Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Mendengar tangisan dan permohonan ampun yang saling bersahutan di lobinya, Darren sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan.
Sorot matanya sedingin es saat menatap ketiga karyawannya yang bersimpuh ketakutan.
"Kalian bertiga, hari ini juga dipecat secara tidak hormat dari Bramantyo Corporation!" tegas Darren dengan suara baritonnya yang mutlak.
"Dan jangan harap kalian bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan mana pun di kota ini, karena nama kalian sudah masuk dalam daftar hitam saya! Sekarang, angkat kaki dari gedung saya!"
Para staf keamanan lain yang melihat amarah sang bos besar langsung bergerak sigap, menyeret kedua satpam dan resepsionis itu keluar dari lobi sebelum amarah Darren makin merembet.
Setelah beres dengan urusan para pelaku, Darren kembali membalikkan badannya menghadap Jihan.
Tatapan mematikannya langsung luruh seketika, berganti dengan guratan khawatir yang sangat dalam.
Darren membungkukkan badannya, bersiap untuk menyelipkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh subur Jihan untuk mengangkatnya.
Melihat ancang-ancang suaminya, Jihan langsung membelalakkan mata dan menahan dada Darren dengan kedua tangannya.
"Jangan menggendongku, Mas. Kamu tidak akan kuat," ucap Jihan jujur dengan nada setengah berbisik, melirik tubuhnya sendiri lalu menatap suaminya yang sudah berumur setengah abad itu.
Jihan takut pinggang suaminya justru encok di depan para karyawan.
Darren yang mendengar itu seketika terkekeh pelan, sebuah senyuman asimetris yang menawan terbit di wajah tampan kedewasaannya.
"Kata siapa aku tidak kuat, Sayang?" goda Darren dengan suara beratnya yang seksi.
Ia menatap Jihan lekat-lekat, lalu menambahkan dengan nada bangga, "Demi jantungku yang mendadak sehat semenjak menikahimu, aku sangat siap membopongmu naik ke atas untuk mengobati luka di lututmu ini."
Greb!
Tanpa memberikan kesempatan bagi Jihan untuk memprotes lagi, Darren mengerahkan seluruh kekuatannya.
Dengan satu hentakan mantap dan napas yang teratur, sang CEO paruh baya itu berhasil mengangkat tubuh subur Jihan ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
Tidak ada tanda-tanda Darren keberatan atau gemetar sama sekali.
Jihan yang terkejut spontan mengalungkan kedua lengannya ke leher Darren, menyembunyikan wajahnya yang merona merah padam di dada suaminya karena malu menjadi tontonan gratis seluruh karyawan di lobi.
Dengan langkah tegap dan penuh wibawa, Darren membawa istrinya berjalan menuju lift khusus CEO.
Sepanjang jalan menuju lift, ratusan pasang mata menatap mereka dengan takjub dan iri, menyaksikan bagaimana sang naga bisnis yang terkenal kejam di dunia korporat, kini menjelma menjadi sosok pelindung yang begitu bucin dan romantis bagi istri barunya.
Begitu pintu lift khusus terbuka di lantai teratas, Darren langsung membawa Jihan masuk ke dalam ruang kerja CEO yang sangat luas dan mewah.
Dengan sangat hati-hati, ia mendudukkan istri tercintanya di atas sofa kulit yang empuk, lalu menekan tombol interkom di mejanya.
"Ira, bawa kotak P3K ke ruangan saya sekarang juga. Cepat!" perintah Darren tegas tanpa basa-basi.
Hanya dalam hitungan detik, pintu ruangan terbuka.
Ira, sekretaris pribadi Darren yang terkenal cekatan, masuk dengan napas sedikit terengah-engah sambil mendekap kotak medis darurat.
"Ini kotak P3K-nya, Pak Darren," ucap Ira sopan. Matanya sempat melirik ke arah Jihan yang duduk di sofa dengan lutut berdarah, lalu segera menunduk hormat, tidak berani banyak bertanya setelah mendengar kehebohan di lobi bawah tadi.
"Terima kasih, Ira. Kamu boleh keluar dan pastikan tidak ada yang mengganggu kami," ujar Darren sembari menerima kotak tersebut. setelah Ira pamit undur diri, Darren langsung berlutut di lantai, tepat di hadapan kedua kaki Jihan.
