NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Waktu yang Menyambung

Enam bulan setelah Sera tinggal, sesuatu yang tidak direncanakan terjadi.

Kirana, yang sudah lama mengerjakan novel barunya, meminta izin untuk mewawancarai Sera—bukan sebagai narasumber, katanya, tapi sebagai "percakapan yang direkam," karena ada sesuatu tentang cara Sera berbicara tentang kehilangan dan waktu yang terasa seperti sesuatu yang perlu diabadikan.

Sera setuju, dengan satu syarat: "Jangan tulis namaku. Gunakan nama lain."

"Kenapa?" tanya Kirana.

"Karena cerita ini bukan tentang aku," kata Sera. "Cerita ini tentang siapa pun yang pernah mencintai terlalu keras sampai lupa bahwa mencintai juga butuh membiarkan."

Kirana mengangguk, membuka buku catatannya. "Oke. Kita mulai?"

Percakapan itu berlangsung selama tiga sore berturut-turut—di teras, di meja dapur, sekali di taman kota tempat Arka dan Nadia dulu sering duduk berdua. Kirana bertanya dengan cara yang tidak terasa seperti wawancara, lebih seperti obrolan antara dua orang yang sudah saling mengenal lebih lama dari yang sebenarnya.

Arka tidak ikut—ini percakapan Sera dan Kirana. Tapi Nadia, sesekali, duduk di tepi dan mendengarkan, menyeduh teh atau memotong buah, hadir tanpa mengganggu.

Di hari ketiga, di akhir percakapan terakhir, Kirana menutup buku catatannya dan berkata, "Tante Sera, boleh aku bilang sesuatu yang mungkin terdengar aneh?"

"Selalu," kata Sera, dengan nada yang sedikit meniru cara Arka menjawab pertanyaan yang sama.

"Waktu Papa pertama cerita ke aku tentang kamu—tentang pertemuan kalian di kafe, tentang apa yang kamu ajarkan ke Papa—aku membayangkan kamu sebagai seseorang yang... patah. Yang kehilangan semuanya dan tidak bisa diperbaiki lagi." Kirana memilih kata-katanya hati-hati. "Tapi kamu tidak patah. Kamu—kamu lebih seperti sesuatu yang pernah retak, tapi kemudian menemukan cara untuk menyambung kembali dengan cara yang berbeda. Dan bagian-bagian yang tersambung itu... lebih kuat dari yang sebelumnya."

Sera menatap Kirana lama. Di matanya ada sesuatu yang Arka, dari jarak jauh, kenali—sesuatu yang sama dengan yang dia rasakan bertahun-tahun lalu, saat mendengar kata-kata yang persis menggambarkan apa yang dia butuhkan untuk didengar.

"Kamu akan jadi penulis yang sangat baik," kata Sera akhirnya.

Kirana tersenyum. "Aku belajar dari orang-orang yang hidupnya adalah cerita."

Novel Kirana selesai delapan bulan kemudian.

Judulnya sederhana—hanya dua kata, yang dia pilih setelah bergulat dengan puluhan kemungkinan lain. Dia menunjukkannya ke Arka, lalu ke Nadia, lalu—dengan sedikit ragu—ke Sera.

Sera membaca judul itu, dan diam sejenak.

"Garis Waktu yang Patah."

"Kenapa ini?" tanya Sera.

"Karena," kata Kirana, "sesuatu yang patah tidak berarti sesuatu yang berakhir. Patah berarti ada garis yang terputus—tapi garis yang terputus bisa disambung, atau bisa memulai garis baru dari titik itu. Dan cerita ini—cerita yang aku tulis, yang terinspirasi dari semua kalian—tentang garis-garis yang patah yang akhirnya menemukan cara untuk menjadi pola yang baru."

Sera menatap sampul draft novel itu, menatap judul itu lama.

Lalu dia mengangguk—anggukan yang pelan, tapi penuh.

"Ini judulnya," katanya. "Tidak perlu diganti."

Malam sebelum novel itu dikirimkan ke penerbit, Arka, Nadia, Kirana, dan Sera duduk bersama di ruang tamu—ritual kecil yang tidak direncanakan, yang terjadi begitu saja karena Damar kecil tertidur lebih awal dan tiba-tiba ada keheningan yang terasa seperti undangan.

Nadia membuat teh—seperti biasa, terlalu panas.

Kirana membacakan satu paragraf dari novelnya, halaman yang dia pilih sendiri—bukan halaman paling dramatis, bukan klimaks, tapi halaman yang dia bilang "paling jujur."

"Pada akhirnya, kita semua membawa garis waktu kita masing-masing—versi-versi dari diri kita yang pernah ada, yang mungkin ada, yang tidak jadi ada. Kita membawa kehilangan-kehilangan itu, bukan sebagai luka yang harus disembunyikan, tapi sebagai peta—peta dari semua perjalanan yang membawa kita ke titik ini, ke ruangan ini, ke orang-orang ini. Dan mungkin, itulah artinya hidup: bukan mencapai tempat yang sempurna tanpa bekas, tapi berdiri di tempat kamu sekarang, membawa semua bekasmu, dan memilih untuk tetap berdiri."

Ruangan itu hening setelah Kirana selesai membaca. Bukan hening yang canggung—hening yang penuh, seperti ruangan yang sesak dengan sesuatu yang tidak perlu diucapkan.

