"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membongkar Rahasia Bale Pesanggrahan
Malam itu, Puri tidur dengan gelisah. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan Rendra yang menghilang dan misteri bale pasanggrahan yang semakin mencekam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Saat ia terlelap, ia kembali bermimpi. Namun, kali ini, mimpinya terasa lebih jelas dan nyata daripada sebelumnya.
Ia melihat dirinya berdiri di tengah sebuah hutan yang gelap dan lebat. Pohon-pohon di sekitarnya tampak tinggi dan menakutkan, dengan ranting-ranting yang menjulur seperti tangan-tangan yang ingin mencengkeramnya.
Di kejauhan, ia melihat sebuah cahaya yang redup. Ia berjalan mendekat ke arah cahaya itu, berharap dapat menemukan jalan keluar dari hutan yang menakutkan ini.
Semakin lama, cahaya itu semakin terang, dan ia mulai melihat apa yang ada di sekitarnya. Ia melihat sebuah bale kecil yang tampak usang dan terbengkalai. Di depan bale itu, ia melihat seorang pria sedang duduk di kursi.
Pria itu adalah Rendra.
Puri berlari mendekat ke arah Rendra dan memanggil namanya. "Rendra! Rendra, kamu di mana? Kami semua mencarimu!"
Rendra menoleh ke arah Puri dengan tatapan kosong dan dingin. Ia tidak menjawab panggilan Puri.
Tiba-tiba, dari dalam bale itu, muncul seorang wanita bergaun putih panjang. Wajah wanita itu pucat pasi dan matanya kosong, sama seperti yang ia lihat dalam mimpinya sebelumnya.
Wanita itu berjalan mendekat ke arah Rendra dan memeluknya erat. Rendra tidak menolak pelukan wanita itu. Ia justru membalas pelukan wanita itu dengan erat.
Puri terkejut dan bingung melihat pemandangan itu. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Rendra, siapa wanita itu?" tanya Puri dengan nada bingung. "Kenapa kamu memeluknya?"
Rendra tidak menjawab pertanyaan Puri. Ia hanya terus memeluk wanita itu dengan erat, seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Puri.
Tiba-tiba, wanita itu menoleh ke arah Puri dan tersenyum sinis. Senyuman itu membuat Puri merinding ketakutan.
"Dia milikku sekarang," kata wanita itu dengan suara yang serak dan mengerikan. "Kamu tidak bisa mengambilnya dariku."
Puri terkejut mendengar perkataan wanita itu. Ia tidak mengerti apa maksudnya.
"Apa maksudmu?" tanya Puri dengan nada takut. "Apa yang sudah kamu lakukan pada Rendra?"
Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Puri. Ia hanya terus tersenyum sinis dan menatap Puri dengan tatapan yang merendahkan.
Tiba-tiba, wanita itu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Puri. Jari-jarinya yang panjang dan lentik tampak seperti cakar yang siap mencengkeram.
"Kamu akan segera menyusulnya," kata wanita itu dengan nada mengancam.
Tepat saat itu, Puri terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah dan jantung berdebar kencang. Ia duduk tegak di tempat tidur, tubuhnya bermandikan keringat dingin.
Mimpi itu terasa begitu nyata dan mengerikan. Ia tidak bisa melupakan tatapan kosong Rendra, senyuman sinis wanita bergaun putih, dan ancaman yang mengerikan.
Puri tahu, mimpinya itu bukanlah sekadar bunga tidur biasa. Itu adalah sebuah pesan, sebuah peringatan, atau mungkin... sebuah petunjuk.
Ia segera meraih buku catatannya dan mulai menuliskan semua detail mimpinya. Ia mencatat tentang hutan yang gelap, bale yang usang, Rendra yang dipeluk oleh wanita bergaun putih, dan ancaman yang mengerikan.
Setelah selesai menulis, Puri terdiam sejenak. Ia mencoba menafsirkan arti dari mimpinya itu.
Ia yakin, wanita bergaun putih itu adalah roh jahat yang menghuni bale pasanggrahan. Roh itu telah menculik Rendra dan menjadikannya miliknya.
Puri juga yakin, ia akan segera menyusul Rendra jika ia tidak berhati-hati. Roh jahat itu akan mencoba untuk mencelakainya dan menjadikannya miliknya juga.
Puri merasa takut dan putus asa. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Namun, di tengah ketakutannya, ia merasakan
secercah harapan. Ia yakin, ia tidak boleh menyerah. Ia harus menyelamatkan Rendra dan mengungkap misteri bale pasanggrahan ini, meskipun itu berarti ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Pagi itu, Puri bangun dengan tekad yang membara. Ia tahu, ia tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu. Ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Rendra dan mengungkap misteri bale pasanggrahan ini.
Setelah sarapan, Puri mengajak teman-temannya berkumpul di pendopo. Ia menceritakan tentang mimpinya yang jelas dan menakutkan, serta keyakinannya bahwa mimpinya itu adalah sebuah petunjuk.
"Aku yakin, kita harus mencari tahu arti dari simbol-simbol yang muncul dalam mimpiku," kata Puri dengan nada serius. "Mungkin, dengan memahami arti simbol-simbol itu, kita bisa menemukan cara untuk menyelamatkan Rendra."
