setannya? Serius, kamu kira aku kerasukan?”

“La haula wala quwwata illa billah…” gumam Yudiz pelan.

“Dengar ya, Yudiz. Aku menikah karena Abi. Bukan karena aku rela hidup bareng ustadz yang nyium kening sambil baca doa kayak mau manggil jin!” bentak Rani.

Wajah Yudiz tetap tenang, tapi ada guratan kecewa yang tak bisa ia sembunyikan.

“Maaf kalau caraku membuatmu tak nyaman, tetapi aku hanya ingin mengawali malam ini dengan keberkahan.”

“Keberkahan versi siapa? Versi kamu? Aku nggak tahu caranya jadi istri ustadz dan aku nggak mau pura-pura.”

Tanpa banyak bicara, Rani mengambil bantal dan selimut lalu berjalan menuju sofa di pojok ruangan.

“Aku tidur di sini. Jangan sentuh aku.”

Yudiz hanya menatap kosong. Ia berdiri sebentar, kemudian perlahan duduk di tepi ranjang.

Malam pertamanya bukan seperti cerita-cerita islami yang penuh cinta dan air mata bahagia.

“Baik, sekarang tidurlah. Besok kita bicarakan lagi.”

Rani memejamkan mata, tapi dalam hatinya masih bergejolak. Ia tidak membenci Yudiz, tapi ia takut.

Yudis yang sudah merebahkan tubuhnya hanya bisa melihat istrinya yang ada di sofa.

“Ya Allah, kuatkan aku. Jika ini jalan-Mu, tuntun kami dengan sabar, bukan paksaan.”

Malam itu mereka tidur di ruangan yang sama, tapi hati mereka belum satu.

Jam digital di meja kecil sisi ranjang menunjukkan pukul tiga pagi.

Yudiz berdiri tegak dengan sarung dan baju koko. Wajahnya segar setelah berwudu dan ia menatap istrinya yang masih meringkuk di sofa dengan posisi tangan di bawah kepala, rambut awut-awutan, dan selimut melilit seperti kepompong.

“Rani, ayo bangun. Waktunya tahajud.”

“Rani...” Ia menggoyang bahu istrinya perlahan.

Rani mengerang seperti singa kecil yang terganggu tidurnya.

“Apa lagi sih, pagi-pagi begini? Aku capek...”

“Ini bukan pagi. Ini malam terakhir sebelum pagi. Waktunya mendekat ke Allah.”

“Waktunya tidur, Yudiz. Tolong, izinkan aku bertahan hidup sebagai manusia malam.”

Yudiz menatap langit-langit, menarik napas panjang, lalu dengan keikhlasan setebal baja, ia membungkuk dan mengangkat Rani dengan kedua tangannya seperti mengangkat guling besar.

“Heh! Apa-apaan sih?! Turunin aku! Turunin!”

“Mandi dan ayo ikut aku ke pondok pesantren. Kita tahajud dan lanjut subuh. Jam sembilan aku ada meeting sebentar. Kita pulang setelah itu.”

“GILA KAMU, YA?! AKU NGGAK MAU SHOLAT! AKU NGGAK BIASA! AKU NGERASA AKU DISEKAP DI KELUARGA PESANTREN ANEH!!”

Di luar kamar, Kyai Abdullah dan Nyai Salmah duduk di ruang tamu membaca Al-Qur’an dengan tenang. Mereka mendengar suara Rani jelas terdengar sampai ke beranda.

“Kyai…” panggil Nyai Salmah.

Kyai Abdullah hanya tersenyum sabar sambil menutup mushafnya.

“Insya Allah, angin besar ini akan berubah menjadi hujan rahmat.”

“Tapi anginnya bawa batu, Kyai…”

Kyai Abdullah mengajak istrinya untuk pergi terlebih dahulu ke pondok.

Sementara itu Rani sudah selesai mandi dan mereka berdua juga berangkat ke pondok.

Rani duduk di jok belakang motor matic yang dibawa Yudiz, masih dengan wajah ngantuk dan kesal.

Jaketnya kebesaran, wajahnya polos tanpa makeup, dan sandal jepit warna pink menghapus semua ilusi tentang “istri ustadz” yang ia bayangkan semalam.

Sesampainya di gerbang pondok, santri putri mulai berbisik-bisik.

Beberapa langsung membenahi hijabnya dan menunduk penuh rasa tak rela. Nama Yudiz bukan hanya harum karena ketampanan dan ilmunya, tapi juga diam-diam menjadi harapan banyak hati di pondok itu.

“Itu, strinya Gus Yudiz?” bisik seorang santri.

“Ya Allah, rambutnya kelihatan, baju dan celananya ketat?”

“Astaghfirullah, kuatkan kami ya Rabb.”

Rani menyadari lirikan-lirikan itu dan ia ingin kabur, tetapi suaminya tetap berjalan di depan dengan langkah pasti.

"Tidak usah kamu dengarkan omongan mereka," ucap Yudiz.

Yudiz berjalan menuju ke mushola utama dan para santri langsung mencium tangan Yudiz.

Di mushola utama, tahajud berlangsung dengan khusyuk.

Rani berdiri di barisan belakang, mengikuti gerakan salat dengan canggung.

Saat sujud, Rani sempat kehilangan keseimbangan; tangannya nyaris jatuh ke sajadah sebelah.

Setelah selesai Tahajud, Yudiz memimpin do'a sambil menunggu waktu Subuh.

Rani hanya diam dan tangannya sesekali bermain di karpet.

Banyak santri Wati yang menoleh ke arahnya sambil menggelengkan kepalanya.

Setelah shalat subuh, mereka duduk melingkar. Kyai Abdullah bergabung bersama santri dan keluarga.

Tersaji teh hangat, pisang goreng, dan kue basah. Doa makan dibacakan dengan pelan.

“Allahumma bariklana fiima razaqtana, waqina ‘adzabannar...”

Rani, yang belum terbiasa dengan semua ini, langsung menyeruput teh hangat bahkan sebelum “amin” dilafazkan.

Suara seruputnya jelas terdengar di antara khusyuknya doa.

Semua terdiam, santri menoleh, dan Yudiz menatap langit-langit.

Kyai Abdullah hanya tersenyum tipis melihat menantunya yang begitu "ekspresif", sementara Nyai Salmah buru-buru memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan piring kue.

Suasana di serambi pondok pagi itu mendadak jadi sangat canggung, seolah-olah ada knalpot motor trail yang tiba-tiba meraung di tengah perpustakaan yang tenang.

“Tehnya memang enak kalau diminum selagi panas, ya kan Rani?” ucap Kyai Abdullah memecah keheningan, mencoba mencairkan suasana.

Rani yang baru sadar dirinya jadi pusat perhatian hanya mengedikkan bahu.

“Lapar, Kyai. Dari semalam cuma makan hati,” jawabnya ceplas-ceplos yang membuat beberapa santriwati tersedak ludah sendiri.

Yudiz meletakkan cangkirnya perlahan setelah mendengar perkataan dari istrinya

“Habiskan makananmu. Setelah ini aku langsung ke kantor.”

1
kalea rizuky
lampir g taubat jg
my name is pho: sabar kak🤭🥰🙏
total 1 replies
kalea rizuky
MC nya tolol males deh Thor
kalea rizuky
klo q jd ortu nya Rani uda q masukin. penjara si. layla ini kriminal.
kalea rizuky
males deh
kalea rizuky
kapok salah sendiri g tegas sama pelakor sama emak mu jg yudis
lin sya
gpp thor klo nyai salmah dan laila bikin badai buat rmh tangga yudiz dan rani biar rani jd istri tangguh, klo suatu saat kbngkar, berharap sih kyai Abdullah dan yudiz, jg laila ksih pelajaran yg woww gtu biar diinget seumur hdup🤭, org tua rani jg gk akan tinggal diem💪
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
lin sya
hihi..enakan akur jd kluarga Cemara dripd saling ego, smga gk ada drama pelakor, hempaskan, fokus yudiz dan Rani bikin baby 💪
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!