Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. LADY GLORIA BLASTOMA
Entah bagaimana, entah sejak kapan, Erina berada di sebuah kamar bundar dalam menara batu yang tinggi dan asing, seperti dalam cerita dongeng Rapunzel--bahkan mengenakan gaun layaknya princess yang sangat indah.
Hanya saja, ia tak berambut sepanjang dan seindah Rapunzel. Ia malah botak total.
Erina duduk sambil menatap bayangannya sendiri di depan meja rias dan cermin lebar kuno. Di cermin itu, ia bukanlah Erina dewasa yang pernah gagal dalam pernikahan dan sudah punya dua anak. Di cermin itu, ia melihat dirinya sendiri saat berumur sepuluh tahun--kurus, pucat, botak, namun akhirnya tersenyum bahagia karena bisa mengenakan gaun princess, seperti yang sering diimpikannya sejak lama.
"Tapi kamu botak," Erina menunjuk kepala anak kecil dalam cermin itu. "Kamu tak terlihat seperti princess kalau tak punya rambut yang dihiasi mahkota!"
Erina kecil dalam cermin itu mendengus dan tertawa, seakan tak terpengaruh.
"Kamu sudah tumbuh lebih tua tapi tak lebih cerdas juga--apa kamu tak tahu ada produk yang namanya tonik penumbuh rambut?"
Erina mengerjap. Di atas meja rias, tepat di depannya, ia melihat sebuah botol kaca gelap kecil dengan label emas "Tonik Penumbuh Rambut AJAIB Bergaransi--rambut gagal tumbuh, uang kembali!"
Apa-apaan...
Meski menggerutu dalam hati, Erina tetap mengambil botol itu dan meneteskan isinya ke kepalanya yang licin, lalu mengusapnya agar merata menggunakan jemari.
Dalam sekejap, helai-helai rambut pun tumbuh. Berwarna emas dan bercahaya--seperti rambut Rapunzel dalam cerita.
Erina ternganga takjub.
Tetapi helai-helai rambut itu terus tumbuh. Makin lebat. Makin panjang, hingga menyentuh lantai, dan bahkan menjalar ke dinding hingga luar jendela.
"Aduh!"
Dengan panik, Erina membongkar laci meja rias dan menemukan gunting. Ia pun memangkas rambutnya hingga pendek sebahu.
Rambutnya seketika berhenti tumbuh. Sisa helai yang terpotong jatuh dan bertebaran ke mana-mana.
"Haish..."
Erina mendesis kesal karena sekarang harus membersihkan potongan rambutnya yang memenuhi ruangan. Ia meletakkan guntingnya kembali di laci meja, dan melihat ada sebatang tongkat kayu tipis tergeletak di dasar laci yang sama.
Apa ini...? Apa ini tongkat sihir? Bisa dipakai menyihir?
Penasaran, Erina mengambil tongkat itu dan mengayunkannya.
"Accio Jungkook!"
Ia asbun saja mengucap mantra--siapa tahu Jungkook sungguhan muncul dengan mantra pemanggil yang populer dalam cerita Harry Potter.
Tongkat itu meletuskan kembang api warna-warni dari ujungnya. Erina menjerit kaget dan seketika melemparnya ke lantai.
Percikan bunga api menyambar dan membakar helaian rambut di lantai. Dalam hitungan detik, helai-helai rambut yang semula dilalap api, tiba-tiba berubah menjadi sulur-sulur tanaman hijau yang hidup dan tumbuh subur--menjalar ke dinding, atap, hingga menutupi seluruh permukaan menara, dan terus tumbuh ke langit seperti pohon buncis raksasa dalam dongeng "Jack dan Buncis Ajaib."
"Erina...!"
Belum pulih dari rasa guncangnya menyaksikan peristiwa absurd di depan matanya, tiba-tiba ia mendengar suara yang tak asing memanggilnya dari kejauhan.
"Erina...!"
Eh? Siapa? Di mana?
Erina celingukan mencari sumber suara itu, yang sepertinya berasal dari luar menara batu. Ia pun bergegas mendekati jendela dan melihat sekitar--tak ada apa-apa selain hamparan padang rumput hijau dan langit berawan putih yang seakan tak ada ujungnya.
"Erina... aku di sini! Aku kembali... mana kolorku?"
