NovelToon NovelToon
Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Horor / Teen
Popularitas:37.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

​"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
​Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
​Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
​Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
​Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Begitu bel tanda istirahat kedua berbunyi nyaring, koridor sekolah langsung berubah menjadi lautan murid yang kelaparan.

Di saat teman-temannya berhamburan menuju kantin, Arash justru memisahkan diri.

Dengan langkah yang sengaja dibuat sesantai mungkin, dia berjalan menuju sayap barat gedung sekolah, area di mana ruang Kepala Sekolah berada. Jalur ini biasanya sepi karena letaknya yang agak terpisah dari ruang kelas reguler.

Arash berjalan pelan, berpura-pura sibuk memainkan ponselnya saat melewati pintu kayu jati besar bertuliskan 'RUANG KEPALA SEKOLAH'.

Di sudut lorong yang agak remang, siluet transparan Lala mendadak muncul, bersandar pada pilar beton.

"Gimana, La?" bisik Arash saat jarak mereka sudah cukup dekat.

"Gak ada yang keluar apalagi masuk, sepi banget dari tadi," kata Lala, wajah cegilnya berubah agak serius. "Tapi coba deh Mas, dengerin suaranya. Aku gak bohong, dalemnya ada orang."

Arash mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri. Koridor benar-benar lengang.

Dengan gerakan cepat, dia mendekat ke pintu dan menempelkan telinga kanannya ke permukaan kayu jati yang dingin.

Arash menahan napas, menajamkan seluruh indera pendengarannya.

‘Hiks hiks hiks, t—tolong … ‘’

Sayup-sayup, sebuah rintihan kecil, serak, dan penuh ketakutan terdengar dari balik dinding.

Jantung Arash langsung berdegup kencang. Firasat indigo-nya mengatakan ini bukan urusan gaib, melainkan murni kejahatan manusia.

Tapi, tepat saat Arash baru saja akan menegakkan tubuhnya...

"Heh, kamu ngapain di situ?"

Suara berat dan menggelegar itu praktis membuat Arash meloncat kaget. Dia langsung menoleh cepat dan menghadap laki-laki yang mendadak muncul dari balik belokan lorong.

Jantung Arash rasanya mau copot ke usus. Laki-laki itu adalah Pak Bambang, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang terkenal bertubuh gempal, berkumis tebal, dan memiliki radar super sensitif terhadap murid-murid nakal.

"Maaf Pak, saya itu tadi, saya—" Arash terbata-bata, otaknya mendadak *blank* selama beberapa detik.

Di samping Pak Bambang, Lala tampak sedang melayang-layang sembari menjulurkan lidah, mengejek sang guru tanpa beban.

‘Sialan, bantuin gue kek mikir alasan!’ jerit Arash dalam hati pada si hantu cegil.

"Kamu siapa? Dari kelas mana?" tanya Pak Bambang dengan tatapan mata memicing tajam, tangannya terkepal di pinggang, membuat seragam PNS-nya tampak makin ketat.

"Saya Arash Pak. Tadi gak sengaja lewat, mau ke gudang Pak," jawab Arash, berusaha mengatur deru napasnya agar terlihat setenang mungkin sebagai murid teladan.

‘Ya Allah, maafkan hamba sudah berbohong., kalau mau hukum, hukum saja Lala ya Allah. Dia yang ngehasut hamba,’ gumam Arash dalam hati.

Laki-laki bertubuh gempal itu memicingkan matanya lebih dalam, menatap Arash dari ujung sepatu hingga ujung rambut dengan pandangan penuh selidik.

"Mau ngapain kamu ke gudang? Gudang kan di ujung lorong sana, kenapa kamu malah nempel-nempel di pintu ruang Kepsek?"

"Itu Pak, anu, saya mau ambil alat pel yang baru, Pak. Soalnya tadi teman saya gak sengaja basahin lantai kelas," alibi Arash, memutar otak secepat mesin turbo demi menyelamatkan posisinya.

"Itu tugas OB! Ngapain kamu repot-repot? Biar Pak Didi saja yang bersihkan nanti!" sahut Pak Bambang tegas, tidak langsung percaya begitu saja pada ucapan Arash.

Arash memasang wajah sedramatis mungkin, berpura-pura ragu dan menundukkan kepalanya.

"Itu Pak, anu... *Astaghfirullah*, gak enak sebenarnya saya ngomongnya, Pak..."

"Kenapa? Katakan! Jangan bertele-tele!" desak Pak Bambang, rasa penasarannya mulai terpancing.

"Teman sebangku saya tadi kebelet banget, Pak. Pas mau izin ke kamar mandi, dia gak sengaja kelepasan duluan di lantai kelas. Makanya saya gak enak kalau harus minta tolong Pak Didi, kasihan Pak Didi harus bersihin bekas begituan.’’

‘’Biar teman saya sendiri yang ngepel bekas pipisnya sebagai hukuman, tapi saya yang ditugasin ambil alat pelnya ke gudang," bual Arash panjang lebar dengan ekspresi wajah super meyakinkan.

Mendengar bualan Arash, Lala yang sedang menggelantung terbalik di atas pundak Pak Bambang langsung meledak dalam tawa tanpa suara.

Dia memegangi perutnya yang transparan, merasa takjub dengan tingkat kreativitas Arash dalam mengarang cerita jorok demi sebuah alasan.

*“Gila, Mas ganteng pinter banget bohongnya!”* jerit Lala kegirangan, yang membuat mata Arash langsung menatap nya tajam.

"Astaga! Jorok sekali kalian, hah! Sudah SMA kok tidak bisa menahan buang air kecil?!" seru Pak Bambang, wajah garangnya langsung berubah menjadi ekspresi jijik yang amat sangat.

Beliau bahkan refleks memundurkan langkahnya, seolah-olah bau pesing imajiner dari kelas Arash bisa menular lewat udara.

"Hehehe... maaf Pak, dia benar-benar gak sengaja,’’ ucap Arash sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, memasang tampang polos tak berdosa.

"Makanya saya buru-buru, Pak. Tapi pas lewat sini tadi, saya kayak ada denger suara rintihan aneh dari dalam ruangan ini, Pak. Makanya saya penasaran dan refleks nguping sebentar."

Ekspresi Pak Bambang mendadak mengeras selama satu detik mendengar kalimat terakhir Arash.

Matanya berkilat aneh, sebuah reaksi mikro yang tidak akan bisa ditangkap oleh manusia biasa, namun terbaca jelas oleh mata indigo Arash yang terlatih melihat kebohongan.

"Di dalam ini kosong! Gak ada siapa-siapa! Kepala Sekolah sedang dinas luar kota sampai besok!" bentak Pak Bambang, nadanya meninggi dengan intonasi yang terkesan dipaksakan untuk menutupi sesuatu.

"Udah, kamu jangan banyak urusan! Buruan ambil alat pelnya dan pergi dari sini sekarang juga sebelum saya hukum kamu karena kelayapan di lorong ini!"

"Baik Pak, saya permisi. Maaf mengganggu waktunya," ucap Arash membungkuk hormat.

Dia segera membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju arah gudang, tidak ingin membuat Pak Bambang semakin curiga.

Namun, saat berjalan menjauh, Arash melirik sedikit ke belakang melalui sudut matanya.

Pak Bambang masih berdiri di depan pintu ruang Kepsek, memastikan Arash benar-benar pergi, sebelum tangannya meraba saku celana untuk mengeluarkan sebuah anak kunci kuningan yang besar.

Di samping pintu, Lala kembali muncul, menatap Arash dengan pandangan penuh arti seolah berkata,

“Tuh kan Mas, ada yang gak beres sama sekolah ini!”

**

Kantin sekolah siang itu penuh sesak oleh lautan murid yang kelaparan. Arash duduk di pojok meja panjang, tempat favoritnya dan ketiga sahabatnya jika ingin menghindari keramaian.

Namun, alih-alih menikmati suasana istirahat, fokus Arash terpecah karena hawa dingin yang sesekali berembus di tengkuknya.

