Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Dokter
“Yahhh, telat,” kataku sambil menyenggol dia biar minggir. Aku pun buru-buru mengejar si perawat. Kata-kata Fenella masih menempel di pikiranku saat masuk koridor.
Ada bagian dari diri aku yang ingin mulai ulang sama Agnes. Ingin banget bersikap sopan, berharap dia melupakanku sebagai salah satu pasien menyebalkan. Tapi ini rumah sakit jiwa, dan dia perawat aku. Dia punya kuasa atas aku, dan aku enggak bisa pura-pura menerima perlakuannya begitu saja.
Tempat ini memang sudah gila dari sononya. Makanannya enggak layak makan, cowok-cowoknya diikat pakai rantai dan dikasih kalung listrik, dan orang-orang di sini banyak yang mencoba bunuh diri.
Aku malah berpikir, kok bisa tempat sejorok ini masih beroperasi?
Padahal aku sudah tahu jawabannya kan?
Ini tempat pembuangan. Tong sampah buat orang-orang yang dianggap sampah. Di sini semua orang mengaku pernah membunuh orang. Salah satunya bahkan mengaku dia bukan manusia.
Ini bukan rumah sakit jiwa biasa.
Mereka bahkan enggak bisa masukin orang-orang kayak gini ke penjara, kan?
Aku benar-benar sial.
Aku masih ngulang-ulang di kepala bagaimana aku bisa nyangkut di sini, dan kenapa mereka bisa menemukan aku di pom bensin yang penuh mayat kering tanpa darah. Rasanya enggak masuk akal.
Agnes berhenti di depan satu pintu. Aku tutup mata dari cahaya neon yang berkedip-kedip di atas. Lampu-lampunya menyebarkan warna putih pudar yang mencoba menutupi noda gelap di dinding yang enggak sempat dicat. Dengungannya sangat mengganggu telinga.
“Dok, ini pasien baru. Dia mau bertemu sekarang,” ujar Agnes.
Suara dengung itu makin keras. Aku sadar itu bukan dari lampu. Itu kejadian aneh yang terus muncul sejak aku bangun di sini. Seperti migrain. Mungkin aku punya tumor. Mungkin itu alasan kenapa aku enggak bisa ingat apa pun.
“Ayo,” bisik Agnes, menyuruhku masuk duluan. Dia enggak berani menyentuhku, tapi aku sama sekali enggak bisa menganggap itu lucu. Kepalaku kayak mau meledak.
“Ada yang enggak beres,” gumamku sambil mondar-mandir di ruangan, garuk lengan dan paha karena darahku rasanya panas banget. Aku melirik ke arah dokter di belakang mejanya … terus berhenti.
Itu bukan dokter yang membangunkanku kemarin.
Mata ungu itu langsung menghajarku. Aku akan selalu kenal mata itu.
Semua kenangan itu kembali begitu saja. Aku berdiri di situ, syok, bengong memperhatikan dia.
Aku pernah masuk ke rumahnya diam-diam. Menemukan orang-orang digantung di kait daging. Darah yang rasanya masih menempel di bibirku.
Darcel.
Begitu banyak ingatan soal Darcel yang menyerbu otakku.
Darcelku yang ganteng dan sempurna.
Seorang pembunuh.
Seorang vampir.
Belahan jiwaku.
“Itu aja, Agnes?” tanyanya, suara merdunya enak banget di telinga, matanya sama sekali enggak lepas dari aku.
Pandanganku turun ke tubuhnya, dada bidang, bahu besar, setelan mahal yang, aroma tubuh khas dia, kulit mulusnya membuat tanganku gatal ingin menyentuhnya.
Agnes ternyata masih berdiri di sampingku, kelihatan jelas enggak mau pergi. Matanya mondar-mandir antara aku dan Darcel. Dan jelas dia enggak suka. Mata aku langsung menyipit.
Dia … naksir sama Darcelku?
“Tentu aja, Darcel,” akhirnya dia bicara, dan aku langsung merinding dengar cara dia mengucapkan namanya, seperti sudah kenal lama.
Dia pergi dengan langkah menyeret, dan lupa menutup pintu.
“Kamu pasti Rowena,” katanya.
Harusnya aku jadi Rowena, ya?
Oh, dia lagi mencoba membersihkan pikiranku.
Amarah langsung naik ke ubun-ubun.
Aku memutar badan dan ...
BAMMMBBB
Aku banting pintu. Darcel terkejut, matanya seperti sedang berpikir keras, tapi tubuhnya tetap santai di kursi empuknya.