Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15 - Melodi Pembuktian
Valen merapikan buku-buku Mila dengan sangat telaten. "Ayo, Tuan Putri. Kita pulang. Kamu sudah kerja keras hari ini, dan aku bangga Bab dua kamu lolos tanpa revisi besar, Mil."
Mila menatap Valen dengan binar mata yang berbeda. Ia merasa sangat beruntung. Di saat mahasiswa lain stres menghadapi dosen pembimbing yang sulit ditemui, ia justru memiliki pembimbing skripsi "pribadi" yang tidak hanya cerdas dan hampir lulus sidang akhir, tapi juga bisa menenangkannya dengan melodi Gitar.
Kediaman Hardianto - Jam 12.55 tepat
Mobil Valen berhenti tepat di depan pintu utama. Oma Soimah sudah berdiri di sana, seolah-olah dia adalah wasit yang memegang stopwatch. Begitu Mila turun, Oma melirik jam dinding di ruang tamu yang terlihat dari pintu.
"Lima menit lebih awal. Kamu pria yang memegang kata-kata, Valen," ucap Oma datar, namun bagi siapapun yang mengenal Oma, itu adalah sebuah pujian besar.
"Mila sudah selesai Bab dua, Oma. Sekarang sudah masuk Bab tiga," lapor Valen dengan bangga.
Oma menatap cucunya yang tampak ceria, tidak layu seperti biasanya jika membahas kuliah. Oma lalu menoleh pada Valen. "Masuklah. Dewi sudah siapkan makan siang. Kita lihat, apakah progres skripsi Mila sebanding dengan nafsu makannya siang ini."
Suasana makan siang di rumah Hardianto terasa lebih hangat dari biasanya. Aroma rendang dan sop buntut buatan Tante Dewi memenuhi ruangan. Oma Soimah duduk di kursi kebesarannya, sementara di sisinya ada Bunda Selfi dan Tante Dewi. Mila dan Valen duduk berdampingan, berhadapan dengan Ayah Faul.
"Jadi, Valen," Oma membuka suara setelah suapan pertama. "Mila bilang dia sudah masuk Bab tiga. Itu artinya kamu benar-benar bekerja sebagai pembimbing, bukan cuma jadi teman main."
Valen meletakkan sendoknya dengan sopan. "Benar, Oma. Mila punya pemahaman yang cepat kalau diberi contoh kasus yang nyata. Bab dua-nya sangat kuat di landasan teori akuntansi. Sekarang di Bab tiga, kami akan fokus pada metodologi riset di kafe saya."
Ayah Faul tersenyum bangga. "Lalu bagaimana dengan skripsimu sendiri, Valen? Papa Fildan bilang kamu sudah selesai?"
"Alhamdulillah, Om. Semua draf sudah di-approve pembimbing. Sekarang saya tinggal menunggu jadwal sidang akhir, kemungkinan dalam dua minggu ke depan," jawab Valen tenang.
Oma Soimah mengangguk pelan. "Bagus. Laki-laki harus tuntas dengan urusannya sendiri sebelum mengurusi urusan orang lain. Tapi Oma masih penasaran dengan alat musik yang kamu bawa tadi pagi. Dewi bilang itu alat modern?"
Tante Dewi menimpali dengan antusias, "Iya, Ibu. Bentuknya unik banget. Valen bilang namanya Keytar ya tadi, Len."
Valen mengangguk.
"Mila tadi dengerin Kak Valen main di kafe, Oma. Bagus banget, bikin pikiran jadi tenang pas pusing ngerjain angka," sela Mila dengan mata berbinar.
Oma menatap Valen dengan tatapan menantang yang khas. "Oma ini orang lama, Valen. Oma suka musik yang punya jiwa. Kalau alat modern itu cuma sekadar suara elektronik, Oma tidak tertarik. Coba tunjukkan pada Oma setelah makan ini, apakah benda itu bisa mengeluarkan melodi yang menyentuh hati 'Singa Betina'?"
Tentu Valen merasa tertantang, dia mengangguk dengan semangat.
Setelah makan siang, mereka berkumpul di ruang keluarga. Valen mengambil tas instrumennya dan mengeluarkan Keytar hitam metaliknya. Ia berdiri di tengah ruangan, sementara keluarga Hardianto memperhatikan dengan saksama.
Valen tidak memilih lagu modern yang bising. Ia memejamkan mata sejenak, lalu jemarinya mulai menari di atas tuts. Sebuah alunan lagu klasik yang diaransemen ulang dengan sentuhan piano lembut mengalir dari Keytar tersebut. Suaranya jernih, bergema indah di ruangan yang plafonnya tinggi itu.
Mila menatap Valen tanpa berkedip. Di bawah lampu kristal, Valen terlihat begitu karismatik. Musiknya bercerita tentang ketenangan, ketegasan, dan penghormatan.
Oma Soimah terdiam. Beliau yang biasanya sibuk mengomentari, kini hanya bersandar di sofanya sambil memejamkan mata, menikmati setiap nada.
Bunda Selfi tersenyum haru, melihat bagaimana Valen menggunakan bakatnya untuk berkomunikasi dengan ibu mertuanya yang keras hati.
Begitu nada terakhir memudar, keheningan menyelimuti ruangan. Melodi pembuktian menyentuh hati.
"Itu... lagu favorit mendiang suami saya," ucap Oma Soimah pelan, suaranya sedikit bergetar namun tetap berwibawa. Beliau menatap Valen dengan pandangan yang jauh lebih lunak dari sebelumnya. "Kamu tahu dari mana?"
_______
Ditunggu part selanjutnya ya Guys.
Love you All ❤️