Hah?
Erina mendongak dan terkejut melihat titik hitam meluncur turun dengan cepat dari awan melalui sulur buncis raksasa ajaib yang tumbuh hingga menembus langit.
"Gli... Glioma Boxer?!"
"Yo!"
Glioma Boxer sudah menjejakkan kedua kaki berbulunya yang masih mengenakan sepatu hitam dan kaus kaki putih di bingkai jendela menara dan menyapa riang. Penampilannya masih hampir sama seperti terakhir kali Erina memimpikannya--bundar seperti bakso besar, mengenakan kacamata hitam, berkumis kecap dan saus tomat, hanya saja kini tak mengenakan boxer merah.
"KENAPA KAMU KEMBALI?!" Erina menjerit, emosinya meledak tanpa bisa ditahan lagi.
"Kolorku ketinggalan--ingat? Aku kembali demi kolorku. Sekarang, mana kolorku?"
"Meneketehe!" sembur Erina jengkel. "Kalau kamu memang butuh kolor, kudunya kamu beli di pasar, bukannya balik lagi ke sini!"
Glioma Boxer menggeleng dan mendengus.
"Bukan seperti itu cara mainnya," protesnya. "Kalau mau aku pergi, jangan biarkan jejak diriku ada di sini--bahkan sehelai bulu kakiku pun jangan! Tapi nyatanya, kolorku tertinggal..."
"Ya sudah, ambil lagi dan pergi sana!"
"Bukan seperti itu cara mainnya... aku tak bisa pergi kalau tak digusur dokter, ingat?"
Sebersit ngeri mulai terbit di hati Erina.
"Jadi... kamu benar-benar kembali... dan ada dalam diriku lagi?"
Glioma Boxer terdiam sejenak dan melirik ke langit di luar menara.
"Bukan cuma aku sih..."
BOOM! BOOM! BOOM!
Tiba-tiba terdengar suara seperti ledakan dan guncangan keras dari luar menara--lebih tepatnya, dari suatu titik di angkasa, di balik awan putih yang berarak dan berbentuk seperti gumpalan gula-gula.
"A... apa itu?" tanya Erina, kaget.
Glioma Boxer menghela napas panjang.
"Kamu tak akan percaya kalau aku bilang... kamu harus melihatnya sendiri. Ayo ikut aku."
Erina membeku sejenak.
"Ikut... ke mana?"
"Ke langit."
"Kenapa aku harus ke sana?"
"Karena di sana ada jawaban untuk semua pertanyaanmu tadi. Kamu mau tahu kebenaran atau mati penasaran?"
Erina mau tak mau mengikuti Glioma Boxer memanjat naik sulur-sulur buncis raksasa, dan semakin ia mendekati awan, suara-suara keras itu semakin jelas kedengaran.
Keduanya menembus celah awan, dan Erina pun menatap takjub hamparan awan dan langit luas di sekitarnya. Nuansanya seperti negeri dongeng yang pernah dilihatnya dalam buku cerita atau film anak-anak.
Bahkan ada gerbang emas raksasa berdiri tak jauh di depan matanya, tepat di atas gumpalan awan yang bermandikan cahaya langit jingga.
"Itu... gerbang surga?" ceplos Erina, begitu saja.
Glioma Boxer menggeleng.
"Itu gerbang rumahku."
Erina ternganga.
"Rumah...?"
BOOM! BOOM! BOOM!
Suara keras itu terdengar dari balik gerbang, dan dunia sekitar kembali berguncang.
"HUSBAND! WHERE ARE YOU?!"
Erina membelalak.
"Husband...?"
Glioma Boxer meringis.
"Dia memanggilku."
"Dia... siapa?"
Dan akhirnya Erina melihatnya--di balik gerbang itu, sosok luar biasa besar muncul. Berwujud bakso raksasa, berhias rambut keriting pirang, berkacamata hitam, pipi berlapis blush on, bibir tebal berhias lipstik merah, dan ia mengenakan daster hijau motif bunga-bunga merah serta sepasang sandal bulu warna merah jambu.
SIAPA ITUUU?! jerit Erina dalam hati.
"Lady Gloria Blastoma," Glioma Boxer menggaruk kepalanya. "Dia istriku."
***
🤣🤣🤣