Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan di Balik Pintu Ndalem
Suasana sore di kediaman ndalem sepuh Pesantren Al-Anwar mendadak terasa begitu mencekam. Langit Jombang yang mulai temaram tertutup awan mendung, seolah ikut menggambarkan hawa dingin yang sedang menyelimuti ruang tengah rumah utama.
Humaira baru saja melangkah masuk melewati pintu belakang setelah menempuh perjalanan melelahkan dari Yogyakarta. Tas jinjingnya masih menggantung di pundak, dan gamis cokelat tuanya sedikit kusut karena berjam-jam duduk di dalam mobil. Namun, rasa lelah fisiknya seketika menguap, digantikan oleh detak jantung yang bergemuruh hebat saat melihat pemandangan di ruang tengah.
Gus Arsalan sedang berdiri di dekat meja telepon dengan wajah yang merah padam menahan amarah. Rahangnya mengeras, dan sorot mata elangnya langsung mengunci sosok Humaira begitu wanita itu menampakkan diri. Di atas meja rias dekat kamar Umi, beberapa botol obat tampak berserakan tidak pada tempatnya.
"Dari mana saja kamu, Humaira?!"
Suara bariton Arsalan menggelegar, memecah kesunyian rumah. Nada suaranya begitu rendah, dingin, dan sarat akan penekanan yang mengintimidasi.
Humaira tertegun di tempatnya berdiri. Ia membetulkan posisi khimarnya yang sedikit miring, mencoba menguasai diri agar tidak tampak gentar di hadapan suaminya. "Kulo nembe mawon wangsul saking ziarah wonten Ngayogyakarta, Gus. Wonten menopo?" *(Saya baru saja pulang dari ziarah di Yogyakarta, Gus. Ada apa?)*
"Wonten menopo, kamu tanya?!" Arsalan melangkah lebar mendekati Humaira, memotong jarak di antara mereka hingga Humaira bisa merasakan embusan napas suaminya yang memburu akibat emosi. "Umi sakit, Humaira! Sejak siang tadi tensinya naik dan beliau mengeluhkan pusing yang teramat sangat sampai tidak bisa bangun dari ranjang!"
*Deg.*
Jantung Humaira mencelos. "Astagfirullah... Umi sakit, Gus?"
"Ndak usah berlagak kaget dan sok peduli!" potong Arsalan kejam, kalimatnya laksana sembilu yang langsung menyayat hati Humaira. Pria itu menunjuk ke arah botol-botol obat di atas meja dengan pandangan menghina. "Ini semua karena kelalaianmu! Kamu itu menantu pertama di rumah ini, tugasmu adalah menjaga dan merawat orang tua saya ketika saya sedang sibuk urusan luar! Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah terlalu asyik keluyuran, bersenang-senang berziarah dengan sahabatmu sampai lupa kewajiban!"
Humaira mengepalkan tangannya di balik lipatan gamis. Dadanya berdenyut ngilu luar biasa mendengar tuduhan keji yang dilayangkan oleh suaminya sendiri. *Bersenang-senang?* Apakah Arsalan tidak tahu bahwa ia pergi ke Yogyakarta justru untuk menangis dan mengadukan nasib pernikahan hancurnya pada Sang Pencipta?
"Gus, kulo mboten membolos dari kewajiban—"
"Cukup, Humaira!" bentak Arsalan lagi, tidak memberi kesempatan pada istrinya untuk membela diri. Kelelahan setelah mengurus bisnis di luar kota dan kepanikan melihat kondisi ibunya membuat ego pria ini meledak tak terkendali. "Kamu lupa mengingatkan Umi untuk minum obatnya siang tadi, kan? Kalau kamu berada di rumah dan tidak egois memikirkan dirimu sendiri, Umi ndak akan sampai drop seperti ini! Di mana letak baktimu sebagai seorang Ning dan seorang istri?!"
Air mata ego yang sejak tadi pagi ditahan Humaira di Yogyakarta kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Kata-kata Arsalan terlalu keterlaluan. Pria itu selalu mencari celah untuk menyalahkannya, menjadikannya samsat pelampiasan atas ketidakbahagiaan hidup mereka.
Namun, sebelum Humaira sempat membalas kalimat kasar suaminya, sebuah suara serak dan lemah terdengar dari arah pintu kamar utama yang terbuka sedikit.
"Arsalan... Cukup, Le. Jangan bentak motomu seperti itu..."
Kedua anak manusia itu menoleh serempak. Umi Khadijah berdiri bersandar pada kosen pintu kamar, wajah sepuhnya tampak begitu pucat dengan dahi yang ditempeli plaster penurun panas. Beliau berjalan tertatih, memegangi kepalanya yang masih terasa pening.
Humaira yang melihat kondisi mertuanya langsung melupakan egonya sendiri. Ia berlari kecil mendekati Umi Khadijah, merangkul pundak wanita sepuh itu dengan sangat hati-hati dan menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tengah.
