Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Pawangnya Toh!
Langsung riuh para tenaga medis di ruangan.
Ada yang segera mendekat, menghampiri dokter Indra dan ada pula yang langsung bisik-bisik, mode tetangga julid di perumahan komplek. Mata dan bibir sama-sama tajam, mendelik kesal. Mulai bergosip yang tidak-tidak tentang Casey, entah benar atau tidak topik pembicaraan. Yang penting julid saja dulu.
"Yang benar Ndra?" tanya Carol. Salah satu perawat di ruangan anggrek. Sempat naksir juga sama dokter Jayden.
"Benar dong, tadi aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Tadi mereka ciuman sambil pelukan, gila!" kata Indra menurut pandangannya.
Dokter Teresa juga ikut nimbrung, menyenggol sedikit lengan Carol sambil berdecak sedikit. "Ckck, aku sudah punya feeling sih, kalau–"
Perkataan dokter Teresa tiba-tiba terhenti dengan kedatangan dokter Hannah, yang berdiri depan pintu ganda sekarang. Hannah, dokter spesialis penyakit dalam, yang sudah lama berkerja di rumah sakit Spencer ini.
Semua tenaga medis di ruangan langsung kocar kacir pergi ke posisi semula.
"Cukup, kenapa ini ribut-ribut ayo kerja, jangan gosip yang belum tentu benar," ujar Hannah, mengedarkan pandangan di sekitar sambil geleng-geleng kepala.
Mereka tak menanggapi, malah menyengir kuda dan saling tukar pandang.
Sementara itu di ruangan Jayden.
Casey dan Jayden saling menatap tajam satu sama lain. Insiden tadi membuat pasangan suami istri itu terdiam seribu bahasa sekarang. Ponsel yang menjadi pemicu tabrakan tadi juga sudah berada di tangan Casey.
Sudah lima menit tak ada yang membuka suara. Atmosfer di ruangan pun semakin tak nyaman bagi Casey.
Casey mendengus sejenak, tanpa sadar melirik ke arah Jayden yang sekarang duduk di kursi dengan mata tajam bak sebilah pedang.
'Apaan sih, yang salah kan dia! Ngapain juga dia ambil ponsel aku tadi!' Untuk pertama kalinya Casey berkata tapi hanya dapat dia ungkapkan dalam hatinya.
"Ini semua gara-gara kau awas saja kalau ada berita yang nggak baik tentang aku." Jayden tiba-tiba membuka suara. Intonasi nadanya sangat menyebalkan di telinga Casey.
Casey terperangah, matanya mengerjap singkat, cukup untuk membuktikan bahwa dia tidak setuju dengan ucapan yang dilontarkan Jayden barusan.
"Gara-gara aku?"
"Ya, siapa lagi kalau bukan karena kau." Jayden memutuskan pandangan lalu berdiri cepat dari kursi.
Casey kembali melongo."Heh, jelas-jelas tadi kau yang–"
"Cukup, sekarang keluar dari ruanganku sebelum informasi yang aneh tentangku melebar ke mana-mana. Jelaskan sama dokter Indra kalau tadi kita cuma tabrakan biasa," sela Jayden cepat, tanpa peduli bagaimana ekspresi Casey.
Sekarang Jayden sedang mencari jas cadangannya di laci meja.
Casey langsung merengut kesal. Tanpa menanggapi ucapan Jayden, dia melengoskan muka kemudian melangkah cepat menuju pintu dan tanpa sadar menutup pintu dengan sangat kuat, hingga Jayden terlonjak kaget dan spontan memandang pintu ruangan.
"Wanita aneh," desisnya pelan.
Di luar, Casey menarik napas dalam-dalam, guna meredakan emosinya yang semakin naik.
"Ayolah Casey tenangkan dirimu, abaikan saja dokter galak itu dan sekarang fokus dengan perkerjaanmu sebagai dokter," gumamnya sambil menghirup udara di sekitar.
Setelah merasa tenang, Casey berjalan cepat menuju ruangan di mana tenaga medis sering berkumpul. Meskipun kesal dengan Jayden. Dia harus menjelaskan pada rekan sejawatnya mengenai hal memalukan tadi.
Sesampainya di sana, ruangan tampak sepi karena beberapa dokter atau perawat tengah menjalankan tugas. Termasuk dokter Indra yang hilang dalam pandangan Casey.
Akan tetapi, Casey dapat merasakan tatapan beberapa tenaga medis yang ada di ruangan sangat tak bersahabat.
'Mereka gosip apa ya tadi.' Casey hanya bisa melempar senyum hambar.
Tak ada yang menyambut senyumannya, Casey akhirnya tersenyum getir.
"Dokter Casey."
Seketika, dari arah belakang Casey dibuat kaget dengan suara yang tidak asing di telinganya.
Casey membalikkan badan. Senyuman kecil dokter Hannah, membuat Casey jadi ikutan senyuman. Tadi pagi saat berkerja dia dan dokter Hannah sudah berkenalan.
"Dokter Hannah, aku pikir siapa."
"Hehe, maaf membuat kau kaget, cari siapa?" tanya Hannah.
Casey menggaruk tengkuknya yang gatal. "Um itu, cari dokter Indra, di mana dokter Indra?"
"Dokter Indra lagi visit, terus setengah jam lagi juga ada jadwal operasi," balas Hannah. Sambil memperhatikan Casey.
"Oh begitu." Casey nampak manggut-manggut. Dia berencana akan menjelaskan kesalahpahaman tadi pada dokter Indra nanti.
"Dokter Casey, maaf jika terlalu ikut campur, aku cuma mau bilang dokter Jayden sudah ada pawangnya loh." Entah angin dari mana, Hannah yang di kenal ramah kepada semua orang tiba-tiba mengucapkan sebuah kalimat yang membuat kening Casey sedikit berkerut.
"Pawang? Maksudnya?" tanya Casey.
"Maksudnya pacar, namanya Dea," Hannah segera menjawab sambil melempar senyum agak kaku.
Casey mendadak terdiam.
'Oh sudah punya pawang toh, apa itu alasan dia marah-marah sama aku karena nggak bisa nikah sama pacarnya ya.'
Casey membatin, mencoba mencari penyebab mengapa sikap Jayden padanya sangat dingin. Dan anehnya lagi ada getaran asing merayap di dadanya sekarang.
"Jangan salah paham Dok. Aku cuma mau kasi tau saja biar dokter Casey nggak ada musuh di sini, apalagi tadi aku mendengar dari dokter Indra kalau dokter Casey menggoda dokter Jayden, tapi aku nggak langsung percaya sama omongan dokter Indra tadi kok," sambung Hannah. Ucapannya terdengar tulus, lebih seperti seorang kakak tengah menasehati sang adik.
Hannah tak henti-hentinya menilik seksama wajah Casey yang sekarang tak menunjukkan ekspresi sama sekali. Dia tampak kebingungan kala Casey tak memberi komentar, dan malah melamun.
Casey segera mengeleng kemudian memberikan senyum hangat walau sebenarnya dadanya terasa mulai sesak entah karena apa.
"Hehe, untunglah dokter Hannah nggak langsung percaya, tapi aku penasaran sudah sejauh mana Dokter Indra gosipin aku?"
Bukannya marah atau kesal, Casey memberi reaksi yang membuat mata Hannah mengerjap singkat. Dia heran sekaligus penasaran sama dokter muda ini.
"Dokter Casey aku nggak lagi bercanda, ini serius loh, dokter Indra itu lumayan dekat sama Bu Dea."
Casey lagi dan lagi membalas dengan senyuman tipis. "Aku juga lagi nggak bercanda kok, Dok. Ayo dong cerita dokter Indra gosipin apa tadi tentang aku sama dokter Jayden."
Casey jadi penasaran apa yang digosipkan dokter Indra tentangnya.
"Tadi dokter Indra bilang kalau dokter Casey godain dokter Jayden terus kalian juga ciuman sama pelukan."
"Apa?" Casey melongo dengan mata sedikit melebar.
'Gila sih, ciuman katanya? Yang benar saja, kalau lihat burung Jayden sih udah tadi.'
Casey hanya dapat membatin di dalam hati, terlihat syok karena gosip yang dilontarkan Indra tidak sesuai kenyataan.
"Jadi, aku harap dokter bisa jaga jarak, aku nggak mau dokter ada gosip di rumah sakit ini, jangan salah paham tentang aku, aku kasi saran karena nggak mau dokter dijauhin sama rekan kerja yang lain," terang Hannah kembali.
Perhatian Hannah membuat Casey tersenyum hangat. "Terima kasih, tapi di antara aku dan dokter Jayden nggak ada apa-apa kok, hanya sebatas rekan kerja saja, dokter Indra salah paham."
"Iya, baguslah, aku senang mendengarnya."
"Dokter Hannah, siapa ini?"
Tiba-tiba dari arah samping ada seorang pria berjas putih mendekat, wajahnya tampan dan berkharisma.
Hannah dan Casey spontan menoleh. Hannah langsung melempar senyum, Casey pun ikut tersenyum, mencoba bersikap ramah pada rekan kerja barunya.
"Wah dokter Bobby, sudah selesai seminarnya, kenalin dokter baru nih, namanya Casey. Casey, kenalin ini dokter Bobby dokter umum juga di sini tapi dia udah senior." Hannah pun memperkenalkan Casey pada Bobby.
Bobby melirik ke arah Casey dengan senyum hangat seperti mentari di pagi hari.
"Cantik," celetuk Bobby tanpa sadar dengan telinga sedikit memerah. "Eh, maaf."
Casey langsung tersipu malu. Sementara Hannah tanpa sadar menabok pelan lengan Bobby, tengah menahan diri agar tidak tertawa.
Mendengar ucapan Bobby barusan, suasana sedikit canggung.
"Panggil aku Bobby." Bobby memberanikan diri menjabat tangan Casey sambil malu-malu.
"Perkenalkan nama saya Casey, mohon bantuan dok, saya baru kerja hari ini di sini."
"Tenang, kalau sama saya tanpa diminta pun saya akan bantu, asal belum pasangan, Dokter Casey belum punya pacar kan?"
"Dokter Jayden ...."