Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 14: KEBAHAGIAAN SINGKAT
Seminggu setelah hujan itu, hidup Dyon berubah total.
Bukan berubah karena tiba-tiba kaya. Bukan berubah karena dia nggak disiksa lagi—Arman, Edward, Sulaiman masih sering ngeliatin dia dengan tatapan benci, tapi mereka diem aja. Entah kenapa. Mungkin lagi nyiapin rencana baru.
Tapi Dyon nggak peduli.
Karena sekarang... dia punya Ismi.
Ismi. Pacarnya.
Kata itu aja udah bikin Dyon senyum sendiri tiap pagi bangun. *Pacar.* Dia, Dyon Syahputra—anak jalanan, yatim piatu, tidur di gubuk—punya pacar secantik Ismi.
Rasanya kayak mimpi.
Tapi ini nyata. Beneran nyata.
Hari Senin pagi, Dyon datang ke sekolah lebih semangat dari biasa. Tangan kanan masih diperban—tapi udah mulai bisa gerak dikit. Gigi depan yang patah bikin dia agak malu kalau senyum lebar—tapi Ismi bilang itu bikin dia "lucu", jadi ya udahlah.
Masuk kelas, duduk di bangku paling belakang seperti biasa. Andra udah nunggu—senyum lebar.
"Woi, muka lo kenapa ceria banget?" tanya Andra sambil nyenggol bahu Dyon. "Ada apa nih? Dapet lotre?"
Dyon ketawa kecil. "Lebih berharga dari lotre."
"Hah? Apaan?"
"Rahasia."
Andra cemberut. "Ih, pelit! Gue kan sahabat lo!"
Dyon cuma nyengir. Dia belum mau cerita ke siapa-siapa—termasuk Andra—soal hubungannya sama Ismi. Takut jadi gosip. Takut... Edward tau.
Istirahat pertama, Dyon ke kantin. Beli nasi bungkus murah kayak biasa. Duduk di meja pojok—sendirian.
Terus...
Ismi datang.
Senyum manis, bawa kotak bekal pink. Duduk di sebelah Dyon—nggak peduli tatapan anak-anak lain yang mulai bisik-bisik.
"Halo," sapa Ismi lembut.
"Halo," balas Dyon. Jantung berdebar—meskipun udah seminggu, dia masih nggak biasa. Masih nggak percaya.
"Aku bawain roti bakar cokelat," kata Ismi sambil buka kotak bekal. "Makan yuk. Nanti nasi bungkusmu simpan buat pulang."
"Tapi—"
"Nggak ada tapi. Makan."
Dyon nurut. Mereka makan bareng sambil ngobrol pelan—tentang pelajaran, tentang guru galak, tentang hal-hal kecil yang bikin mereka ketawa.
Dari kejauhan, Leonardo ngeliatin—senyum kecil. Dia seneng liat Dyon bahagia. Akhirnya.
Tapi... dari arah lain...
Edward juga ngeliatin.
Matanya tajam. Rahangnya kencang. Tangan ngepal erat—buku-buku di mejanya sampe remes.
Tapi dia diem. Cuma nonton. Nyimpen dendam di dalam hati.
---
Sore itu, setelah sekolah, Dyon sama Ismi jalan bareng. Nggak naik angkot—mereka jalan kaki. Pelan. Nikmatin sore yang anget.
"Dyon," panggil Ismi sambil ngeliatin langit yang jingga. "Kamu... kamu pengen makan apa?"
"Hah?" Dyon bingung. "Kenapa tiba-tiba?"
"Aku pengen traktir kamu," kata Ismi sambil senyum. "Udah lama aku pengen ajak kamu makan di tempat yang enak. Tapi... tapi bukan tempat mahal. Aku tau kamu nggak suka yang mahal-mahal."
Dyon senyum—hangat. Ismi ngerti dia banget. "Warteg aja. Aku suka warteg."
"Serius?" Ismi ketawa. "Warteg?"
"Serius! Nasi uduk warteg paling enak sedunia."
Ismi ngakak. "Oke deh. Ayo ke warteg."
Mereka jalan ke warteg langganan Dyon—warteg Ibu Siti di pinggir jalan, bangunan kecil, meja plastik, kursi kayu yang udah goyang satu. Tapi makanannya enak. Murah lagi.
Duduk di meja pojok. Pesan nasi uduk dua—komplit sama telor ceplok, tempe orek, sama sambel kacang.
"Wah, ini enak banget!" kata Ismi setelah suap pertama. Matanya berbinar. "Beneran enak!"
Dyon senyum lebar—meskipun gigi depannya patah bikin senyumnya aneh. "Kan gue bilang. Warteg terbaik."
Mereka makan sambil ngobrol—tentang masa depan, tentang mimpi.
