NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — MALAM TANPA DOA

Langit di atas Desa Wanasari tidak lagi hitam pekat. Langit itu kini memerah, terbakar oleh pantulan api besar yang melahap Joglo tua di tengah cekungan desa. Lidah api menjilat-jilat udara malam, mengirimkan abu dan bunga api berterbangan seperti kunang-kunang neraka yang menari merayakan kehancuran.

​Nara, Dion, dan Siska—yang memapah Raka di tengah-tengah mereka—berlari terseok-seok menembus kebun singkong di belakang rumah. Napas mereka memburu, paru-paru terasa terbakar oleh asap dan adrenalin.

​Tanah becek mencengkeram sepatu mereka, seolah bumi itu sendiri ingin menahan langkah mereka agar tidak pergi.

​"Ke mana, Nar? Kita ke mana?!" desak Dion panik. Kacamatanya sudah hilang entah di mana saat mereka melompat keluar dari pintu dapur. Tanpa kacamata, dunia baginya hanyalah buram yang menakutkan, penuh bayangan abstrak yang bergerak-gerak.

​"Ke gubuk tua di pinggir sungai!" jawab Nara sambil menahan berat tubuh Raka yang pingsan. "Gue liat pas survey hari pertama. Itu jauh dari pemukiman warga!"

​Mereka terus berlari. Suara teriakan warga yang memadamkan api terdengar sayup-sayup di belakang, bercampur dengan suara kentongan yang dipukul dengan irama titir—tanda bahaya, atau tanda perburuan dimulai.

​Mereka tiba di gubuk reyot itu sepuluh menit kemudian.

​Bangunan itu hampir rubuh, terbuat dari anyaman bambu yang sudah bolong-bolong dimakan rayap, dengan atap rumbia yang bocor. Di dalamnya bau apek, lembap, dan pesing—kemungkinan bekas tempat istirahat petani atau tempat pacaran anak muda desa.

​Mereka melempar tubuh Raka ke lantai tanah yang beralaskan jerami kering. Dion langsung merosot duduk, muntah-muntah karena kebanyakan menghirup asap. Nara berdiri di dekat celah dinding, mengintip keluar dengan pisau masih di tangan.

​Siska... Siska mundur ke sudut paling gelap di gubuk itu.

​Tubuhnya gemetar hebat. Bukan karena dingin, tapi karena kering.

​Siska merasa jiwanya kering kerontang. Sejak kejadian di kamar mandi tadi sore, dan puncaknya saat melihat jurnal berdarah itu, ada sesuatu yang putus di dalam dirinya. Kabel penghubung antara dirinya dengan Tuhannya seolah digunting paksa.

​"Sis, lo jagain pintu belakang," perintah Nara tanpa menoleh. "Kalau ada yang gerak, kasih tau gue."

​Siska mengangguk, tapi matanya kosong.

​"Siska?" panggil Nara lagi, kali ini lebih tajam.

​"Iya... iya, Nar..." jawab Siska. Suaranya serak, seperti suara orang yang sudah berteriak berjam-jam meski ia diam saja.

​Siska duduk memeluk lutut. Ia mencoba menenangkan diri. Ia tahu apa yang harus dilakukan saat takut. Ia diajarkan sejak kecil: Jika takut, berdzikirlah. Jika cemas, bacalah ayat suci.

​Siska memejamkan mata. Ia mencoba menarik napas, lalu mulai melafalkan Ta'awudz dalam hati.

​A'udzu billahi minasy syaithanir rajim...

​Lidahnya terasa tebal.

​Siska mencoba mengucapkannya lewat mulut.

​"A... u... dzu..."

​Kata-kata itu tersangkut. Rasanya seperti ada gumpalan rambut yang menyumbat tenggorokannya. Setiap kali ia mencoba menyebut nama Tuhan, dadanya sesak luar biasa, seolah paru-parunya diperas oleh tangan tak terlihat.

​"Bismillah..." bisik Siska, memaksakan diri.

​Tapi yang keluar dari mulutnya bukan suara jernih. Yang keluar adalah suara desisan.

​Sssshhhh....

​Siska membuka mata, panik. Ia mencoba lagi. Al-Fatihah. Surat pembuka yang sudah ia hafal di luar kepala sejak balita. Surat yang ia baca minimal tujuh belas kali sehari dalam sholat.

​"Al... Alham..."

​Otaknya blank.

​Kosong.

​Huruf-huruf Arab di kepalanya berantakan. Mereka tidak membentuk kalimat suci. Huruf Alif bengkok menjadi ular. Huruf Lam patah menjadi tulang. Huruf Ha meleleh menjadi darah.

​Siska lupa.

​Ia lupa bacaan sholat. Ia lupa doa tidur. Ia lupa segalanya.

​"Nggak mungkin..." isak Siska, mencengkeram kepalanya sendiri. "Ya Allah... jangan ambil ingatan saya... tolong..."

​Tiba-tiba, dari sudut gubuk yang gelap di atas kepala Siska, terdengar suara.

​Oek... Oek...

​Suara tangisan bayi.

​Siska membeku. Suara yang sama dengan yang ia dengar di malam-malam sebelumnya. Tapi kali ini, suaranya lebih dekat. Sangat dekat.

​Dan nadanya berbeda.

​Tangisan itu perlahan berubah. Dari rengekan bayi yang minta susu, menjadi suara geraman rendah yang basah.

​Grrrrhhh... Hihihi...

​Siska mendongak pelan-pelan.

​Di balok kayu penyangga atap gubuk, bertengger sesosok makhluk.

​Ukurannya kecil, seperti balita usia dua tahun. Tapi kulitnya merah padam, seolah dikuliti hidup-hidup. Kepalanya botak licin dengan pembuluh darah yang menonjol biru. Perutnya buncit besar, menggantung tidak proporsional.

​Dan wajahnya...

​Wajah itu bukan wajah bayi polos. Itu wajah tua yang keriput, dengan mata melotot tanpa kelopak, dan mulut lebar yang dipenuhi gigi-gigi runcing berwarna hitam.

​Makhluk itu merayap turun dengan posisi terbalik, seperti cicak.

​"Bayi..." bisik Siska, air matanya tumpah. "Bayi Merah..."

​Ia ingat tulisan di jurnal Dion: Kirim Bayi Merah untuk memeluknya saat tidur. Bisikkan keraguan sampai dia lupa Tuhannya.

​Makhluk itu melompat turun. Bruk.

​Ia mendarat tepat di depan Siska. Bau amis darah segar langsung menyerbak, menutupi bau apek gubuk.

​Nara dan Dion di sisi lain gubuk tidak menoleh. Mereka seolah tuli. Mereka sibuk mengawasi luar, tidak menyadari bahwa teror sesungguhnya sedang berlangsung di sudut ruangan yang gelap.

​"Nara..." panggil Siska, tapi suaranya hilang. Ia terkena eureup-eureup (kelumpuhan tidur) dalam keadaan sadar. Tubuhnya kaku, tidak bisa digerakkan.

​Bayi Merah itu merangkak mendekat. Ia menyeringai, leleran liur kental menetes dari dagunya ke paha Siska.

​"Mbak Siska cantik..." suara makhluk itu melengking, seperti gesekan paku di kaca. "Mbak Siska wangi... wangi dosa..."

​"Pergi..." batin Siska menjerit. "Pergi demi Allah!"

​"Allah?" makhluk itu terkekeh. Ia melompat ke pangkuan Siska.

​Berat.

​Rasanya seperti dipangku batu nisan seberat satu ton. Tulang paha Siska rasanya mau remuk.

​Makhluk itu mendekatkan wajahnya ke wajah Siska. Bau napasnya busuk, bau nanah. Tangan kecilnya yang berkuku tajam membelai pipi Siska, lalu turun ke bibir.

​"Nggak usah panggil-panggil Dia," bisik makhluk itu. "Dia jauh. Dia nggak denger. Di sini cuma ada Ibu. Ibu Ratu."

​Makhluk itu memasukkan jarinya ke dalam mulut Siska. Memaksanya terbuka.

​Siska ingin menggigit jari itu, tapi rahangnya kaku. Jari makhluk itu terasa pahit dan berlendir. Jari itu mengorek lidah Siska, menekan pangkal tenggorokannya.

​"Lidah ini kotor," kata makhluk itu. "Lidah ini banyak bohongnya. Ibadah cuma buat pamer. Sedekah cuma sisa. Sholat cuma gerakan olahraga."

​Setiap kalimat itu menghantam mental Siska. Keraguan yang selama ini ia kubur dalam-dalam—rasa riya', rasa malas ibadah, rasa munafik—kini digali keluar dan diperbesar seribu kali lipat.

