NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Mobil sedan hitam milik Faas melesat membelah keheningan malam Jakarta, berhenti tepat di depan lobi utama gedung Apex Core yang mulai sepi. Lampu sorot mobil menerangi sosok gadis berhijab biru malam yang sedang berdiri memeluk tas kerjanya di dekat pilar kaca. Eliza tampak sedikit letih, namun matanya yang jernih langsung berbinar begitu mengenali mobil calon suaminya.

​Faas segera turun dari mobil, melangkah cepat menghampiri Eliza. Wajah blasteran Arab-nya yang biasanya sedingin es kini dipenuhi gurat kecemasan dan rasa bersalah yang sangat kentara.

​"Kenapa belum pulang, Eliza? Ini sudah hampir tengah malam," suara berat Faas terdengar panik begitu berdiri di depan Eliza. "Besok pagi kita akad nikah, dan kamu masih di kantor jam segini?"

​Eliza mendongak, menatap wajah ganteng calon suaminya yang tampak frustrasi. Bukannya takut, sifat manja Eliza justru keluar. Ia mengerucutkan bibirnya sedikit. "Kan Kak Faas sendiri yang sudah tahu alasannya. Aku harus menyelesaikan semua berkas laporan kuartal sebelum besok."

​Mendengar itu, Faas langsung menghela napas pendek dan memijat pelipisnya. Otak geniusnya mendadak kehilangan wibawa. Demi menutupi fakta bahwa dia adalah bos kaku yang kemarin mengancam Eliza, Faas terpaksa melimpahkan seluruh kesalahan pada alter egonya sendiri.

​"Ini semua gara-gara si Malik itu," desis Faas dengan nada jengkel yang dibuat-buat saat membimbing Eliza masuk ke dalam mobil. "Bos macam apa dia? Benar-benar kaku, keras kepala, dan tidak punya perasaan. Bisa-bisanya dia menuntut karyawannya bekerja sampai lembur di malam sebelum hari pernikahannya sendiri."

​Begitu mereka berdua sudah duduk di dalam kabin mobil yang hangat, Faas memakaikan sabuk pengaman untuk Eliza sembari terus mengomel pelan.

​"Harusnya si Malik itu sadar diri. Kalau bukan karena dedikasimu, jadwal perusahaannya sudah berantakan. Besok setelah kita sah, saya sendiri yang akan mendatangi Malik untuk memberi pelajaran karena sudah berani membuat calon istri saya kelelahan."

"​hahaha"

​Tawa Eliza pecah seketika di dalam kabin mobil. Gadis itu tidak kuat lagi menahan tawa melihat bagaimana kaku dan seriusnya Faas saat menjelek-jelekkan "Tuan Malik", padahal Eliza sama sekali tidak tahu kalau orang yang sedang diomeli Faas adalah pria yang duduk di sampingnya saat ini.

​"Kak Faas, ih! Gak boleh begitu," ucap Eliza sembari terkekeh geli, menepuk lengan kekar Faas pelan. "Tuan Malik itu memang tegas, tapi dia baik kok, buktinya izin cutiku tetap ditandatangani. Lagipula... kak Faas salah paham."

​Faas mengernyitkan dahi, melirik Eliza dari balik kemudi saat mobil mulai berjalan. "Salah paham bagaimana?"

​"Aku gak lembur sampai tengah malam kok, Kak," sahut Eliza lembut , sembari membenarkan posisi duduknya dengan ceria. "Tadi sore jam empat aku sebenarnya sudah pulang cepat karena Maudi minta aku bantu cek barang seserahan di rumah. Tapi pas sampai rumah, aku baru sadar ada berkas analisis yang ketinggalan di kubikal. Makanya jam delapan malam tadi aku balik lagi ke kantor untuk ambil berkas itu, sekalian periksa email sebentar. Eh, pas mau pulang, Kak Faas malah telepon."

​Faas seketika terdiam di tempatnya. Mobilnya bahkan sempat berjalan sedikit melambat. Mantan agen rahasia Sektor 7 yang biasanya bisa membaca strategi musuh itu mendadak merasa bodoh. Jadi, kecemasannya sejak di paviliun tadi, aksi ngebutnya di jalanan, hingga omelannya yang menyalahkan "Tuan Malik" sepanjang jalan... semuanya karena dia salah paham sendiri?

​Melihat wajah Faas yang mendadak melongo dan kaku seperti patung, Eliza kembali tertawa renyah. "Kenapa, Kak? Kok mukanya langsung berubah begitu? Kak Faas cemburu ya sama Tuan Malik?"

​Faas berdehem berat, mengembalikan pandangannya lurus ke depan jalanan dengan telinga yang perlahan memerah karena malu yang tertahan. "Tidak. Untuk apa saya cemburu pada pria tua beruban seperti dia."

​"Hahaha, tapi tadi Kak Faas sewot banget sampai mau kasih pelajaran ke Tuan Malik," ledek Eliza manja, sengaja menyenggol bahu Faas untuk menggodanya.

​"Saya hanya mengkhawatirkan kesehatanmu, Eliza. Besok adalah hari paling penting dalam hidup kita," jawab Faas, suaranya kembali melembut dan sarat akan emosi yang tulus sembari meremas stir mobil nya.

Sedan hitam itu akhirnya melambat, berbelok memasuki kawasan elite dan berhenti tepat di depan gerbang megah Mansion Daneswara. Lampu taman yang temaram memayungi kedatangan mereka, menciptakan atmosfer magis yang mendadak sunyi dan intim.

____

​Faas mematikan mesin mobil, namun sengaja tidak langsung membuka kunci pintu otomatis. Ia memutar tubuhnya, menatap Eliza dengan intensitas mata elang yang mendadak melunak, penuh dengan emosi murni yang selama ini ia simpan rapat di balik dinding rumahnya.

​"Eliza," panggil Faas, suaranya berat dan sangat rendah.

​Eliza menghentikan tawanya. Sifat manjanya perlahan melebur menjadi debaran halus di dalam dada begitu menatap mata tajam pria yang besok pagi akan menjabat tangan wali nikahnya.

​"Ya, Kak?"

​"Besok... setelah kalimat qabul itu selesai saya ucapkan di depan keluarga mu" Faas mengulurkan tangan kekarnya, merapikan sedikit ujung hijab biru malam Eliza tanpa menyentuh kulit nya dengan kelembutan yang teramat presisi "Seluruh pangkalan data hidup saya, perlindungan saya, dan nama Abrari yang melekat pada diri saya... sepenuhnya menjadi milikmu. Saya tidak akan membiarkan ada satu pun bakteri masa lalu, atau orang sejenis Jenita , yang bisa menyentuh atau merendahkanmu lagi."

​Air mata haru mendadak menggenang di pelupuk mata jernih Eliza. Ia mengangguk pelan, "Terima kasih, Kak Faas. Terima kasih karena sudah menjadi dinding pelindung yang paling kokoh untuk anak seorang narapidana seperti aku."

​"Status ibumu tidak mengurangi nilai kemurnianmu di mata saya, Eliza," balas Faas tulus, ibu jarinya mengusap bahu Eliza lembut. "Sekarang, masuklah. Istirahat yang cukup. Kurangi pikiranmu tentang berkas kantor, dan... jangan sebut nama Tuan Malik lagi sebelum besok subuh."

​Eliza spontan terkekeh renyah di sela keharuannya, sifat humorisnya kembali bangkit. "Iya, iya. Pengantin pria yang satu ini posesifnya melebihi bos korporat. Selamat istirahat juga, Kak Faas. Sampai ketemu besok di akad nikah!"

​Eliza membuka pintu mobil, melangkah turun dengan ceria membawa tas kerjanya, meninggalkan Faas yang masih duduk di balik kemudi sembari menatap punggung gadis itu hingga hilang di balik pintu utama mansion. Sambil mengembuskan napas panjang, Faas menyandarkan kepalanya di kursi, seulas senyuman tipis dan lempeng terukir di bibirnya. " tunggu besok...., aku akan membuat papaku syok dengan memberinya kejutan tentang siapa sebenarnya calon istri ku itu" gumamnya pelan, wajahnya berubah datar,lalu menghidupkan kembali mobil sedan sederhana miliknya .

Eliza masuk dengan wajah berseri-seri, setelah beberapa hari tidak bertemu calon suaminya yang menurutnya kini , Faas terlihat lebih tampan berlipat-lipat dengan wajah khawatir nya.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!