Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.
Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.
Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 Pertemuan Arka dan Suho
Gemuruh kehancuran mengguncang pusat kota. Gedung-gedung pencakar langit yang menjadi simbol kemajuan teknologi tahun 2050 runtuh satu per satu, menyebarkan kepulan debu raksasa ke udara. Lima monster kolosal kelas Overlord mengamuk tanpa ampun, menginjak-injak fasilitas publik dan menciptakan teror masif bagi warga sipil.
Di garda terdepan, Min Suho melesat laksana kilat perak. Dengan kecepatan mutlak seorang Userator 6 Stars, ia menerjang ke udara, mengibaskan tangannya untuk memuntahkan ratusan bongkahan es magis yang tajam dan padat layaknya hujan peluru kendali.
BOOM! BOOM! BOOM!
Salah satu monster Overlord mencoba mengayunkan gada batunya untuk meremukkan Suho, namun dengan tenang Suho memanifestasikan dinding es tebal sebagai penangkis, sebelum akhirnya melancarkan serangan balik yang masif.
Di sekelilingnya, barisan Userator lain mulai berdatangan, membentuk barikade tempur untuk menahan gelombang monster kelas Common dan Elite yang ikut membanjiri jalanan kota.
Di tengah kekacauan itu, Sisil berhasil berlari berlindung di dalam sebuah gedung pengungsian darurat yang dijaga ketat oleh beberapa Userator pertahanan. Atmosfer di dalam gedung dipenuhi oleh tangisan dan kepanikan ratusan warga sipil.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Sisil mengeluarkan ponsel flagship barunya. Ia menekan nomor kontak Arka dengan wajah yang ketakutan. Begitu panggilan tersambung, suara yang sangat ia rindukan terdengar di seberang sana.
"Halo, Sayang? Ada apa?" tanya Arka, suaranya terdengar sangat tenang.
Di belahan distrik lain, Arka sebenarnya baru saja menyarungkan pedang Dissord miliknya setelah dengan santai membantai satu monster liar, didampingi oleh Handji yang masih sibuk mengemas kristal intinya dengan wajah takjub.
"M-Mas... Kamu bisa kesini sekarang gak?" ucap Sisil dengan suara bergetar menahan kepanikan. "Di tempatku mendadak muncul banyak sekali monster raksasa... Aku takut sekali, Mas!"
Mendengar ketakutan istrinya, ketenangan Arka runtuh seketika. Matanya menyipit tajam, memancarkan kemarahan besar. "Apa?! Kamu ada di mana sekarang?! Kirimkan koordinat alamatmu sekarang juga, aku akan langsung meluncur ke sana!"
Hanya dalam hitungan menit setelah menerima pesan lokasi, Arka sudah tiba di tempat pengungsian warga. Ia mendobrak masuk, mengedarkan pandangan tajamnya menembus kerumunan orang banyak.
"Sayang!" teriak Arka lantang.
"Mas Arka!"
Sisil yang mendengar suara itu langsung bangkit dari sudut ruangan. Ia berlari sekuat tenaga, menghambur lurus ke dalam dekapan hangat Arka. Tubuh mungilnya memeluk erat pinggang suaminya, menumpahkan segala rasa takutnya di sana.
Arka mendekap tubuh istrinya dengan sangat protektif, mengusap punggungnya lembut. "Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?"
"Iya, Mas... Aku tidak apa-apa," bisik Sisil. Begitu berada di dalam pelukan Arka, seluruh rasa takut yang melingkupi hati Sisil menguap begitu saja. Baginya, dekapan pria ini adalah tempat paling aman dan nyaman di seluruh alam semesta.
"Ayo kita pergi dari tempat ini sekarang. Aku akan membawamu ke tempat yang jauh lebih aman," ucap Arka serius. Sisil mengangguk patuh. Arka kemudian menggandeng erat tangan istrinya, membimbingnya keluar dari gedung pengungsian menuju area yang lebih terbuka.
Sementara itu, di medan pertempuran utama, situasi mulai terkendali seiring datangnya bantuan personel skala besar dari Serikat, termasuk beberapa Userator 5 Stars tingkat tinggi. Min Suho yang kini merasa bebannya berkurang, mendadak teringat sesuatu.
‘Apakah Sisil baik-baik saja?’ pikir Suho dalam hati, ada secercah rasa khawatir yang ganjil di benaknya.
Ia membalikkan tubuhnya, menoleh ke arah barisan Userator 5 Stars di dekatnya. "Aku harus memeriksa area lain dulu. Kalian bisa mengatasi sisa monster di sini, kan?"
"Tenang saja, Tuan Suho! Serahkan sisa bajingan raksasa di sini pada kami!" jawab salah satu Userator 5 Stars dengan tegas.
Tanpa membuang waktu, Min Suho langsung melesat secepat angin menuju ke arah kompleks pertokoan tempat ia berpisah dengan Sisil tadi, berharap gadis itu sudah berada di tempat evakuasi.
Namun, tepat saat ia hampir tiba di depan gedung pengungsian utama, langkah kaki Suho terhenti seketika.
Dari kejauhan, ia melihat Sisil sedang berjalan keluar, dituntun oleh seorang pemuda asing berjaket kasual yang menggandeng tangannya dengan sangat erat.
‘Sisil? Lalu... siapa pria yang sedang bersamanya itu?’ batin Suho, matanya menyipit penuh selidik.
‘Distrik ini masih berada di zona merah. Aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja dengan orang asing tidak dikenal.’
BOOM!
Mengaktifkan mana energinya, Min Suho melesat dengan kecepatan penuh laksana terkaman badai, berniat menghadang jalur jalan Arka dan Sisil.
Namun, di sisi lain, insting tempur Arka yang sudah melampaui batas manusia biasa langsung menangkap adanya fluktuasi energi berbahaya yang mendekat dari arah buta dengan kecepatan tinggi.
Tanpa membalikkan badannya, Arka secara refleks mengibaskan lengan kirinya ke udara dengan satu gerakan horizontal yang sangat cepat dan bertenaga.
BRRRZZZXT!
Sebuah gelombang petir biru keperakan yang sangat padat meledak dari ujung jarinya, melesat horizontal membentuk pisau energi berkecepatan tinggi yang memotong jalur pergerakan Suho.
Melihat serangan balasan instan yang begitu mematikan, Min Suho terkejut.
Ia terpaksa membatalkan momentum larinya dan mendirikan sebuah tameng es murni berukuran besar untuk menahan hempasan petir tersebut.
BLAAM! Dampak benturan itu menciptakan kepulan uap dingin yang tebal.
Arka membalikkan tubuhnya, menempatkan Sisil di belakang punggungnya sembari menatap tajam pria asing yang baru saja mencoba menggapai mereka. "Siapa kau?!" tanya Arka dingin.
Suho mengibaskan uap es di sekelilingnya, menatap Arka dengan sorot mata yang tak kalah tajam dan penuh permusuhan.
"Kau sendiri yang siapa?! Kenapa kau berani membawa Sisil pergi dari zona evakuasi?" tanya Suho balik dengan nada menuntut.
Dahi Arka berkerut dalam. Ia merasa bingung sekaligus terusik karena pria asing di depannya ini mengetahui nama panggilan istrinya secara akrab. Arka menoleh sedikit ke belakang. "Kamu kenal dia, Sayang?"
Sisil menatap takut-takut ke arah Suho, lalu berbisik pelan di dekat telinga Arka, "M-Mas... dia itu orang yang aku ceritakan kepadamu semalam. Temannya temanku yang tidak sengaja bertemu di kafe..."
Mendengar penjelasan itu, Arka manggut-manggut paham.
"Menjauh dari Sisil sekarang juga, atau aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkanmu di sini!" ancam Min Suho, hawa dingin di sekelilingnya mulai membekukan aspal jalanan.
Arka melepaskan tawa remeh yang sangat memprovokasi ego Suho. "Menjauh darinya? Memangnya kau siapa berani mengaturku? Maju saja kalau kau memang punya nyali untuk melawanku!" tantang Arka balik, sama sekali tidak gentar.
"M-Mas..." Sisil menarik-narik ujung jaket Arka dengan wajah pucat, berbisik panik. "Dia itu Min Suho... seorang Userator 6 Stars. Kita tidak perlu memprovokasinya, Mas, lebih baik kita pergi saja dari sini."
Arka hanya menoleh sekilas, memberikan senyuman menenangkan yang sangat hangat. "Tenang saja, Sayang. Serahkan semuanya pada suamimu ini."
Melihat interaksi intim di depannya, ditambah provokasi terang-terangan dari Arka, harga diri Min Suho sebagai salah satu manusia terkuat di dunia pecah seketika. Wajahnya menggelap penuh amarah.
"Jangan salahkan aku jika tubuhmu berakhir hancur berkeping-keping, Sialan!"
WUSH!
Suho menghentakkan kakinya. Ribuan bongkahan es tajam berbentuk duri-duri raksasa memanifestasikan diri di udara, lalu melesat lurus dengan kecepatan peluru kendali mengincar seluruh titik vital tubuh Arka. Serangan itu dirancang untuk melumpuhkan target dalam sekali serang.
