NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Hari Senin pagi berjalan dengan semestinya. Aurora Quinn baru saja melangkah keluar dari ruang kelasnya setelah jam kuliah pertama usai ketika ponsel di dalam genggamannya mendadak berbunyi nyaring.

Sebuah notifikasi pesan singkat dari Alexander Kingsley masuk ke layarnya.

Alexander:

"Apakah jadwal kuliahmu kosong setelah kelas ini selesai?"

Aurora mengulas senyuman manis tanpa sadar setelah membaca pesan itu. Beberapa mahasiswa yang kebetulan sedang berjalan melewati koridor bahkan mulai mengenali ekspresi wajah tersebut—sebuah ekspresi khas milik seorang gadis yang sedang dilanda mabuk asmara.

Aurora:

"Mungkin saja kosong. Ada apa?"

Balasan dari seberang sana langsung datang dalam hitungan detik.

Alexander:

"Bagus kalau begitu."

Aurora:

"Memangnya kenapa?"

Alexander:

"Aku ingin mengenalkanmu kepada seseorang siang ini."

Aurora mengernyitkan dahinya bingung, lalu mengetik balasan lagi.

Aurora:

"Mengenalkanku kepada siapa?"

Alexander:

"Rahasia."

Aurora langsung memutar bola matanya malas menatap layar ponsel. Pria itu memang selalu saja memiliki cara unik untuk membuat dirinya dirundung rasa penasaran.

---

Siang harinya, tepat sesuai janji mereka, Alexander sudah berdiri tegap menunggu di depan gedung fakultas Aurora untuk menjemputnya. Begitu melihat keberadaan mobil mewah sang kekasih, Aurora langsung melangkah lebar menghampirinya.

"Kamu ini sengaja ya, membuatku penasaran setengah mati sejak pagi tadi?" tembak Aurora langsung saat pintu mobil dibuka dari dalam.

Alexander menyunggingkan senyuman menawannya yang menyebalkan. "Hanya sedikit," jawab Alexander santai.

Aurora mendengus pelan sambil menarik sabuk pengaman untuk dipasang. "Menyebalkan sekali," gumam Aurora ketus.

"Tapi nyatanya, kamu tetap datang memenuhi ajakanku siang ini, kan?" goda Alexander meliriknya dengan binar jenaka.

Aurora seketika terbungkam dan tidak bisa membantah kalimat itu. Karena apa yang dikatakan Alexander memang sebuah kebenaran mutlak; ia tidak akan pernah bisa menolak kehadiran pria itu di sisinya.

---

Setelah sekitar tiga puluh menit membelah jalanan kota yang cukup padat, kendaraan mewah mereka akhirnya berhenti di depan sebuah restoran kecil namun memiliki reputasi yang cukup terkenal di kawasan Manhattan.

Aurora mengedarkan pandangannya ke sekeliling interior bangunan dengan bingung. "Jadi, kita ke mari hanya untuk makan siang?" tanya Aurora menuntut penjelasan.

Alexander melangkah memutari kap mobil, lalu membukakan pintu untuk Aurora dengan gestur pria sejati. "Kurang lebih seperti itu tujuannya," jawab Alexander misterius.

Begitu mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran yang bernuansa hangat tersebut, netra Aurora langsung menangkap sosok seorang pria muda yang sedang duduk sendirian di sudut ruangan. Pria itu mengenakan kemeja berwarna biru tua dengan tatanan rambut yang sedikit berantakan, namun memancarkan ekspresi wajah yang sangat ramah.

Saat menyadari kedatangan Alexander, pria itu langsung bangkit berdiri dari kursinya dengan antusias. "Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga!" seru pria itu bersemangat.

Sesaat kemudian, sorot matanya langsung berpindah lurus menatap ke arah Aurora yang berdiri di samping Alexander. Senyuman di wajah pria itu mendadak melebar sempurna. "Oke," gumamnya pendek dengan nada penuh arti.

Alexander menghela napas panjang, tampak sudah bisa menebak isi pikiran sahabatnya. "Oke apa maksudmu?" tanya Alexander ketus.

Pria itu mengabaikan pertanyaan Alexander dan justru menunjuk ke arah Aurora dengan raut wajah heboh. "Jadi... gadis cantik ini orangnya, Alex?" tanya pria itu blak-blakan.

Aurora yang berada di tengah interaksi asing itu hanya bisa berdiri kaku dengan raut wajah yang semakin kebingungan.

---

"Aurora," panggil Alexander membuka suara, mencoba mencairkan kecanggungan yang merayap. "Perkenalkan, pria menyebalkan di depanmu ini adalah Ryan Walker. Dia sahabat dekatku."

Aurora langsung mengulas senyuman sopan dan mengulurkan tangannya ke depan. "Halo, Ryan. Senang bisa bertemu denganmu," sapa Aurora ramah.

Ryan dengan gerakan kilat langsung menyambut jabatan tangan itu dengan sangat bersahabat. "Percayalah kepadaku, Aurora, aku jauh lebih merasa senang dan terhormat bisa bertemu langsung denganmu hari ini," sahut Ryan bersemangat sembari mengedipkan sebelah matanya.

Alexander memejamkan kedua matanya sejenak, memasang raut wajah lelah seolah-olah energinya sudah terkuras habis menghadapi tingkah ajaib sahabatnya itu.

Melihat ekspresi tertekan yang langka dari seorang Alexander Kingsley yang biasanya selalu berkuasa, Aurora tidak bisa menahan tawa kecilnya yang renyah.

---

Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk duduk bersama dan memesan hidangan. Namun, selama beberapa menit pertama setelah pelayan pergi, Ryan terus-menerus memandangi wajah Aurora dengan tatapan meneliti yang intens. Hal itu tak pelak mulai membuat Aurora merasa sedikit jengah dan tidak nyaman.

"Maaf, Ryan... apakah ada sesuatu yang aneh menempel di wajahku?" tanya Aurora akhirnya berani menegur kesungkanan itu.

Ryan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ah, nggak kok! Sama sekali nggak ada yang aneh di wajahmu," jawab Ryan cepat.

"Lalu kenapa kamu terus melihatku seperti itu sejak tadi?" tanya Aurora lagi, dilingkupi rasa penasaran.

Ryan melirik ke arah Alexander sejenak, kemudian kembali menatap Aurora, sebelum akhirnya ia tertawa sendiri tanpa alasan yang jelas bagi Aurora.

Aurora semakin dibuat kebingungan dengan atmosfer aneh ini. "Apakah... aku melewatkan sesuatu yang penting di antara kalian berdua?" tanya Aurora sangsi.

Ryan langsung mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun. "Kamu melewatkan banyak sekali hal menarik, Aurora," jawab Ryan memancing.

Duk! Alexander dengan sengaja menendang kaki Ryan di bawah meja untuk memberi peringatan keras.

Ryan seketika meringis kesakitan sambil memegangi tulang keringnya di bawah meja. "Sialan, sakit sekali, Bro!" protes Ryan tidak terima atas serangan mendadak itu.

"Maka dari itu, tutup mulutmu dan diam," perintah Alexander dingin dengan tatapan mata abu-abunya yang menajam.

Aurora tertawa lepas menyaksikan pemandangan jenaka di depannya. Ini adalah untuk pertama kalinya ia bisa melihat sisi lain dari seorang Alexander. Sisi yang jauh lebih santai, lepas, dan apa adanya saat sedang menghabiskan waktu bersama dengan sahabat terdekatnya.

---

Setelah pesanan makanan mereka tiba di atas meja, Ryan akhirnya mulai membuka mulutnya dan bercerita banyak hal kepada Aurora. Ia menceritakan bagaimana masa kecil Alexander yang sangat membosankan, tentang bagaimana kaku dan seriusnya pria itu dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di bangku perkuliahan, hingga bagaimana Alexander hampir tidak pernah mengulas senyuman kepada siapa pun.

"Semua cerita yang keluar dari mulutnya itu adalah kebohongan publik, Aurora. Jangan didengarkan dan jangan dipercaya," potong Alexander mencoba membela harga dirinya yang mulai runtuh.

Ryan langsung menunjuk wajah Alexander dengan ekspresi puas luar biasa. "Nah, lihat sendiri, kan? Dia langsung panik dan menyangkal semuanya!" seru Ryan terkekeh girang.

