NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Rahasia lembah dan cakar yang mengintai

Meskipun Dion sempat mengunci pergerakan Mayang dengan kedua tangan di sisi kepalanya, tatapan pria itu perlahan berubah. Badai abu-abu di matanya yang semula berkilat penuh gairah predator, kini meredup, digantikan oleh kewaspadaan yang amat dalam. Sadar bahwa intensitas kedekatan mereka yang terlalu mendadak bisa membuat gadis di bawahnya ketakutan, Dion perlahan menegakkan tubuhnya yang tinggi tegap. Ia mengambil satu langkah mundur, memberikan ruang bagi Mayang untuk meraup udara segar yang sempat terasa menipis. Namun, meskipun jarak di antara mereka telah melonggar, atmosfer di dalam pondok itu masih terasa pekat oleh sisa-sisa ketegangan dan aura maskulin Dion yang kuat.

Dion berbalik tanpa suara, melangkah menuju perapian batu di sudut ruangan. Ia memungut sepotong kayu pinus kering yang cukup besar dari tumpukan, lalu melemparkannya ke dalam bara api yang mulai mengecil. Percikan api melompat tinggi, menari-nari dan melemparkan cahaya jingga yang temaram ke sisi wajah Dion yang tegas. Rahangnya yang kokoh dan luka gores di pipinya tampak semakin jelas, memberikan kesan misterius yang justru membuat Mayang tak bisa memalingkan pandangan.

"Kau benar-benar gadis yang keras kepala, Mayang," ujar Dion tanpa menoleh, suaranya berat, bergema rendah di dalam ruangan yang sunyi. "Kau melanggar larangan paling suci di Lembah Shrouded. Keluar setelah lonceng kuil berdentang tujuh kali sama saja dengan mengantarkan nyawamu sendiri secara sukarela. Kabut di luar sana bukan sekadar cuaca buruk atau fenomena alam biasa. Itu adalah kutukan kuno yang sedang lapar, dan malam ini ia mencium aroma darah segar."

Mayang perlahan bangkit dari posisi berbaringnya. Ia duduk di tepi ranjang yang dilapisi bulu serigala lembut, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih bertalu kencang. Jemarinya yang lentik bergerak merapikan jubah beludru merah tuanya yang sempat agak tersingkap, menutupi lekuk lehernya yang seputih susu. Meskipun rasa takut sempat menggelayuti benaknya, rasa penasaran yang besar mendadak bangkit dalam diri Mayang. Ada sesuatu pada cara Dion berbicara yang membuat Mayang merasa pria ini tahu jauh lebih banyak daripada seluruh tetua di desanya.

"Aku tidak punya pilihan lain, Dion," jawab Mayang, suaranya terdengar bergetar namun tersirat tekad yang kuat di dalamnya. "Ibuku sakit keras. Sudah seminggu ini beliau tidak bisa bangun dari tempat tidur karena tidak sengaja menghirup kabut kelabu yang masuk melalui celah jendela rumah kami yang rusak. Tubuhnya mendingin seperti es, dan napasnya kian hari kian berat. Tetua desa mengatakan bahwa penyakit itu tidak ada obatnya dan itu adalah takdir dari dewa. Tapi aku tidak percaya. Aku tahu ada tanaman herbal Lunaria yang hanya tumbuh di tepi hutan kabut pada malam hari, dan tanaman itu bisa menetralkan racun tersebut."

Dion akhirnya membalikkan tubuhnya. Ia melipat kedua lengannya di depan dada bidang yang kokoh, bersandar pada pilar kayu di dekat perapian. Mata abu-abu badainya menatap Mayang dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa kasihan dan kemarahan yang tertahan.

"Tetua desamu membohongimu, Mayang. Sama seperti mereka membohongi seluruh penduduk desa selama ratusan tahun," kata Dion, nadanya mendadak berubah menjadi sedingin es. "Mereka tahu persis bahwa obat untuk penyakit itu ada. Namun, mereka sengaja membiarkan orang-orang mati satu demi satu agar rahasia kelam masa lalu tentang bagaimana lembah ini terbentuk tetap terkubur bersamamu di dalam tanah."

