Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asal Usul
Malam itu, entah dorongan nekat dari mana yang merasuki jiwa Vivian hingga ia berani membawa Deana sekaligus Baby Elvano. Bermodal ingatan masa lalu tentang jalur rahasia, ia berhasil keluar menembus sistem keamanan ketat Black Valley, membawa kabur dua anak dari suaminya yang berhati es itu.
Keluar dari terowongan bawah tanah, Deana yang untuk pertama kalinya melihat dunia luar merasa benar-benar asing dan takut. Tangan kecilnya terus menggenggam erat jemari Vivian, mengikuti langkah wanita itu menjelajahi jalanan kota yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Lampu-lampu jalan dan kendaraan yang berlalu-lalang membuat matanya yang bulat mengerjap cemas.
Melihat putrinya ketakutan, hati Vivian terasa seperti diiris sembilu. Putrinya tumbuh dalam belenggu ketakutan di dalam mansion megah itu. Namun mulai malam ini, Vivian bertekad akan membawa putrinya melihat dunia luar. Dunia yang nyata dan memiliki banyak warna.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, langkah mereka akhirnya berhenti di sebuah rumah kontrakan pinggiran kota. Rumah itu cukup kecil, namun bersih dan layak untuk menampung tiga orang. Vivian segera menemui Ibu Kos untuk mengurus administrasi dan pembayaran.
Saat menghitung uang, sepasang mata Ibu Kos melirik curiga ke arah bayi di gendongan Vivian, lalu menatap lekat-lekat anak perempuan berambut ikal di sebelahnya. Ibu Kos merasa tidak asing dengan wajah Deana yang terlalu cantik dan berkelas untuk ukuran anak pinggiran.
Menyadari Bu Kos mulai menaruh curiga, insting mafia Vivian langsung bekerja. Dengan cepat, ia menarik Deana ke belakang tubuhnya, menyembunyikan sang putri dari pandangan menyelidik itu.
"Mereka anak-anak saya, Bu," ujar Vivian dengan senyum sopan yang dipaksakan.
Bu Kos menaikkan sebelah alisnya. "Oh, anakmu? Tapi kok suamimu gak kelihatan? Di mana dia?"
Vivian menghela napas, memasang wajah sesedih mungkin demi kelancaran sandiwara. "Kami sudah cerai, Bu... Dia ketahuan selingkuh dengan wanita lain."
Mendengar kata 'selingkuh', wajah Ibu Kos seketika berubah drastis. Rasa curiganya digantikan oleh rasa iba yang mendalam. Wanita paruh baya itu langsung berkacak pinggang dan memaki habis-habisan.
"Astaga, dasar laki-laki bajingan tak tahu diri! Sudah punya anak-anak secomel ini malah melengos ke perempuan lain! Benar-benar tidak becus jadi suami dan ayah! Sudah, kamu yang sabar ya, Neng. Tinggal di sini aman, kok."
Setelah memberikan kunci, Bu Kos akhirnya pergi sambil masih mengomel sendirian. Vivian menghela napas lega yang teramat panjang.
Mulai malam ini, ia memutuskan menggunakan namanya sendiri. Tak ada lagi Arini yang lemah dan tertindas. Yang ada hanyalah raga Arini yang baru, dengan jiwa Vivian yang siap bertarung. Jika dulu namanya adalah Vivian Marvis, maka sekarang di dunia luar, ia akan dikenal sebagai Vivian Sherwin.
Vivian membuka pintu kontrakan, lalu mengajak Deana masuk dengan lembut. Ia berlutut di depan putrinya, merasa tidak enak hati. "Deana, maafkan Auntie ya... Rumah kita sekarang seratus kali lipat lebih kecil dari rumah Papamu yang seperti istana itu."
Deana mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sempit, lalu menatap Vivian dengan polos. "Ndak apa-apa, Auntie. Dea ndak masalah lumahnya kecil... asal Auntie ndak jual Dea ke olang jahat."
Deg.
Vivian tersentak. Dadanya sesak mendengar trauma yang tertanam di kepala bocah empat tahun itu. Dengan mata berkaca-kaca, Vivian mengelus lembut pipi tembam putrinya. "Tentu saja tidak, Sayang. Tidak akan pernah. Anak secantik dan semanis kamu ini adalah mutiara berharga bagi Auntie."