Darren membuka kotak P3K, mengambil sebotol cairan antiseptik dan kapas. Namun, baru saja Darren hendak mendekatkan kapas yang telah dibasahi antiseptik itu ke luka di lutut Jihan, istrinya langsung menarik kakinya menjauh dengan wajah panik.
"Mas, ini pasti perih sekali! Aku tidak mau diobati pakai itu!" seru Jihan dengan mata berkaca-kaca. Tubuhnya boleh saja subur dan kuat, tetapi urusan perihnya cairan antiseptik tetap saja membuatnya ciut.
Darren mendongak, menatap wajah ketakutan istrinya dengan senyuman mahfum.
Alih-alih memaksa, Darren justru meletakkan kembali kapasnya.
Ia berdiri, lalu berjalan menghampiri meja kecil di sudut ruangannya yang menyediakan berbagai camilan premium untuk menjamu tamu VIP.
Di sana, terdapat sebuah kotak berisi aneka donat mewah yang baru saja diantarkan stafnya pagi ini.
Darren mengambil satu donat berukuran besar dengan topping cokelat pekat yang bertabur kacang tanah sangrai melimpah di atasnya—varian yang ia tahu pasti akan disukai oleh Jihan yang menyukai cokelat.
Darren kembali berlutut di depan Jihan, lalu menyodorkan donat menggoda itu tepat di depan wajah istrinya.
"Ini, kamu makan donat cokelat kacang ini sekarang," ucap Darren dengan suara beratnya yang menenangkan, mencoba mengalihkan perhatian Jihan.
"Setiap kali aku menyeka lukamu, kamu harus menggigit donat ini yang besar. Percayalah pada suamimu, rasa manisnya pasti akan membuat lukanya tidak terasa perih lagi."
Mata Jihan seketika berbinar melihat donat cokelat kacang yang tampak begitu lezat di tangan Darren.
Aroma khas cokelat dan gurihnya kacang langsung membuat air liurnya terbit, seketika melupakan rasa takutnya pada cairan antiseptik.
Jihan menganggukkan kepalanya dengan patuh seperti anak kecil yang disuapi permen.
Ia menerima donat itu dengan kedua tangannya, lalu langsung menggigitnya dengan lahap hingga pipinya menggembung mengunyah kelezatan roti bulat tersebut.
Srett.
Memanfaatkan momen di saat Jihan sedang asyik menikmati donatnya, Darren dengan gerakan yang sangat lembut namun cepat langsung menempelkan kapas antiseptik ke luka di lutut Jihan, membersihkan sisa-sisa darah yang mulai mengering di sana.
Jihan sempat tersentak sedikit dan mengerang pelan di balik mulutnya yang penuh donat, namun perpaduan rasa manis cokelat yang pekat di lidahnya benar-benar sukses mengalihkan rasa perih di lututnya.
Jihan terus mengunyah donatnya dengan nikmat hingga tetes terakhir, sementara Darren dengan telaten membalut luka sang istri dengan plester medis yang rapi.
Jihan menjilat sisa cokelat yang menempel di ibu jarinya dengan ekspresi yang sangat puas.
Rasa cemas dan tegang akibat insiden di lobi tadi benar-benar menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa bahagia setelah lambungnya dimanjakan oleh sepotong kue manis.
Ia mendongak, menatap Darren yang masih berlutut di depannya dengan kotak perban yang sudah rapi tertutup. Jihan mengedipkan matanya
dengan polos.
"Enak sekali donatnya, ada lagi nggak, Mas?" tanya Jihan tanpa ragu, memberikan senyuman termanis yang membuat pipi suburnya memerah alami.
Darren yang melihat tingkah menggemaskan istrinya itu seketika terkekeh pelan.
Sorot matanya dipenuhi dengan binar kehangatan yang amat dalam.
"Ada, Sayang, ini aku ambilkan lagi," jawab Darren lembut sembari bangkit dari lantai.
Pria paruh baya itu kembali melangkah ke meja sudut, mengambil sisa kotak donat, lalu memb
awanya langsung ke meja kopi di depan Jihan.
Darren duduk di samping istrinya, mengambil sepotong donat dengan varian keju susu yang tebal, lalu menyodorkannya ke tangan Jihan.
Darren menopang dagunya dengan satu tangan, memiringkan tubuhnya untuk memperhatikan Jihan yang langsung menyambut donat kedua itu dengan mata berbinar-binar.
Ada rasa damai dan kebahagiaan tersendiri di dalam hati Darren saat melihat istrinya yang sangat suka makan ini.
Berbeda dengan wanita-wanita sosialita di luaran sana yang selalu menahan lapar dan menghitung kalori demi penampilan, Jihan tampil apa adanya.
Jihan begitu tulus, penuh energi, dan setiap kali wanita itu mengunyah makanan dengan lahap, Darren merasa hidupnya yang semula terasa hambar kini menjadi jauh lebih bermakna dan penuh warna.
"Makanlah yang banyak, Sayang. Selama ada aku, kamu tidak akan pernah kekurangan apa pun," bisik Darren lembut sembari mengusap sisa remahan cokelat di sudut bibir Jihan dengan ibu jarinya.
Jihan mengangguk ceria di sela-sela kunyahannya.
"Terima kasih, Mas Darren suamiku yang
tampan!"
Di dalam ruangan kerja yang kedap suara itu, sang CEO nomor satu dan istri suburnya melewatkan waktu pagi dengan begitu hangat, melupakan sejenak dunia luar yang penuh dengan kepalsuan..
Waktu berlalu begitu cepat di dalam ruang kerja yang nyaman itu.
Tanpa terasa, jarum jam di dinding sudah menunjukkan tepat pukul satu siang.
Jihan yang sedang bersandar di sofa langsung menegakkan tubuhnya dan melirik jam digital di pergelangan tangannya.
"Astaga, Mas. Sudah jam satu siang. Ini waktunya menjemput Angela di kampus. Kelasnya pasti sudah selesai," ucap Jihan agak panik, bersiap untuk berdiri dan mencari helm merah mudanya.
Melihat istrinya bersiap untuk pergi, Darren dengan sigap menahan bahu Jihan.
Ia melirik ke arah perban rapi yang membungkus lutut istrinya.
Walau pendarahannya sudah berhenti, Darren tahu luka goresan di lantai kasar itu pasti masih terasa senut-senut jika dipakai berjalan jauh, apalagi jika harus mengendarai motor lagi.
"Sayang, lututmu itu masih sakit dan baru saja diobati. Jadi, ayo kita jemput Angela berdua menggunakan mobilku," ajak Darren dengan nada lembut namun penuh perhatian yang tidak menerima penolakan.
Pria paruh baya itu ingin memastikan istrinya tetap aman dan nyaman.
Jihan menatap lututnya sejenak, lalu mendongak menatap wajah tampan suaminya yang sarat akan kekhawatiran.
Rasa hangat kembali mengalir di hatinya melihat betapa protektifnya sang suami.
Jihan akhirnya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Baiklah, Mas. Ayo kita jemput anak gadismu itu."
Darren tersenyum puas. Ia segera mengambil jas kerjanya, lalu dengan mesra merangkul pinggang subur Jihan untuk menuntunnya berjalan keluar ruangan dengan langkah perlahan agar tidak menyakiti lututnya.
Di lobi bawah, sebuah mobil sedan mewah Rolls-Royce berwarna hitam mengkilap sudah terparkir rapi di lobi utama, lengkap dengan sopir pribadi yang sudah membukakan pintu belakang dengan takzim.
Kehadiran Darren yang berjalan beriringan sambil memeluk mesra pinggang Jihan kembali membuat para karyawan kantor membungkuk hormat dengan penuh rasa segan.
Mobil mewah itu kemudian meluncur membelah jalanan kota menuju kampus Angela.
Darren sengaja ikut turun tangan hari ini, bukan hanya karena khawatir dengan lutut Jihan, tetapi juga karena ia ingin memberikan pelajaran berharga kepada siapa saja—termasuk anak kandungnya sendiri—yang berani meremehkan keberadaan istri tercintanya.
Angela sama sekali tidak tahu bahwa beberapa menit lagi, sebuah kejutan yang jauh lebih besar dan akan mengguncang seluruh isi kampusnya sedang meluncur datang.