Mayang tertegun. Kulitnya yang bersih tampak semakin pucat di bawah temaram cahaya api perapian. Kata-kata Dion terdengar seperti petir di siang bolong bagi jiwanya yang selama ini hidup dalam kepatuhan dogma desa. "Apa maksudmu? Rahasia apa yang disembunyikan oleh para tetua?"

Dion tidak langsung menjawab. Ia melangkah pelan mendekati sebuah meja kayu tua di dekat dinding. Di atas meja itu tergeletak sebuah belati kuno dengan sarung yang terbuat dari kulit hitam yang sudah usang. Dion memungut belati itu, lalu perlahan menarik bilahnya keluar. Logam belati itu memantulkan cahaya api, memperlihatkan ukiran rumit berbentuk pusaran kabut dan rasi bintang kuno yang tak lagi dikenal manusia zaman sekarang.

"Dua ratus tahun yang lalu, Lembah Shrouded ini adalah tanah yang subur, hijau, dan penuh dengan cahaya matahari," cerita Dion, matanya menatap tajam ke bilah belati, seolah ia bisa melihat kilas balik masa lalu di sana. "Nenek moyangku, yang dikenal sebagai Klan Kabut Kuno, hidup berdampingan dengan damai bersama manusia di desa kalian. Kami berbeda dari manusia biasa; kami dilahirkan dengan kemampuan magis elemental untuk mengendalikan hawa dingin, memanipulasi kabut, dan menyembuhkan berbagai penyakit mematikan menggunakan energi murni dari alam."

Dion menarik napas dalam, rahangnya mengencang menahan emosi yang terpendam. "Namun, ketakutan manusia sering kali melahirkan pengkhianatan yang keji. Ketika populasi manusia bertambah banyak, para tetua desa di masa itu mulai merasa terancam oleh kekuatan yang kami miliki. Mereka takut kami akan menguasai lembah ini sepenuhnya. Maka, mereka menyusun rencana busuk. Mereka menjebak seluruh anggota klan kami dalam sebuah perjamuan damai, lalu membantai setiap pria, wanita, dan anak-anak pembawa darah kabut tanpa belas kasihan. Setelah pembantaian itu selesai, mereka memanipulasi sejarah, mengklaim kepada generasi berikutnya bahwa klan kami adalah sekelompok penyihir sesat yang dikutuk oleh dewa."

Mayang menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Sepasang matanya yang jernih membelalak kaget, digenangi oleh rasa tidak percaya sekaligus ngeri. Sejarah yang diajarkan di sekolah desa sangat berbeda; mereka selalu diajari bahwa kabut itu muncul akibat kemarahan alam, bukan karena ulah manusia sendiri.

"Sebelum pemimpin tertinggi klan kami mengembuskan napas terakhirnya di bawah bilah pedang tetua desa," lanjut Dion, suaranya merendah, memberikan penekanan yang mencengkeram sanubari Mayang, "dia menggunakan sisa-sisa kekuatan hidupnya untuk melepaskan sebuah kutukan absolut. Seluruh energi magis klan kami yang terenggut diubah menjadi kutukan masal. Kabut kelabu keperakan yang mengurung lembah ini, yang tidak pernah hilang baik siang maupun malam, adalah wujud nyata dari amarah, rasa sakit, dan dendam tak berkesudahan dari klan kami yang dikhianati."

Dion melangkah mendekati tempat tidur, menatap Mayang dari atas dengan tatapan yang mengunci pergerakan gadis itu. "Kabut itu memiliki kesadaran, Mayang. Ia terus bergerak mengelilingi lembah untuk mencari dan menghirup darah dari keturunan para pengkhianat itu. Itulah alasan sebenarnya mengapa para tetua menetapkan aturan malam yang sangat ketat. Mereka bukan sedang melindungi warga desa sepertimu; mereka sedang melindungi diri mereka sendiri dari pembalasan dendam masa lalu. Setiap kali kabut itu mengambil nyawa seseorang di desa, itu adalah bagian dari hutang darah yang sedang ditagih."

Suasana di dalam pondok kayu itu mendadak terasa mencekam dan sangat berat. Mayang merasa dadanya sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya tiba-tiba lenyap. Informasi yang baru saja ia terima terlalu besar dan mengerikan untuk dicerna dalam waktu singkat. Silsilah keluarganya, sejarah desanya, dan segala hal yang ia percayai sejak kecil runtuh seketika.

Namun, sebelum Mayang sempat membuka suara untuk bertanya lebih jauh—tentang bagaimana Dion bisa selamat dan menjadi satu-satunya keturunan darah kabut yang tersisa—hawa di dalam pondok tiba-tiba berubah secara drastis.

Api di perapian yang tadinya berkobar dengan warna jingga yang hangat mendadak meredup secara ekstrem. Warnanya berubah menjadi biru keunguan yang ganjil dan dingin. Suhu di dalam ruangan merosot tajam hanya dalam hitungan detik, membuat udara di sekitar mereka membeku hingga napas Mayang kembali mengembun dengan pekat di udara.

Dion seketika membeku di tempatnya berdiri. Bilah belati di tangannya bergetar halus, bereaksi terhadap sesuatu yang sedang mendekat. Telinganya yang tajam menangkap suara yang sangat samar dari luar pondok.

"Diam. Jangan bergerak, dan jangan keluarkan suara sedikit pun," bisik Dion dengan nada yang sangat rendah, penuh dengan kewaspadaan tingkat tinggi yang membuat bulu kuduk Mayang meremang.

Dari balik dinding kayu pondok yang tebal, terdengar suara tarikan napas yang sangat berat, basah, dan terdengar serak. Suara itu terdengar seperti sesuatu yang tidak memiliki paru-paru manusia. Tak lama berselang, terdengar suara gesekan yang memilukan telinga—suara cakar-cakar raksasa yang tajam dan panjang sedang meraba-raba permukaan dinding luar pondok secara perlahan, seolah sedang mencari celah kecil untuk menembus masuk ke dalam.

Sreeek... Sreeek... Sreeek...

Mayang refleks bangkit dari ranjang, seluruh tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut yang teramat sangat. Ia ingin sekali berteriak histeris, namun tenggorokannya terasa kering dan suaranya tercekat sepenuhnya. Rasa dingin yang menjalar dari luar pondok seolah ikut membekukan keberaniannya.

"Itu adalah The Stalker," bisik Dion lagi, matanya kini berkilat memancarkan cahaya abu-abu keperakan dalam kegelapan ruangan yang kian pekat. "Makhluk manifestasi dari gumpalan kabut hitam yang paling pekat. Mereka adalah perwujudan fisik dari rasa lapar kutukan itu, dan mereka baru saja mencium aroma darah manusia murni yang mengalir di dalam tubuhmu. Dan yang paling buruk dari mereka adalah... mereka tidak pernah berburu sendirian."

Dion bergerak dengan kecepatan luar biasa tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dalam satu gerakan tangkas, ia menarik tubuh mungil Mayang ke belakang punggungnya yang lebar dan kokoh, memosisikan dirinya sebagai perisai hidup. Tangan kanan Dion mencengkeram erat hulu belati kunonya, sementara telapak tangan kirinya mulai terbuka. Dari sela-sela jari Dion, asap tipis berwarna perak mulai keluar dan berputar-putar—sihir elemental klan kabut miliknya kini telah bangkit sepenuhnya, siap untuk menghadapi ancaman yang mengintai di luar.

Tiba-tiba, suara gesekan cakar di dinding luar pondok terhenti secara mendadak. Keheningan yang luar biasa mencekam kembali melingkupi malam itu. Detak jantung Mayang yang bertalu dengan sangat cepat dan keras terasa begitu nyata, seolah ketakutannya bisa terdengar oleh makhluk di luar sana. Mayang meremas kain pakaian kulit di bagian punggung Dion dengan sangat erat, mencari setitik kepastian dan perlindungan pada sosok pria misterius yang baru beberapa menit lalu menjerat emosinya.

BRAAAKKKK!

Pintu kayu pondok yang sangat kokoh itu seketika hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Kabut pekat berwarna hitam legam meluncur masuk ke dalam ruangan bersamaan dengan sepasang cakar besar berbulu hitam yang langsung mengarah tepat ke dada Dion dan Mayang. Pertempuran demi bertahan hidup di balik kabut malam pun resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!