Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Rahasia Tuhan.
Hari-hari Bang Rico masih tetap datar saja. Entah kapan semua ini akan berakhir, Bang Rico frustasi melihat Kinan seakan dirinya tidak pernah ada dalam pandang mata Kinan.
Tak lama Bang Rico melihat Bang Rama usai mengantar Dinda masuk ke dalam gedung pertemuan, hari ini memang ada kegiatan pertemuan rutin para istri prajurit. Lama kelamaan hatinya ikut terusik, apalagi saat melihat Bang Rama mengecup kening Dinda dan juga perutnya yang mulai menyembul.
"Mana bini lu??" Sapa Bang Garin menepak pundak Bang Rico.
"Eehh.. Masih puyeng di rumah." Jawab Bang Rico tersadar akan sapaan itu.
"Masa di rayu-rayu masih tetap begitu???? Sepertinya ada yang aneh, bagaimana caramu merayu??" Tanya Bang Garin.
Bang Arben, Bang Rama dan Bang Sanca yang baru saja mengantar para istri langsung ikut bergabung.
"Sudah seperti saran kalian. Saya masak, saya siapkan apapun yang buat Kinan nyaman. Tapi apa kenyataannya???? Kinan tetap dingin sama saya." Jawab Bang Rico.
"Masa sih??? Sebenarnya yang begini jarang terjadi. Kalau suami sudah merayu istri, sudah kemungkinan besar istri akan tunduk dan luluh. Kalau dia bahagia, jangankan luluh, kamu membawanya 'tidur', langsung gas aja." Kata Bang Arben.
Kening Bang Rico berkerut seakan mengisyaratkan keraguan. Bang Rama pun sampai mendesah gemas melihatnya.
"Intinya, sama saja seperti kita para laki-laki. Jika sudah ada ikatan batin di antara laki-laki dan perempuan, kita pun akan luluh dengan sendirinya. Kalau untuk saya pribadi, lebih tepatnya.. Hati yang sudah saya berikan pada istri... sudah tertuju penuh untuk dia. Setiap perhatian kecil yang saya berikan untuk Dinda, itu bukan karena saya harus, tapi karena hati ini menginginkannya. Kalau Kinan masih dingin, mungkin ada sesuatu yang belum terucapkan di antara kalian berdua, bukan hanya soal merayu dengan hal-hal fisik atau kebutuhan saja."
Bang Sanca mengangguk mendukung. "Betul. Mungkin Kinan sedang menahan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya dan belum sempat tersampaikan. Coba deh nanti malam, duduk bersama dengan tenang, tanya dengan hati terbuka. Jangan hanya berusaha memuaskan dari luar, tapi cari tau apa yang ada di dalam hatinya."
Bang Garin menepuk pundak Rico lagi, "Ya udah, jangan frustasi terus. Istri itu bukan musuh, tapi pasangan. Cari aja titik temu yang benar. Kau sambar saja Kinan nanti malam"
Seketika wajah para sahabat menatap Bang Garin dengan jengkel.
"Bercanda boss.." Jawabnya nyengir.
Bang Rico mendengus kesal. Bagaimana tidak kesal, saat hatinya gundah, Bang Garin selalu meledeknya.
:
Sekitar pukul sembilan pagi, Bang Rico memilih pulang ke rumah. Sungguh dalam hatinya tak paham bagaimana cara 'merayu' seorang wanita. Tapi sesampainya di rumah, ia tidak menemukan Kinan di manapun.
Bang Rico segera mengambil ponselnya lalu memberikan pesan singkat pada Kinan.
📨 : Dimana, dek?
Kinan tidak juga membalasnya, Bang Rico langsung menghubunginya. Akhirnya panggilan teleponnya pun terjawab, tapi lamat terdengar suara gaduh.
"Apa kau menantang ku??? Mencoba bersaing dengan ku?? Kau tau...... Dia ayah dari anak ku..........."
tttt.......
Seketika Bang Rico panik, ia bergegas pergi dari rumah untuk mencari Kinan. Tapi sebelum berangkat ia menghubungi Bang Rama.
...
"Kata Dinda, hari ini Hanna ada jadwal turun disini. Kalau memang kamu mencurigai dia terlibat, ada benarnya dugaanmu.. Berarti selama ini Hanna sudah mengincar Kinan." Kata Bang Rama.
"B*****t, bisa-bisanya aku sampai kecolongan." Gumam Bang Rico kesal.
"Kita cari sekarang saja, semoga belum jauh..!!" Ajak Bang Arben.
-_-_-_-_-
Hingga hari beranjak malam, para sahabat pun ikut mencari keberadaan Kinan.
Satu persatu mulai ada titik jejak keberadaan Kinan. Bang Rico menyisir ke segala tempat hingga ia berhenti pada sebuah gudang tua di tepi danau.
Benar saja, sudah ada keberadaan Kinan di sana. Istri Bang Rico itu berhadapan langsung dengan Hanna.
Awalnya Bang Rico ingin segera turun, namun Bang Rama melarangnya agar mereka bisa melihat informasi lebih mendetail dari permasalahan tersebut.
"Sabar.. kalau kamu gegabah, Kinan bisa jadi korban." Kata Bang Rama.
Bang Arben pun setuju dengan keputusan Bang Rama. Akhirnya Bang Rico turut mengawasi meskipun dirinya waspada.
Beberapa menit setelahnya, situasi mulai sulit untuk di kendalikan. Bang Rico pun bereaksi, ia melompat dari tempatnya bersembunyi saat ini lalu menghadapi Hanna.
"Lepaskan istri saya..!!"
"Istri???? Enak sekali hidupnya. Kau begitu mencintai dan memperhatikan dia, sedangkan aku... Berjuang menjaga anakmu sendiri, tanpa kamu, tanpa perhatianmu."
Nampak Kinan begitu syok mendengarnya. Bang Rico pun tidak menyangka jika istrinya harus mendengar kata-kata yang menyakitkan itu langsung dari wanita lain.
"Kinan, dengar Abang.. Bukan begitu awal ceritanya." Sampai panik Bang Rico menghadapi situasi tersebut.
"Kalau kau tau diri, tinggalkan Bang Rico..!!!" Suara Hanna menggelegar, tangannya mencengkeram pipi Kinan.
"Diam kamu, Hanna.. Sudah berkali-kali saya peringatkan, jauhi Kinan..!!! Urusanmu dengan saya."
Tak berapa lama, seorang anak laki-laki berlari masuk ke dalam gedung, usianya sekitar satu tahun lebih.
"Mama..!!!!"
Hanna melempar jauh pisau yang ada di tangannya, wajah yang tadinya garang kini berubah menjadi lembut.
"Sayaaang.. Kenapa main disini?? Dimana om Bram??"
Seorang laki-laki menyusul di belakangnya penuh penyesalan.
"Abang mau ikut Mama..!!" Rengeknya dengan nada yang belum begitu jelas.
Mata Hanna tertuju pada pria kecil itu. "Mama tidak bisa main sama Abang sekarang. Tunggu Mama selesai kerja ya.
Bang Rico terpaku menatap pria kecil yang sedang merengek pada Hanna. Tak disangka si kecil berlari menghampiri Bang Rico.
Beberapa orang disana mengacungkan senjata tapi Hanna melarangnya. Si kecil kini merengek pada Bang Rico.
"Oomm.. Mau main sama Abang??" Tanyanya.
Entah apa yang di rasakan Bang Rico. Hatinya tiba-tiba terasa pedih. Jantungnya berdetak kencang, ia pun berjongkok.
"Siapa namamu??"
"Abang Dilli." Jawab si kecil yang langsung meminta pelukan Bang Rico.
Disaat itu Hanna gemetar, air matanya mengalir deras. "Kalau kamu inginkan dia, buang Kinan dan anaknya..!!"
Tak tau untuk keberapa kalinya Bang Rico syok mendengar setiap rahasia Tuhan di hari ini.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara