Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.
Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.
Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Hidup Kembali Damai, Penuh Tawa dan Cinta
Sejak malam pertarungan itu berlalu, suasana di Gedung Surya Pratama benar-benar berubah total. Tidak ada lagi gangguan, tidak ada lagi ancaman yang mengintai. Berita tentang kepergian Tuan Arga dan pasukannya dengan keadaan tergopoh-gopoh menyebar ke seluruh penjuru kota, sehingga tidak ada satu pun pihak yang berani lagi mengganggu kedamaian tempat ini.
Hari-hari kembali berjalan seperti biasa — tenang, teratur, dan penuh kehangatan. Pekerjaan kantor berjalan lancar, para karyawan bekerja dengan senang hati, dan hubungan antar kami semua terasa semakin akrab. Bahkan suasana yang tadinya terasa serius karena ketegangan, kini berubah menjadi lebih santai dan sering diisi dengan tawa.
Suatu pagi, saat aku sedang duduk di pos jaga sambil memeriksa catatan keamanan, Budi datang menghampiri dengan wajah yang penuh senyum lebar. Dia meletakkan segelas kopi di atas meja, lalu menatapku dengan pandangan yang seolah ingin menggoda.
“Wah, Pak Kaito… eh, maksudku Mas Penjaga Ajaib,” katanya sambil terkekeh pelan. “Sekarang nama kamu sudah terkenal lho. Orang-orang di luar sana sudah bilang kalau gedung ini dijaga oleh orang yang tidak bisa dikalahkan. Bahkan ada yang bilang kamu bisa mengangkat gunung dengan satu tangan!”
Aku mengangkat wajah, lalu menatapnya dengan tatapan datar tapi tersenyum tipis. “Mana ada itu, Budi. Jangan mengarang cerita yang tidak benar. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan saja.”
“Tapi tadi malam aku melihatnya sendiri!” seru Budi dengan semangat. “Kamu berdiri sendirian menghadapi lebih dari enam puluh orang, dan membuat mereka semua lari ketakutan. Kalau bukan kekuatan luar biasa, apa lagi namanya? Bahkan ada yang bilang kamu bukan manusia biasa, melainkan dewa penolong yang turun ke bumi!”
Mendengar kata-katanya, aku hampir tersedak minum air. Wajahku terasa sedikit panas, dan aku menggaruk kepala yang tidak gatal — kebiasaan yang sering aku lakukan saat merasa canggung.
“Jangan bicara sembarangan, Budi. Aku tetap manusia biasa sama seperti kalian. Kalau terus bicara begitu, nanti orang lain malah mengira aku orang yang sombong dan suka membesar-besarkan hal,” kataku sambil mencoba terlihat tenang, tapi telingaku sudah terasa memerah.
Belum sempat Budi menjawab, tiba-tiba terdengar suara tawa lembut dari arah samping. Anindya berdiri di sana sambil memegang berkas, menatap kami berdua dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
“Benar kata Budi, Mas. Bahkan tadi pagi saat aku berangkat, supirku bilang sudah mendengar kabar itu. Dia bertanya apakah benar penjaga kita bisa menahan serangan puluhan orang sendirian,” katanya sambil menahan tawa melihat wajahku yang mulai terlihat canggung.
Aku berdiri dengan tergesa-gesa, lalu menunduk sedikit karena merasa malu. “Itu… itu hanya kebetulan saja, Nin. Mereka datang dengan persiapan yang kurang matang, itu sebabnya mereka kalah. Jangan dengarkan omongan orang yang melebih-lebihkan.”
Anindya berjalan mendekat, lalu menatapku dengan pandangan yang lucu sekaligus kagum. Dia mendekatkan wajahnya sedikit, dan suaranya menjadi lebih pelan hanya untuk didengar olehku:
“Tapi bagiku, kamu memang luar biasa. Tidak perlu menjadi dewa atau apa pun, cukup menjadi Kaito yang aku kenal saja sudah lebih dari cukup. Lihat saja, wajahmu sudah memerah seperti tomat matang. Apa kamu malu dipuji begitu?”
Aku menelan ludah sebentar, jantungku berdebar sedikit lebih kencang hanya karena dia menatapku begitu dekat. Pandanganku teralihkan ke arah pohon di halaman, tidak berani menatap matanya langsung.
“Ya… agak malu saja. Aku tidak terbiasa dibicarakan seperti itu,” jawabku dengan suara yang sedikit tercekat.
Melihat aku yang terlihat salting dan tidak tahu harus meletakkan tangan di mana, Anindya tertawa lepas. Suara tawanya terdengar merdu dan membuat suasana menjadi lebih hangat.
“Sudahlah, jangan canggung begitu. Aku justru suka melihatmu seperti ini — tegas dan kuat saat melindungi orang lain, tapi bisa menjadi pemalu dan canggung saat dipuji. Itu membuatmu terasa lebih dekat dan nyata,” katanya sambil tersenyum lembut.
Budi yang melihat adegan itu hanya tersenyum sendiri, lalu dengan bijak berkata, “Baiklah, aku pergi dulu. Jangan diganggu kalian berdua ya,” lalu dia berjalan pergi sambil bersiul riang.
Begitu hanya tinggal kami berdua, suasana menjadi lebih tenang namun terasa hangat. Anindya duduk di kursi sampingku, lalu menatapku dengan pandangan lembut.
“Mas, sejak kejadian malam itu, aku merasa semakin aman dan tenang. Setiap kali melihatmu berdiri di sini, aku tahu tidak ada yang bisa mengganggu kita lagi. Terima kasih ya, sudah menjaga aku dan semua orang dengan begitu tulus,” katanya dengan suara yang lembut dan tulus.
Aku akhirnya memberanikan diri menatap matanya kembali, lalu tersenyum dengan tulus. Rasa canggung tadi perlahan hilang digantikan oleh perasaan sayang yang mendalam.
“Tidak perlu berterima kasih, Nin. Ingat kan janjiku? Selama aku masih bernapas, aku akan selalu menjagamu. Dan jujur saja… meski aku terlihat tenang saat itu, sebenarnya di dalam hatiku ada rasa takut juga — takut kalau sampai ada satu pun rambutmu yang tersentuh bahaya. Itu sebabnya aku berusaha sekuat tenaga,” jawabku jujur.
Mendengar pengakuanku, Anindya terkejut sedikit, lalu matanya berkaca-kaca. Dia mengulurkan tangannya dan memegang tanganku dengan lembut.
“Ternyata kamu juga punya rasa takut ya? Aku pikir kamu tidak pernah merasa takut apa pun,” katanya sambil tersenyum haru.
“Siapa yang tidak takut? Aku takut kehilanganmu, takut gagal menjaga apa yang sudah aku miliki. Itu bukan kelemahan, tapi justru yang membuatku lebih kuat,” jawabku sambil meremas tangannya dengan lembut.
Siang harinya, suasana kembali menjadi ceria. Saat jam istirahat, kami semua berkumpul di ruang makan. Budi kembali melontarkan gurauan yang membuat kami semua tertawa terbahak-bahak.
“Eh, Mas Kaito, kalau kamu memang sekuat itu, coba angkat meja ini saja dong! Kalau bisa, nanti aku belikan es krim rasa cokelat yang paling enak buat kamu!” tantang Budi sambil menunjuk meja makan yang cukup berat.
Aku hanya menatap meja itu, lalu menatap Budi dengan pandangan bercanda. “Untuk apa mengangkat meja? Kalau aku angkat nanti kakinya patah, siapa yang akan menggantinya? Dan soal es krim… lebih baik kamu belikan saja tanpa syarat, aku tidak keberatan menerimanya.”
Mendengar jawabanku yang cerdas itu, semua orang tertawa terbahak-bahak. Anindya menepuk lenganku pelan sambil berkata, “Pintar sekali jawabnya. Kamu memang pandai menghindari hal yang tidak perlu.”
“Tentu saja. Aku tidak mau memamerkan kekuatan hanya untuk hiburan semata. Lebih baik aku gunakan tenagaku untuk hal yang bermanfaat, seperti membantu mengangkat barang atau menyiapkan makanan,” kataku sambil tersenyum.
Sore harinya, saat semua orang sudah pulang dan hanya tinggal kami berdua di halaman yang mulai disinari cahaya matahari terbenam, suasana menjadi lebih romantis dan tenang. Kami berjalan perlahan mengelilingi taman kecil di depan gedung, menikmati angin sore yang sejuk dan wangi bunga yang mekar.
Anindya berjalan di sampingku, tangannya perlahan menyentuh lenganku, lalu merangkul lenganku dengan lembut. Dia menoleh ke arahku, dan dalam cahaya keemasan matahari terbenam, wajahnya terlihat semakin cantik dan lembut.
“Mas, rasanya hidup sekarang terasa sangat sempurna ya? Tidak ada gangguan, tidak ada kekhawatiran, hanya kedamaian dan kebahagiaan,” katanya dengan suara yang lembut.
Aku berhenti melangkah, lalu membalikkan badanku menghadapnya. Aku mengangkat tanganku perlahan, lalu menyentuh pipinya dengan lembut, merasakan kehangatan kulitnya.
“Benar sekali, Nin. Selama ribuan tahun hidupku, aku tidak pernah merasakan kedamaian seperti ini. Dulu aku hanya berjalan sendirian, tidak tahu tujuan apa yang sedang aku kejar. Tapi sejak bertemu denganmu, aku mengerti — tujuan hidupku adalah menjaga kebahagiaan ini, menjaga orang-orang yang aku cintai, dan menjalani setiap hari dengan hati yang tenang.”
Anindya memejamkan matanya sejenak menikmati sentuhanku, lalu membukanya kembali dengan pandangan yang penuh cinta. Dia mendekatkan wajahnya sedikit, dan suaranya terdengar sangat pelan:
“Kalau begitu, janji ya — jangan pernah meninggalkanku, apa pun yang terjadi. Kita akan terus berjalan bersama, melewati hari-hari yang tenang maupun hari-hari yang sulit nanti.”
Aku mengangguk mantap, lalu menariknya perlahan masuk ke dalam pelukanku. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku, mendengarkan detak jantungku yang berirama tenang.
“Aku berjanji, Nin. Selamanya kita akan bersama. Tidak ada kekuatan apa pun yang bisa memisahkan kita lagi, baik dari masa lalu maupun masa depan. Hidup ini akan kita jalani dengan tawa, dengan cinta, dan dengan kedamaian yang selalu kita jaga bersama.”
Di bawah langit sore yang indah itu, dengan angin yang berhembus lembut dan bunga yang mekar di sekeliling kami, kami berdiri berpelukan. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi ketakutan — hanya tawa, gurauan, kehangatan, dan cinta yang tumbuh semakin kuat setiap harinya.
Hidup kembali seperti sedia kala, tapi terasa jauh lebih indah karena sekarang kami memilikinya bersama-sama.