"Dyon," kata Ismi pelan. "Kalau... kalau kamu udah lulus SMA, kamu mau apa?"
Dyon berhenti kunyah. Mikir sebentar. "Aku... aku pengen kuliah. Pengen jadi arsitek. Meskipun... meskipun aku tau itu susah. Hampir mustahil."
"Kenapa mustahil?"
"Karena... karena kuliah mahal. Uang pendaftaran aja jutaan. Terus uang kuliah tiap semester. Aku... aku nggak punya uang segitu."
Ismi pegang tangan Dyon di atas meja. "Kamu bisa dapet beasiswa. Kamu pinter, Dyon. Nilai kamu bagus—aku tau, aku sering liat rapor kamu di perpustakaan."
Dyon kaget. "Lo... lo stalker?"
Ismi ketawa. "Bukan stalker! Cuma... cuma penasaran aja."
Mereka ketawa bareng.
"Tapi serius," lanjut Ismi. "Kamu harus coba daftar beasiswa. Aku... aku bakal bantu kamu. Kita cari info bareng. Kita... kita usahain bareng."
Dyon menatap Ismi lama. Mata cokelat cerah yang penuh keyakinan. Senyum yang tulus.
"Kenapa... kenapa kamu sebaik ini?" tanya Dyon pelan.
"Karena aku mencintaimu," jawab Ismi sederhana. "Dan aku pengen liat kamu sukses. Aku... aku pengen liat kamu bahagia."
Dyon nggak bisa nahan. Air mata keluar—tapi bukan air mata sedih. Air mata bahagia.
"Aku... aku akan jadi orang sukses, Ismi," katanya tegas. Matanya menatap mata Ismi—serius. "Aku janji. Aku akan bikin kamu bangga. Aku... aku akan jadi arsitek. Bangun rumah buat orang-orang miskin. Bangun rumah... buat kita."
Ismi tersenyum—lembut. "Aku sudah bangga sama kamu sekarang, Dyon. Kamu... kamu yang paling kuat yang pernah aku kenal."
Mereka pegang tangan erat di atas meja—nggak peduli orang-orang di warteg pada ngeliatin.
---
Setelah makan, mereka jalan ke taman kota. Taman kecil di tengah kota—ada kolam ikan koi, bangku-bangku kayu di bawah pohon rindang, lampu taman yang mulai nyala satu-satu.
Duduk di bangku favorit mereka—paling pojok, nggak banyak orang lewat.
"Dyon," kata Ismi sambil nyandar di bahu Dyon. "Aku... aku seneng banget seminggu ini."
"Aku juga," balas Dyon. Tangan kirinya memeluk bahu Ismi—hati-hati, lembut.
"Rasanya... rasanya kayak mimpi," lanjut Ismi. "Mimpi yang nggak pengen aku bangun."
"Ini bukan mimpi," Dyon cium puncak kepala Ismi—lembut. "Ini nyata. Kamu nyata. Kita... kita nyata."
Ismi senyum. Mata merem—nikmatin kehangatan pelukan Dyon.
Mereka diem di sana—lama. Ngeliat kolam ikan koi, ngeliat anak-anak kecil main-main, ngeliat langit yang pelan-pelan gelap.
"Dyon," bisik Ismi.
"Hmm?"
"Aku... aku nggak mau kehilangan kamu."
Dyon bingung. "Kenapa tiba-tiba?"
"Aku... aku takut," kata Ismi pelan. "Takut kalau... kalau suatu hari kamu pergi. Kayak semua orang yang kamu sayang."
Dyon memeluk Ismi lebih erat. "Aku nggak akan kemana-mana. Aku... aku janji. Aku akan tetep di sini. Buat kamu."
"Janji?"
"Janji."
Ismi mengangkat kelingkingnya. "Janji kelingking?"
Dyon ketawa—geli. "Kamu masih percaya janji kelingking?"
"Iya. Karena... karena janji kelingking nggak bisa diputusin."
Dyon mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Ismi. "Oke. Janji kelingking. Aku nggak akan kemana-mana."
Mereka senyum—hangat, tulus.
Langit udah gelap sepenuhnya. Bintang mulai muncul satu-satu. Angin malam sepoi-sepoi—dingin tapi nyaman.
*Kebahagiaan.*
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dyon ngerasain kebahagiaan yang utuh. Yang nggak ada rasa takut, nggak ada rasa sakit.
Cuma... bahagia.
Tapi...
Kebahagiaan itu rapuh.
Seperti kaca.
Indah tapi rapuh.
Dan Dyon belum tau...
Kaca itu akan segera pecah.
---
**BERSAMBUNG**
**HOOK:** *Karena di balik kebahagiaan ini, Edward sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang akan menghancurkan segalanya. Dan aku... aku nggak siap.*