Di bawah meja, bayangan transparan Lala sesekali mencuat, memberikan isyarat agar Arash tidak melupakan urusan di ruang Kepala Sekolah tadi.

"Rash, sekarang lo hobi banget sih ngilang terus?" kata Reno membuka obrolan,

sembari menusuk satu pentol bakso di mangkuknya dengan garpu. Pandangannya menatap Arash penuh selidik.

"Tau tuh, mau ngegaet siapa sih lo? Baru juga bel istirahat bunyi, batang hidung lo udah lenyap," sambung Mike yang sibuk mengaduk es jeruknya dengan sedotan.

"Jangan bilang, lo nemuin Vella ya di belakang laboratorium?" sambung Alvaro ikut memojokkan Arash dengan senyum jahil yang mengembang di wajahnya.

Maklum, seantero kelas tiga sudah tahu kalau Vella memang menaruh hati pada cowok sholeh berwajah tenang itu.

"Jangan ngaco deh kalian!" sahut Arash cepat.

Dia buru-buru meneguk jus jeruknya yang tinggal setengah untuk menutupi kegugupannya.

Arash melirik ke bawah kolong meja sebentar, memastikan Lala tidak bertingkah aneh seperti menjambak tali sepatu teman-temannya.

"Tadi gue ke toilet doang sebentar," imbuh Arash, memberikan alasan klasik yang paling aman dari interogasi sahabat-sahabatnya.

"Ohhhh!" sahut Reno, Mike, dan Alvaro serempak dengan nada panjang yang sengaja dibuat tidak percaya.

Mereka tahu Arash jarang sekali pergi ke toilet berlama-lama kecuali ada urusan penting.

Namun, karena tidak mau memperpanjang drama, mereka akhirnya membiarkan alasan itu lewat begitu saja.

Suasana meja sempat hening beberapa saat sewaktu mereka sibuk mengunyah makanan masing-masing. Arash menghela napas lega, mengira interogasi hari ini sudah berakhir.

Namun, sendok Reno yang berdenting keras saat diletakkan di atas mangkuk memecah keheningan itu kembali.

"Oh ya guys, kalian tahu Fira gak?" tanya Reno tiba-tiba, mencondongkan tubuhnya ke depan meja, mengubah nada suaranya menjadi sedikit berbisik seolah sedang membagikan rahasia besar kekaisaran.

"Fira siapa?" tanya Mike acuh tak acuh, masih fokus mengunyah makanan nya.

"Itu loh, keponakannya Pak Bakti, Kepala Sekolah kita," perjelas Reno sembari menunjuk ke arah koridor utama dengan dagunya.

"Oh, anak kelas 11 yang suka baca buku di bawah pohon kamboja dekat laboratorium itu?" kata Arash spontan,

"Cieee elah, detail amat tahunya, Bang! Sampai lokasi koordinat tempat duduknya aja lo hafal!" sindir Mike langsung, menyenggol lengan Arash dengan senyum menggoda.

Alvaro dan Reno pun ikut terkekeh geli.

Arash mendengus kesal, merutuki mulutnya sendiri yang terlalu jujur memberikan informasi detail.

"Gue gak sengaja lihat pas mau ke perpus minggu lalu, lagian aura anak itu emang beda, kelihatan pendiam banget. Oke, oke, lupain. Kenapa emang sama dia?" tanya Arash mencoba mengembalikan topik pembicaraan ke jalur yang serius.

Reno memajukan kepalanya lagi, memastikan tidak ada murid dari kelas lain di samping meja mereka yang mendengarkan.

"Tadi gue lihat di mading dekat ruang guru, ada selebaran kertas pengumuman baru yang ditempel. Fira udah hampir seminggu gak pulang ke rumahnya. Orang tuanya nyariin sampai datang ke sekolah, dan pihak sekolah bilangnya dia gak ada masuk kelas sejak hari Senin kemarin," ungkap Reno dengan raut wajah yang mendadak serius.

"Hah? Serius lo? Masa keponakan Kepala Sekolah bisa hilang misterius gitu di lingkungan sekitar sini?" Alvaro tampak terkejut, menghentikan aktivitas makannya seketika.

"Gue denger, katanya dia kabur sama pacarnya. Tapi ada juga yang bilang, katanya dia ada masalah sama keluarga, dia terlalu ditekan belajar. Entahlah, gosipnya masih simpang siur banget di grup angkatan," kata Reno sembari mengedikkan bahu, lalu meminum sisa es teh manisnya sampai tandas.

Arash mengernyitkan dahi. Tangannya yang memegang sendok tertahan di udara.

"Dia punya pacar?" tanya Arash, memastikan pendengarannya tidak salah.

Setahunya, Fira yang sering dia lihat di bawah pohon kamboja itu adalah tipe siswi kuper yang menutup diri dari pergaulan, apalagi urusan asmara.

"Punya. Anak 12 MIPA 1," sahut Reno enteng.

"Siapa?" tanya Arash memburu,

nadanya sedikit lebih tinggi dari biasanya hingga membuat Alvaro dan Mike serempak menoleh ke arahnya dengan pandangan heran.

Jarang-jarang seorang Arash yang terkenal cuek dan lempeng mendadak kepo setengah mati urusan asmara adik kelas.

"Devano," jawab Reno singkat. "Itu loh, anak futsal yang motornya ninja merah. Masa lo gak tahu, Rash? Kelasnya kan cuma selisih satu tembok sama kelas kita."

Arash terdiam, otaknya langsung memetakan ingatan tentang sosok Devano. Ya, dia tahu anak itu. Cowok jangkung yang cukup vokal di angkatan mereka.

"Dia masuk sekolah?" tanya Arash lagi, mengabaikan tatapan menyelidik dari sahabat-sahabatnya.

"Nah, itu dia yang bikin gosip kabur bareng makin kencang. Dia udah dua hari gak sekolah, lagi sakit katanya. Surat izinnya sih ada dari orang tuanya, tapi anak-anak MIPA 1 bilangnya Devano gak bisa dihubungin sama sekali. Nomornya gak aktif," sambung Alvaro ikut menimpali, memberikan informasi tambahan yang dia dengar dari teman sekelas Devano tadi pagi saat piket bersama.

Arash diam, pikirannya penuh teka-teki yang berputar seperti gasing. Kepalanya mendadak terasa pening bukan main.

1
Rosy
gemblengannya di mulai besok saja kyai.. sekarang Arash lagi di tungguin sama hantu cegil yg lagi mau curhat 🤭🤭
Rosy
kenapa pake di perjelas segala sih mom...ngeri banget bayanginnya 😭😭😭😭
Rosy
astaghfirullah ternyata Lala lagi ngobrol sama pocong 😭😭🤣🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yah Arash mau belajar lagi, Lala pasti merasa dibohongi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh pocongnya kenapa gak bisa bebas ya 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Wah Lala nangkring sama mas pocong 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
La diajak jadian tuh 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kau sedang cemburu kah La 🤔🤣
Halimah
Siapa lg nih pocong...Kyk y perlu disekametin jg.
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
walaupun sama² hantu,,,
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
Vike Kusumaningrum 💜
Siap² Rash, Lala ngambek nanti. pasti katanya kamu menghindar dan ingkar janji 🤭
Vike Kusumaningrum 💜
🤣🤣🤣 siapa nih dulunya 🤣🤔🤭🤭
Vike Kusumaningrum 💜
pocong 🤣🤣🤣🤣🤣😭
Vike Kusumaningrum 💜
Cemburu la ? 🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
heh Lala,,knp kamu ngagetin Arash🫵🫵🫵

bisa kan,,,sapa,,

Assalamualaikum dlu😅😅😅
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
ayooohh Arash,,,banguuunnnn
suci nurfarida
cerita yang menarik dan unik dengan latar belakang spritual, menegangkan, lucu
HR_junior
eee alah JD PD di jadiin tumbal ya..Fira juga ya
HR_junior
knp LG Lo..apa si Fira juga korban ibunya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!