Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Imbalan dan Pesta
"Tolong... kumohon lepaskan aku," isak Jessy dengan suara yang nyaris hilang. "Aku akan melakukan apa saja, aku akan pergi dari Prancis, aku tidak akan mengganggu Brian lagi. Tolong, Tuan Reno... lepaskan aku."
Jessy memohon dengan sisa-sisa harga dirinya. Tubuhnya gemetar hebat, matanya menatap Reno dengan tatapan memelas, berharap ada secercah rasa iba di hati pria asing itu. Namun, permohonan itu justru tampak seperti hiburan bagi Reno.
Bukannya menjawab, Reno justru berdiri di sisi ranjang. Matanya yang gelap menatap Jessy dengan lapar. Tanpa melepaskan pandangannya, tangannya bergerak membuka jubah mandi yang ia kenakan, membiarkannya jatuh ke lantai begitu saja. Di sana, kebanggaannya sudah menegang sempurna, menunjukkan bahwa pria itu sama sekali tidak terpengaruh oleh air mata Jessy.
"Kau tidak mengerti, Jessy," suara Reno terdengar berat dan serak. "Aku tidak memintamu dari Brian untuk kemudian melepaskan mu."
Ketakutan Jessy memuncak saat Reno merangkak naik ke atas ranjang. "Jangan! Kumohon jangan lakukan lagi!" teriak Jessy sambil mencoba menjauh, namun tangannya yang terikat kuat ke kepala ranjang membuatnya tidak bisa pergi ke mana pun.
Tanpa ragu dan tanpa belas kasihan, Reno mencengkeram kedua kaki Jessy. Dengan satu sentakan kuat yang mendominasi, ia mendorong kaki wanita itu hingga menekuk indah, memaksanya berada dalam posisi yang sepenuhnya terbuka dan tak berdaya.
"Tuan tolong, berhenti! Aku membencimu! Brengsek! Kau bajingan kejam!" maki Jessy di sela tangisnya yang pecah.
Reno tidak peduli. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman mengerikan yang sarat akan kepuasan. Tanpa memberikan waktu bagi Jessy untuk bernapas, ia menghujamkan dirinya masuk, memenuhi wanita itu dalam satu dorongan kasar yang dalam.
"Aaahhh!"
Jeritan Jessy menggema di seluruh penjuru kamar yang kedap suara itu. Isak tangis dan makian terus mengalir dari bibirnya, namun semua itu tenggelam di bawah genggaman Reno yang seolah ingin menghancurkan sekaligus memilikinya sepenuhnya. Di bawah kungkungan Reno, Jessy menyadari satu hal yang mengerikan. dia benar-benar telah terjatuh ke dalam neraka yang diciptakan oleh Brian dan pria asing yang jahat ini.
Setelah menuntaskan hasrat yang menghancurkan perlawanan Jessy, Reno menarik diri dengan tenang. Dia tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Sementara itu, Jessy terbaring lemas dengan napas tersengal, tubuhnya gemetar hebat, dan air mata yang terus mengalir membasahi bantal yang kini berantakan.
Reno berdiri di sisi ranjang, mengambil botol wine lalu meminumnya dengan santai seolah baru saja melakukan aktivitas biasa. Dia menatap Jessy yang tampak hancur, lalu mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu.
"Dengar baik-baik, Jessy," bisik Reno, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Jangan pernah sekalipun kau berpikir untuk kembali ke Jakarta atau mencoba mengusik kehidupan Brian lagi. Dia sudah bahagia dengan pilihannya, dan kau... kau bukan lagi bagian dari hidupnya."
Jessy hanya bisa terisak, tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata makian. Tenaganya telah habis terkuras.
Reno mencengkeram dagu Jessy, memaksa wanita itu menatap matanya. "Jika kau berani melanggar, atau mencoba menghubunginya satu kali saja... aku tidak akan segan-segan menyeret mu kembali ke sini. Aku akan mengurung mu di apartemen ini, menjauhkan mu dari sinar matahari, dan memastikan kau tidak akan pernah menjadi model lagi sampai kapan pun."
Cengkeraman itu menguat sejenak sebelum Reno melepaskannya dengan kasar.
"Kau mengerti?" tanya Reno menuntut jawaban.
Jessy memejamkan mata rapat-rapat, merasakan takut luar biasa. Dia tidak punya pilihan selain mengangguk lemah di tengah isak tangisnya. Di bawah ancaman Reno, Jessy sadar bahwa karir, kebebasan, dan cintanya pada Brian kini telah musnah, berganti menjadi sebuah penjara tak kasat mata yang dijaga oleh pria kejam di depannya.
...***...
Sementara itu, ribuan kilometer dari Prancis, kemegahan terpancar dari sebuah aula mewah di jantung kota Jakarta. Malam itu, pesta pernikahan Brian dan Arumi berlangsung dengan skala yang luar biasa. Cahaya lampu kristal memantul pada gaun pengantin Arumi yang bertahtakan permata, lengkap dengan mahkota rancangan desainer ternama yang membuatnya tampak seperti ratu dalam semalam.
Di sampingnya, Brian berdiri dengan tuksedo putih yang membuatnya terlihat begitu gagah dan tampan. Senyum profesionalnya tak pernah luntur setiap kali sorotan kamera media atau sapaan tamu undangan yang terdiri dari jajaran aktor papan atas hingga rekan bisnis menghampiri mereka.
Di antara kerumunan tamu, tampak Mike datang bersama Linda, menikmati suasana pesta yang penuh prestise tersebut. Namun, pemandangan berbeda terlihat pada Dona. Gadis itu seolah tak membiarkan ada celah sedikit pun di antara dirinya dan Frans, asisten pribadi Brian. Dona merangkul lengan Frans dengan sangat posesif.
Frans, yang sudah terbiasa dengan sikap nona mudanya itu, hanya mampu memasang wajah datar meski hatinya mungkin merasa terganggu, sikapnya sebagai asisten Brian menuntutnya untuk tetap diam dan berdiri tegak seperti robot di sisi Dona.
Di sudut lain, Tante Widia dengan anggun menyambut setiap tamu penting yang hadir, memastikan citra keluarga besar mereka tetap terjaga sempurna.
Puncak acara dimulai saat musik berganti menjadi alunan melodi dansa yang romantis. Brian membawa Arumi ke tengah lantai dansa, bergerak selaras di bawah hujan kelopak bunga mawar. Setelah acara memotong kue pengantin setinggi dua meter, Brian menarik pinggang Arumi dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir istrinya.
Gemuruh tepuk tangan dari para tamu undangan memenuhi ruangan. Semua orang terpukau oleh pasangan yang terlihat sangat serasi itu.
Di tengah denting gelas sampanye dan riuh obrolan tamu undangan, Dona semakin mempererat rangkulannya di lengan Frans. Ia menyandarkan kepalanya di bahu asisten kakak sepupunya itu, sama sekali tidak peduli pada pandangan orang-orang.
"Frans, lihat Kak Brian dan Kak Arumi," bisik Dona manja, jemarinya mulai membelai permukaan jas yang dikenakan Frans. "Mereka kelihatan serasi kan? Jadi mau dansa juga... tapi sama kamu."
Frans tetap bergeming, matanya fokus menatap ke depan dengan tatapan yang kosong namun waspada. "Nona Dona, tolong jaga sikap Anda dan saya sedang bertugas membantu Tuan Brian."
Dona tertawa kecil, suara tawanya terdengar genit di telinga Frans. "Tugas kamu kan juga menjagaku, Frans. Dan sekarang aku mau kamu menemaniku berdansa setelah ini. Jangan kaku begitu, nanti ketampananmu hilang."
Frans hanya membuang napas pelan melalui hidung, rahangnya mengeras. "Saya bukan pasangan dansa Anda, Nona."
"Akan jadi, sebentar lagi," balas Dona penuh percaya diri, matanya berkilat nakal.
Di atas panggung utama, setelah riuh tepuk tangan untuk ciuman mereka mereda setelah berdansa, Brian berbisik sangat lirih di telinga Arumi, tepat di saat mereka masih berpelukan erat.
"Kau sangat cantik malam ini, Arumi. Akhirnya, semuanya berjalan sesuai rencana," ucap Brian dengan nada yang sangat lembut dan mesra.
Arumi tersenyum manis. "Terima kasih karena sudah memilihku."
Brian mengusap punggung Arumi mencium keningnya, matanya terpejam pikirannya terbang sejenak ke Prancis, memastikan bahwa masalahnya benar-benar sudah ditangani oleh Reno. "Aku akan melakukan apa pun untuk memastikan kebahagiaan kita, Sayang. Apa pun."
Sementara itu, Tante Widia menghampiri Mike dan Linda yang sedang menikmati hidangan.
"Tuan Mike, Nona Linda! Senang sekali kalian bisa hadir," sapa Tante Widia dengan senyum lebar yang dipaksakan sempurna.
"Tentu saja, Nyonya Widya. Pernikahan Brian adalah acara penting yang tidak mungkin kami lewatkan," balas Mike dengan nada sopan namun tersirat makna lain.
"Semuanya terlihat sempurna, Nyonya. Nona Arumi benar-benar beruntung," tambah Linda sambil melirik ke arah pelaminan, tanpa tahu harga mahal yang harus dibayar oleh seorang wanita bernama Jessy di belahan dunia lain demi kesempurnaan pesta ini.