Teman-teman Puri setuju dengan usulnya. Mereka tahu, mereka tidak punya pilihan lain. Mereka harus mencoba segala cara untuk menyelamatkan Rendra.
"Oke, kita bagi tugas," kata Fahri. "Ayu dan Dina, kalian cari informasi tentang simbol-simbol yang berhubungan dengan hutan gelap dan bale usang. Rio dan aku, kita cari informasi tentang wanita bergaun putih dan apa artinya dia memeluk Rendra."
Puri mengangguk setuju. "Aku akan mencoba berbicara dengan Mbah Sastro," kata Puri. "Mungkin dia tahu sesuatu tentang simbol-simbol ini."
Setelah membagi tugas, mereka semua bergegas menjalankan tugas masing-masing.
Puri pergi ke rumah Mbah Sastro dengan hati
penuh harap. Ia berharap, Mbah Sastro dapat membantunya menafsirkan mimpinya dan menemukan cara untuk menyelamatkan Rendra.
Sesampainya di rumah Mbah Sastro, Puri mengetuk pintu dengan sopan. Tidak lama kemudian, Mbah Sastro membuka pintu dan menyambut Puri dengan senyuman hangat.
"Ada apa, Nduk?" tanya Mbah Sastro dengan nada lembut. "Kamu tampak gelisah."
Puri menceritakan tentang mimpinya dan tentang niatnya untuk mencari tahu arti dari simbol-simbol yang muncul dalam mimpinya.
Mbah Sastro mendengarkan dengan seksama cerita Puri. Setelah Puri selesai bercerita, Mbah Sastro terdiam sejenak.
"Mimpi itu adalah pertanda yang kuat, Nduk," kata Mbah Sastro akhirnya. "Kamu harus berhati-hati. Ada kekuatan jahat yang sedang mengincar kamu dan teman-temanmu."
Puri menelan ludah dengan gugup. Ia sudah menduga bahwa mimpinya itu adalah pertanda buruk.
"Apa arti dari simbol-simbol itu, Mbah?" tanya Puri dengan nada penuh harap. "Hutan gelap, bale usang, dan wanita bergaun putih... Apa maksudnya semua itu?"
Mbah Sastro menghela napas panjang. "Hutan gelap melambangkan kebingungan dan ketakutan yang sedang kamu rasakan," kata Mbah Sastro. "Kamu sedang tersesat dalam kegelapan dan tidak tahu jalan keluar."
"Bale usang melambangkan masa lalu yang kelam dan penuh dengan rahasia," lanjut Mbah Sastro. "Di dalam bale itu, tersembunyi sebuah kekuatan jahat yang sangat berbahaya."
"Wanita bergaun putih melambangkan roh jahat yang menghuni bale usang itu," kata Mbah Sastro. "Dia adalah sosok yang sangat kuat dan berbahaya. Dia telah menculik Rendra dan menjadikannya miliknya."
Puri terkejut mendengar penjelasan Mbah Sastro. Ia tidak menyangka bahwa mimpinya itu memiliki arti yang begitu dalam dan mengerikan.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Mbah?" tanya Puri dengan nada putus asa. "Bagaimana cara aku menyelamatkan Rendra dari roh jahat itu?"
Mbah Sastro terdiam sejenak. Ia tampak sedang berpikir keras.
"Kamu harus mencari tahu kelemahan dari roh jahat itu," kata Mbah Sastro akhirnya. "Setiap makhluk memiliki kelemahan. Jika kamu bisa menemukan kelemahan roh jahat itu, kamu bisa mengalahkannya dan menyelamatkan Rendra."
"Tapi, bagaimana cara aku menemukan kelemahan roh jahat itu, Mbah?" tanya Puri dengan nada bingung.
"Kamu harus mencari tahu sejarah bale pasanggrahan ini," kata Mbah Sastro. "Cari tahu siapa yang membangunnya, untuk apa bale itu digunakan, dan apa saja kejadian aneh yang pernah terjadi di sana. Mungkin, dari sejarah bale pasanggrahan ini, kamu bisa menemukan petunjuk tentang kelemahan roh jahat itu."
Puri mengangguk mengerti. Ia tahu, ia harus melakukan apa yang dikatakan oleh Mbah Sastro. Ia harus mencari tahu sejarah bale pasanggrahan ini dan menemukan kelemahan roh jahat itu.
"Terima kasih banyak, Mbah," kata Puri dengan nada tulus. "Aku akan melakukan apa yang Mbah katakan."
"Hati-hati, Nduk," kata Mbah Sastro dengan nada khawatir. "Jangan pernah meremehkan kekuatan roh jahat itu. Dia akan melakukan segala cara untuk menghentikan mu."
Puri mengangguk dan berpamitan kepada Mbah Sastro. Ia kembali ke bale pasanggrahan dengan tekad yang semakin kuat. Ia tahu, ia tidak boleh menyerah. Ia harus menyelamatkan Rendra dan mengungkap misteri bale pasanggrahan ini, meskipun itu berarti ia harus menghadapi bahaya yang sangat besar.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*