NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Tidak Lebih

Anqi menyerahkan rekaman suara itu kepada Chen Wu. “Ini bukti yang kami miliki. Terlihat jelas bahwa anak itu melakukannya hanya untuk membela ibunya,” ucapnya sopan.

Chen Wu menerima rekaman itu dan meletakkannya di atas meja, lalu menatap keduanya dengan wajah tegas namun tenang. “Terima kasih atas bukti yang kalian berikan. Tenang saja, kami akan menangani kasus ini dengan seadil-adilnya. Tidak akan ada pihak yang dianiaya atau dirugikan tanpa alasan yang jelas,” jelasnya.

Eric segera menyampaikan permohonan mereka. “Kami sangat berharap Bapak bisa mempertimbangkan keadaan anak itu. Ia tidak berniat jahat, ia hanya ingin melindungi ibunya. Apakah ada kemungkinan ia tidak dikenai hukuman berat?”

Chen Wu menghela napas pelan dan menjawab dengan bijaksana. “Saya mengerti kekhawatiran kalian, dan saya juga sudah melihat latar belakang kejadiannya. Namun, hukum tetap harus ditegakkan sebagaimana mestinya. Kasus ini akan diproses secara resmi, dan nanti hakim di pengadilanlah yang akan memutuskan keputusan yang paling adil berdasarkan semua bukti dan keterangan yang ada. Mohon bersabar dan percayalah bahwa prosesnya akan berjalan transparan.”

Eric pun berpamitan kepada kepala polisi Chen Wu untuk kembali ke kantornya. Namun Anqi hanya diam mematung, raut wajah Anqi terlihat berbeda, ia tampak termenung dan gelisah seolah memikirkan sesuatu yang berat.

Eric memperhatikan perubahan sikap rekannya itu. Ia mendekat dan menepuk bahu Anqi dengan lembut. “Anqi, kau baik-baik saja?” tanyanya dengan nada khawatir.

Anqi tersentak kaget, jantungnya berdetak kencang seketika. Ia segera menenangkan diri, lalu membungkuk sopan kepada Kepala Polisi Chen Wu. “Permisi, Pak,” ucapnya singkat sebelum bergegas melangkah keluar.

Eric hanya bisa menggeleng heran melihat sikap Anqi yang tiba-tiba berubah. Begitu berada di luar gedung, ia segera menyusul langkah gadis itu. “Anqi, tunggu dulu!” panggilnya.

Mendengar suara itu, Anqi justru mempercepat langkahnya menuju area parkir, seolah berusaha menghindar. Eric pun berlari kecil menyusulnya dan berhasil menyusul di dekat mobil.

“Kenapa kau berjalan begitu cepat? Ada apa sebenarnya?” tanya Eric dengan nada cemas, mencoba menatap wajah Anqi yang menunduk.

“Jangan mendekat!” seru Anqi tiba-tiba, suaranya terdengar bergetar.

Eric tertegun, semakin bingung namun tetap tidak ingin memaksanya. “Anqi, ada apa denganmu? Katakan saja, aku tidak akan marah,” ucapnya pelan.

Tiba-tiba napas Anqi terasa sesak. Ia berjongkok memegang dadanya, jantungnya berdegup sangat kencang. “Aku mohon... jangan mendekat... sebentar saja,” pintanya dengan napas tersengal.

Eric langsung berhenti melangkah, berdiri di tempatnya dengan wajah penuh kekhawatiran dan kebingungan. Ia tidak mengerti apa yang membuat Anqi tiba-tiba bereaksi demikian, namun ia menghormati permintaannya dan tetap menjaga jarak sambil terus mengawasi keadaan gadis itu.

Tanpa diduga, Anqi tiba-tiba berdiri dan memeluk tubuh Eric dengan erat. Pria itu terkejut bukan main, tubuhnya menegang seketika dan matanya terbelalak tak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka gadis itu akan bersikap seperti itu padanya.

Di dalam pelukan itu, suara Anqi terdengar pelan namun jelas bergetar. “Eric... apakah kau bisa mendengar detak jantungku?” tanyanya lembut.

Eric hanya terdiam, masih bingung dan belum berani membalas pelukan itu. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri Anqi saat ini. “Anqi, kau sungguh-sungguh tidak apa-apa?” tanyanya, dengan nada suaranya penuh keheranan sekaligus kekhawatiran.

Anqi perlahan melepaskan pelukannya sedikit, namun masih berdiri sangat dekat. “Dulu... aku pernah bertanya kepada ayahku. Aku bertanya, bagaimana caranya agar kita tahu bahwa kita benar-benar menyukai seseorang?” ceritanya pelan. “Ayahku berkata, jika jantungmu berdegup kencang tak terkendali setiap kali berhadapan dengannya, berarti kau telah menemukannya. Dan orang itu... adalah kau.”

Setelah mengucapkannya, Anqi melepaskan pelukan sepenuhnya dan menatap lurus ke dalam mata Eric. Wajah pria itu seketika memerah, napasnya menjadi tidak beraturan, dan matanya terlihat gugup bercampur rasa takut akan perasaan yang tiba-tiba terungkap ini.

Anqi kembali melangkah mendekat, seolah ingin mengatakan hal lain yang tersisa di hatinya. Namun semakin ia maju, Eric justru mundur selangkah demi selangkah. Belum sempat Anqi membuka mulutnya lagi, tiba-tiba nada dering telepon Eric berbunyi keras memecah suasana.

Eric buru-buru mengangkatnya, dan terdengar suara Mira terdengar cemas. “Pak Eric, ini Mira. Ada hal yang sangat mendesak yang harus kita bahas di kantor. Bisakah kembali secepatnya!”

“Baiklah, aku mengerti. Kami akan segera ke sana,” jawab Eric singkat sambil menutup teleponnya.

Dengan perasaan yang masih kacau, Eric menggenggam pergelangan tangan Anqi dengan lembut namun tegas. “Ayo, kita harus segera pergi.” ajaknya, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Di dalam mobil yang melaju menuju kantor, suasana terasa hening dan kaku. Anqi menatap ke luar jendela sebentar, lalu menoleh ke arah Eric dengan hati yang berdebar. Ia memberanikan diri bertanya, suaranya terdengar pelan namun tegas. “Eric... boleh aku tahu? Apakah kau juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?”

Mendengar pertanyaan itu, Eric tiba-tiba menginjak rem pelan dan menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Ia mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Anqi dengan raut wajah yang serius namun lembut. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab. “Anqi, dengarkan aku baik-baik. Selama ini aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Aku sangat menyayangimu dan selalu berharap kau bahagia. Tapi... aku tidak bisa menerima perasaan yang kau ungkapkan tadi. Bagiku, hubungan kita hanyalah sebagai rekan kerja, tidak lebih.”

Suara Eric terdengar pelan namun jelas, tidak ingin menyakiti hati gadis itu lebih dari yang seharusnya.

Anqi menunduk dalam, matanya berkaca-kaca berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. Ia mengeratkan genggamannya di pangkuan, lalu mengangkat wajah sambil memaksakan senyum tipis.

“Tidak apa-apa... aku mengerti. Terima kasih sudah jujur padaku,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. Ia segera mengalihkan pandangan dan berkata, “Ayo, kita pergi. Kita harus segera sampai di kantor kan?.”

Eric mengangguk perlahan, menyalakan kembali mesin mobil, dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada lagi percakapan di antara mereka, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya tiba di depan gedung kantor.

# Kantor LPPA

 Mereka pun akhirnya tiba di kantor. Begitu melangkah masuk, terlihat seorang wanita tengah terisak sedih, sementara suaminya berusaha menenangkan dan memegang bahunya.

Di tengah tangisnya, wanita itu menoleh ke sekeliling dan bertanya dengan suara parau, “Di mana bos kalian? Saya ingin bertemu dengan pimpinan di sini.”

Tepat saat itu, Eric dan Anqi masuk ke ruangan. Mira segera menghampiri mereka dan berbisik, “Pak Eric, Ibu ini sudah menunggu dari tadi. Beliau ingin bertemu Bapak.”

Eric mengangguk dan segera mendekat dengan sikap ramah. “Ibu. Saya Eric, pimpinan lembaga ini. Ada yang bisa saya bantu?.”

Wanita itu segera menatap Eric dengan mata berkaca-kaca, lalu menceritakan semuanya dengan terbata-bata. “Anak saya... hilang, Pak. Sudah dua hari ini. Saya sudah melaporkan ke polisi, mereka bilang akan berusaha mencarinya, tapi sampai sekarang belum ada kabar sama sekali. Saya sangat takut terjadi hal buruk padanya. Dia masih sangat kecil, usianya baru tujuh bulan...”

Eric mengerutkan dahinya, serius mendengarkan. “Di mana persisnya kejadian itu terjadi?”

“Saat saya sedang berbelanja di supermarket,” jelas wanita itu. “Ada seorang wanita yang berpura-pura bertanya dimana letak dot bayi, lalu meminta tolong pada saya untuk mengambilkannya. Saat saya kembali, anak saya yang ada di stroller sudah hilang, dan dia pun sudah tidak ada disana.”

Eric mengangguk, lalu mencoba menenangkan. “Ibu tenanglah. Kami akan bantu mencari anak ibu itu.”

Wanita itu segera memohon dengan suara memelas, “Tolong, Pak... tolong temukan anak saya. Saya tidak bisa hidup tanpa dia.”

“Baiklah,” jawab Eric pelan. “Apakah Ibu punya foto terbaru anak Ibu?”

“Ada, ini dia,” wanita itu segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto bayi laki-laki yang tampak sehat.

“Baik. Saya akan segera menghubungi kepolisian dan menyebarkan datanya agar pencarian dipercepat,” ucap Eric meyakinkan.

Tetapi wanita itu menggeleng cemas. “Saya sudah lapor ke polisi, Pak, tapi sepertinya belum ada tindakan yang diambil.”

“Tidak apa-apa,” sahut Eric tegas. “Kami akan bantu mengawal prosesnya. Ibu tenang saja, kami akan upayakan semaksimal mungkin.”

Eric segera mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon beberapa kantor polisi, memberikan keterangan lengkap serta mengirimkan foto anak itu. Setelah itu, ia menoleh ke Mira dan berpesan, “Mira, tolong sebarkan informasi hilangnya anak ini di media sosial dan grup warga agar banyak orang yang melihat dan bisa membantu memberikan informasi.”

Setelah semuanya diatur, Eric kembali menatap pasangan itu. “Sebaiknya Ibu dan Bapak pulang dulu dan istirahat. Segala sesuatunya akan kami urus di sini. Begitu ada kabar, kami akan segera menghubungi kalian.”

Dengan hati yang masih gelisah namun sedikit lebih lega, pasangan itu mengucapkan terima kasih dan akhirnya beranjak pulang.

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!