NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: FREKUENSI YANG SAMA

Waktu di pangkalan batalyon terpencil ini seolah memiliki detaknya sendiri—lambat namun pasti, seperti langkah baris-berbaris di lapangan rumput yang mulai menguning. Bagi Alisa, hari-hari yang dulunya terasa seperti pengasingan kini telah berubah menjadi laboratorium emosi yang kaya. Sejak pertemuan pertama dengan Satria di bawah guyuran hujan yang reda, atmosfer di rumah dinas dan joglo batalyon tidak lagi sama. Ada sebuah kehadiran baru yang mengisi celah-celah sepi di antara tumpukan buku dan aroma kopi. Satria bukan lagi sekadar tamu atau perwira teknik; ia telah menjadi bagian dari rutinitas yang dinanti.

Perubahan paling mendasar terasa pada cara Alisa menyapa pemuda itu. Panggilan formal "Lettu Satria" atau "Pak Satria" perlahan luruh, terkikis oleh diskusi-diskusi panjang yang menembus malam. Kini, sebutan "Kak Satria" mengalir begitu saja dari bibir Alisa, menciptakan sebuah jembatan keakraban yang membuat jarak usia dan pangkat seolah memudar. Bagi Alisa, memanggil "Kakak" adalah bentuk kenyamanan yang belum pernah ia berikan pada pria mana pun selain Ayahnya—sebuah pengakuan bahwa Satria telah mendapatkan tempat di dalam lingkaran kepercayaannya.

Sore itu, joglo batalyon kembali menjadi saksi bisu kedekatan mereka. Sinyal internet yang dibangun dengan susah payah oleh Cakra dan Damar sedang berada pada performa terbaiknya. Alisa duduk bersila di atas kursi kayu jati yang lebar, laptopnya terbuka menampilkan draf novel kedua yang kini sudah mencapai bab pertengahan. Di seberangnya, Satria sedang sibuk dengan skema jaringan nirkabel, namun perhatiannya lebih banyak tercurah pada setiap kalimat yang sesekali dibacakan Alisa untuk meminta pendapat.

"Kak Satria, kalau di medan tugas yang sebenarnya, apakah seorang perwira komunikasi boleh meninggalkan posnya hanya untuk menyelamatkan satu orang?" tanya Alisa, jemarinya menggantung di atas papan ketik.

Satria meletakkan bolpoinnya, menatap Alisa dengan sorot mata yang hangat dan penuh pertimbangan. "Secara protokol, tugas adalah yang utama, Alisa. Tapi secara manusiawi... setiap orang punya 'pos' yang berbeda-beda di hatinya. Kadang, menyelamatkan satu orang itu berarti menyelamatkan seluruh alasan kita untuk tetap berjuang. Masukkan saja sisi itu ke ceritamu. Jangan buat ksatria itu seperti mesin tanpa perasaan."

Alisa tersenyum, lalu mengetik dengan cepat. "Terima kasih, Kak. Penjelasan Kakak selalu membuat logikaku tidak macet."

Satria hanya terkekeh pelan. Ia menyukai cara Alisa menatapnya—penuh rasa ingin tahu dan kepercayaan. Bagi Satria, Alisa adalah fenomena unik. Ia adalah putri seorang Mayor yang disegani, namun memiliki kelembutan seorang penyair. Ia bisa sangat disiplin menyiapkan keperluan Ayahnya, namun bisa sangat rapuh saat menceritakan kenangan tentang Ibunya. Di mata Satria, Alisa adalah sebuah novel yang belum selesai ditulis, dan ia merasa beruntung bisa menjadi salah satu pembaca setianya.

Di teras kantor markas yang jaraknya hanya selemparan batu, Mayor Cakra berdiri tegak, tangannya bersedekap di dada. Matanya tajam mengawasi interaksi di joglo. Ia melihat bagaimana Alisa tertawa kecil saat Satria melakukan gerakan tangan yang lucu, atau bagaimana Satria membenarkan letak kabel pengisi daya laptop Alisa dengan gerakan yang sangat perhatian. Rasa jengah itu kembali merayap di hati Cakra. Ada sensasi panas yang tidak nyaman di dadanya—rasa cemburu seorang ayah yang merasa dominasinya di hati sang putri mulai terancam.

"Masih di sana juga mereka?" suara berat Damar tiba-tiba muncul dari belakang, mengejutkan Cakra yang sedang serius memantau.

"Mereka itu terlalu sering bersama, Damar. Satria itu teknisi atau guru privat sastra? Pekerjaannya di ruang server sudah selesai semua?" gerutu Cakra tanpa mengalihkan pandangan.

Damar tertawa lebar, menepuk pundak sahabatnya itu hingga Cakra sedikit terguncang. "Cra, anakmu itu sudah besar. Dia butuh teman bicara yang frekuensinya sama. Satria itu anak yang baik, berprestasi, dan yang paling penting... dia mengerti Alisa. Jangan kau jadikan markas ini seperti penjara kuno. Lihat Alisa, dia jauh lebih ceria sejak Satria ada di sini."

"Aku tidak melarang dia berteman," sanggah Cakra cepat. "Aku cuma... aku cuma merasa Satria terlalu banyak mengambil waktu Alisa. Seharusnya Alisa belajar untuk persiapan ujian masuk universitas, bukan hanya tertawa-tawa membicarakan fiksi."

Damar hanya menggelengkan kepala. Ia tahu betul Cakra sedang berbohong pada dirinya sendiri. Cakra hanya takut kehilangan satu-satunya alasan yang membuatnya tetap memiliki 'rumah' di hati putrinya. Bagi Cakra, Alisa adalah wilayah yang harus ia proteksi seumur hidup, dan kehadiran pria lain adalah bentuk invasi yang sulit ia terima secara emosional.

Kedekatan Alisa dan Satria tidak hanya dibangun di atas diskusi pekerjaan. Ada saat-saat sunyi di mana mereka saling berbagi potongan masa lalu. Suatu malam, ketika kabun gunung turun menyelimuti pangkalan, Satria menceritakan tentang masa kecilnya yang juga berpindah-pindah asrama karena ayahnya adalah seorang sersan.

"Aku tahu rasanya menjadi 'anak pangkalan', Alisa," bisik Satria. "Rasanya seperti tidak punya akar yang pasti. Setiap kali kita mulai suka pada satu tempat, surat perintah pindah datang dan kita harus mengepak koper lagi. Makanya, aku belajar mencintai hal-hal yang tidak bisa hilang oleh kepindahan: pengetahuan dan perasaan."

Alisa menatap Satria dengan dalam. "Itu sebabnya Kak Satria begitu baik padaku? Karena Kakak tahu rasanya kesepian di tempat baru?"

Satria menggeleng pelan, lalu menatap langsung ke mata Alisa. "Bukan karena itu. Aku baik padamu karena kamu adalah Alisa. Kamu punya dunia yang indah di dalam kepalamu, dan aku hanya ingin menjadi orang yang menjaganya agar tetap aman. Kamu tahu, Alisa? Pangkalan itu bukan soal koordinat di peta, tapi soal di mana hatimu merasa diterima."

Alisa merasakan pipinya menghangat. Panggilan "Kak Satria" kini bukan sekadar sapaan, tapi sebuah jangkar. Di tengah dunia militer yang serba pasti dan kaku, Satria memberinya ruang untuk menjadi rapuh, untuk menjadi peragu, dan untuk menjadi dirinya sendiri tanpa perlu takut dinilai sebagai anak yang tidak mandiri.

Meski Cakra sering memberikan tugas tambahan pada Satria agar pemuda itu tidak punya waktu untuk mampir ke joglo, Satria selalu menemukan jalan. Ia akan menyelesaikan tugasnya lebih cepat, atau sengaja membawakan dokumen "penting" ke rumah dinas hanya agar bisa berpapasan dengan Alisa sebentar.

Pernah suatu kali, Cakra sengaja duduk di antara mereka saat makan malam, menciptakan suasana yang sangat menegangkan. Cakra menanyai Satria soal taktik komunikasi dengan sangat detail, seolah sedang menguji perwira di medan perang. Namun, Satria menjawab dengan tenang dan penuh hormat, tanpa sedikit pun terlihat terintimidasi. Alisa hanya bisa tersenyum di balik gelas air minumnya. Ia melihat dua orang pria terpenting dalam hidupnya sedang melakukan "perang dingin" kecil, yang uniknya, didasari oleh rasa sayang pada orang yang sama.

"Kak Satria, besok jangan lupa bantu aku mengecek draf bab sepuluh ya," kata Alisa dengan nada sengaja dikeraskan di depan Ayahnya.

Cakra berdehem keras. "Besok Satria harus ke pos perbatasan untuk mengecek radio. Jadwalnya padat."

Satria menoleh pada Alisa, lalu melirik Cakra dengan senyum sopan. "Siap, Mayor. Saya akan berangkat subuh agar siang hari sudah bisa kembali untuk membantu Alisa."

Cakra hanya bisa menghela napas pasrah. Kekakuan militernya perlahan-lahan runtuh oleh kegigihan Satria dan keteguhan Alisa. Ia mulai menyadari bahwa hubungan mereka adalah sesuatu yang alami, sesuatu yang tidak bisa ia cegah hanya dengan surat perintah atau jam malam.

Malam itu, setelah Satria pamit kembali ke barak, Alisa berdiri di teras rumah dinas bersama Ayahnya. Mereka berdua menatap bintang-bintang yang tampak begitu terang di langit gunung yang bersih.

"Yah," panggil Alisa pelan.

"Hmm?" jawab Cakra singkat, masih dengan nada sedikit ketus yang dibuat-buat.

"Terima kasih sudah membiarkan Kak Satria di sini. Dia orang baik, Yah. Dia membuatku merasa... tidak sendirian lagi saat Ayah sedang bertugas."

Cakra terdiam cukup lama. Ia melihat bayangan dirinya di dalam diri Alisa—keras kepala namun setia. Ia menyadari bahwa ia tidak akan selamanya bisa menjadi penjaga pangkalan bagi Alisa. Suatu saat nanti, Alisa akan membangun pangkalannya sendiri, dan mungkin, Satria adalah orang yang akan membantunya membangun fondasi itu.

"Asal dia tidak membuatmu lupa pada Ayah," gumam Cakra akhirnya, suaranya melembut.

Alisa tertawa pelan, lalu memeluk lengan kekar Ayahnya. "Tidak akan pernah, Yah. Ayah tetap Komandan tertinggiku."

Di kegelapan malam, Cakra akhirnya tersenyum tipis. Rasa jengah itu masih ada, rasa protektif itu tetap siaga, namun kini ada sedikit rasa tenang. Ia tahu putrinya berada di tangan yang tepat. Dan bagi Alisa, setiap ketikan di laptopnya kini memiliki irama baru—sebuah cerita tentang ksatria lama dan ksatria baru yang secara perlahan belajar untuk berbagi tugas menjaga satu hati yang sangat berharga.

Kedekatan mereka bukan lagi sekadar teman riset atau rekan di pangkalan. Antara Alisa dan Satria, frekuensi itu sudah tertata rapi, memancar kuat di tengah hutan sunyi, menghubungkan dua jiwa yang akhirnya menemukan tempat untuk berlabuh.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!