Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14# Kantor Catatan Sipil
Seorang pria kemudian mendekat, memasukkan koper milik Ayla ke dalam bagasi mobil lalu memberi isyarat agar ia segera masuk. Ia tak lain adalah utusan khusus yang dikirim langsung oleh Papa Hans dari keluarga Aditama.
“Hidup ini… saat hati sudah mati rasa, segalanya terasa tak berarti lagi…” gumam Ayla pelan sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil dan meninggalkan keluarga Gunawan untuk selamanya.
Kata‑kata terakhir yang terucap dari mulutnya terdengar jelas oleh semua orang yang hadir. Anehnya, tepat setelah kepergian Ayla, setiap orang di sana merasakan sesuatu yang hilang dari relung hati masing‑masing—seolah ada bagian jiwa yang ikut lenyap, menyisakan kekosongan dan kehampaan yang tak terjelaskan.
“Nona, apakah kau sudah mengetahui hal sesungguhnya?” tanya sang sopir, berusaha memecah keheningan yang menyelimuti ruang mobil.
“Mengetahui apa?” balas Ayla singkat. Wajahnya datar tanpa ekspresi sedikit pun, sorot matanya pun terasa sedingin es.
Ayla kini tak lagi sama seperti gadis lemah dan polos dahulu. Ia bagaikan memiliki kepribadian yang berbeda, padahal sesungguhnya, perubahan itu semata‑mata lahir dari tumpukan rasa sakit yang telah ia pendam bertahun‑tahun lamanya.
“Tuan Hans memerintahkanku mengantarmu langsung ke kantor catatan sipil. Kalian akan melangsungkan akad nikah hari ini juga, tanpa pesta perayaan atau kemewahan apa pun,” jelas sang sopir.
“Lakukan saja segala perintah mereka. Aku tak keberatan,” jawab Ayla tenang, seraya menatap pantulan wajah sopir dari cermin spion.
“Mengapa wanita ini terlihat begitu pasrah? Tidakkah ia tahu seperti apa sosok dan sifat asli Tuan Valen? Tidakkah ia merasa takut sedikit pun?” gumam sang sopir dalam hati dengan rasa penasaran yang mendalam.
Sementara itu…
Satu jam sebelumnya
“Mengapa Papa memutuskan hal ini tanpa pernah meminta persetujuanku sedikit pun?” tanya Valen seraya menatap tajam ke arah Ayahnya, sorot matanya terasa begitu dingin menusuk.
“Semua ini kulakukan demi kebaikanmu sendiri. Kau adalah pewaris sah keluarga Aditama. Jika engkau tak segera beristri dan memiliki keturunan, bagaimana kelanjutan takdir besar keluarga kita ke depannya?” bantah Papa Hans dengan nada tegas.
“Baiklah, aku bersedia. Namun satu syarat mutlak: akad nikah cukup dilangsungkan di kantor catatan sipil saja. Aku sama sekali tak mau mengadakan pesta apa pun,” tukas Valen tegas, lalu segera memutar arah kursi rodanya dan beranjak pergi meninggalkan ruangan.
“Tunggu dulu…” seru Papa Hans, namun suaranya terpotong. Valen tak lagi menghiraukannya barang sedikit pun.
“Tuan Muda, sepertinya kau benar‑benar takkan sanggup menolak pernikahan ini pada akhirnya,” ucap Leo yang sedari tadi berdiri setia di sisi Valen.
“Biarkan saja apa yang mereka inginkan. Lagipula, aku memang butuh sosok wanita itu untuk membantuku mewariskan keturunan. Setelah tugas itu selesai, menyingkirkannya dari sisiku bukanlah hal yang sulit dilakukan,” jawab Valen tenang.
Mendengar penuturan dan melihat sikapnya yang begitu percaya diri, tak ada sedikit pun kesan bahwa lelaki ini sedang mengalami gangguan kesehatan jiwa seperti yang banyak orang sangka.
“Kau sungguh berhati tajam dan kejam, Tuan Muda,” ujar Leo, namun di saat yang bersamaan ia justru mengacungkan kedua ibu jarinya sebagai tanda kagum.
