NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Antara Amarah dan Perut yang Berdemo

Sorot mata tajam Raden masih terpaku pada satu titik—pintu kayu di hadapannya.

Ia begitu yakin kalau di balik sana, ada seseorang yang berusaha mencuri dengar setiap perkataan yang keluar dari bibirnya.

Perlahan ia melepaskan genggaman pada ponsel Alana lalu melangkah mendekat.

Setiap pijakannya di atas lantai marmer terasa begitu mengancam, seolah sedang menghitung detik bagi siapa saja yang berani berkhianat.

"Den... kamu mau ngapain? Kenapa jalannya sedikit pelan?" tanya Alana dengan nada heran sekaligus khawatir.

Ia bahkan mencoba menahan lengan pria itu karena takut terjadi keributan besar.

Tanpa memedulikan kecemasan gadisnya, Raden terus berjalan.

Ia hanya sempat menoleh sedikit sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibir, memberi isyarat agar Alana tetap diam.

"Diam, Sayang. Sebentar saja," bisiknya dengan suara rendah namun dingin yang menghangatkan.

Begitu sampai di depan pintu, Raden tidak langsung membukanya. Ia terdiam sejenak agar orang di baliknya tidak curiga.

Lalu tanpa aba-aba, ia menghantam pintu itu dengan satu tendangan kuat.

BRAKKK!

Suster Mia langsung tersungkur di lantai dingin begitu pintu terbuka.

Bahkan ponsel di tangannya terlepas dan terlempar tepat di dekat kaki Raden.

Pria itu melangkah mendekat, berdiri menjulang di hadapan Mia yang gemetar hebat.

Ia tidak langsung bertanya, melainkan menginjak ponsel tersebut dengan sepatu pantofelnya hingga layarnya pecah.

Pecahnya ponsel itu persis seperti lirik lagu; Hasratku ingin bercermin, tapi cerminku pecah seribu, pecah seribu...

"Suster Mia...?" panggil Raden, suaranya terdengar dingin seperti malaikat maut.

"Ternyata Anda lagi? Sudah berapa lama Anda bekerja di sini? Apa Anda berpikir saya tidak tahu siapa yang Suster hubungi tadi?"

Cengkeraman Raden menguat di rahang Mia, memaksa wanita itu menatap matanya yang memerah seperti iblis.

"Berdoa saja semoga Ayah Alana selamat sampai aku tiba di apartemen."

"Karena jika ada satu goresan saja di tubuhnya... aku bersumpah akan mengambil nyawamu sebagai gantinya. Camkan itu!"

Ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Mia terjerembap.

Raden lalu memerintahkan petugas keamanan yang baru datang untuk menangkapnya.

"Bawa dia sekarang! Kunci di ruangan isolasi, jangan biarkan dia berbicara dengan siapa pun!"

Raden mencoba mengatur napasnya yang memburu, meredam sisa amarah yang ada.

Namun, suasana mencekam itu mendadak pecah oleh suara tak terduga.

Kruyuuukkk...

Suaranya terdengar cukup panjang dan nyaring, mirip teriakan emak-emak.

Raden mematung, lalu menoleh ke arah Alana yang sedang memegangi perut dengan wajah memerah.

"Lan, Sayang? Kamu... lapar?" tanya Raden.

Aura mematikannya seketika luntur, digantikan dengan wajah gemas sekaligus bingung.

"Maaf Den, tadi pagi aku belum sempat sarapan. Ditambah melihatmu mengamuk tadi, sepertinya cacing di perutku stres kemudian ikut berdemo," bisik Alana malu.

Raden menghela napas panjang, mencoba menahan senyum agar Alana tidak semakin malu.

"Bagaimana bisa aku menjadi pria yang paling ditakuti kalau gadisku kelaparan di situasi genting?"

Ia merogoh saku jas dan memberikan sebatang cokelat. "Makan ini dulu untuk mengganjal perutmu. Ayo, kita berangkat."

Raden melepaskan jas putihnya, menyisakan kemeja yang kedua lengannya digulung hingga siku.

Ia merangkul bahu Alana dengan sangat protektif sepanjang melintasi koridor rumah sakit.

Para staf menunduk hormat saat berpapasan, namun ia tidak peduli dan hanya fokus menjaga gadisnya.

Ia menarik Alana lebih dekat setiap ada orang asing yang lewat.

Sesampainya di parkiran, Raden membukakan pintu mobil untuk Alana dan memasangkan sabuk pengaman dengan jarak yang begitu dekat.

Hingga membuat Alana bisa mencium aroma maskulin menenangkan dari tubuh pria itu.

Di sepanjang perjalanan, Raden menyetir hanya menggunakan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Alana.

Persis seperti ibu-ibu yang menggandeng anaknya agar tidak hilang. Ia juga berkali-kali mencium punggung tangan Alana.

"Tenanglah Sayang, jangan takut. Ada aku di sini," ucapnya lembut selembut sutra.

Ia lalu membawa tangan Alana dan meletakkannya di dada yang berdegup kencang.

"Dengar? Jantung ini berdetak hanya untuk menjagamu."

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah restoran private bergaya klasik.

Raden segera turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu.

Ia tidak membiarkan Alana melangkah sendirian, melainkan langsung merangkul pinggangnya dengan posesif.

Suasana di dalam sangat sunyi, sepi seperti notifikasi WhatsApp tanpa chat dari kamu karena Raden telah memesan area khusus.

Pelayan menyambut mereka dengan hormat, namun ia hanya memberikan isyarat untuk menunjukkan meja mereka.

Alana merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Rasa cemas akan teror mawar hitam menghilang seketika.

Raden menarikkan kursi dan memastikan ia duduk dengan nyaman.

Pria itu bahkan memotongkan daging di piring Alana lalu menyuapkannya dengan penuh perhatian.

"Ayo buka mulutmu, Sayang..."

Alana menerima suapan itu dengan perasaan bahagia yang luar biasa.

Raden mengulurkan ibu jari untuk mengusap noda saus di sudut bibir Alana sambil menatap penuh cinta.

"Melihatmu makan lahap begini sudah cukup mengenyangkan bagiku, Lan."

Setelah energi Alana pulih, mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai ke apartemen.

Raden kembali siaga, mengeluarkan pistolnya dan menyuruh Alana tetap di belakang punggungnya.

Ia menendang pintu apartemen dengan waspada.

Namun di dalam sana, Ayah Alana justru sedang duduk santai sambil menyantap nasi padang dengan lahap.

"Ayah!" panggil Alana yang langsung menghambur ke pelukan ayahnya dengan perasaan bahagia.

Melihat itu, Raden bersandar di daun pintu sambil melonggarkan sedikit dasinya dengan napas lega.

Ia menatap haru ke arah Alana, namun matanya tetap waspada.

Ia yakin mawar hitam tadi bukan sekadar gertakan biasa, dan kemungkinan perang yang sebenarnya akan segera dimulai.

*****

Catatan Penulis:

"Halo semuanya! Pertama-tama, aku mau minta maaf sebesar-besarnya karena baru bisa update sekarang. 🙏❤️

Gimana Bab 22 ini? Sudah cukup bikin baper belum lihat cara Raden manjain Alana di restoran?

Jujur, aku sendiri senyum-senyum pas nulis bagian Raden nyuapin Alana. Tapi ya itu, suasana romantis emang paling pinter dirusak sama perut yang berdemo! 😂

Siapa nih yang mau punya pelindung posesif kayak Dokter Raden? Coba absen di kolom komentar!

Jangan lupa dukungannya dengan klik Like, Vote, dan masukkan ke Favorit kalian ya. I love you all! ✨🔥"

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!