"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Sesampainya di rumah, Arumi segera menyajikan roti pemberian Mama Zidan tadi di atas piring kecil. Ia juga meletakkan nasi dengan lauk ikan asin dan tumis kangkung yang sudah dingin di meja makan. Arumi tersenyum tipis melihat kedua anaknya mulai makan, meski ia sendiri kembali ke dapur untuk mencuci botol minum mereka.
"Makan yang banyak ya, Kak, Dek. Ibu mau ke kamar sebentar, mau lanjutin tulisan yang tadi tanggung," pamit Arumi lembut.
Bintang, si sulung yang baru duduk di kelas 6 SD, hanya mengangguk pelan. Namun, tangannya yang memegang sendok tampak sedikit gemetar. Matanya menatap punggung ibunya yang tampak semakin kurus dari hari ke hari. Daster yang dipakai ibunya bahkan sudah memudar warnanya, jauh berbeda dengan baju-baju cantik milik ibu-ibu di sekolah tadi.
Saat Arumi sudah masuk ke kamar dan menutup pintu, suasana di meja makan mendadak berubah redup. Bintang menyuapkan nasi ke mulutnya, tapi tenggorokannya terasa sangat sempit. Air mata yang sejak tadi ia tahan di sekolah, akhirnya luruh juga. Ia menangis tanpa suara, air matanya jatuh tepat di atas nasi putihnya.
"Kakak kenapa nangis? Nasinya pedas ya?" tanya si Adik, menatap kakaknya dengan polos.
Bintang buru-buru menyeka matanya dengan punggung tangan. Ia menarik napas panjang, lalu menatap adiknya lekat-lekat. Ia tahu, adiknya yang baru kelas 2 SD ini mungkin belum paham sepenuhnya kenapa Ibu selalu kelihatan lelah, atau kenapa Ayah jarang ada di rumah saat mereka butuh.
"Dek, sini ikut Kakak sebentar," Bintang membawa piring mereka ke sofa ruang tamu, duduk di sana agar suara mereka tidak terdengar sampai ke kamar Ibu.
Bintang memegang bahu adiknya. "Dek, kamu tahu kan Ibu capek banget setiap hari?"
Si Adik mengangguk. "Iya, Kak. Ibu selalu ngetik sampai malam. Kadang pas aku bangun pipis, lampu kamar Ibu masih nyala."
Bintang menunduk, bibirnya bergetar. "Ayah itu... Ayah sering bikin Ibu sedih, Dek. Tadi malam, Kakak dengar Ayah marah-marah lagi soal uang. Ayah bilang uang Ibu banyak, padahal Kakak tahu Ibu pakai uang itu buat beli sepatu Kakak yang jebol, buat bayar sekolah kita, buat makan kita."
"Tapi Ayah kan kerja, Kak?" tanya si Adik jujur.
"Ayah memang kerja, Dek. Tapi Ayah lebih sayang sama Nenek dan Om di kampung daripada sama kita. Ayah selalu kasih uang ke sana, tapi buat Ibu, Ayah selalu bilang 'nggak ada'. Makanya Ibu harus kerja keras sendirian," Bintang menjelaskan dengan bahasa yang sebisa mungkin dimengerti adiknya. "Kita nggak boleh nakal ya, Dek. Kita harus bantuin Ibu. Jangan pernah minta mainan mahal-mahal sama Ibu, kasihan Ibu."
Si Adik terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Ia baru sadar kenapa setiap kali ia minta jajan, kakaknya selalu melarang. "Jadi... Ibu capek karena Ayah pelit ya, Kak?"
Bintang hanya bisa mengangguk pasrah. Hatinya perih. Ia ingat betul bagaimana Ayahnya selalu menekan Ibunya, memaksa Ibunya mengalah setiap kali keluarga besar Ayahnya meminta bantuan. Pras tidak pernah tahu kalau Bintang sering mendengar perdebatan itu dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
Sore harinya, suasana rumah kembali sepi. Pras belum juga pulang. Arumi masih di dalam kamar, bergelut dengan ribuan kata demi mengejar deadline bonus bulanan.
Sebenarnya, Pras sudah pulang dari kantor sejak jam lima sore. Namun, alih-alih pulang ke rumah untuk melihat anak-anaknya, ia lebih memilih singgah di rumah ibunya. Di sana, ia disambut dengan teh hangat dan pujian dari adik-adiknya karena baru saja mentransfer uang saku untuk mereka. Pras merasa menjadi pahlawan di sana, tanpa peduli bahwa di rumah peninggalan mertuanya, anak laki-lakinya sedang menatap pintu dengan harapan yang perlahan mati.
Pukul sembilan malam, barulah suara motor Pras terdengar di depan rumah. Bintang yang tadinya sedang belajar di ruang tamu, buru-buru mematikan lampu dan masuk ke kamar. Ia tidak ingin bertemu Ayahnya. Ia tidak ingin melihat wajah laki-laki yang selalu membuat Ibunya menangis diam-diam di dapur.
Bintang naik ke atas tempat tidur, memejamkan mata erat-erat saat mendengar suara pintu depan terbuka. Ia pura-pura tidur.
"Sudah tidur semua, Rum?" suara Pras terdengar datar di ruang tamu.
"Sudah, Mas. Baru saja," jawab Arumi, suaranya terdengar sangat lelah.
"Oh, baguslah. Besok aku mau antar Ibu ke dokter spesialis, mungkin pulang telat lagi. Pakai uang kamu dulu ya buat bayar uang les si Kakak, uangku kepakai buat biaya dokter Ibu," ujar Pras enteng, seolah itu adalah hal yang sangat wajar diminta.
Di balik dinding kamar, Bintang meremas bantalnya kuat-kuat. Giginya terkatup rapat menahan amarah yang meledak di dadanya. Lagi-lagi pakai uang Ibu, batinnya pedih.
Ia mendengar suara langkah kaki Ibunya yang pelan menuju dapur, mungkin untuk menyiapkan makan malam untuk Ayahnya yang bahkan tidak bertanya apakah istrinya sudah makan atau belum. Bintang menangis lagi di bawah selimut. Ia berjanji pada dirinya sendiri, suatu saat nanti, ia akan tumbuh besar dan menjadi laki-laki yang tidak seperti Ayahnya. Ia akan memuliakan Ibunya, sebagaimana Ibunya telah mempertaruhkan seluruh hidup dan kewarasannya demi mereka.
Malam itu, di bawah atap rumah yang sama, ada tiga hati yang terluka dengan cara yang berbeda. Arumi dengan kelelahannya, Bintang dengan kemarahannya, dan si Adik dengan kepolosan yang mulai hilang. Sementara Pras, ia tertidur lelap, merasa sudah menjadi pria paling berbakti sedunia kepada ibunya, tapi bukan kepada keluarganya.
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