Perlu diketahui, di lingkungan keluarga Aditama, persaingan memperebutkan kekuasaan dan hak waris berlangsung amat ketat dan berbahaya. Terlebih lagi, Valen memiliki dua adik kandung seayah. Jika ia nekat menolak perintah sang Ayah, keselamatan serta posisinya sebagai pewaris utama bisa terancam bahaya. Satu‑satunya jalan paling aman bagi Valen saat ini hanyalah menuruti segala kemauan Ayahnya.
Sedikit informasi tambahan:
Valen adalah satu‑satunya putra yang lahir dari pernikahan pertama Papa Hans dengan istri pertamanya, yang telah meninggal dunia sejak bertahun‑tahun silam. Adapun dua adik laki‑lakinya, termasuk Gavin, lahir dari rahim istri kedua Papa Hans.
Sang ibu kandung Valen telah tiada saat ia baru menginjak usia tujuh tahun. Tak lama setelah duka itu, Papa Hans pun mempersunting seorang wanita janda yang telah memiliki seorang putra laki‑laki. Wanita itu kemudian melahirkan seorang bayi laki‑laki lagi untuk Papa Hans, yaitu Gavin. Adapun kakak kandung Gavin dari ibu yang sama, hanyalah anak tiri di keluarga Aditama dan tak tinggal menetap di kediaman megah keluarga tersebut.
Setelah menyepakati syarat yang ia ajukan, Valen pun segera bersiap berangkat menuju kantor catatan sipil—tempat di mana ia akan segera bertemu dengan calon istri yang tak pernah ia kenal sebelumnya, yaitu Ayla.
Dua jam kemudian…
Sudah satu jam lamanya Ayla duduk menunggu di ruang tunggu kantor catatan sipil. Ia bahkan telah mengambil nomor antrean guna mengurus surat bukti pernikahan. Namun hingga waktu berlalu begitu lama, sosok calon suaminya belum juga nampak batang hidungnya.
“Sungguh tak kusangka… hidupku justru akan berakhir pada titik seperti ini. Di usia yang baru menginjak dua puluh tahun, aku malah harus menikah dan menjadi istri seseorang, padahal tak ada setitik pun rasa cinta yang mengikat. Sungguh naif sekali jalan hidupku,” gumam Ayla pelan seraya menatap lekat kertas nomor antrean di genggamannya.
Benar adanya, dahulu Ayla pernah bermimpi kelak akan menikah di usia dua puluh lima tahun, bersanding dengan lelaki yang amat ia cintai—yaitu Reyhan, disertai pesta pernikahan yang megah dan bahagia. Namun kenyataan kini membalikkan segalanya. Ternyata semua impian indah itu hanyalah angan‑angan kosong belaka. Kini, ia nyatanya tengah menanti kedatangan sosok asing yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Hah, sudahlah, Ayla. Lupakan semuanya dan fokuslah pada kehidupan barumu sekarang. Entah nanti lebih baik atau justru lebih buruk, jalani saja,” ucap Ayla pada dirinya sendiri.
Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sesungguhnya Ayla pun sangat penasaran pada sosok Valen. Ia belum pernah sekalipun melihat wajah calon suaminya itu. Berbagai gosip yang beredar di kalangan wanita menyebutkan bahwa Valen adalah lelaki yang mengalami keterbelakangan mental pasca‑kecelakaan, membenci keberadaan wanita, serta memiliki sifat yang amat mengerikan.
“Kenapa aku justru merasa takut begini? Jantungku pun berdebar kencang setiap kali terbayang sosoknya,” batin Ayla, perasaannya kian bergolak.
Tak lama kemudian, pintu ruang tunggu khusus tempatnya berdiam diri pun terbuka lebar. Ayla sontak menoleh, penasaran siapa yang datang menghampirinya.
Saat itu juga, pandangan mata Ayla pun bersitatap langsung dengan sosok pria yang tengah duduk di atas kursi roda tepat di hadapannya.
“Jadi… inilah dia. Mengapa rupanya terlihat begitu muda, dengan postur tubuh yang kurus kering begini dan berpakaian sederhana? Benarkah ia putra keluarga Aditama?” batin Valen seraya mendorong kursi rodanya perlahan mendekati tempat duduk Ayla.
Jantung Ayla makin berdebar kencang, diselimuti rasa gelisah sekaligus ketakutan yang tak sanggup disembunyikan.
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya