Dunia terlalu kejam untuk dia yang hanya terus menangis.
Bumi ini sangat jahat untuk wanita yang hanya mengandalkan dirinya sendiri, berbekalkan keberanian dan tekad untuk bisa bertahan hidup di tengah tengah gempuran kesulitan.
Haeyla Seraphine layak mendapatkan kemenangan atas hidup nya, cinta dan ketulusan layak untuk dia menangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pupybear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20.
Pukul 06:30
Pagi ini Haeyla bangun sedikit siang, karena sekolah hari ini tidak beraktivitas seperti biasa, mereka hanya datang untuk mengisi absen dan juga biodata mereka untuk ujian akhir semester nanti.
' Sebaiknya aku santai sih hari ini, lagian hari ini ga ada kata kata terlambat juga kan, cape juga setiap hari harus buru buru ke sekolah, and btw, aku masih heran juga ya sama kak Ardhana, kenapa dia tiba tiba mindahin aku di bagian kasir, padahal masih ada anak anak lain yang lebih lama dan pengalaman nya banyak di bandingkan aku. ' Tentu saja Haeyla akan menaruh rasa bingung persoalan pemindahan bagian kerja, karena sudah lama Haeyla berada di bagian dapur dan belum pernah ada recomend untuk pindah bagian, namun kemarin tiba tiba saja Ardhana memindahkan nya.
Tok tok tok
Pintu Haeyla di ketuk.
" Iya sebentar. " Haeyla membuka pintu dan melihat seseorang yang asing baginya.
" Kamu siapa ya?, ada perlu apa?. "
" Lo Haeyla Seraphine?. "
" Ya, ada apa?. "
" Gue Serin Flowra, dan gue lagi dekat sama Bumi. " Seseorang itu adalah Serin, dengan begitu mudah dan cepat nya Serin mendapatkan alamat rumah Haeyla.
" Oh, kamu perlu apa kesini?. " jawab Haeyla santai.
" Tolong jauhin Bumi ya, jangan jadi benalu di tengah tengah kita. " Dengan enteng nya Serin berkata demikian pada Haeyla.
" Hah?, aku gak paham maksud kamu, tapi sory kalau kamu ngira aku sama Bumi ada something itu salah. " Haeyla menjawab santai dengan wajah yang sedikit bingung.
" Yakin?, gue tau Bumi itu perfect segalanya, jadi bisa aja lo emang sengaja deketin Bumi. "
" Kalau kamu cuma mau bicara yang gak ter arah aku gak punya waktu, soalnya aku mau berangkat ke sekolah. " Haeyla menjawab lagi dengan wajah yang sedikit risih.
" Oke, gue harap lo tau batasan, jangan sampe hal ini jadi kemana mana. " Serin pergi meninggalkan Haeyla di depan pintu rumah nya. Sementara Haeyla masih berdiri tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi di rumahnya.
' Sumpah itu cewe aneh dan gak jelas banget. ' gumam Haeyla.
Setelah bersiap Haeyla langsung pergi menuju sekolah dengan berjalan kaki, Haeyla tidak menerima telpon dari siapapun hari ini, dari Bumi maupun Arbian, hari ini dia hanya ingin sendiri saja.
Rasanya serba salah menjadi Haeyla, dia tidak pernah mendekati siapapun, namun semua orang hanya bisa terus menyalahkan nya, untungnya Haeyla bijak menyikapi semua yang terjadi belakangan ini.
Toko Bunga Cencen.
" Morning cici, uda lama aku gak kesini. " Haeyla mampir terlebih dulu ke toko bunga langganan nya waktu itu.
" Lala, kamu Lala kan?, aihh, cantik sekali sekarang. " jawab wanita berumur 30 han itu kepada Haeyla.
" Cici juga makin cantik aja. " puji Haeyla balik.
" Cari apa kesini Lala?, pasti bunga Lily putih ya?. " Haeyla sangat menyukai bunga Lily putih, ketika dia datang ke toko bunga dia selalu memesan itu.
" Engga, aku cuma mampir aja ci, soalnya udah lama gak mampir. "
" Yaya, cici juga udah lama gak lihat kamu, kirain kamu udah pindah rumah. "
" Engga, yaudah ya ci, aku mau lanjut ke sekolah, nanti aku mampir lagi. " Haeyla kembali melanjutkan langkah nya menuju sekolah, kali ini tidak ada yang menemui Haeyla di jalan karena Haeyla tidak lewat dari jalan yang biasanya, kali ini Haeyla lewat dari jalan belakang sekolah.
Telpon Haeyla berdering.
Bumi.
Arbian.
Cilia.
Ketiga orang itu menelpon Haeyla sejak tadi, namun Haeyla tidak menghiraukan nya sejenak, karena kali ini dia ingin sendiri.
' Maaf ya Cil, aku terpaksa deh gak angkat telpon dari kamu, soalnya nanti kalau aku buka ponsel mereka tau kalau aku lagi aktifin ponsel. '
Gerbang sekolah.
Cilia langsung berlari menghampiri Haeyla ketika matanya menangkap kehadiran Haeyla.
" Bener bener ya lo La!, gue nelpon lo berkali kali gak lo angkat!, kenapa?."
" Bukan gitu Cil, hp aku di silent tadi, jadi gak kedengaran notif apapun. "
" Kebiasaan ya lo!. " Haeyla terpaksa berbohong pada Cilia.
Semua murid sudah berkumpul di sekolah, bahkan ada yang datang dan pergi, karena memang hari ini adalah hari bebas di sekolah.
" Tunggu!. " Suara tersebut berhasil menghentikan langkah Haeyla dan Cilia.
" Apaan si lo, mau apa?. "
" Bumi?. " Suara tersebut adalah suara Bumu.
" Kenapa kamu gak angkat telpon aku?. "
" Dih!, jangan kan lo, gue sahabat sejati nya aja gak di angkat telpon nya sama Haeyla. "
" Iya, hp nya aku silent jadi gak kedengaran, yaudah ayo Cila, nanti kita telat isi absen. " Haeyla buru buru pergi menghindari Bumi dan Bumi meyadari ada yang aneh dengan Haeyla hari ini.
Mungkin karena omongan Serin pada Haeyla tadi pagi sikap Haeyla kepada Bumi mulai berubah, atau mungkin ada alasan yang lainnya?. Setiap kali Haeyla dekat dengan seseorang pasti ada saja hal hal buruk yang terjadi kepadanya.
" Tumben lo cuek ke Bumi La?. " tanya Cilia pada Haeyla sambil mengisi absen.
" Perasaan kamu aja Cil. " bantah Haeyla.
" Iya ya?, iya kali ya. " Cilia meyakinkan diri.
Sementara Divo dan Arbian sama sama menunggu Haeyla untuk berbicara, namun sedikit sulit karena Cilia selalu bersama Haeyla.
" Lo mau apa dah Vo?. " tanya Bento
" Dia mau bicara sama si Haeyla, cuma printilannya ngikut mulu itu. " sahut Benjamin.
" Printilan?, Cilia maksud lo?. "
" Yoi, siapa lagi. "
" Buset haha, asal mulut lo kalo bicara Min."
Tentu saja Divo masih terdiam tanpa gerakan untuk menemui ataupun berbicara dengan Haeyla, kalau dia berani maka akan terjadi keributan selanjutnya karena Cilia.
" Haeyla, nanti pulang sekolah ikut aku ke rumah ya. "
" Apaan Ar main ikut ikut lo aja, mau apa lo sama Haeyla?. " Tanya Cilia dengan nada curiga.
" Bukan, nyokap nyuruh Haeyla dateng, soalnya dia mau coba resep kue baru La, dan dia ngajakin kamu. "
" Wahh, yaudah nanti aku ikut ke rumah kamu. " Berhasil, ajakan Arbian berhasil, Haeyla menyetujui untuk datang ke rumah nya karena mama nya.
Pukul 13:00, Haeyla memutuskan untuk pulang, oh tidak, Haeyla akan ikut Arbian pergi ke rumahnya hari ini.
" Gue balik duluan ya La, soalnya mau belajar bisnis gue, rese mami gue. "
" Oke Cila, kabarin kalau butuh apa apa."
Haeyla menunggu di bangku taman sekolah, namun bukan nya Arbian yang datang menghampiri Haeyla tapi Bumi.
" Pulang bareng aku ya La. " ajak Bumi
" Sory tapi aku gak bisa, soalnya aku ada janji sama Arbian, mau nemenin mama nya masak. " Haeyla menolak ajakan Bumi dengan alasan yang tepat tentu saja.
" Gitu?, yaudah, nanti kabarin aku kalau kamu butuh apa apa ya La. " Bumi tadinya ingin memaksa Haeyla namun dia menguruhkan niat itu, karena Bumi takut Haeyla merasa terganggu.
Arbian memang tidak berbohong, mama nya memang mengajak Haeyla untuk membuat kue bersama, jadi ajakan nya kepada Haeyla bukan modus semata.
" Ayo La, maaf aku lama ya. " ucap Arbian.
" Gapapa, ayo. " Mereka pergi dengan motor menuju rumah Arbian.
Sementara di jalan Anggrek.
" Apaan sih lo?!." Cila berteriak pada seseorang.
" Gue mau bicara sama lo Cila. " Divo yang menghentikan mobil Cilia di tengah jalan.
" Kita gak punya urusan apapun lagi. "
" Sebentar doang. "
" 5 menit. " Sebenarnya Cila senang bisa berbicara dengan Divo, hanya saja gengsi nya terlalu besar.
" Gue minta maaf kalau gue udah nyakitin perasaan lo banget Cil, tapi gue minta lo jangan ajak siapapun untuk ngejauhin gue. " Mendengar itu Cilia langsung melirik tajam Divo.
" Maksud lo Haeyla?, udahlah Vo, Haeyla sendiri kan yang udah janji san mutusin kalau dia gak akan dekat dekat sama lo, jadi udah dong. "
" Tapi itu salah Cil, come on!, kita udah sama sama dewasa loh. "
" Idc, its your problem, not mine. " Cila pergi meninggalkan Divo begitu saja.
' Ahhhh!!!, sia sia aja gue ngejar si kepala batu itu!, itu anak gak akan pernah dewasa dan ngerti sama keadaan. '
Bersambung.