NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 Tak Cocok dengan Kota.

"Buset-... lu liat dah cok! ketat banget anj-." ujar dua sekawan, sambil tersenyum aneh ketika kami saling berpapasan

Hmm... Akhir-akhir ini, memang aku rasakan kalau bajuku jadi semakin sempit. "Iya juga ya..." Aku bergumam, menunduk, melirik ke kemeja di bawah dagu.

Tapi, bagaimana mau beli baju baru, kalau ibu dan bapak belum aku kirimkan uang bulanan.

Sekilas aku mengingat kedua wajah mereka yang tersenyum, melambai di depan rumah, ketika aku akan bekerja ke luar kota.

Ya, kalau begini aku harus kuat-kuat. Yang terpenting, aku tidak menyusahkan orang tuaku dan memberikan yang terbaik dalam bekerja.

Aku menarik napas panjang, merasakan udara sore yang lembap menempel di kulit.

Di luar jendela, suara motor dan anak-anak kecil yang berlarian terdengar samar, seolah dunia terus bergerak tanpa peduli akan kegelisahanku. 

Aku meraih buku catatan di meja, membuka halaman kosong, lalu menuliskan satu kalimat.

"Aku harus bertahan." Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti janji yang harus ditepati.

Aku menggenggam pena lebih erat, seakan itu adalah tali yang menghubungkan aku dengan kampung halaman.

Di dalam hati, aku berbisik, "Tidak apa-apa lapar sedikit, tidak apa-apa menunda membeli baju baru. Yang penting, uang untuk bapak dan ibu lancar."

Aku menutup buku catatan, menatap kemeja lusuh yang mulai pudar warnanya.

Tak berapa lama, waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja, kami berbondong-bondong meninggalkan kantor. Lelahnya... ingin segera sampai ke rumah.

Jalan sore ini tidak begitu ramai, dapat aku lihat banyak sekali burung yang terbang di langit. Pikirku, aku ingin seperti mereka yang bebas kemana pun mereka pergi.

Pintu kos-kosan tua berlantai coran, aku buka perlahan-lahan. Menimbulkan suara berdenyit melengking yang memekakkan telinga.

Tidak nyaman, aku berInisiatif menyendok sedikit minyak bekas yang aku tampung di dalam kaleng. Lantas meneteskannya sedikit ke engsel pintu, berharap pintu kembali seperti baru.

Baru saja mengurusi pintu, tiba-tiba dering telepon memecah kesunyian kos-kosan. Suaranya tajam, menusuk, lebih mengganggu dari engsel pintu tadi.

Aku meraih ponsel di atas meja kayu yang sudah mulai retak, layar menyala dengan notifikasi masuk.

Pesan singkat dari kantor: "Dengan berat hati, kami memberitahukan bahwa Anda termasuk dalam daftar pengurangan karyawan. Terima kasih atas kerja keras Anda selama ini."

Tanganku bergetar, seolah-olah pena yang tadi kugenggam untuk menuliskan janji, kini kehilangan arti.

Nafas panjang yang kutarik terasa sesak, udara lembap sore berubah jadi beban yang menekan dada.

Aku duduk perlahan di kursi reyot, menatap layar ponsel yang masih menyala.

Kata-kata itu berulang-ulang bergema di kepalaku. dipecat... pengurangan karyawan...

Sekilas wajah bapak dan ibu kembali muncul di ingatan, senyum mereka yang penuh harapan ketika melepas kepergianku, berubah menjadi tatapan kecewa.

Bagaimana aku bisa menyampaikan kabar ini?Bagaimana aku bisa tetap mengirim uang bulanan?

Aku menunduk, menatap kemeja lusuh yang semakin terasa sempit, seolah kain itu ikut menjerat tubuhku.

Pena kini keluar bersama buku catatan dari dalam tas kerja, ketika aku lemparkan tanpa semangat ke atas ranjang.

Membuka tulisan tadi. Semangat dalam kalimat itu, kini terasa seperti ujian paling berat yang pernah kutemui.

Aku hanya bisa menatap langit-langit kamar lalu mengecek sisa saldo, berharap ada sedikit kebebasan yang bisa kutemukan di tengah kabar buruk ini.

...Sayangnya tidak....

Ah.. Sialnya Pak, Buk. Anakmu ditolak oleh tanah rantau. Sekarang bagaimana? Aku tidak sampai hati menyampaikannya ke kalian, kalau akhirnya, harus seperti ini.

