Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
“Berlutut?”
Sebuah tawa sumbang dan serak lolos dari bibir Jihan. Ia mengangkat kepala, tatapannya yang tajam kini terkunci pada Gading yang berdiri angkuh di hadapannya.
Hening yang berat menyelimuti tepi lapangan desa. Angin siang berdesir hangat, tetapi terasa sia-sia, tak mampu mencairkan ketegangan di antara kedua kubu yang telah dibekukan oleh amarah.
Keheningan itu akhirnya pecah, bukan oleh suara angin ataupun serangga, melainkan oleh suara Jihan yang kembali terdengar, lebih tajam dan tak tergoyahkan dari sebelumnya.
“Seumur hidupku, kedua kakiku ini tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun. Tidak untuk manusia, bahkan tidak untuk dewa sekalipun.”
“Satu-satunya orang yang pantas membuatku menundukkan kepala dan merendahkan lututku… hanyalah ibuku!”
Mendengar pernyataan yang begitu berani itu, rahang Gading langsung mengeras. Kepalan tangannya begitu erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas. Tatapan dingin Jihan ia balas dengan sorot mata yang lebih tajam, seolah menegaskan siapa penguasa di tempat itu.
Gading tidak pernah membayangkan hal ini. Bocah yang selama ini hanya menjadi bahan olok-oloknya, yang ia anggap tak lebih dari sampah, kini berani menentangnya. Bukan sekadar menentang, tetapi melawan.
Bagi Gading, ini adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima. Dalam benaknya, hanya ada satu cara untuk menghapus rasa malu ini, memberinya pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.
“SOMBONG SEKALI KAU!”
Amarah Gading memuncak. Ia menerjang maju, tangan kanannya melesat lurus mengincar wajah Jihan.
Jihan tidak membalas, ia hanya bereaksi secara naluriah dengan mengangkat lengan bawahnya untuk menangkis.
BUK!
Benturan keras terdengar saat kepalan tangan Gading menghantam lengan Jihan. Namun, bagi Gading, rasanya bukan seperti memukul daging, melainkan menghantam sebatang kayu jati yang solid.
Wajah Gading seketika memucat. Kekuatan pukulannya sendiri, yang seharusnya mencederai Jihan, justru berbalik menyerang tangannya. Rasa nyeri yang tajam langsung berdenyut hebat dari buku-buku jarinya yang kini memerah.
“SIALAN KAU!”
Gading mengumpat sambil refleks menarik tangannya. Ia mundur selangkah untuk menjaga jarak, lalu mengibas-ngibaskan tangannya yang memerah itu, berusaha mengusir rasa kebas dan nyeri yang menyengat.
Melihat pemimpin mereka kesakitan, Indra dan Rama saling bertukar pandang. Ada sorot keraguan dan rasa tak percaya di mata mereka terhadap kekuatan yang dimiliki bocah di hadapannya itu. Namun, lamunan keduanya buyar seketika saat bentakan Gading menggelegar.
“APA YANG KALIAN TUNGGU, BODOH?! HANYA DIAM SEPERTI TIKUS?! CEPAT HABISI DIA!”
Mendengar perintah itu, keraguan di wajah Indra dan Rama sirna, digantikan oleh tekad buas. Keduanya langsung bergerak serempak. Rama menerjang dari depan untuk menarik perhatian, sementara Indra dengan gesit menyelinap ke sisi buta Jihan, menguncinya dalam formasi menjepit yang mematikan.
“Rasakan ini!” teriak Rama. Ia melayangkan pukulan lurus dengan segenap kekuatannya. Ujung tinjunya yang keras mengincar ulu hati Jihan, sebuah serangan yang dirancang untuk langsung melumpuhkan pernapasan.
Pada saat yang nyaris bersamaan, Indra yang sudah berada di belakang Jihan ikut menyerang. Pukulannya lebih licik, mengarah telak ke tengkuk Jihan yang tidak terlindungi, titik lemah yang bisa membuat lawannya pingsan seketika.
Terjebak di antara dua serangan berbahaya, Jihan tidak panik. Instingnya yang terasah oleh kerja fisik bertahun-tahun mengambil alih. Bertumpu pada tumit kanannya, ia memutar tubuhnya seperempat lingkaran dengan gerakan yang begitu cair dan cepat. Gerakan itu membuat pukulan lurus Rama meleset tipis, hanya menyentuh angin di sisi tubuhnya.
Putaran itu membawa Indra, si penyerang dari belakang, tepat ke hadapan Jihan. Tanpa jeda, Jihan memanfaatkan sisa momentumnya untuk mengangkat kedua lengan, membentuk perisai silang kokoh yang tiba tepat pada waktunya untuk menyambut tinju Indra.
BUK!!
Suara benturan tumpul yang memekakkan telinga kembali terdengar, lebih keras dari sebelumnya. Indra merasakan getaran hebat menjalar dari kepalan tangannya hingga ke bahu. Ia menjerit tertahan, rasa sakit yang menyengat membuatnya sontak melompat mundur. Buku-buku jarinya seolah menjerit, remuk karena menghantam pertahanan Jihan yang tak masuk akal.
Menyadari serangan gabungan mereka yang terukur gagal total dengan begitu mudah, Rama pun ikut mundur dengan ekspresi tak percaya.
Kini, keduanya berdiri terpaku beberapa langkah dari Jihan. Tatapan ngeri mereka terpaku pada dua pemandangan yang kontras, tangan Indra yang gemetar hebat karena sakit, dan Jihan yang berdiri tenang dengan napas teratur, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara kedua temannya ragu, seringai licik justru terbit di wajah Gading. Matanya liar mencari sesuatu di tanah. Pandangannya berhenti pada sebuah batu bergerigi seukuran kepalan tangan. Tanpa menarik perhatian, ia membungkuk, merasakan berat dan kasarnya batu itu di telapak tangannya. Dengan satu gerakan cepat, ia melontarkan batu itu sekuat tenaga. Batu itu berdesing di udara, mengincar kepala Jihan yang lengah.
"Mampus kau!"
Serangan itu terlalu tiba-tiba. Jihan hanya sempat menangkap kilasan gerakan dari sudut matanya. Ia mencoba memiringkan kepala, tetapi tidak cukup cepat untuk mengelak sepenuhnya.
KRAK!
Batu itu menyerempet pelipisnya dengan keras. Rasa panas yang menyengat langsung menjalar, diikuti denyut nyeri yang tajam seolah kepalanya baru saja retak. Darah hangat mulai mengalir turun, menutupi sebagian penglihatannya dengan tirai merah yang kabur.
Namun, rasa sakit di pelipis itu justru menjadi pemicunya. Sakit itu adalah percikan api yang akhirnya membakar habis kesabaran Jihan. Semua perasaan putus asa karena ibunya, frustrasi karena tak mendapatkan pil, dan amarah karena rendahkan selama bertahun-tahun seolah menguap. Semua itu dilebur menjadi satu bahan bakar untuk ledakan adrenalin yang mengaliri setiap jengkal tubuhnya. Tatapannya yang tadi dingin kini menyala-nyala.
Melihat Jihan terluka, Indra mengira ini adalah kesempatannya. Ia kembali menerjang maju dengan teriakan. Tetapi, Jihan yang ia hadapi sekarang berbeda.
Jihan tidak lagi sekadar menangkis. Ia menyambut pukulan Indra dengan sikunya yang terangkat tajam. Terdengar suara retakan kecil saat tulang bertemu tulang. Indra melolong kesakitan saat sikutan itu tidak hanya menghentikan, tetapi juga menghantam buku-buku jarinya. Tanpa memberinya waktu untuk pulih, Jihan mendorong tubuh Indra dengan kasar hingga terhuyung ke belakang.
Tanpa jeda, Jihan memutar tubuhnya. Seluruh kekuatannya terpusat pada satu titik saat ia menghantamkan pangkal telapak tangannya ke ulu hati Rama, sebuah gerakan bertenaga yang biasa ia gunakan untuk membelah kayu bakar.
DUG!!
Mata Rama terbelalak kaget. Seluruh udara di paru-parunya seolah direnggut paksa. Ia terbatuk hebat sambil memegangi dadanya, lalu tersungkur ke tanah dengan lutut lebih dulu, tak mampu bernapas.
Indra, yang baru saja berhasil menyeimbangkan diri, membeku melihat temannya jatuh tak berdaya. Keraguan sepersekian detik itu terbukti fatal. Jihan sudah menerjang ke arahnya. Dengan satu gerakan menyapu yang rendah dan cepat, kakinya menghantam pergelangan kaki Indra.
Indra kehilangan keseimbangan sepenuhnya dan terjatuh ke belakang dengan suara gedebuk yang berat, kepalanya terbentur tanah hingga debu mengepul di sekelilingnya.
Melihat kedua temannya dikalahkan dalam sekejap mata, wajah Gading pucat pasi. Kekuatan yang Jihan tunjukkan benar-benar di luar nalarnya. Di hadapannya, Jihan berdiri tegak. Dengan wajah dingin dan darah yang terus menetes dari pelipis, ia mulai melangkah maju. Perlahan, tanpa suara, namun setiap langkahnya terasa seperti paku yang menancap di jantung Gading.
Gading mundur terhuyung-huyung, matanya liar mencari sesuatu namun tidak ada. Tubuhnya gemetar hebat hingga akhirnya tersandung kakinya sendiri dan jatuh terduduk di tanah, lumpuh oleh rasa takut yang murni.
"Tunggu! Jangan! Ampuni aku!"
Jihan berhenti tepat di depannya, menjulang tinggi dan menatapnya dari atas dengan pandangan kosong yang menakutkan.
"A-aku... aku akan memberimu tembaga! Banyak keping tembaga! Cukup untuk mengobati ibumu sampai sembuh!"
Tawaran itu menggantung di udara, tak disambut. Wajah Jihan tetap sedingin es, tanpa ekspresi. Setelah hening yang terasa mencekik, ia berjongkok perlahan, menyamakan tinggi wajah mereka.
“Perguruan Pedang Awan…”
“Ceritakan semua yang kau tahu tentang seleksi itu.”