Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kenzo yang mengakui semuanya.
"Dia menceraikanku karena kamu Ken, dan sekarang kamu cuma mengusirku begitu saja?!" Kenzo tertegun tak percaya.
Larasati merogoh tas lalu mengeluarkan segepok foto, gambar mereka berdua di lobi hotel, saat Larasati memeluk pinggang Kenzo dengan wajah penuh gairah dan mencuri ciuman dari bibir pria itu.
"Karena inilah dia menceraikanku, Kenzo. Coba bayangkan kalau kamu ada di posisiku seperti ini, bisakah kamu diam saja dihina sejelek ini?"
"Itu salahmu sendiri, kak. Bukankah aku sudah menolakmu saat itu?"
"Lalu apa arti ciuman kita hari itu?" Wajah Kenzo memerah, rahangnya mengeras menahan amarah. Dia menatap tajam saat wanita itu tiba‑tiba memeluknya sambil terisak.
"Ken tolong aku huhu....."
"Lepaskan kak!" Kenzo melepas paksa tangan Larasati. "Maaf, mungkin aku sempat khilaf waktu itu. Tolong lepaskan." Larasati tertawa keras dan pahit, mengacak rambutnya lalu memegangi perutnya.
"Cuma khilaf? Haha… Astaga! Semua yang pernah terjadi di antara kita dulu, kamu anggap cuma khilaf saja? Hubungan asmara kita cuma khilaf? Bahkan saat kamu tidur bersamaku dulu pun, itu juga cuma khilaf?! Begitu maksudmu hah?!" Larasati meradang.
"Sudah delapan tahun lalu aku bertekad melupakanmu. Jangan ungkit masa lalu itu lagi. Itu sudah berakhir. Tolong pergilah sekarang!" Kenzo membuka lebar pintu ruangannya.
Kenzo terkejut setengah mati melihat Vinda berdiri tepat di depan daun pintu kamar mandi. Ya Tuhan Kenzo tadi lupa kalau Vinda tadi masih ada di kamar mandi dalam ruangan itu. Berarti gadis itu pasti mendengar segalanya.
"Bagaimana kalau aku tak mau pergi?"
Larasati bersikap angkuh dan penuh amarah, bersedekap dada terus beradu tajam dengan mata Kenzo, dia sama sekali tak gentar meski Kenzo mengusirnya.
"Apa kamu berani menyeretku paksa ke luar kalau aku tetap diam di sini?" Tantang Larasati.
"Aku berani! Dan takkan ragu melakukannya."
"Kenzo~…kamu ya?!" Pandangan mata mereka masih bertemu dengan tajam, Larasati yang seperti kehilangan harga dirinya.
Vinda menggigit bibir, menahan cemas menunggu kata‑kata apa yang akan diucapkan Kenzo selanjutnya pada wanita itu.
"Kenzo… hiks… bisakah aku kembali padamu? Sekian tahun aku menderita demi Ayah dan keluargaku… hiks… aku tak sanggup berhenti mencintaimu sampai detik ini aku sungguh mencintaimu, aku menderita." Larasati dengan nekat memeluk pria itu.
"kak Larasati, kumohon pergilah! Ini peringatan yang terakhir!" Dia menggeleng keras, malah makin erat memeluk Kenzo. Saat itulah Vinda berjalan mendekat. "Aku tak ingin kekasihku melihat pemandangan tak pantas begini. Tolong lepaskan kak!." Larasati kaget dan spontan menoleh, baru sadar sekretaris cantik itu ternyata sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Keluar dan tolong tutup pintunya! Masalahmu bukan lagi urusanku, jangan menemui ku lagi!" Kenzo bergerak cepat merangkul pinggang Vinda dengan perlindungan.
Lalu Larasati pergi dengan langkah gemas dan amarah meluap, dia membanting pintu sekuat tenaga saking kesal dan cemburu.
"Ada apa sebenarnya, mas?" Kenzo tak menjawab langsung, dia menyambar kunci mobil lalu menggenggam tangan Vinda.
"Ayo kita makan siang di luar, Sayang. Nanti aku ceritakan semuanya." Vinda mengangguk pelan. Dari percakapan yang terdengar jelas tadi, dia menangkap ada kisah masa lalu yang rumit antara Kenzo dan, Larasati ibu tirinya itu.
***
Apa sebenarnya yang mau kau ceritakan?"
"Semuanya… seluruh kisah masa laluku dengan wanita itu." Hela nafas Kenzo.
Di tepi Laut Ancol yang siang ini airnya berkilauan diterpa sinar matahari, mereka berdiri berpegangan tangan di dekat pagar pembatas, Kenzo masih menggenggam tangan Vinda erat.
"Dia yang membuatku menjadi diriku yang sekarang, aku yang tak mau terikat dengan perempuan manapun. Dulu dia menikah dengan Ayahku, menjadi istri keduanya, lalu mencampakkan aku begitu saja, saat itu aku merasa dunia ini tak adil, aku benci pada perempuan, sampai aku ingin terus bermain dengan perempuan dan menyakitinya"
"Maksudmu, mas…?" Kenzo memeluknya dari belakang, menghirup wangi rambut panjang ikal itu, lalu menyandarkan dagunya di bahu Vinda yang nyaman. Dia menghela napas panjang sebelum melanjutkan.
"Apa kamu mau dengar cerita lengkapnya, Vin?
"Lebih baik begitu, kan? Biar aku tak salah paham lagi padamu." Kenzo mengangguk setuju.
"Saat itu sepuluh tahun lalu, saat hampir lulus kuliah, Larasati adalah kekasihku. Bahkan aku hampir melamarnya." Vinda terkejut, menoleh cepat menatap wajah Kenzo yang tampak sedih dan penuh luka batin.
"Jadi dia dulu…?"
"Kalau kamu pernah melihatku berciuman dengannya, kumohon maafkan aku."
"Tapi kamu apa masih~"
"Tidak sama sekali!" Tegas Kenzo sambil menggeleng mantap. Dia memutar tubuh Vinda agar berhadapan dengannya, lalu memeluk gadis itu sangat erat.
"Sebelum bertemu denganmu, aku akui—iya, Mungkin aku masih menyimpan rasa cinta pada Larasati dan sakit hati mendalam pada Ayah. Selama delapan tahun aku memusuhi ayahku karena rasa itu. Larasati seperti membuat aku berubah banyak, menjadi pria menyebalkan dan dengan kelakuan bejat"
Kenzo kembali menghela napas, lalu menangkup wajah cantik kekasihnya.
"Percayalah, kalau Tuhan berkehendak, hati manusia bisa berubah secepat kilat. Seperti perasaanku padamu sekarang, tanpa sadar kamu sudah menguncinya di sini, Vin."
Vinda membelai wajah tampan pria itu, air mata bahagia dan haru menetes di pipinya.
"Aku sangat mencintaimu mas. Entah apakah aku sanggup bertahan kalau suatu hari kau mencampakkan ku."
"Siapa yang akan meninggalkanmu eum? Sekalipun aku jadi gila, aku lebih memilih tetap bersamamu selamanya." Kenzo mendekapnya erat, kembali menghirup aroma mawar dan Peony yang menenangkan dari Vinda, sambil mengusap punggung halusnya.
"Aku juga mencintaimu, Vinda. Tolong jangan pernah ucapkan kata ‘dicampakkan’ lagi ya? Kita akan tetap begini selamanya." Vinda mengangguk pelan, membalas genggaman tangan itu dengan lembut.
"Aku tak ingin kamu mendengar cerita ini dari orang lain, jadi aku yang akan menjelaskan semuanya. Apa pun pertanyaanmu, tanyakan saja."
"Apakah dulu kamu pernah tidur bersamanya? Aku~… maaf, tak sengaja mendengar percakapan kalian tadi." Vinda menunduk takut, hatinya terasa perih menanyakan hal itu.
"Betul, dulu pernah. Kemarin kamu masih menyebutku bos mesum, bos brengsek kan? Kalau aku menyangkal hal itu, pasti kamu tahu aku sedang berbohong."
Vinda terkekeh pelan. Mesum? Pria yang satu ini? Dia sendiri kadang heran bagaimana bisa jatuh cinta sedalam ini pada Eko Kenzo Armanta.
"Tapi itu semua sudah masa lalu. Anggap saja Larasati adalah cinta pertamaku, wanita pertama yang mengenalkan dunia kedewasaan padaku. Tapi—" Kenzo mejeda sebentar kalimatnya, tetap memeluknya erat dan menatap mata Vinda dalam‑dalam.
"Aku berjanji dan menjamin, kamulah wanita terakhir bagiku. Hanya kamu yang aku cintai selamanya" Mata Vinda berkedip gusar tampak cantik dan menggemaskan.
"Aku mencintaimu, Sayang, mencintaimu selamanya."
"Cih, pandai saja kamu merayu, mas!"
Kenzo tertawa lalu mengecup bibirnya lembut. Vinda membalas dengan senang hati, memejamkan mata dan melingkarkan tangan di lehernya. Ciuman mereka makin lama makin hangat dan tak kunjung usai.
Saat akhirnya. Bibir itu berpisah dan terengah‑engah karena kehabisan napas, Kenzo mengusap bibir Vinda yang merah dan basah, tersenyum puas.
****