NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

perjalanan ke labuhan bajo

Setelah jam kerja resmi berakhir, gedung perusahaan perlahan lengang. Para direksi pulang lebih cepat dari biasanya, masing-masing membawa urusannya masing - masing dengan wajah yang sedikit lebih rileks, meski sisa ketegangan pekerjaan masih tergambar jelas. Tujuan mereka sama: bandara.

Pukul lima sore, satu per satu mobil mewah mulai memenuhi area keberangkatan. Suasana di sana terasa berbeda, bukan hanya perjalanan dinas, tapi juga liburan yang dibungkus agenda kebersamaan perusahaan. Tawa kecil, obrolan ringan, dan sapaan hangat terdengar di antara para direksi beserta keluarga mereka.

Rayya tiba bersama sang mama. Wanita paruh baya itu tampil anggun dengan senyum yang menenangkan, tangannya menggenggam lengan Rayya dengan hangat. Sang papa belum terlihat, ia akan menyusul langsung dari Makassar setelah menyelesaikan urusan cabang perusahaan di sana.

“Kamu kelihatan capek, Nak,” ucap mama Rayya lembut saat mereka berjalan memasuki area tunggu.

Rayya tersenyum tipis.

“Sedikit, Ma. Tapi nggak apa-apa. Mungkin udara laut nanti bisa bantu.” sahut rayya.

Mamanya mengangguk, menatap putrinya penuh arti, seolah tahu beban yang sedang dipikul Rayya bukan hanya soal pekerjaan.

Tak jauh dari mereka, Devan berdiri sendirian.

Ia mengenakan kemeja gelap dan jaket tipis, satu tas kabin di tangannya. Tatapannya tenang, nyaris datar, namun ada kesan jauh yang sulit dijelaskan. Tidak ada keluarga yang mengiringinya, tidak ada sapaan akrab yang menyertainya. Ia terbiasa dengan itu.

Ayahnya telah lama meninggal dunia, sementara ibunya memilih menetap di kampung halaman, hidup sederhana bersama keluarga besarnya. Bagi Devan, keputusan itu adalah bentuk kebahagiaan sang ibu, dan ia tidak pernah ingin menariknya ke kehidupan kota yang keras dan penuh tuntutan.

Soal pasangan, Devan bahkan tidak mencoba menjelaskan pada siapa pun.

Namun diam-diam, pikirannya melayang jauh ke masa lalu, ke Inggris.

Dulu, saat ia masih menyelesaikan studinya dan memulai karier di sana, hidup Devan sangat berbeda. Ia pernah jatuh cinta, dengan seorang gadis asli Inggris, teman sekampusnya. Hubungan mereka berjalan serius, dewasa, dan tenang. Mereka saling mendukung, tumbuh bersama, bahkan sempat bertunangan.

Devan masih ingat hari ketika cincin itu melingkar di jari gadis itu, senyumnya, caranya tertawa kecil setiap kali gugup, dan rencana-rencana sederhana tentang masa depan yang terasa begitu nyata.

Namun hidup tidak selalu memberi kesempatan untuk menyelesaikan cerita.

Saat tunangannya sedang berlibur bersama keluarganya, sebuah kecelakaan tragis terjadi. Berita itu datang begitu mendadak, tanpa peringatan, tanpa kesempatan untuk mengucapkan perpisahan. Dunia Devan runtuh dalam satu malam.

Sejak hari itu, Devan berubah. setelah bertahun - tahun hidup sendiri.

Ia kembali ke Indonesia dengan membawa kesedihan yang tak pernah benar-benar sembuh. Cincin tunangan itu masih ia simpan, terkunci rapi di sebuah laci yang jarang ia buka. Ia menutup hatinya, bukan karena tidak ingin mencintai, tapi karena takut kehilangan untuk kedua kalinya.

Karier menjadi pelariannya. Target, tanggung jawab, dan standar tinggi adalah cara Devan bertahan.

beberapa saat kemudian, Devan segera menarik dirinya dari lamunan panjang. Tatapannya kembali fokus pada sekitar, hingga tanpa sengaja matanya menangkap sosok ibu Mariana yang berdiri di samping Rayya. Ingatan lama tentang wanita itu yang selalu bersikap hangat dan manusiawi padanya muncul begitu saja.

Dengan langkah mantap, Devan menghampiri mereka.

“Selamat sore, Bu,” sapa Devan sopan, sedikit menundukkan kepala.

Ibu Mariana tersenyum lebar begitu melihatnya.

“Devan? Ya ampun, sudah lama sekali Ibu tidak melihat kamu dari dekat. Kamu kelihatan makin dewasa.” ucap mama rayya dengan ramah.

“Terima kasih, Bu,” jawab Devan tulus.

Sementara itu, Rayya hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap ponselnya. Raut wajahnya dingin, jelas menunjukkan sisa amarah akibat perbedaan pendapat mereka di kantor siang tadi. Sikap itu tidak luput dari perhatian Devan, namun ia tidak mempermasalahkannya. Ia sudah terbiasa dengan penolakan kecil semacam itu, terutama dari Rayya.

Ibu Mariana menepuk lengan Devan pelan.

“Ibu dengar kamu sekarang pengawas direktur operasional. Papa Rayya bangga sekali, lho.” ucap mama rayya sambil tersenyum bangga.

Devan tersenyum kecil.

“Saya hanya menjalankan amanah, Bu. Banyak yang masih harus saya pelajari.” sahut devan merendah.

Nada suaranya rendah, penuh hormat. Sama seperti dulu, ketika ia masih remaja yang membantu ayahnya membersihkan kebun rumah keluarga Surya. Tidak ada kesombongan, tidak ada jarak, meski statusnya kini sudah jauh berbeda. mereka pun ngobrol dengan asyiknya.

Panggilan keberangkatan pesawat mulai terdengar dari pengeras suara.

Devan refleks menoleh, lalu kembali memandang ibu Mariana.

“Bu, kalau tidak keberatan, biar saya bawakan kopernya.” ucap devan menawarkan diri.

Ibu Mariana tampak terkejut sekaligus senang.

“Aduh, boleh? Ibu jadi ingat kamu dulu, selalu sigap membantu.” ucap ibu mariana memuji devan.

“Sudah biasa, Bu,” jawab Devan sambil mengambil koper dengan hati-hati.

Rayya akhirnya menoleh, sedikit terkejut melihat Devan dengan ringan mengangkat koper sang mama. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya, bukan kagum, bukan pula lega, melainkan perasaan asing yang cepat ia tepis. Ia mengalihkan pandangan, enggan membaca ulang sosok Devan dengan sudut pandang baru.

Rombongan pun mulai berjalan menuju gate. Devan tetap berada di sisi ibu Mariana, sesekali memastikan langkah wanita itu nyaman, sementara Rayya berjalan di depan dengan jarak yang sengaja ia jaga.

Namun tanpa disadari Rayya, di balik sikap tenang dan profesionalnya, Devan sama sekali tidak sedang berpura-pura. Ia tulus, seperti dulu. namun rayya sedang tidak ingin membahas devan. ia sedang karena tommy tidak ada kabar.

Begitu memasuki kabin pesawat, langkah Rayya terasa lebih berat dari biasanya. Wajahnya tampak tegang, rahangnya mengeras, dan sorot matanya menyiratkan kekesalan yang berusaha ia tahan. Matanya sesekali melirik layar ponsel di tangannya, kosong. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan tak terjawab dari nama yang sejak pagi ia tunggu.

Tommy.

Rayya menekan ponselnya, lalu menyimpannya kembali ke dalam tas dengan gerakan agak kasar. Ia mengambil tempat duduk di samping jendela, sementara ibu Mariana duduk di sebelahnya. Rayya berharap, setidaknya dalam perjalanan ini, ia bisa terbebas dari hal-hal yang membuat dadanya terasa penuh.

Namun harapan itu runtuh seketika.

Ketika ia menoleh ke kiri, ia mendapati Devan sudah duduk di kursi seberang lorong, tepat di hadapannya. Posisi yang tidak bisa ia hindari, tidak bisa pula ia abaikan. Devan duduk dengan tenang, headset terpasang di telinganya, satu tangan memegang tablet, wajahnya datar dan fokus. Seolah keberadaan Rayya sama sekali tidak mengusik kenyamanannya.

Entah mengapa, hal itu justru membuat Rayya semakin kesal.

“Tommy belum ada kabar?” tanya ibu Mariana pelan, memperhatikan perubahan ekspresi putrinya sejak di bandara.

Rayya menarik napas pendek.

“belum ma, Katanya mau ikut,” jawabnya singkat, tanpa menoleh.

“Mungkin dia naik penerbangan setelah ini,” ujar sang mama lembut, mencoba menenangkan.

“Kan Labuan Bajo gak akan lari ke mana - mana.” sambung sang mama sambil becanda.

Rayya hanya mengangguk kecil. Ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ketidakhadiran Tommy membuat suasana hatinya berantakan. Mungkin karena ia sudah terlanjur berharap atau mungkin karena ia tidak suka merasa diabaikan.

Pesawat mulai bergerak perlahan. Rayya menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap keluar jendela. Ia berusaha menikmati pemandangan landasan yang kian menjauh, mencoba meyakinkan dirinya bahwa liburan ini seharusnya menyenangkan. Ia datang untuk profesionalitas, untuk keluarga, bukan untuk siapa pun.

Namun setiap kali ia menggeser pandangan sedikit saja, sosok Devan selalu ada di sana, tenang, terkendali, dan seolah tidak membawa beban apa pun. Berbanding terbalik dengan isi kepala Rayya yang riuh.

Rayya memejamkan mata, berusaha menata perasaannya. dan berharap liburannya menyenangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!