Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.
Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.
Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.
Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter tiga puluh tiga
Sebagai bagian dari regimen penyiksaan harian baruku, Selina menjadikannya sebuah tujuan pribadi untuk membuat kegiatan berbelanja sesulit mungkin bagiku.
Dia telah menuliskan daftar barang-barang yang kami butuhkan dari toko kelontong. Namun semuanya sangat spesifik. Dia tidak ingin susu biasa. Dia ingin susu organik dari White Lotus Farm. Dan jika mereka tidak memiliki barang yang persis seperti yang dia inginkan, aku harus mengirim pesan kepadanya untuk memberi tahu dan mengirimkan foto-foto barang pengganti lainnya yang memungkinkan. Dan dia sengaja meluangkan waktu yang sangat lama untuk membalas pesanku, sementara aku harus berdiri menunggu di lorong susu sialan itu.
Saat ini, aku sedang berada di lorong roti. Aku mengirim pesan kepada Selina:
Roti Sourdough 'Sweet Whisk’ habis. Ini ada beberapa pilihan pengganti.
Aku mengirimkan foto setiap jenis roti sourdough yang mereka miliki dalam persediaan. Dan sekarang aku harus menunggu sementara dia melihat-lihat foto itu. Setelah beberapa menit, aku menerima pesan balasan darinya:
Apakah mereka punya briencof?
Sekarang aku harus mengiriminya foto setiap roti briencof yang mereka miliki. Aku bersumpah, aku akan meledakkan otakku sendiri sebelum aku menyelesaikan perjalanan belanja ini. Dia sengaja menyiksaku. Namun jika ingin adil, aku memang tidur dengan suaminya.
Saat aku sedang mengambil foto roti-roti itu, aku menyadari seorang pria bertubuh gempal dengan rambut beruban sedang memperhatikanku dari ujung lorong yang lain. Dia bahkan tidak bersikap halus tentang hal itu. Aku melayangkan pandangan tajam ke arahnya, dan dia mundur, syukurlah. Aku tidak bisa menghadapi seorang penguntit di atas semua masalah ini.
Sembari menunggu Selina merenungkan pilihan rotinya sedikit lebih lama, aku membiarkan pikiranku melayang. Seperti biasa, pikiranku melayang kepada Jeffran Arshawirya. Setelah pembongkaran Selina bahwa aku pernah dipenjara, Jeffran tidak pernah mencariku untuk "berbicara", seperti yang dia katakan sebelumnya.
Dia telah benar-benar ketakutan dan menjauh. Aku tidak bisa menyalahkannya.
Aku menyukai Jeffran. Tidak, aku tidak hanya menyukainya. Aku jatuh cinta kepadanya. Aku memikirkannya sepanjang waktu, dan rasanya menyakitkan untuk tinggal di rumah yang sama dengannya tanpa bisa bertindak berdasarkan perasaanku terhadapnya. Terlebih lagi, dia berhak mendapatkan yang lebih baik daripada Selina. Aku bisa membuatnya bahagia. Aku bahkan bisa memberinya seorang bayi seperti yang dia inginkan. Dan mari kita hadapi kenyataan, apa pun jauh lebih baik daripada wanita itu.
Namun meskipun dia tahu kami memiliki sebuah ikatan, tidak ada hal yang akan pernah terjadi. Dia tahu aku pernah masuk penjara. Dia tidak menginginkan seorang mantan narapidana. Dan dia akan terus sengsara bersama penyihir itu, mungkin selama sisa hidupnya.
Ponselku bergetar lagi.
Selina mengirim pesan lagi :
Ada roti Prancis?
Butuh waktu sepuluh menit lagi, tetapi aku berhasil menemukan sebongkah roti yang memenuhi ekspektasi Selina. Saat aku mendorong kereta belanjaanku menuju kasir, aku menyadari pria gempal itu lagi. Dia jelas-jelas sedang menatapku. Dan yang lebih meresahkan, dia tidak membawa kereta belanja. Jadi apa sebenarnya yang sedang dia lakukan?
Aku menyelesaikan pembayaran secepat mungkin. Aku memasukkan kembali kantong-kantong kertas berisi belanjaan ke dalam kereta belanja, sehingga aku bisa mendorongnya keluar menuju tempat parkir ke mobil Ayla-ku. Tepat ketika aku sudah dekat dengan pintu keluar, sebuah tangan mencengkeram bahuku.
Aku mengangkat kepalaku dan pria gempal itu sudah berdiri di depanku.
"Permisi?!" Aku mencoba menyentakkan tubuhku untuk menjauh, tetapi dia mencengkeram lenganku dengan erat. Tangan kananku mengepal. Setidaknya ada sekelompok orang yang sedang memperhatikan kami, jadi aku memiliki saksi mata. "Apa yang sedang Anda lakukan?"
Dia menunjuk ke sebuah lencana pengenal kecil yang tergantung di kerah kemeja birunya, yang tidak kusadari sebelumnya. "Saya petugas keamanan supermarket. Bisa ikut saya sebentar, Nona?"
Aku merasa mual. Sudah cukup buruk aku menghabiskan hampir sembilan puluh menit di tempat ini hanya untuk berbelanja beberapa barang, tetapi sekarang aku ditangkap? Untuk apa?
"Ada masalah apa?" Aku menelan ludah.
Kami telah menarik perhatian kerumunan orang. Aku menyadari ada sepasang wanita dari barisan penjemputan sekolah Seina, yang kuyakin akan dengan senang hati melaporkan kembali kepada Selina bahwa mereka melihat pelayan rumah tangganya ditangkap oleh petugas keamanan supermarket.
"Tolong ikut saya." Kata pria itu lagi.
Aku mendorong kereta belanjaanku ikut bersama kami karena aku takut untuk meninggalkannya. Ada belanjaan senilai lebih dari tiga ratus ribu di dalam sana, dan aku yakin Selina akan menyuruhku membayar semuanya jika barang-barang itu hilang atau dicuri. Aku mengikuti pria itu masuk ke sebuah kantor kecil dengan meja kayu yang penuh goresan dan dua kursi plastik yang ditata di depannya. Pria itu memberi isyarat agar aku duduk, jadi aku menduduki salah satu kursi, yang berderit mengancam di bawah berat badanku.
"Ini pasti sebuah kesalahan..." Aku melihat lencana pengenal pria itu. Namanya Tian Wijaya. "Ada apa ini sebenarnya, Pak Wijaya?"
Dia merengut menatapku dengan pipinya yang menggelambir ke bawah. "Seorang pelanggan memberi tahu saya bahwa Anda mencuri barang-barang dari supermarket."
Aku tersentak kaget. "Saya tidak akan pernah melakukan hal itu!"
"Mungkin tidak." Dia memasukkan ibu jarinya ke dalam lingkaran ikat pinggangnya. "Tetapi saya harus menyelidikinya. Bisa saya lihat struk belanjanya, Nona...?"
"Laily." Aku mengobrak-abrik tasku sampai aku menemukan carikan kertas yang sudah kusut itu. "Ini."
"Hanya sebuah peringatan." Katanya. "Kami menuntut semua pengutil."
Aku duduk di kursi plastik dengan pipi yang terasa terbakar, sementara petugas keamanan itu dengan sangat teliti memeriksa semua barang belanjaanku dan mencocokkannya dengan apa yang ada di dalam kereta belanja. Perutku mulas saat memikirkan kemungkinan mengerikan bahwa mungkin petugas kasir tidak memasukkan suatu barang dengan benar, dan pria ini akan mengira aku mencurinya. Dan lalu apa? Mereka menuntut semua pengutil. Itu berarti mereka akan memanggil polisi. Dan hal itu sudah pasti akan menjadi pelanggaran terhadap pembebasan bersyaratku.
Aku tersadar bahwa situasi ini akan sangat menguntungkan bagi Selina. Dia akan bisa menyingkirkanku tanpa harus menjadi orang jahat yang memecatku. Dia juga akan mendapatkan balas dendam yang cukup manis atas tindakanku yang telah tidur dengan suaminya. Tentu saja, agak kejam jika harus dijebloskan ke penjara karena perselingkuhan, tetapi aku merasa Selina mungkin melihatnya dengan cara yang berbeda.
Namun hal itu tidak boleh terjadi. Aku tidak mencuri apa pun dari toko kelontong ini. Dia tidak akan menemukan apa pun di dalam kereta belanja itu yang tidak tercantum di struk belanjaku.
Bukan begitu?
Aku memperhatikannya memeriksa carikan kertas itu dengan cermat sementara satu wadah es krim bluberi di dalam kereta belanjaanku kemungkinan besar sudah berubah menjadi cair. Jantungku berdegup kencang di dalam dada dan aku hampir tidak bisa bernapas. Aku tidak ingin kembali ke penjara. Aku tidak mau. Aku tidak bisa. Aku lebih baik mati saja.
"Baiklah." Katanya akhirnya, "Semuanya tampaknya cocok."
Aku hampir saja menangis meneteskan air mata. "Benar. Tentu saja."
Dia mendengus. "Maaf telah mengganggu Anda seperti itu, Nona Laily. Namun kami memiliki banyak masalah dengan pengutil, jadi saya harus menanggapinya dengan serius. Dan saya menerima sebuah panggilan telepon yang memberi tahu saya bahwa seorang pelanggan yang cocok dengan ciri-ciri Anda mungkin berencana untuk mengambil sesuatu."
Sebuah panggilan telepon? Siapa yang akan menelepon toko kelontong dan menggambarkan penampilanku, lalu memberi tahu petugas keamanan bahwa aku berencana untuk mencuri sesuatu? Siapa yang tega melakukan hal seperti itu?
Aku hanya bisa memikirkan satu orang yang akan melakukan hal semacam itu.
"Bagaimanapun..." Katanya, "...terima kasih atas kesabaran Anda. Anda boleh pergi sekarang."
Itu adalah empat kata paling indah dalam bahasa Indonesia. Anda boleh pergi sekarang. Aku bisa meninggalkan toko kelontong ini dengan tangan bebas, mendorong kereta belanjaanku. Aku bisa pulang ke rumah.
Untuk kali ini.
Namun aku memiliki firasat buruk bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya. Selina masih memiliki lebih banyak rencana yang sudah dia siapkan untukku.
.
.
.
.
.
.
To be continue....
Like gaes🥰
btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