🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden Kantor
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Kesalahan itu, sejujurnya, sangat kecil. Begitu kecil sampai Yura bahkan tidak langsung menyadarinya.
"Aku sudah kirim revisi terakhir ke folder bersama," kata Yura sambil tetap menatap layar komputernya.
Rani mengangguk. "Yang versi final, ya?"
"Iya. Yang sudah aku sesuaikan dengan catatan kemarin," jawab Yura ringan. "Angkanya aman."
Bimo menggeser kursinya mendekat. "Kau yakin tidak tertukar dengan versi awal?"
Yura berhenti mengetik. "Aku tidak sebodoh itu."
"Bukan meremehkan," Bimo mengangkat kedua tangan. "Hanya memastikan."
Yura mendesah, lalu membuka kembali folder tersebut. "Lihat sendiri."
Beberapa detik berlalu.
Rani mendekat, mencondongkan tubuh ke layar Yura. "Sebentar… ini angka di halaman tiga."
Yura menyipitkan mata. "Kenapa?"
"Kolom biaya operasional… ini belum terpotong pajak."
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi. Yura menatap angka tersebut lama.
"Oh," katanya. "Itu memang belum."
Rani menoleh cepat. "Belum?"
"Karena aku menunggu konfirmasi dari keuangan," jawab Yura tenang. "Kemarin mereka belum kirim finalnya."
Bimo menghela napas. "Masalahnya, rapat evaluasi jam sepuluh. Itu laporan yang dipakai."
Yura melirik jam. "Masih setengah jam."
"Setengah jam itu sangat lama atau sangat singkat," potong Rani pelan. "Tergantung siapa yang membaca."
Seolah dipanggil oleh kalimat itu, notifikasi internal berbunyi.
Pengirim: Alexa Ren Deveriux
Subjek: Laporan Divisi – Klarifikasi
Yura membuka pesan itu tanpa ekspresi.
Isinya singkat.
"Yura, ke ruang saya. Sekarang."
Rani menutup mulutnya. "Yur…"
Bimo mengusap wajahnya. "Ini cepat sekali."
Yura berdiri, merapikan kemejanya pelan. "Tenang. Ini belum kiamat."
"Kau yakin?" Rani berberbisik.
"Belum," jawab Yura sambil melangkah. "Tapi mungkin gempa kecil."
Pintu ruang direktur tertutup pelan di belakang Yura.
Alexa berdiri di dekat mejanya, tablet di tangan. "Duduk," ucapnya singkat.
Yura duduk.
"Apa kamu membaca laporan yang kamu kirim?" tanya Alexa, nadanya datar.
"Tentu, Pak," jawab Yura. "Saya yang mengerjakannya."
"Kamu yakin?" Alexa meletakkan tablet di meja. "Karena angka ini tidak sesuai dengan standar."
Yura mencondongkan tubuh sedikit. "Angka itu belum final, Pak."
"Kenapa belum final?"
"Karena data dari keuangan belum masuk," jawab Yura tenang. "Saya sudah menunggu sejak kemarin."
"Kamu tahu jadwal rapat?"
"Tahu."
"Lalu kenapa kamu tetap mengirim laporan yang belum lengkap?"
Yura menarik napas. "Karena diminta dikirim pagi ini, Pak. Dan saya tidak ingin menunda keseluruhan laporan hanya karena satu kolom."
Alexa menatapnya lama. "Kamu memutuskan sendiri?"
"Saya mengambil inisiatif," jawab Yura jujur.
"Inisiatif tanpa izin adalah pelanggaran prosedur," kata Alexa.
"Dengan hormat, Pak," Yura menatap balik. "Prosedur juga menyebutkan fleksibilitas saat data pendukung terlambat."
"Dan siapa yang menentukan fleksibilitas itu?"
Yura terdiam sepersekian detik. "Atasan."
"Betul," sahut Alexa cepat. "Dan kamu bukan itu."
Yura mengepalkan jarinya di pangkuan. "Kesalahan itu bisa diperbaiki dalam lima menit."
"Masalahnya bukan durasi," balas Alexa. "Masalahnya adalah preseden."
"Preseden apa, Pak?"
"Bahwa kamu merasa bisa menyesuaikan standar sesukamu." nada suara Alexa tetap rendah. Namun setiap kata terasa ditekan rapi, seperti palu kecil yang dipukul berulang.
Yura menahan diri. "Saya tidak menyesuaikan sesuka saya. Saya bekerja agar laporan tetap berjalan."
"Kamu tahu dampaknya jika angka itu dipertanyakan di rapat pusat?"
"Bisa dijelaskan," jawab Yura. "Dengan jujur."
Alexa tersenyum tipis. Sangat tipis. "Dunia profesional tidak selalu memberi ruang untuk penjelasan."
"Lalu dunia apa yang Bapak inginkan?" tanya Yura pelan, namun jelas.
Sunyi.
Alexa melangkah mendekat. "Saya menginginkan ketertiban."
"Dan saya menginginkan kewarasan," balas Yura tanpa sadar.
Tatapan Alexa mengeras. "Kamu sedang membela diri atau menantang?"
Yura menarik napas panjang. "Saya menjelaskan posisi saya."
"Posisi kamu jelas," kata Alexa. "Staf yang melanggar ritme."
"Satu kesalahan kecil," sanggah Yura.
"Kecil bagi kamu," jawab Alexa. "Besar bagi sistem."
Yura berdiri setengah, lalu duduk kembali. "Kalau begitu, hukum saya sesuai aturan."
Alexa menatapnya. "Kamu siap dengan konsekuensinya?"
"Siap," jawab Yura cepat. "Asalkan adil."
"Adil menurut siapa?"
"Menurut logika," jawab Yura. "Dan fakta bahwa saya tidak berniat merusak apa pun."
Alexa mengambil map lain. "Kamu diskors dari proyek ini."
Yura menegang. "Apa?"
"Mulai hari ini," lanjut Alexa tenang. "Kamu hanya mengerjakan tugas administratif. Tidak ada pengambilan keputusan."
"Pak, itu berlebihan."
"Bagi saya, itu pengamanan."
Yura tertawa kecil, tanpa humor. "Karena satu kolom angka?"
"Karena sikap," balas Alexa.
"Kalau begitu," Yura menatapnya lurus. "Masalah Bapak bukan laporan saya."
"Lalu apa?"
"Cara saya tidak tunduk," jawab Yura.
Sunyi kembali.
Alexa menatap Yura lama. "Kamu pikir ini personal?"
"Tidak," sahut Yura. "Saya yakin ini sistematis."
"Bagus," kata Alexa. "Berarti kamu paham."
Yura berdiri. "Saya akan kembali bekerja."
"Kamu boleh pergi," jawab Alexa.
Yura melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup, Rani dan Bimo langsung berdiri.
"Apa yang terjadi?" tanya Rani cepat.
Yura duduk, menyalakan komputernya dengan gerakan kaku. "Aku dicopot."
"Apa?!" Bimo melotot.
"Hanya dari proyek," jawab Yura datar. "Untuk sementara."
"Ini gila," Rani berbisik. "Itu hanya kesalahan kecil."
"Tidak kecil bagi orang yang butuh kontrol penuh," balas Yura.
Bimo menggeleng. "Dia membesar-besarkan."
Yura tersenyum miring. "Itu namanya contoh."
"Contoh apa?"
"Contoh bahwa aku tidak boleh nyaman barang sedikitpun," jawab Yura pelan. "Dan dia ingin semua orang melihatnya."
Rani menggenggam tangan Yura. "Kau baik-baik saja?"
Yura menatap layar kosongnya. "Tidak."
"Lalu kenapa kau terlihat tenang?"
"Karena kalau aku meledak sekarang," jawab Yura lirih, "Aku benar-benar akan keluar dari tempat ini."
Bimo menghela napas. "Kau akan diam saja?"
Yura menggeleng pelan. "Tidak juga."
"Lalu?"
"Aku akan ingat," jawab Yura. "Dan orang sepertiku… tidak pernah lupa saat diperlakukan tidak adil."
Rani terdiam. "Itu terdengar seperti dendam."
Yura tersenyum tipis. "Anggap saja motivasi jangka panjang."
Di balik kaca ruang direktur, Alexa berdiri diam, mengamati lantai kerja yang perlahan kembali bergerak.
Tatapannya berhenti pada satu titik.
Yura.
Gadis itu sudah kembali ke mejanya, jari-jarinya menari di atas keyboard. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang barusan dijatuhkan di hadapan sistem.
Sudut bibir Alexa terangkat tipis. "Menarik," gumamnya hampir tanpa suara.
Karena biasanya, kesalahan sekecil itu cukup untuk membuat orang ciut, meminta maaf berulang kali, atau setidaknya kehilangan ritme.
Namun Yura tidak. Ia justru terlihat lebih tegak. Lebih terjaga. Seperti seseorang yang baru saja memutuskan untuk tidak kalah.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Jam pulang akhirnya tiba. Yura menutup laptopnya dengan satu gerakan tegas. "Ayo pulang," katanya singkat.
Rani menatapnya ragu. "Kau yakin tidak mau ngobrol dulu?"
"Kalau aku ngobrol sekarang, aku bisa mengatakan hal-hal yang tidak layak untuk karierku," jawab Yura sambil meraih tas.
Bimo mengangguk. "Itu jawaban paling jujur hari ini."
Mereka berjalan ke arah lift. Saat pintu hampir menutup, "Tahan." suara itu membuat Yura refleks mendengus pelan.
Alexa masuk ke dalam lift tepat sebelum pintu tertutup sempurna. Jasnya masih rapi, ekspresinya sama dinginnya seperti siang tadi.
Rani dan Bimo saling pandang.
"Oh," kata Bimo cepat. "Kami naik tangga saja."
"Kenapa?" tanya Rani terlalu cepat.
Bimo sudah menarik lengan Rani. "Tiba-tiba lututku ingin olahraga."
Pintu lift menutup.
Tinggal dua orang di dalam.
Lift bergerak turun.
Sunyi.
Yura menyandarkan punggung ke dinding, menatap pintu lift yang memantulkan bayangan mereka berdua. Lalu, hampir seperti berbicara pada pantulannya sendiri, ia bergumam, "Pantas saja suasana kantor cepat beku."
Tidak ada respons. Alexa berdiri tegak, menatap angka lantai yang terus berkurang.
Yura melirik sekilas, tidak ada reaksi. Ia mendengus pelan. "Padahal belum malam."
Masih tidak ada suara.
Lift terus melaju.
Yura menghela napas, sedikit lebih keras. "Hebat juga. Ada orang yang tidak perlu AC untuk bikin satu lantai diam."
Alexa tetap diam.
Jari Yura mengetuk tasnya pelan, seolah sedang berpikir. "Atau mungkin itu strategi kepemimpinan sekarang. Datang, berdiri, semua orang otomatis menahan napas."
Hening.
Namun rahang Alexa terlihat mengeras.
Yura menyadari dan justru melanjutkan, lebih pelan tapi menusuk. "Kasihan juga sih. Pasti capek menjaga aura sepanjang hari."
Lift melambat, Alexa menoleh dengan tatapannya tidak marah. Lebih dingin dari itu. "Kamu sedang berbicara tentang saya?" tanyanya tenang.
Yura mengangkat bahu, pura-pura santai. "Tidak. Saya hanya berbicara pada diri saya sendiri."
"Tapi sayangnya saya mendengar semuanya sejak kalimat pertama."
"Memangnya kenapa, Pak?"
"Karena saya menilai," jawab Alexa datar, "Apakah ini keluhan tidak penting… atau kebiasaan buruk."
Yura tersenyum tipis. "Dan hasil penilaiannya?"
"Kamu terlalu nyaman berbicara tanpa memikirkan konsekuensi."
"Dan Bapak terlalu nyaman membuat orang lain tidak berani bicara sama sekali."
Lift berhenti.
Lampu indikator menyala.
Pintu mulai terbuka.
Suara lobi masuk, memotong udara tegang di antara mereka. Alexa melangkah setengah langkah keluar, lalu berhenti.
"Kamu bukan masalah," ucapnya pelan, cukup untuk didengar Yura. "Kamu hanya belum tahu kapan harus diam."
Yura menatap punggungnya. "Dan Bapak belum tahu," balasnya lirih, "Kalau terlalu banyak diam juga bisa bikin orang meledak."
Alexa tidak menoleh lagi.
Yura melangkah cepat ke sisi lain lobi, lalu berhenti sesaat, menoleh ke belakang, dan berbisik kesal, nyaris tak terdengar, "Menyebalkan." ia menarik napas, merapikan tas di bahunya. "Mulai hari ini," gumamnya lirih, "Dia itu musuh." tanpa melihat lagi ke arah pintu kaca, Yura melangkah pergi.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