Sera menatap cangkir tehnya. Nadia mengusap matanya dengan punggung tangannya, pura-pura menggaruk hidung. Arka menatap langit-langit—kebiasaan lamanya ketika mencoba tidak menangis.

"Itu bagus," kata Sera akhirnya, suaranya pelan. "Sangat bagus."

"Terinspirasi dari kalian semua," kata Kirana.

"Jangan salahkan kami kalau bukunya terlalu sedih," kata Nadia, yang membuat semua orang tertawa, memecahkan ketegangan yang mulai menggenang di sudut-sudut ruangan.

Setelah Kirana dan Nadia masuk ke dalam untuk mencuci cangkir, Arka dan Sera tinggal di ruang tamu—duduk di sofa yang sama, dengan jarak yang sudah tidak canggung lagi seperti bulan-bulan awal.

"Arka," kata Sera, "aku mau tanya sesuatu yang aku tunda tanya dari lama."

"Tanya."

"Foto itu—foto dengan tulisan 'Jangan berhenti di sini.' Kamu masih punya?"

Arka mengangguk. "Di atas meja kerjaku. Sudah kupajang."

"Kamu percaya dari mana asalnya?"

Arka menatap Sera—menatap wajah yang sudah dia kenal selama berbulan-bulan terakhir, dalam versi yang berbeda dari yang pertama kali dia kenal, tapi yang esensinya sama.

"Aku tidak tahu pasti," kata Arka jujur. "Tapi aku punya teori."

"Apa?"

"Aku percaya," kata Arka pelan, "bahwa di semua garis waktu yang pernah ada—semua versi dari cerita kita—ada momen di mana sesuatu 'meluap.' Di mana sesuatu yang terjadi di satu dunia begitu kuat, begitu penting, sampai jejaknya menembus ke dunia lain. Seperti cahaya yang menembus dinding tipis." Dia berhenti sejenak. "Foto itu—aku percaya itu bukan dari satu sumber. Itu dari semua versi dari aku, dari semua garis waktu yang pernah ada, yang sama-sama merasakan satu hal."

"Hal apa?"

"Bahwa ada seseorang yang tertinggal," kata Arka, menatap Sera langsung, "dan seseorang harus pergi menemukannya."

Sera menatap Arka lama—sangat lama—dengan ekspresi yang tidak bisa Arka namai, tapi yang dia rasakan di dadanya sebagai sesuatu yang hangat.

"Kamu tahu," kata Sera akhirnya, suaranya bergetar sedikit, "selama di taman itu—selama semua waktu yang tidak bisa aku hitung—aku sudah berhenti berharap ada yang datang. Bukan karena aku menyerah, tapi karena aku pikir berharap hanya akan menyakitkan." Dia menarik napas pelan. "Tapi kemudian kamu datang. Dan ternyata—ternyata berharap bukan tentang yakin seseorang akan datang. Berharap cukup tentang menjaga pintu tetap sedikit terbuka, kalau-kalau seseorang melewati jalan itu."

Arka tersenyum. "Pintu kamu tidak terbuka. Aku yang mendobraknya."

Sera tertawa—tawa yang panjang, yang lepas, yang paling bebas yang pernah Arka dengar darinya.

"Iya," katanya, masih tertawa. "Kamu mendobraknya. Dan aku bersyukur."

Malam itu, sebelum tidur, Arka berdiri sebentar di depan foto di meja kerjanya—foto anak laki-laki kecil di depan pohon mangga, dengan dua tulisan di baliknya.

"Jangan berhenti di sini."

"Terima kasih sudah kembali."

Dia membalikkan foto itu—menatap wajah anak kecil yang berdiri di depan pohon mangga, wajah yang sudah sangat pudar tapi masih bisa dia kenali.

Dirinya sendiri. Usia delapan tahun. Sehari sebelum 14 Maret yang lama.

Berdiri di depan pohon yang sama yang sekarang ada di halamannya—pohon yang sudah sangat tua, yang sudah menyaksikan begitu banyak hal, yang entah bagaimana tetap berbuah setiap musimnya.

Arka meletakkan foto itu kembali, menghadap ke atas, lalu mematikan lampu meja.

Di luar, dari kamar tamu di ujung lorong, dia bisa mendengar suara samar—suara halaman buku yang dibalik. Sera, yang malam ini memilih membaca daripada duduk di jendela.

Dari kamar Kirana, suara mesin tik yang pelan—ritmis, konsisten, seperti jantung yang berdetak.

Dan dari kamar mereka, suara napas Nadia yang teratur, yang sudah Arka hapalkan selama lebih dari empat puluh tahun—melodi paling familiar yang dia kenal, melodi yang selalu membuatnya merasa, di mana pun dia pernah pergi dan ke mana pun dia akan pergi, bahwa di sinilah tempatnya.

Arka berdiri di kegelapan lorong sebentar, mendengarkan semua suara itu—suara rumah yang hidup, yang penuh—dan untuk pertama kalinya dengan cara yang benar-benar final, benar-benar tuntas, dia merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar "cukup."

Lengkap.

Tidak sempurna—tidak pernah sempurna, tidak di dunia mana pun. Tapi lengkap, dengan segala kekurangannya, dengan semua bekas dan luka dan kehilangan yang sudah menjadi bagian darinya.

Lengkap.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!