NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Jejak Merah Sang Dokter Tampan

Ciuman Dokter Raden yang lembut namun mendominasi baru saja terlepas saat napas Alana mulai benar-benar habis.

Ia merasa lega dan menyandarkan tubuhnya yang lemas di meja kerja sang dokter. Dadanya naik turun, mencoba meraup udara sebanyak-banyaknya.

Matanya sayu. Bibirnya tampak ranum dan memerah akibat ulah Dokter Raden barusan.

Wajahnya terasa panas—campuran antara rasa malu dan debaran jantung yang berdetak tak karuan.

Raden tidak langsung menjauh. Pria itu justru mengurung Alana dengan kedua tangannya yang kekar dan berotot.

Ia tersenyum puas melihat hasil karyanya yang indah menghiasi leher Alana.

Ia merapikan helaian rambut Alana dengan gerakan lembut, seolah Alana adalah barang yang mudah rapuh.

Namun, matanya tidak pernah lepas dari leher Alana yang kini dihiasi jejak kemerahan mencolok.

"Dendamu sudah lunas sekarang, Sayang," bisik Raden hingga membuat bulu kuduk Alana meremang.

Alana segera tersadar dari bius ketampanan Dokter Raden, lalu melirik jam dinding.

"Dok... Dokter, sudah jam makan siang. Saya harus keluar sekarang agar tidak menimbulkan kecurigaan."

Alana panik sendiri. Ia buru-buru turun dari meja dan merapikan seragam perawatnya yang kusut di bagian pinggang akibat cengkeraman Raden.

Namun, saat melewati pantulan kaca di dinding, Alana nyaris menjerit tertahan.

Ia menyentuh lehernya dengan tangan gemetar hebat.

"Dokter Raden, apa yang Anda lakukan?" pekik Alana pelan. "Ini... ini terlihat sangat jelas! Bagaimana kalau ada orang yang melihat?"

Tanda kemerahan itu bertengger mencolok di leher putihnya. Bukti nyata betapa dominannya Raden tadi.

Alana benar-benar ingin menangis saat ini juga.

Raden hanya terkekeh. Ia kembali duduk dan menyesap kopinya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Itu tanda pengenal, Sayang. Agar orang-orang tahu siapa pemilikmu yang sebenarnya."

"Tapi saya ini perawat, Dokter! Bagaimana jika suster senior atau pasien melihatnya?"

Alana terus mengomel karena panik. Ia coba menutupi tanda itu dengan kerah baju, tapi posisinya terlalu ke atas. Sia-sia.

"Kemari, aku akan membantumu," perintah Raden singkat. Suaranya datar, namun penuh penekanan yang tidak bisa dibantah.

Alana justru menggeleng kuat dan mundur satu langkah.

"Tidak... nanti Anda malah menambah denda lagi untuk saya," tolak Alana dengan suara bergetar.

Raden menghela napas panjang karena frustrasi. Ia berdiri dan melangkah perlahan seperti singa yang tengah menyudutkan mangsanya.

Alana ingin berlari, tapi ia justru membentur pintu di belakangnya yang masih terkunci rapat.

Raden kembali mengurung tubuh mungil Alana. Tangannya meraih plester medis dan kasa dari balik laci meja.

Tangan yang satunya lagi bergerak lembut menumpu tengkuk Alana—memastikan gadis itu diam di posisinya.

"Duduklah yang manis dan jangan memberontak, Sayang."

"Atau aku akan menambah satu tanda lagi di tempat yang tidak akan bisa kau tutupi dengan plester," ancam Raden dengan tatapan intens.

Alana hanya bisa pasrah. Raden mulai membersihkan lehernya dengan kasa basah.

Pria itu melakukannya dengan gerakan sangat lambat.

Jemarinya sengaja mengusap kulit di sekitar tanda merah itu, memberikan sensasi menyengat seperti aliran listrik. Napas Alana tertahan.

"Dokter... pelan-pelan..." bisik Alana dengan suara yang nyaris hilang.

Ia memejamkan mata erat-erat saat kepalanya sedikit terlempar ke belakang, bersandar pada pintu kayu.

"Kenapa, hmm? Apa perihnya masih terasa, atau kau sengaja ingin berlama-lama seperti ini, Sayang?"

Raden berbisik tepat di telinga Alana. Napas mereka beradu dengan intens.

Alana terdiam. Raden justru sengaja mengembuskan napas hangat di permukaan leher Alana yang baru dibersihkan.

Sentuhan itu membuat tubuh Alana menegang seketika. Ia refleks meremas kuat ujung kemeja Raden untuk mencari tumpuan.

"Dokter... tolong, saya mohon... jangan begini..." pinta Alana bergetar.

"Cepat... segera pasang plesternya, Dokter."

Raden terkekeh pelan. Dengan lembut, ia menempelkan plester itu untuk menutupi jejak "karya" yang ia buat.

Sebelum melepaskan Alana, ia memberikan satu kecupan hangat di atas plester tersebut.

"Sudah selesai, Sayang. Jika ditanya orang nanti, bilang saja kau habis digigit serangga... serangga besar yang sedang kelaparan."

"Baik... tapi apa Anda lupa kalau serangga besar itu adalah Anda sendiri?" jawab Alana kesal meski wajahnya memanas.

Raden hanya tersenyum tipis—senyum tulus yang mematikan. Ia lalu mengecup dahi Alana cukup lama.

"Pergilah makan siang. Dan ingat, mulai besok kau harus pindah di meja depan ruanganku."

"Jangan sampai terlambat walau sedetik, atau plester itu akan kubuka paksa di depan semua orang."

Alana segera membuka kunci dan pergi secepat kilat. Ia berlari seperti dikejar rentenir di sepanjang koridor.

Namun, langkahnya terhenti mendadak. Ia berpapasan dengan suster senior yang terkenal galak, Suster Mia.

"Alana! Kamu dari mana saja? Jam makan siang sudah lewat lima menit!" tegur Suster Mia tajam.

Tatapannya tiba-tiba beralih ke leher Alana. "Dan itu... kenapa leher kamu diplester? Apa terluka?"

Alana membeku. Keringat dingin mulai bercucuran.

"Hmm itu... anu, Suster... saya digigit serangga saat mengambil obat di gudang tadi," jawab Alana terbata-bata.

"APA? Serangga?" Suster Mia menyipitkan mata penuh selidik.

"Tapi kenapa plesternya rapi sekali? Ini seperti teknik dressing luka oleh dokter spesialis, Alana."

"Kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari saya?"

Suster Mia melangkah maju mencoba melihat lebih dekat. Alana menelan ludah susah payah.

Mati aku! Raden Ganendra dasar dokter semprul! Kau membuat hidupku dalam bahaya!

****

Catatan Penulis:

Terima kasih sudah mengikuti perjalanan Alana dan Dokter Raden sampai Bab 4!

Bagaimana menurut kalian karakter Dokter Raden di bab ini? Tim gemas atau tim kesal sama sikap posesifnya?

Yuk, kasih tahu pendapat kalian di kolom komentar! Jangan lupa:

Like kalau kalian baper parah!

Komentar, maki-maki aja kegantengan Dokter Raden!

Bintang 5 & Favoritkan supaya nggak ketinggalan Bab 5!

Sampai ketemu di bab selanjutnya ya, Readers! Luv u all! ❤️

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!