Aurora ikut tertawa, benar-benar menikmati momen langka ini. "Maaf, Alexander, tapi sepertinya kali ini aku lebih memilih untuk mempercayai semua cerita dari Ryan," ujar Aurora menggoda kekasihnya dengan sengaja.

Alexander tampak tidak terima dengan keputusan sepihak itu. "Kamu bahkan baru saja mengenal pria ini kurang dari satu jam yang lalu, Aurora Quinn," protes Alexander gemas.

"Iya, aku tahu," sahut Aurora santai.

"Lalu kenapa kamu bisa dengan mudahnya lebih memercayai kata-katanya dibandingkan kata-kataku sendiri?" tanya Alexander menuntut penjelasan rasional.

Aurora menyunggingkan sebuah senyuman manis yang teramat memikat di bibirnya. "Karena insting wanitaku mengatakan bahwa Ryan sedang berbicara jujur saat ini," jawab Aurora telak memenangkan argumen.

Ryan langsung tertawa puas mendengar jawaban cerdas itu. "Hahaha! Sial, Alexander, aku benar-benar menyukai kepribadian pacarmu ini! Dia hebat!" puji Ryan blak-blakan tanpa tedeng aling-aling.

Alexander hanya bisa menghela napas panjang pasrah, menyerah menghadapi konspirasi dua orang di depannya yang mendadak menjadi sangat kompak.

---

Di tengah riuhnya obrolan santai mereka, raut wajah Ryan tiba-tiba berubah menjadi sedikit lebih serius. Ia meletakkan garpunya ke atas piring, lalu menatap lekat ke arah Aurora.

"Aurora, kamu tahu tidak?" tanya Ryan dengan nada suara yang berangsur melembut.

Aurora mengangkat sebelah alisnya heran melihat perubahan drastis itu. "Tahu tentang hal apa, Ryan?" tanya Aurora balik.

Ryan melirik sekilas ke arah Alexander yang saat ini sedang sibuk meminum air putihnya, lalu kembali melempar senyuman hangat kepada Aurora.

"Selama bertahun-tahun aku tumbuh dan bersahabat dengannya, aku belum pernah sekalipun melihat seorang Alexander Kingsley bisa tampak sebahagia dan sehidup ini seperti sekarang," ungkap Ryan tulus dari lubuk hatinya.

Uhuk! Alexander hampir saja tersedak air minumnya sendiri mendengar pernyataan frontal dari sahabatnya. "Ryan Walker!" tegur Alexander dengan wajah yang mulai memerah menahan malu.

"Apa? Aku kan hanya menyuarakan fakta yang kulihat dengan mataku sendiri," sahut Ryan acuh tak acuh pada protes tersebut.

Ryan kembali memfokuskan perhatiannya sepenuhnya kepada Aurora, mengabaikan tatapan membunuh dari sang pemilik nama. "Dulu, isi kepala dan jalan hidup pria ini hanya dipenuhi oleh urusan nilai kampus, target bisnis keluarga, dan ambisi masa depan saja. Sangat monoton dan kaku," urai Ryan menjelaskan latar belakang sahabatnya.

Aurora perlahan-lahan terdiam, mendengarkan setiap bait kalimat Ryan dengan saksama di tempat duduknya.

"Tapi sejak kehadiranmu masuk ke dalam lingkaran hidupnya, dia berubah total menjadi sosok yang jauh lebih hangat dan manusiawi. Kamu berhasil mengubahnya menjadi lebih baik, Aurora," pungkas Ryan mengakhiri kalimatnya dengan senyuman penuh kehangatan.

Alexander akhirnya memilih untuk menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil mengusap wajahnya sendiri dengan sebelah tangan. Pria itu tampak benar-benar dilanda rasa malu yang luar biasa karena seluruh rahasia hatinya dibongkar habis-habisan oleh Ryan.

Dan pemandangan langka itu justru membuat Aurora merasa sangat tersentuh sekaligus ingin tertawa. Karena ternyata, seorang Alexander Kingsley yang berkuasa pun bisa bertingkah menggemaskan dan salah tingkah seperti ini di hadapannya.

---

Saat agenda makan siang mereka selesai, mereka bertiga melangkah keluar dari restoran bersama-sama. Ryan berpamitan lebih dulu karena ia harus segera kembali ke gedung fakultasnya untuk menghadiri kelas pengganti yang sempat tertunda.

Namun, tepat sebelum ia membalikkan tubuhnya untuk benar-benar pergi, Ryan menyempatkan diri untuk melangkah mendekati Aurora dan berbisik dengan nada suara yang teramat pelan di dekat telinga gadis itu.

"Tolong jaga hati pria kaku itu baik-baik ya, Aurora," bisik Ryan dengan senyuman tulus yang terpatri di wajahnya.

Aurora sempat tersentak kecil karena terkejut mendengar bisikan tiba-tiba itu. "Eh?" tanya Aurora bingung.

Ryan menepuk bahu Aurora pelan sebagai tanda persahabatan mereka telah resmi dimulai.

"Sebab aku tahu persis, dia benar-benar menaruh seluruh kesungguhan, perasaan, dan masa depannya bersamamu kali ini," lanjut Ryan meyakinkan sebelum akhirnya berbalik berjalan pergi melambaikan tangannya ke udara.

Pria itu melangkah menjauh, meninggalkan Aurora yang masih berdiri terpaku di atas trotoar jalanan, meresapi setiap makna mendalam yang tersirat dari untaian kata-kata berharga milik Ryan barusan.

---

Di sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil mewah, Aurora tampak memilih untuk lebih banyak diam dan melamun menatap jalanan dibandingkan biasanya. Alexander yang menyadari perubahan atmosfer yang mendadak sunyi itu sesekali melirik ke arah kursi penumpang di sampingnya.

"Ada apa denganmu, Aurora? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Alexander memecah keheningan di antara mereka.

Aurora tersentak dari lamunan panjangnya, lalu menoleh menatap gurat wajah tampan pria di balik kemudi. "Hm? Nggak ada apa-apa kok, Alex," jawab Aurora menepis kekhawatiran pria itu.

"Sejak keluar dari restoran tadi, kamu terus-menerus melamun di sepanjang jalan," selidik Alexander lembut dengan nada penuh perhatian.

Aurora menyunggingkan sebuah senyuman kecil yang teramat manis di bibirnya. "Aku... aku hanya sedang memikirkan beberapa hal saja yang baru saja kudengar," jawab Aurora pelan.

"Memikirkan tentang apa, kalau aku boleh tahu?" tanya Alexander penasaran sembari tetap fokus pada jalanan di depan.

Aurora memalingkan wajahnya kembali menatap ke arah luar jendela mobil, menatap hamparan gedung pencakar langit kota New York yang bergulir lambat, lalu menjawab dengan nada suara yang teramat tulus dari dalam lubuk hatinya.

"Aku hanya sedang berpikir... tentang betapa beruntungnya hidupku ini karena bisa dipertemukan dan mengenal sosok pria sepertimu, Alexander."

Selama beberapa detik setelah kalimat indah itu terucap, Alexander benar-benar dibuat kehilangan kemampuan untuk merangkai kata-kata balasan di bibirnya. Dan momen kehilangan kata-kata seperti ini adalah hal yang sangat langka terjadi dalam hidup seorang Alexander Kingsley yang selalu taktis.

Pada akhirnya, pria itu memilih untuk tidak membalas lewat ucapan verbal, melainkan lewat sebuah senyuman hangat—sebuah senyuman yang teramat tulus dan sarat akan binar kebahagiaan yang membuncah dari matanya. Karena tanpa pernah ia sadari sebelumnya, perasaannya kepada Aurora kini telah tumbuh semakin mengakar kuat dan mendalam di setiap harinya.

Namun, jauh di luar jangkauan kebahagiaan yang sedang mereka dekap saat ini... seseorang di sudut kota tampak sedang memperhatikan kebersamaan mereka lewat layar komputer dengan kilat sepasang mata yang dipenuhi oleh kobaran rasa kebencian yang semakin membesar setiap detiknya. Dan sosok penuh dendam itu dipastikan sama sekali belum berniat untuk menyerah dari tujuannya menghancurkan mereka berdua. Sama sekali belum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!