"Umi... Ya Allah, Umi ndak usah bangun dulu. Mangga pinarak wonten mriki," ucap Humaira dengan suara yang bergetar menahan haru dan cemas. *(Umi... Ya Allah, Umi tidak usah bangun dulu. Silakan duduk di sini).*
Gus Arsalan ikut mendekat, wajah garangnya seketika melunak penuh kekhawatiran saat menatap ibunya. "Umi kenapa keluar kamar? Biar Arsalan papah kembali ke dalam."
Umi Khadijah mengangkat tangan kanannya yang gemetar, memberi isyarat agar Arsalan diam. Beliau menatap putranya dengan pandangan kecewa yang teramat dalam.
"Arsalan... Umi keluar karena Umi ndak kuat mendengar kamu memarahi Humaira dengan cara sekasar itu," ujar Umi Khadijah, suaranya pelan namun terdengar begitu tegas di telinga Arsalan. "Kamu salah, Le. Jangan sembarangan menuduh istrimu keluyuran atau egois."
Arsalan mengernyitkan dahi, mencoba membela argumennya. "Tapi Umi, Humaira malah pergi ke luar kota di saat Umi butuh penjagaan. Gara-gara dia lupa mengingatkan, Umi jadi telat minum obat tensi siang tadi, kan?"
"Siapa yang bilang Humaira lupa?" sergah Umi Khadijah, menggeleng-gelengkan kepalanya. Beliau meraih tangan Humaira yang terasa dingin, lalu mengelusnya dengan penuh kasih sayang. "Humaira itu menantu yang luar biasa berbakti. Sebelum dia berangkat ke Yogyakarta dua hari lalu, dia sudah menata semua obat Umi di dalam kotak khusus per hari. Bahkan tadi pagi, jam delapan tepat, Humaira sudah menelepon Umi dari Jogja hanya untuk mengingatkan Umi agar jangan lupa sarapan dan minum obat tensinya."
Deg.
Arsalan terpaku. Kalimat ibunya laksana hantaman godam yang meruntuhkan seluruh argumen kemarahannya. Ia melirik ke arah Humaira, namun istrinya itu hanya menunduk dalam, membiarkan beberapa tetes air mata jatuh mengenai punggung tangan Umi Khadijah.
"Lalu... kenapa Umi bisa sampai drop?" tanya Arsalan dengan nada suara yang mulai melemah, rasa bersalah perlahan menyelinap di dadanya.
Umi Khadijah mengembuskan napas panjang, tersenyum kecut. "Itu murni kesalahan Umi sendiri, Le. Tadi siang, setelah selesai pengajian Muslimat di depan, teman-teman pengajian Umi mampir ke ndalem. Kami ngobrol terlalu asyik, ketawa-tawa sampai sore sampai Umi lupa waktu. Umi lupa kalau belum minum obat siang, padahal istrimu sudah cerewet sekali mengingatkan lewat telepon pagi-pagi. Jadi, jangan kamu limpahkan kesalahan Umi pada Humaira."
Umi Khadijah menatap putranya dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Lagipula, Umi sendiri yang mengizinkan dan menyuruh Humaira untuk pergi berziarah ke Jogja bersama Zulfa. Umi ndak mau menantu Umi yang manis ini bosan dan stres karena terus-menerus dikurung di *ndalem* mengurus pesantren, sementara suaminya sendiri... malah lebih asyik sibuk dengan urusan bisnis di luar dan jarang pulang."
Sindiran halus dari Umi Khadijah itu telak mengenai ulu hati Arsalan. Pria itu mendadak kehilangan kata-kata. Lidahnya terasa kelu, dan kesombongan yang tadi ia tunjukkan di depan Humaira kini runtuh tak bersisa, menyisakan rasa malu yang teramat sangat karena telah salah menuduh.
"Sudah, sekarang kamu minta maaf sama istrimu," perintah Umi Khadijah tegas.
Humaira perlahan menghapus air matanya, lalu menegakkan tubuhnya. Ia menatap Gus Arsalan dengan tatapan mata yang dingin, kosong, dan tanpa riak emosi tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada sebuah makian.
"Mboten usah, Umi," potong Humaira lembut, suaranya terdengar begitu tenang namun mematikan. "Gus Arsalan mboten salah. Beliau hanya mengkhawatirkan kesehatan Umi. Kulo permisi badhe dhateng pawon rumiyin, mendetaken bubur hangat lan unjukan kagem Umi." *(Tidak usah, Umi. Gus Arsalan tidak salah. Beliau hanya mengkhawatirkan kesehatan Umi. Saya permisi mau ke dapur dulu, mengambilkan bubur hangat dan minuman untuk Umi).*
Humaira membungkuk hormat pada Umi Khadijah, lalu berbalik dan melangkah lebar menuju dapur tanpa sudi memandang wajah Arsalan sedikit pun.
Gus Arsalan berdiri mematung di ruang tengah yang sunyi. Ia menatap punggung Humaira yang perlahan menghilang di balik tirai pembatas dapur. Di dalam dadanya, ada rasa sesak yang baru yang kian merayap sebuah rasa bersalah yang teramat pekat karena menyadari bahwa tuduhan kasarnya sore ini telah berhasil menggoreskan luka yang jauh lebih dalam pada hati istrinya, menghancurkan sisa-sisa adab pernikahan yang selama ini coba mereka pertahankan dalam keheningan.