Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Mission Complete
Bab 12
Eru menoleh pada Asep seolah bertanya ada apa dengan gadis ini. Asep hanya menghela pelan.
“A-ku … Bunda, tolong Bundaku, Ayah. Mereka butuh bantuan, to-long.”
Bukan membaik, nyatanya Cinta menangis tersedu. Tubuhnya masih bergetar. Melihat perubahan drastis pada Cinta, Eru sadar ada yang tidak beres. Gegas meraih tubuh itu dan memeluknya sambil mengusap punggung menenangkan. Perlahan tubuh Cinta lebih tenang meski masih dengan isak tangis.
“bawa ke mobil,” ajak Asep mendahului.
Eru melerai pelukan dan merangkul tubuh itu. “It’s okay, ada aku,” bisiknya lirih.
Pintu mobil sudah dibuka Asep termasuk mesin yang menyala dengan pendingin udara. “Lo temenin, gue lapor Bang Umar.”
Tidak bertanya meski begitu penasaran. Eru menebak kalau Cinta terkejut atau lebih parah ia trauma. Melepas topi gadis itu lalu menyeka air mata dengan tisu. Pandangan Cinta begitu kosong dan menatap ke depan. Botol air mineral di pintu mobil ia ambil dan buka sealnya.
“Minum dulu ya.”
Meski hanya dua teguk setidaknya bisa mengalihkan sedikit perhatian Cinta. Tidak lama Asep kembali, Eru keluar dari mobil untuk bicara.
“Kang, Cinta ….”
“Motor bangs4t tadi itu, bikin dia kaget. Kayaknya ingat lagi kejadian dulu. Waktu kecil Cinta kecelakaan, orangtuanya meninggal di tempat, yang gue tahu kejadian itu jadi mimpi buruk bahkan sampai sekarang. Meninggalkan trauma. Cinta gak bisa lihat dar4h atau kecelakaan. Bisa panik lebih atau kayak tadi bahkan bisa lebih parah.”
Eru menarik nafasnya mendengar kenyataan itu. ada sedikit kesamaan dengan dirinya, ditinggal papi dari ia kecil. Setidaknya ia tidak memiliki trauma seperti Cinta.
“Ada obat atau hal yang harus kita lakukan?”
“Nggak ada, cukup tenangin dia. Nanti juga balik normal. Gue lebih suka dia cerewet daripada kayak gini. Lo bisa nyetir?”
Eru mengangguk.
“Bang Umar minta lo bawa dia balik ke hotel, temenin dan tenangin dia. Toh, kerjaan kita di sini sedikit lagi, bisalah gue sama Bang umar yang handle.”
“Oke.”
Asep menepuk bahu Eru. “Tapi jangan lo apa-apain. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan.”
“Nggak Kang. Gil4 aja kali kalau saya macam-macam di kondisi Cinta yang begitu.”
“Bagus deh. Pake jalur reguler aja, gue yakin lo nggak bertepuk sebelah tangan.”
“Eh, maksudnya?”
“Halah, gue tahu,” seru Asep lagi. “Udah sana!”
Berada di depan kemudi, Eru sempat menoleh ke belakang memastikan kondisi Cinta masih aman. “Kita balik ke hotel ya.”
Tidak mengangguk atau menjawab. Tatapan sendu dan wajah sembab, terlihat menyedihkan. Benar kata Asep, lebih suka melihat gadis ini ceria. Mobil mampir ke minimarket, Eru turun sempat pamit hanya dijawab dengan kedipan mata.
Dua cup es matcha dan sekantong cemilan dan coklat. Berharap makanan ini bisa mengembalikan mood.
Sampai di kamar, Eru mendudukan Cinta di tepi ranjang. Meletakan kantong cemilan di atas meja.
"Cinta? Dengar aku ?" Eru ikut duduk di samping Cinta, suaranya diusahakan selembut mungkin.
Cinta tidak menjawab. Matanya yang melebar menatap kosong ke depan sementara kedua tangannya saling merem4s di atas pangkuan.
"Boleh aku pegang tangan kamu," sela Eru, meraih jemari Cinta yang sedingin es dan menempelkannya ke dadanya sendiri. "Rasakan detak jantungku. Kamu aman, ada aku. Kejadian itu sudah lewat. Ayah, bunda kamu sudah tenang.”
Air mata itu kembali runtuh membasahi pipi Cinta. Genggaman tangan Eru perlahan-lahan menghangatkan hatinya, Eru benar, semua itu sudah lewat. Sudah lama berlalu, tapi kenapa rasanya masih sesakit ini. Bayangan kelam kecelakaan mulai memudar, tergantikan oleh wajah cemas dan tampan milik Mahameru.
"E-ru ...." bisik Cinta terbata-bata, suaranya parau.
“Hm, ini aku." Eru tersenyum lega, meski matanya masih menyiratkan kekhawatiran dan rasa yang entah. Ada bagian dari hatinya yang ikut terluka. Ia menyeka air mata di pipi Cinta dengan ibu jarinya.
***
Bersandar pada headboard dengan selimut menutupi kedua kaki sampai pinggang. Kamar hotel itu terasa hening, hanya suara pendingin udara mendengung pelan. Hela nafas CInta menyisakan rasa sesak. Tangannya memegang cup es matcha dengan sisa separuh.
Eru duduk di kursi tidak jauh dari ranjang, memberi ruang pada gadis itu untuk menenangkan diri. Jika ia jadi Cinta, saat ini pasti malu. Mereka belum lama kenal dan kondisi terburuk tampak begitu saja, meski Eru tidak peduli akan hal itu. Yang ia khawatirkan kondisi Cinta.
“Mau cemilan?”
Cinta menoleh lalu menggeleng dan kembali menatap ke depan. menghindar dari tatapan Eru.
“Kamu jadi … tahu.”
“Apanya?”
“Ck, buruknya aku.”
“Emang? Perasaan masih cantik deh, gemesh.”
Cinta berdecak lalu cemberut. “Nggak usah gombal.” Eru malah terkekeh geli. Pandangan Cinta menunduk, seolah mengu-liti gelas yang dia pegang.
“Maaf, bikin kamu ribet. Gara-gara aku, shooting pasti berantakan. Aku udah mendingan, kita balik ke setu aja.”
Eru menghela napas, perlahan bangkit berdiri dan melangkah mendekati ranjang. Duduk di tepi ranjang lebih dekat dengan Cinta.
"Dengar aku," kata Eru. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Proses shooting sudah aman, toh tinggal sedikit scene yang dibutuhkan."
Cinta menggigit bibir bawahnya, setitik air mata kembali menggenang di sudut matanya. "Aku takut dan aku benci harus hilang kendali seperti tadi. Pas denger suara tabrakan, rasanya aku kembali ke malam itu, Ru. Aku takut.”
Melihat bahu Cinta yang kembali bergetar, Eru mengulurkan tangan, sempat ragu sampai akhirnya menepuk punggung tangan Cinta.
"Wajar kalau kamu takut. Trauma itu bukan sesuatu yang bisa pergi begitu saja," Eru menatap lekat sepasang mata Cinta, berusaha menyalurkan kekuatan lewat tatapannya. "Kamu hebat bisa bertahan sejauh ini. Jadi, jangan paksa menjadi kuat dan jangan malu terutama di depan aku.”
Cinta menarik napas dalam-dalam, mencoba mencerna kata-kata Eru. Memang ia malu, ada rasa tidak biasa karena sikap pria ini dan kejadian tadi seperti membantingnya ke dasar menunjukan kelemahan dan sisi paling buruk dari seorang Cinta.
“Aku nggak ada ilfeel, masih sama rasa cacih cayang yang mau aku curahkan kalau kamu mau tahu.”
Mendengar itu, sudut bibir Cinta terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat samar—sebuah kemajuan kecil yang membuat Eru diam-diam menghembuskan napas lega.
"Makasih ya, udah temenin aku.”
Eru mengangguk dengan senyum menenangkan.
...Umar...
^^^Misi selesai, Cinta sudah tenang^^^
Oke. Jangan aneh-aneh lo
^^^Tergantung Bang, kalau Cintanya mau^^^
Sar4fff
cinta terhalang kejadian antara orang tua.😭
semangat Eru,setidaknya kamu jangan cepat menyerah.
jadikan cambukan,Cinta yang jadi korban papi mu maka kewajiban mu melindungi nya..kalau perlu menikahi nya
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya