Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.
Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Dua Insan Yang di Paksa Dipisahkan.**
DEPAN KONTRAKAN 5x4*
Motor Supra 2005 ngebul item. _Breet breet._ Paman Syarif matiin mesin. Peci hitam, sarung coklat, muka datar. Tapi urat di lehernya nongol. Marah. Marah beneran.
Di belakangnya istrinya Bik Asih. Nenteng besek + HP. Ustadz Yusuf nggak ada. Dari ujung gang, mobil Innova item parkir. Kaca film item. Di dalem, Ustadz Yusuf Matanya ngintip dari kaca. Nggak turun. Cuma mantau. Senyumnya tipis. "Biar Bang Syarif yg jadi polisi dulu. Gue tinggal metik hasilnya."
Bik Asih langsung teriak dari gerbang, nggak pake salam: “Kirana! Keluar kamu Nak! Paman kamu dateng! Jangan sembunyi di balik bencong itu!”
Pintu kontrakan kebuka. Saqira keluar duluan. Blezer udah dipake, bandana pink di kepala, lipstik merah. Dia mau MC nikahan jam 9. Keringet dingin di pelipis. Di belakangnya Kirana. Kerudung miring, tangan gemeter megang ujung blezer Saqira.
Paman Syarif ngeliat Saqira. Dari atas sampe bawah. Tatapannya kayak mau ngelucutin. “Kamu Saqir?” Suaranya berat. Ini suara Paman yg marah keponakan.
Saqira salim. “Iya Pak. Saya Saqir. Saya mau jelasin Pak. Saya nggak pernah...”
“DIEM!” Paman Syarif bentak. Suaranya ngegema sampe ujung gang. Ibu-ibu yg ngintip langsung jongkok. “Gue nggak nanya panjang lebar! Gue nanya: kamu laki-laki apa bukan? Kalo laki-laki, kenapa keponakan gue tidur sekamar sama kamu? Kalo bukan laki-laki, kenapa kamu pegang tangan dia?”
Bik Asih nyelip. Matanya nyala. “Iya Mas! Itu namanya kumpul kebo Mas! Dosa! Malu! Nama keluarga kita ancur Mas gara-gara anak sial ini!” Dia nunjuk Kirana.
Kirana mundur. Punggungnya mentok ke kusen pintu. “Paman... nggak gitu Paman... Mas Saqira nolongin Kirana Paman...” Suaranya pecah.
“NOLONGIN?!” Paman Syarif maju selangkah. Bayangannya nutupin Kirana. “Nolongin itu nganter ke rumah Paman Nak! Bukan nginep sekamar! Bukan masak bareng! Bukan panggil ‘Mas’! Kamu tau nggak hukumnya apa? Zina! Maksiat! Kamu mau bapak kamu di kubur nangis darah Nak?”
Kirana jongkok. Tutup muka pake kedua tangan. Nangis. Nggak ada suara. Cuma bahunya naik-turun.
Saqira maju, mau ngelindungin. Tapi Paman Syarif dorong dadanya pake telapak tangan. _Duk._ Nggak keras, tapi Saqira mundur 2 langkah. High heel-nya copot sebelah.
“Jangan ikut campur kamu! Ini urusan keluarga!” Paman Syarif nunjuk muka Saqira. “Kamu mau MC? Silakan MC! Tapi abis MC Kirana ikut gue pulang! Titik!”
Bik Asih ngak. “Alah, bencong! Nanti juga kabur! Mas, bawa aja Kirana lebih baik kita nikahin sama Ustadz Yusuf ! Seret Kirana sekarang!”
Kirana mau nolak. “Gak Paman !” Kirana gak sud8 nikah sama Ustadz Yusuf.
Tapi Paman Syarif nangkep lengannya. Kenceng. “Diem kamu Nak! Kamu ikut Paman aja!”
Bik Asih dorong punggung Kirana. “Masuk sana! Bocah nggak tau malu! Bikin malu keluarga!”
Di dalem, Paman Syarif duduk di kursi plastik. Bik Asih berdiri, tangannya di pinggang. Kirana jongkok di pojok. Peluk lutut.
Paman Syarif nggak bentak lagi. Dia capek. “Nak... Paman marah bukan karena benci kamu Nak. Paman marah karena Paman takut. Takut nama Bapak kamu jelek. Takut Paman gagal jaga amanah.”
Kirana nangis makin kenceng. “Paman... Kirana nggak maksiat Paman. Sumpah. Kita tidur dipisah Paman. Mas Saqira gak pernah macem macem sama Kirana. Dia nggak pernah sentuh Kirana Paman...”
“DIEM!” Paman Syarif ngebanting meja. Gelas plastik jatuh. “Paman nggak mau denger alasan! Di mata orang, kalian udah salah! Di mata Allah, kalian udah syubhat! Paman nggak mau debat! kamu ikut Paman! Pulang ke pondok! Ngaji lagi! Lupa sama bencong itu!”
Bik Asih senyum menang. Dia bisik ke Paman: “Iya Bang. Pinter. Kasih pelajaran. Nanti Ustadz Yusuf yg nikahin. Halal. Berkah. Daripada sama MC banci itu.”
Dari mobil Innova, Ustadz Yusuf ngerekam pake HP. Dia senyum. Bisik sendiri: “Bagus Bang Syarif... marah sana... bikin Kirana trauma... nanti giliran gue yg jadi pahlawan. Gue yg ‘nolongin’ dia dari Paman galaknya.”
Saqira mulai khawatir dengan Kirana. " Jangan Pak. Kirana bukan barang. Yang bisa di jual atau ditukar. Saya gak pernah melecehkan Kirana. Saya bisa bertanggungjawab ".
“Alasan!” Bik Asih nyubit lengan Saqira. “Dasar bencong tukang bohong! Bang, seret aja Bang! Gue videoin buat bukti ke RT!” HP-nya udah ngerekam.
Paman Syarif narik Kirana lagi. Kirana nangis jerit. “PAAMAN! KIRANA MOHON PAMAN! JANGAN PISAHIN KIRANA SAMA MAS SAQIRA PAMAN! KIRANA MATI AJA KALO DIPISAH!”
“DIEM KAMU NAK!” Paman Syarif bentak. Tapi tangannya gemeter. Urat di leher Paman Syarif nongol lagi. Dia ngepalin tangan. Tali rafia di remas-remas.
Sakira memegang tangan Kirana.
“LEPAS TANGAN KAMU DARI KEPONAKAN GUE!” Bentaknya ke Saqira.
Saqira nengadah. Air matanya netes. “Iya Pak. Saya lepas Pak. Tapi Bapak juga lepas Kirana Pak. Kita ngomong baik-baik Pak. Sebagai laki-laki. Nggak pake bentak-bentak Pak. Nggak pake video-video Bu Asih.”
Bik Asih maju. Mau nampar Saqira. “Kurang ajar kamu!”
_Plak._ Tangan Paman Syarif nangkep pergelangan tangan Bik Asih di udara. “Cukup Bu. Gue yg wali. Gue yg mutusin.”
"Pak tolong jangan paksa Kirana. Ia punya hidupnya sendiri. Ia punya perkerjaan. Dia bukan boneka. Dia bukan alat tawar menawar." Saqira mencoba membela Kirana.
Bik Asih kesel. HP-nya dimatiin. "Mas Syarif lembek! Seharusnya seret sekarang Bang!”
Paman Syarif nggak jawab. Dia masuk ke kontrakan. Duduk di kursi plastik. “Saqir, Kirana. Sini. Duduk. Kirana akan saya bawa pulang dulu . Untuk menghindari fitnah".
" Gak Paman. Kirana Gak mau. Kirana mau disini saja. Atau Kirana akan cari kontrakan lain". Kirana menolak sambil menangis.
" Diam kamu Kirana. Jangan ngebantah. Dia memang bencong tapi dia Laki laki. Bukan Muhrim kamu". Bentak Paman Syarif.
" Jangan Pak... Sya siap bertanggungjawab sama Kirana. Saya siap ngehalalin Kirana". Saqira setengah berteriak.
Paman Syarif terdiam. " Apa... kamu mau bertanggungjawab denga Kirana.. Kamu sadar gak kamu itu bencong.. Banci sampah masyarakat.. Gimana nasib Kirana nanti dapat suami bencong. Apa kata tetangga jika ponakan ustadz Syarif nikah sama beanci".
" Tapi walaupun saya bencong, banci sampah masyarakat. Saya juga manusia Pak. Saya juga laki laki". Jawab Saqira dengan tegas.
" Eeeh. Enak aja lu cong. Kirain ngidupin anak orang itu mudah? Gimana kamu bisa jadi suami jika dandannya kayak perempuan". Bik Asih ikut nimbrung.
" Saya janji pak. Saya janji Bik. Saya akan bertanggung jawab. Saya akan berubah pelan-pelan.". Jawab Saqira.
" Pokoknya Kirana saya bawa dulu. Masalah lu berubah atau gak lu buktiin sendiri.". Paman Syarif berusaha menyeret Kirana dari rumah kontrakan itu.
" Paman Kirana mohon. Kirana gak mau pulang". Isak Kirana.
"Eh anak sial. Kamu selalu bikin masalah ya. Ayo kita pulang. Gak malu apa tinggal sama bencong". Bik asih mencubit Lengan Kirana.
" Bik Kirana gak mau bik.Lepaskan kiranan !". Kirana memberontak.
Tidak beberapa lama muncul ustadz Yusup. Dan dua orang pengawalnya.
"Assalamualaikum. Maaf pak Syarif. Kenapa nyeret Kirana??.
Ustad Yusup berpura-pura bertanya.
"Ini ustadz anak sial ini. Nekad mau tinggal sama bencong sampah masyarakat". Jawab Bi Asih cetus.
"Astaghfirullah Kirana. Nak kamu sadar gak ini dosa. Dia banci. Kaum nabi Luth yang di ajab Allah." Ustad Yusuf mulai beraksi untuk menyudutkan Saqira.
"Maaf ustadz. Mas Saqira hanya berpenampilan kayak Wanita jika kerja aja. Tapi ia laki laki yang bertanggung jawab." Jawab Kirana sambil menangis.
"Kirana dosa ya tetap dosa. Ingat kamu Anak yatim piatu. Kasian orang tua mu dikubur kalau kamu salah langkah". Astaga Yusuf semakin memainkan emosi Kirana.
Kirana terdiam sambil menangis sesenggukan.
" Ustadz saya Saqira. Saya siap merubah semua. Saya siap menjadi laki-laki". Jawab Saqira.
"Mohon maaf Mas eeh mbak..eh gimana sih manggilnya. Kecenderungan kamu itu sudah dari kecil. Gak mungkin bisa berubah secepat itu. Kamu jangan berbohong hanya karena ingin menghalangi Kirana pulang." Ustad Yusuf berbicara bijak tapi tidak dengan hatinya.
" Ya Udh saya pamannya Kirana Memutuskan Kirana harus pulang. Biarkan dia bersama kami keluarganya. Saya berhak dari pada kamu Saqir. Masalah kamu mau berubah. buktikan saja. Jangan hanya taktik licik". Ucap paman syarif tegas.
"Paman boleh Kirana bicara sebentar dengan Mas Saqir? ". mohon Kirana.
" Iya silakan 5 menit. Gak lebih gak kurang". Jawab paman tegas.
Kirana menyeret Saqira ke halaman komplek yang didekat kontrakan.
" Mas.. Mas seriusan mau nikahin Kirana??. Tanya Kirana.
"Iya Kir. Gue serius. Serius dari lubuk hati yang paling dalam". Jawab Sakira.
" Mas ini bukan mainan. Kirana ikhlas jika di nikahin Mas bukan karena lari dari ustadz Yusuf. Tapi ini serius dari hati Kirana. Kirana pulang dulu ke pondok. Kalau Kirana tetap disini Kirana takut jadi masalah di komplek ini".
" Oh ya mas. Kirana gak mau mas ngorbanin diri mas hanya karena Kirana. Nasib Kirana sepertinya sudah digariskan untuk menjadi Kirana yang Sial. Kirana yang harus nurut dengan keadaan. " Tambah Kirana lagi
" Gak.. Gak.. Gak Kirana kamu gak pernah sial. Gak harus nurut dengan keadaan. Kamu manusia milik dirimu sendiri milik Allah. Mas Ikhlas l.. Mas akan jemput kamu nanti. Mas juga laki-Laki meskipun berpenampilan seperti ini. Mas janji Kirana ". Saqira menyakinkan Kirana.
" Iya mas. Kirana tau. Tapi Kirana minta mas berfikir lagi. Jangan sampai mas menyesal nanti ketika memilih Kirana. Mas Kirana pamit ya . Tolong kasih tau Pak Jono Kirana izin gak kerja dulu. Gaji gak usah dibayar. Asalkan pak Jono mau Nerima kirana kembali berkerja nanti."
Kirana langsung berlari ke kontrakan dan membiarkan Saqira mematung di taman. Tampa sempat bicara.
Kirana langsung mengemaskan barangnya. Tidak lupa jaket dan mukena pemberian Saqira ia bawa jug.
Pamannya langsung membawa Kirana pulang. Tampa pamit ke Saqira.Sedangkan bik Asih ikut ustadz Yusuf. Di fikirannya sudah banyak rencana yang akan ia lakukan ke Kirana.
Ustad Yusuf tersenyum menang kearah Saqira. Sambil melambaikan tangan. Ia bertekad kali ini gadis Kirana tidak ada alasan untuk menolak. Tidak ada sejarahnya Ustaz Yusuf ditolak.
Sementara Saqira masih terdiam dan Tampa terasa air matanya menetes. Ketika melihat Kirana dan rombongan Ustadz Yusuf pergi dari kontrakan.
Hari yang sulit. Pertarungan nasib antara Saqira yang harus bisa membuktikan dirinya untuk menjadi laki-laki sejati untuk Kirana. Sementara Kirana harus bertarung dengan dirinya sendiri dan nasib.
...****************...