Ponsel kembali berbunyi, namun kali ini dengan getaran dan suara yang berbeda. Nama Ibu dengan foto keluarga, terpampang jelas di layar.

Seakan tidak membiarkan aku sekedar jatuh, kini aku harus mengangkat telepon ibu pada situasi yang kurang tepat.

*klik* "..., Ra? Halo?"

"Iya. Halo buk."

Suara ibu terdengar hangat, meski hanya lewat kabel tipis yang menghubungkan jarak jauh.

"Ra, gimana kerjaanmu? Capek ya? Ibu tadi masak sayur asem, jadi inget kamu suka banget," ucapnya dengan nada riang, seolah tak ada beban di dunia.

Aku terdiam sejenak, menatap layar ponsel yang masih menyala. Kata-kata dari kantor tadi masih bergema di kepala, tapi suara ibu seperti menutupinya dengan selimut tipis.

"Iya buk... capek sedikit. Tapi nggak apa-apa," jawabku pelan, mencoba menahan getaran di suara.

Ibu tertawa kecil. "Yang penting jangan lupa makan. Jangan kerja terus sampai lupa diri. Kamu kan gampang sakit kalau telat makan."

Aku menarik napas panjang, menunduk. Kata-kata itu menusuk, bukan karena salah, tapi karena aku tahu isi dompetku tak cukup untuk makan layak setiap hari.

"Iya, buk. Aku inget," kataku, meski dalam hati terasa seperti kebohongan kecil.

Hening sebentar. Lalu suara ibu kembali, lebih lembut. "Ra... bapak tadi bilang, kita bangga sama kamu. Apa pun yang kamu lakukan di rantau, jangan pikir kamu sendirian. Rumah ini selalu ada buatmu."

Aku menggigit bibir, menahan rasa sesak. Kata-kata itu seperti membuka pintu yang tadi kututup rapat.

"Terima kasih, buk..." suaraku pecah, hampir tak terdengar.

Ibu terdiam, lalu bertanya pelan, "Ra... kamu baik-baik aja kan di sana?"

Aku menatap kemeja lusuh di pangkuan, menatap saldo yang masih tertera di layar ponsel, menatap catatan dengan tulisan "Aku harus bertahan."

Aku menarik napas panjang, lalu berkata, "Aku... baik-baik aja, buk. Cuma... ya, ada kabar dari kantor."

Di sini, aku ingin sekali bertahan dan berjuang sendiri. Tapi hati ini, seolah berkata "Jujur saja. Karena seburuk apapun, aku tetap anak ibu."

"Aku... kena pengurangan karyawan buk."

Aku terdiam lama di ujung telepon, sampai akhirnya suara ibu kembali terdengar, lebih mantap. "Ra... kalau memang kerjaan di kota sudah begini, pulanglah dulu. Tinggal di desa aja. Di sini kamu nggak akan kekurangan makan, ada ladang, ada kebun. Kita bisa sama-sama."

Dadaku bergetar. Pulang? Kata itu terasa seperti obat sekaligus luka."Buk... tapi aku takut kalian kecewa. Aku kan berangkat janji mau bantu, mau kirim uang tiap bulan."

Suara ibu melembut, tapi tegas. "Ra, uang bisa dicari lagi. Tapi anak ibu cuma satu. Kalau kamu jatuh di kota sendirian, itu yang bikin kami sedih. Pulang bukan berarti gagal, pulang itu berarti kamu masih punya rumah."

Aku menunduk, menatap kemeja lusuh yang semakin sempit di tubuhku. Kata-kata ibu seperti membuka pintu yang selama ini kututup rapat. "Kalau aku pulang... aku bisa bantu bapak di ladang, ya buk?" tanyaku lirih.

Ibu tertawa kecil, hangat. "Iya, Ra. Bapak malah senang kalau kamu mau turun ke sawah lagi. Katanya, tangan muda bikin tanah lebih hidup."

Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. Aku menggenggam ponsel lebih erat, seolah itu adalah tangan ibu sendiri. "Baiklah, buk... kalau memang begitu, aku pulang. Aku nggak mau sendirian lagi."

Suara ibu terdengar lega, seperti senyum yang bisa kurasakan meski jauh. "Itu baru anak ibu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!