​"Kamu munafik, Siska," bisik makhluk itu lagi. "Tuhan benci orang munafik. Makanya Dia ninggalin kamu di sini. Dia ngasih kamu ke aku."

​"Nggak..." batin Siska menangis.

​"Iya... kamu makanannya aku sekarang."

​Makhluk itu menarik jarinya keluar, lalu mulai menjilati air mata di pipi Siska. Lidahnya kasar seperti amplas. Setiap jilatan meninggalkan rasa perih dan panas.

​Siska merasa najis. Ia merasa kotor se kotor-kotornya. Ia merasa tidak pantas lagi menyebut nama Tuhan.

​Dan saat itulah pertahanan terakhirnya runtuh.

​Cahaya putih di hatinya padam.

​Rasa aman yang selama ini ia dapatkan dari iman, lenyap tak berbekas. Digantikan oleh kehampaan gelap yang dingin dan menakutkan.

​Tubuh Siska lemas. Ia pasrah.

​Makhluk Bayi Merah itu tertawa puas. Ia melompat turun dari pangkuan Siska, lalu merayap naik kembali ke atap gubuk, menghilang dalam kegelapan kasau bambu.

​Siska duduk terdiam. Matanya kering. Tatapannya kosong.

​"Sis?" panggil Nara tiba-tiba. Nara menoleh karena merasa suasana di sudut itu terlalu sepi. "Lo kenapa? Kok diem aja?"

​Siska menoleh pelan.

​Wajah Siska berubah. Tidak ada lagi ketakutan. Tidak ada lagi harapan. Wajah itu datar, dingin, seperti boneka porselen yang retak.

​"Gue nggak papa," jawab Siska. Suaranya berbeda. Datar. Tanpa emosi. "Gue cuma... capek berdoa. Tuhan nggak ada di Wanasari, Nar. Percuma."

​Nara tertegun mendengar kalimat itu keluar dari mulut Siska—gadis yang paling religius di antara mereka.

​"Jangan ngomong gitu, Sis. Kita pasti selamet."

​"Selamet?" Siska tertawa kecil. Tawa yang hambar. "Kita nggak bakal selamet. Kita cuma nunggu antrean."

​Siska memungut kerikil tajam dari lantai tanah. Tanpa ekspresi, ia mulai menggoreskan kerikil itu ke lengannya sendiri.

​Sret...

​Darah menetes.

​"Siska! Lo ngapain?!" Nara berlari, menepis kerikil itu.

​"Biar sadar," kata Siska tenang, menatap darahnya sendiri. "Biar gue tau kalau gue masih hidup. Soalnya rasanya... rasanya gue udah mati dari dalem."

​Tiba-tiba, Raka yang terbaring di lantai mengerang keras.

​"Air..." rintih Raka.

​Dion mendekat dengan sisa air mineral di botol. "Ini, Rak. Minum dikit."

​Raka menepis botol itu. Matanya terbuka lebar, menatap atap gubuk dengan horor.

​"Bukan air minum..." desis Raka. "Air bah... banjir... ujan..."

​DUAR!

​Suara petir menggelegar di langit, tepat di atas gubuk mereka. Kilat menyambar, menerangi hutan sekilas dengan cahaya putih yang menyilaukan.

​Dan kemudian, hujan turun.

​Bukan hujan rintik-rintik. Hujan deras yang langsung mengguyur bumi dengan kekuatan penuh. Hujan badai.

​Tapi suara air hujan yang menimpa atap rumbia itu terdengar aneh. Berat. Kental.

​Plok... plok... plok...

​Nara menjulurkan tangannya keluar dari celah dinding untuk menadah air hujan.

​Ia menarik tangannya kembali dan menyalakan korek api.

​Cairan di telapak tangannya berwarna merah gelap. Kental. Dan berbau besi.

​"Hujan darah..." bisik Dion, mundur ketakutan.

​"Mereka nyuci desa," kata Siska datar, menatap hujan merah itu dari celah dinding tanpa rasa takut. "Api Joglo udah padam. Sekarang mereka nyuci abunya pake darah. Biar tanahnya makin subur."

​Nara menatap ke luar. Hutan di sekitar mereka kini diguyur hujan darah. Daun-daun singkong berkilau merah mengerikan. Tanah becek berubah menjadi lumpur merah yang tampak seperti daging cincang.

​Dan di tengah hujan darah itu, Nara melihat mereka.

​Sosok-sosok warga desa.

​Mereka berdiri diam di tengah kebun singkong, membiarkan tubuh mereka diguyur hujan darah. Mereka menengadahkan wajah ke langit, membuka mulut lebar-lebar, meminum air hujan itu dengan nikmat.

​Pak Wiryo. Bu Kanti. Kang Jaya. Rini.

​Dan di tengah-tengah mereka... Lala.

​Lala menari di bawah hujan darah, gaun kebayanya basah kuyup, rambutnya terurai liar. Ia berputar-putar, tertawa lepas, merayakan pembaptisan iblis yang sedang berlangsung.

​"Mereka ngepung kita," kata Nara, mematikan korek apinya. "Mereka tau kita di sini."

​"Terus kita gimana?" tanya Dion, suaranya hampir hilang.

​"Kita nggak bisa lari," kata Siska. Ia berdiri, berjalan menuju pintu gubuk yang rapuh.

​"Sis! Jangan keluar!" teriak Nara.

​Siska menoleh. Senyum tipis terukir di bibirnya—senyum orang yang sudah menyerah.

​"Gue nggak mau lari lagi, Nar. Capek. Mending gabung sama mereka. Siapa tau... kalau gue nyerah... Bayi Merah itu bakal berhenti bisikin gue."

​Siska melangkah keluar, menembus tirai hujan darah.

​"SISKA!"

​Nara mengejar, menarik tangan Siska tepat di ambang pintu.

​"Lepasin gue!" Siska meronta. Tenaganya kuat sekali.

​"Sadar, bego!" Nara menampar pipi Siska. PLAK!

​Siska terdiam. Wajahnya basah oleh darah hujan. Ia menatap Nara, lalu matanya bergulir ke atas—putih semua.

​Mulut Siska terbuka, dan suara Bayi Merah itu keluar dari tenggorokannya:

​"Jangan halangin dia, Bu Ketua. Dia udah kosong. Udah jadi rumah baru buat kami."

​Nara terdorong mundur oleh kekuatan tak kasat mata.

​Siska berjalan gontai menuju kerumunan warga desa di tengah kebun.

​Warga desa menyambutnya. Rini memeluk Siska. Lala membelai rambut Siska. Mereka mengerubunginya seperti semut menemukan gula.

​Nara hanya bisa melihat dari celah gubuk, napasnya sesak, air mata kemarahan mengalir di pipinya.

​Satu lagi temannya hilang. Bukan mati, tapi hilang.

​Di dalam gubuk, Raka mulai tertawa. Tawa yang kering dan gila.

​"Satu per satu..." gumam Raka. "Dihitung mundur... lima... empat... tiga..."

​Malam tanpa doa itu benar-benar menjadi malam kemenangan bagi Desa Wanasari. Tuhan telah diusir dari hati Siska, dan kini, tidak ada lagi benteng spiritual yang melindungi sisa-sisa manusia di gubuk tua itu.

​Nara menatap Dion. Dion menatap Nara.

​Di mata Dion, Nara melihat sesuatu yang menakutkan: Dion juga mulai menyerah.

​"Jangan, Yon," bisik Nara, mencengkeram kerah baju Dion. "Jangan berani-berani lo gila sekarang. Gue butuh otak lo."

​"Otak gue buntu, Nar," Dion menangis. "Logika gue nggak nyampe. Ini nggak masuk akal."

​"Persetan sama logika!" Nara mengguncang tubuh Dion. "Kita harus tahan sampe pagi. Siska mungkin nyerah, tapi gue nggak. Gue bakal seret lo sama Raka keluar dari sini, mau hujan darah kek, mau hujan batu kek."

​Nara kembali ke posisi siaga di pintu, memunggungi Dion.

​Tapi Nara tidak melihat, di belakang punggungnya, Dion perlahan mengambil kerikil tajam bekas Siska tadi.

​Dan Dion mulai mengukir sesuatu di kulit tangannya sendiri. Bukan untuk menyakiti diri, tapi untuk mencatat. Karena jurnalnya sudah terbakar, Dion menjadikan kulitnya sendiri sebagai halaman terakhir.

​Ia mengukir satu kata di lengannya:

​TUMBAL

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!