Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 KETEGASAN AMMAR.
Malam merambat pelan di rumah besar itu.
Lampu-lampu temaram menyala, memantulkan bayangan sunyi di dinding kamar utama. Ammar duduk di sofa kecil di sudut kamarnya, tubuhnya bersandar, kedua tangannya bertaut di depan dada. Pandangannya kosong, namun pikirannya penuh.
Ia menunggu.
Bukan tanpa alasan.Sejak Sabrina kembali ke rumah beberapa hari lalu, Ammar merasakan jarak yang semakin nyata. Bukan hanya jarak fisik, melainkan jarak hati. Sabrina ada di rumah, tapi seolah tak benar-benar hadir. Tak pernah ia lihat istrinya duduk santai berbincang dengan Queen, tak ada tawa kecil, tak ada ajakan bermain. Yang ada hanya nada tinggi, perintah singkat, dan sesekali bentakan yang membuat hati anak kecil itu menciut.
Ammar menghela napas panjang. Malam ini harus dibicarakan, batinnya.
Tak lama kemudian, suara langkah terdengar dari arah lorong. Pintu kamar terbuka. Sabrina masuk dengan langkah sedikit sempoyongan, sepatunya dilepas asal, rambut panjangnya terurai, riasan di wajahnya belum sempat dibersihkan.
Matanya menangkap sosok Ammar yang duduk menunggu. “Oh,” ucap Sabrina pelan, senyum tipis terukir di bibirnya. “Kamu belum tidur?”
Ammar menoleh. “Aku menunggumu.”
Nada suaranya datar, tak menunjukkan emosi apa pun.
Sabrina berjalan mendekat, lalu tanpa ragu duduk di pangkuan Ammar. Tangannya melingkar di leher suaminya, suaranya melunak, jauh berbeda dari siang tadi.
“Kamu kelihatan capek,” bisiknya manja. “Aku juga.”
Ammar terdiam.
Ia adalah laki-laki normal. Kehangatan tubuh istrinya, sentuhan lembut itu semua terasa nyata. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya larut, membiarkan jarak di antara mereka mencair, meski hanya sementara.
" Uuhhh Ammar.. aku sangat suka gayamu " Desah Sabrina yang menggoda..
" Kamu memang selalu membuat aku puasss "
Deg...
" Suara itu.. kenapa hatiku sakit mendengar suara itu " Gumam sari dalam hati
Sari tak sengaja mendengar suara percintaan Ammar dan Sabrina.. tadinya sari hendak ke kamar queen namun langkah nya harus terhenti dan kembali ke dalam kamarnya.
...----------------...
Malam itu, mereka kembali berbagi kedekatan sebagai suami dan istri. Namun setelah semuanya usai, keheningan kembali menyelimuti kamar.
Sabrina menyandarkan tubuhnya di dada Ammar, jari-jarinya menggambar garis samar di lengan suaminya. Ia menghela napas pelan, seolah sedang menimbang sesuatu.
“Ammar…” panggilnya lembut.
“Apa?” jawab Ammar, matanya menatap langit-langit.
Sabrina mengangkat wajahnya. “Aku mohon,” katanya pelan namun penuh harap. “Kembalikan semua kontrak yang kamu putus. Biarkan aku berkarier lagi seperti semula.”
Ammar menoleh perlahan. Tatapan itu membuat Sabrina menelan ludah.
“Jadi…” suara Ammar rendah, “kamu merayuku hanya untuk kontrak?”
Sabrina langsung menggeleng. “Bukan begitu.”
“Lalu apa?” Ammar bangkit duduk, membuat Sabrina ikut menyesuaikan posisi. Tatapan Ammar kini lurus dan tajam. “Apa yang kamu inginkan sebenarnya?”
Sabrina terdiam sesaat.
Ammar melanjutkan, suaranya tetap tenang namun sarat makna. “Rumah tangga kita sudah mulai goyah, Sabrina. Kamu tidak merasa?”
Sabrina memalingkan wajah. “Aku merasa.”
“Lalu kenapa kamu tidak ingin berhenti sejenak?” tanya Ammar. “Kenapa kamu tidak ingin menjadi ibu rumah tangga? Mengurus Queen… mengurus aku?”
Sabrina menoleh cepat. “Itu bukan gayaku, Ammar.”
Kalimat itu meluncur begitu saja jujur, tanpa basa-basi.
Ammar tersenyum kecil, pahit. “Aku tahu,” katanya lirih. “Dari dulu kamu memang seperti itu.” Ia berdiri, melangkah menjauh beberapa langkah, lalu berbalik menghadap Sabrina.
“Aku lelah,” lanjutnya. “Lelah berdebat. Lelah berharap kamu berubah tanpa pernah benar-benar hadir.”
Sabrina ikut berdiri. “Jadi apa maumu?”
Ammar menatapnya lama. “Kamu pilih,” ucapnya akhirnya, tegas dan dingin. “Karier… atau rumah tangga kita.”
Deg.
Jantung Sabrina seolah berhenti berdetak. Dunia terasa menyempit dalam sekejap. Udara di sekelilingnya terasa berat. Kata-kata itu bukan ancaman kosong Sabrina tahu Ammar bukan pria yang berbicara tanpa arti.
“Ammar…” suaranya bergetar. “Kamu tidak adil.”
“Aku adil,” jawab Ammar pelan. “Aku sudah memberi terlalu banyak waktu. Terlalu banyak toleransi.”
Sabrina memejamkan mata. Bukan ini yang ia inginkan. Ia mencintai Ammar. Ia menyayangi Queen. Namun di dalam dirinya, ada ambisi yang sejak lama tumbuh ambisi yang kini menjelma menjadi ego.
“Aku tidak bisa kehilangan diriku sendiri,” katanya lirih.
Ammar mengangguk kecil. “Dan aku tidak bisa kehilangan anakku.”
Keheningan kembali jatuh. Tak ada teriakan. Tak ada bentakan. Justru ketenangan itu terasa lebih menyakitkan.
Sabrina menggenggam ujung bajunya. “Beri aku waktu,” pintanya.
“Berapa lama lagi?” tanya Ammar.
Sabrina tak menjawab.
Ammar menghela napas panjang. “Pikirkan baik-baik,” katanya. “Apa yang lebih berharga bagimu.”
Ia melangkah menuju pintu kamar.
Sabrina menatap punggung suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut. Takut kehilangan rumah yang selama ini ia anggap akan selalu menunggunya pulang.
Takut bahwa pilihannya selama ini membawa konsekuensi yang tak bisa ia hindari lagi. Dan di luar kamar itu, seorang anak kecil bernama Queen tertidur tanpa tahu bahwa masa depan keluarganya sedang berada di persimpangan.
Malam itu, tak ada jawaban. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama terdiam, terjebak di antara cinta, ambisi, dan pilihan yang tak lagi bisa ditunda.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
lembek🙃
kaulah ,...bodoh!
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...