Mata Deana mendadak memanas. Detak jantungnya bergemuruh. Pujian tulus itu seketika menyejukkan hatinya yang sempat kacau karena melarikan diri dari Kayden. Seumur hidupnya, ia tidak pernah sekalipun dipuji atau didekap sehangat ini oleh ayahnya sendiri.
Belum sempat Deana mencerna perasaannya, Baby Elvano di gendongan Vivian mulai menggeliat terbangun dan mengeluarkan suara rengekan, bersiap untuk menangis kencang. Vivian panik. Jika bayi itu menjerit, tetangga kontrakan pasti akan terganggu.
"Ayo, Dea, kita masuk ke kamar dulu," bisik Vivian cepat-cepat, menuntun Deana menutup pintu rapat-rapat.
Setelah mendudukkan Deana di kasur busa yang sederhana, Vivian bertanya dengan nada selembut sutra, "Sekarang coba cerita ke Auntie, kenapa mata cantik ini tadi berkaca-kaca? Apa Deana nangis karena ndak senang ikut pergi dari mansion bersama Auntie?"
Deana menggelengkan kepalanya dengan cepat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga.
"Auntie… napa Papa Kay benci Dea? Apa salah Dea? Apa kalena Dea milip Mama? Dea juga mau sepelti Baby El yang disayang Papa. Papa jahat! Auntie… jadi Mama Dea ya. Dea kesepian..." adu gadis cilik itu dengan suara terisak, sesekali melirik ke arah Baby Elvano yang kembali anteng di dekapan Vivian.
Setetes air mata Vivian ikut jatuh menetes. Hatinya hancur berkeping-keping melihat luka batin yang begitu dalam di mata putrinya. Bagaimana bisa Kayden setega itu pada anak sekecil ini?
Vivian meletakkan Baby Elvano di ranjang kecil dengan hati-hati, lalu berbalik dan langsung membawa Deana ke dalam pelukan hangatnya. Ia mendekap tubuh bergetar itu erat-erat, mencoba menyalurkan seluruh cinta ibu yang sempat terputus selama empat tahun.
"Dengar Auntie, Sayang... tidak ada yang salah dengan wajahmu," bisik Vivian parau, mencium puncak kepala Deana. "Wajah cantikmu ini adalah anugerah terindah yang kamu dapatkan dari Ibumu. Dan tahu tidak? Wajah Deana ini adalah wajah yang sebenarnya sangat, sangat dicintai oleh Ibumu... dan juga Papamu."
Deana sesenggukan di dada Vivian, lalu mendongak dengan mata sembap. "Jikalau begitu... napa Papa selalu ndak mau lihat Dea? Papa benci Dea, Auntie..."
Vivian menghapus sisa air mata di pipi putrinya, lalu tersenyum tipis sambil mengetuk pelan dahi dan kepalanya sendiri. "Mungkin... otak Ayahmu sekarang lagi konslet dan rusak, makanya sikapnya seperti itu. Tapi Deana tenang saja, Auntie sendiri yang akan memperbaiki kerusakan di otak Papa Kay nanti."
Vivian menatap dalam-dalam netra bulat Deana. "Tapi sebelum itu, Deana harus mau bekerja sama dengan Auntie di sini. Deana... mau, kan?"
Deana mengangguk mantap tanpa ragu. "Mau! Kalau itu bisa bikin Papa sayang sama Dea, Dea pasti bantu Auntie!"
Vivian tersenyum lega. Namun saat pandangannya beralih pada Baby Elvano, pikiran wanita itu kembali terganggu oleh sebuah tanda tanya besar yang mengganjal hatinya sejak di mansion.
"Deana, Auntie mau tanya sesuatu. Apa Deana tahu siapa Ibu dari bayi ini? Deana pernah lihat Ibunya?" tanya Vivian hati-hati. Sungguh ia sangat penasaran asal usul bayi laki-laki itu.
— 🌹
tapi bagaimana mungkin bisa melahirkan anak bayi lagiii 😁