Namun, sebuah keanehan terjadi. Tepat satu jengkal sebelum duri-duri es tajam itu menyentuh pakaian Arka, seluruh serangan es tersebut mendadak lenyap secara instan dari realitas, seolah-olah mereka baru saja dihapus oleh penghapus tak kasat mata.
Min Suho terkesiap hebat, matanya membelalak tidak percaya. ‘Apa yang baru saja dia lakukan?! Ke mana perginya seluruh energi seranganku?!’ jeritnya dalam hati, mulai merasakan firasat buruk.
Tanpa memberi musuhnya waktu untuk berpikir, Arka langsung mengambil posisi kuda-kuda samping. Ia mengangkat lengan kirinya ke depan dan menarik lengan kanannya ke belakang—membentuk postur seorang pemanah yang sedang memegang busur tak kasat mata.
BZZZZT! CRACK!
Aliran energi petir murni berdensitas tinggi meledak hebat di sela jemarinya. Energi itu memadat secara ekstrem, berputar-putar dengan liat hingga mengubah warna kilatan petirnya dari biru keperakan menjadi warna hitam legam yang pekat—sebuah manifestasi energi petir penghancur yang mengerikan.
Merasakan daya hancur yang luar biasa masif dari busur hitam tersebut, insting bertahan hidup Min Suho menjerit liar.
Ia mundur beberapa langkah secepat kilat, lalu mengerahkan seluruh energinya untuk mendirikan sepuluh lapis tembok es pertahanan absolut yang berjejer tebal di depannya.
Tembok es yang bahkan sanggup menahan gempuran beruntun dari tiga monster kelas Overlord sekaligus.
Arka melepaskan fusi anak panah petir hitamnya.
BOOOOOOMMMM!!!
Anak panah petir hitam itu melesat membelah atmosfer dengan raungan yang memekakkan telinga. Gelombang kejut yang dihasilkan hanya dari rute lintasan panah tersebut seketika meremukkan aspal jalan raya, meruntuhkan sisa-sisa fasad bangunan di kanan-kiri, dan menciptakan kehancuran masif di sekitarnya.
PRANG! PRANG! PRANG! PRANG!
Satu per satu, sepuluh lapis tembok es pertahanan absolut milik Min Suho hancur berantakan laksana kaca murah tanpa mampu memberikan hambatan berarti bagi anak panah hitam milik Arka.
‘Apa-apaan kekuatan ini?! Bahkan monster kelas Overlord tertinggi pun tidak akan pernah bisa menembus pertahananku semudah ini!’ jerit Suho histeris di dalam benaknya.
Dengan sisa ketangkasannya, Suho melompat mundur secara ekstrem ke udara, menghindari ledakan akhir yang menghancurkan titik berdirinya tadi.
Berada di ketinggian, wajah Suho mengeras penuh kegilaan. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia ditekan oleh Userator asing di wilayah Indonesia.
"Terima ini, Bajingan!" teriak Suho dari langit.
Ia mengacungkan kedua tangannya ke atas. Energi es berskala besar meledak dari tubuhnya, membekukan awan-awan di langit. Suho memanifestasikan sihir tertingginya.
Bukan pedang es kecil, melainkan lima buah pedang es raksasa seukuran gedung pencakar langit yang melayang mengerikan di angkasa.
Keberadaan kelima pedang kolosal itu seketika memblokir cahaya matahari, membuat area sekitar distrik tengah mendadak berubah menjadi gelap gulita di bawah bayang-bayang kematian.
Menatap ke langit yang tertutup es, Arka melepaskan dengusan dingin.
Untuk pertama kalinya, ia meraih hulu pedang raksasa Dissord yang tersimpan didalam penyimpanan status window-nya, lalu menariknya keluar dengan satu sentakan halus. Ia mengangkat bilah pedang futuristik itu tegak lurus ke arah langit.
‘Blade of Hollow.’ ucap Arka tenang di dalam hatinya.
HUMMM—
Seketika, bilah pedang Dissord dilapisi oleh pendar cahaya fusi tiga warna yang sangat eksotis: biru aura, hitam pekat, dan ungu yang bergetar konstan.
Serangan itu tidak merubah ukuran pedang Arka menjadi raksasa seperti milik Suho, namun pendar cahaya tipisnya melesat vertikal lurus ke atas, menembus awan-awan hitam dan merobek langit hingga menciptakan distorsi ruang yang berderit mengerikan.
Keduanya telah berada di puncak kesiapan untuk saling menghancurkan satu sama lain.
Bersambung...
like+ bunga🌹✍️
kalo berkenan mmpir y thor😉
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/