Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14🩷 Shock therapy
Parsel buah itu di taruh di meja. Benar-benar diantara keduanya. Definisi, ada parsel buah diantara kita.
Dea sama sekali tak ingin menawarinya minum, justru Rifal disuguhi dengan wajah judes Dea. Dan lagi-lagi mama Sarah lah yang membawa minum, "suka es teh manis, kan? Atau suka teteh-teteh manis?" kelakarnya pada Rifal yang tersenyum meringis. Sungguh bukan Rifal, yang biasanya akan memasang tampang datar, kaku dan jutek.
Sementara Dea hanya menatap getir mama, "De, ini temen kelas bukan?"
Dea menggeleng, "Rifal, Tante. Sekelas sama Nara..." jawab Rifal, membuat wanita paruh baya yang masih cantik di usianya ini terkekeh dan ber-oh ria, "sampe repot-repot bawa buah tangan segala, makasih udah jenguk."
"Sama-sama tante."
Sepeninggal mama, kini keduanya diam, baik Dea atau Rifal sama-sama tak ada yang memulai obrolan.
"Udah kan? Pulang sana." Usir Dea menatapnya sengit. Gila kalau memang Dea tak mengusirnya. Namun setelah itu Dea memalingkan wajahnya, di sebelah gadis itu---oh rupanya sebelum kehadirannya gadis itu tengah membaca novel bersama bantal, Minion? Yang benar?!
"Gue ngga pernah liat Lo pake kacamata ke sekolah.."
Dea kembali meringis tak percaya, jika hal itu akan dibahas disini, "penting?"
Oke, Rifal diam...apa kata Rama dulu? Otaknya berpikir keras, oh!! "rejeki itu bukan cuma uang, atau barang tapi orang-orang baik. Termasuk orang yang besuk, apalagi bawa buah tangan. Jadi ngga boleh ditolak kehadirannya."
Serius?! Bahkan Dea sama sekali tak terlihat ingin mendengar ceramah.
"Lo lagi ceramah?" tanya Dea.
Mungkin jika MIPA 3 tau dan melihat, ia sudah habis ditertawakan. Nyatanya apa yang Rama ucapkan kenapa tak semudah itu ia praktekan.
"Rama yang bilang."
"Oh, si preman pasar?" tukas Dea yang langsung digelengi Rifal, "anak juragan daging."
Dengusan Dea terlihat begitu sumbang, tak suka bahkan Rifal mulai merasa jika sikap Dea ini sudah keterlaluan menganggap Rama itu-----
"Ngga suka ya? Kenapa? Dari dulu tuh, gue cuma pengen nanya, ada masalah apa antara geng Lo ini sama MIPA 3, perasaan ngga ada yang pernah ganggu kalian?"
Dan pertanyaan Rifal itu, Dea pun menyesalinya sebab ia tak bisa menjawab secara spesifik. Ia hanya-----mulai tertampar, kenapa??
"Ngga tau. Ngga suka aja, dia, kalian tuh....tengil, ngerasa paling hebat, kasar, terus---"
Rifal menyeringai, "iri?"
Tatap Dea langsung mengarah pada mata Rifal, ck! "Lo pulang deh."
Rifal justru menggeleng dan meraih gelas teh dan meneguknya, "lah, yang punya rumah aja udah kasih ijin sama jamuan kok. Ngapain pulang cepet-cepet...masih betah." jawabnya tengil dan menyenderkan punggungnya di sofa. Wajah kesal Dea itu malah terlihat lucu di mata Rifal.
Tak tau, ia justru semakin betah melihat Deanada Kharisma, "gue kesini sekalian mau lanjutin obrolan kemaren. Karena Lo malah...pulang." Rifal mengangguk mencari kata yang tepat agar tak menyinggung Dea.
Dea menekan kacamatanya membuat mata bulat itu semakin terbingkai sempurna dan gerakan selanjutnya bibirnya itu melengkung sebal, damageee! Rifal meneguk salivanya, gemas sekali!
"Gue mau minta maaf. Dan Lo belum jawab itu."
"GA." Tukasnya cepat dan ketus sembari melotot, "pulang."
Rifal justru semakin nyaman bersandar. Keduanya saling menatap, dimana Dea menatapnya tajam menukik, sementara Rifal, ia tersenyum tengil sembari sesekali meneguk es teh manis.
Namun dari luar suara Inggrid, Gibran terdengar memanggilnya lirih, "Dee! Are you home?"
Dan obrolan santai mereka terdengar renyah setelahnya namun mampu membuat Dea gelagapan, "gawat. Lo mesti balik...itu temen-temen gue, ngga boleh liat Lo disini!"
"De, yuhuuu!"
Dea bahkan sudah meraih kontak lensa yang buru-buru membukanya dan melepas kacamata, "Lo mesti buruan balik." Paniknya memakai kontak lensa, dan semua itu dilihat Rifal.
"Gue ngga akan balik sebelum Lo iya dulu, kalo masalah kemarin clear."
"Ck."
"De, Dea tidur ya?"
"Guys lewat depan ya!!!" teriak Dea.
"Fal, pergi!" perintah Dea berbisik menekankan, setelah berhasil memasang kontak lensa dan menaruh kacamatanya.
Namun Rifal terlihat bertahan, bahkan ketika Dea heboh menaruh parsel buah darinya.
"Oke...oke. Masalah di rumah sakit kita lupain aja. Lagian gue ngga mau inget-inget lagi hal begituan." Ucap Dea membuat Rifal tersenyum, tanpa sadar ia sudah menarik tangan Rifal mengingat ketiga temannya itu tengah membuka sepatu di depan.
Rifal digusur Dea ke arah dapur dimana ada pintu yang langsung menghubungkan ke arah carport. Rifal melihat tangan Dea yang memegang tangannya itu, "kenapa ngga ketemu aja sih, gue ngga takut mau dikeroyok mereka bertiga disini, cuma karena jenguk Lo."
Deee!
"Lo gila, ya...bukan cuma lo doang yang bakal dikeroyok, tapi gue juga." Dea sudah membukakan pintu dapur dan melongokan kepala, oke mereka sudah masuk ke dalam, "pergi..."
"Tapi tas gue masih di dalem." Ucap Rifal santai, ingin sekali Dea menggetok kepala Rifal dengan teflon, "damn Rifal." umpatnya menggemaskan sekali ketika panik dan marah begini membuat Rifal tak bisa menahan tawa kecilnya.
"Tasnya nanti gue yang taroin."
"Lah, gue besok sekolah gimana? Masa mau pake kresek?" Dan mata Rifal masih menatap Dea.
"Guys gue bikin minum ya!" teriak Dea lagi ke depan.
"Nanti gue anter ke rumah."
"Nomor Lo mana?" tanya Rifal, "nanti gue kasih alamat gue."
"Nanti gue minta Nara. Pulpen di dalem, susah. Lo sekarang pergi dulu." Dea mendorong Rifal keluar dari pintu, dan segera menutup pintu dapur.
Huffft! Dea menghela nafasnya.
Mama Sarah baru keluar dari kamar mandi, "ada Inggrid?"
Dea mengangguk, "Ma, nanti sama Inggrid jangan bahas Rifal ya." Senyum Dea lebar namun nyengir kuda.
"Kenapa?" untung saja mama hanya meringis saja saat Dea meraih 3 gelas untuk ia buat es teh manis.
"Sini biar mama aja." Mama mengambil alih, "udah minum obat belum?" mama bahkan menempelkan punggung tangannya di leher Dea, yang diangguki Dea.
"Alhamdulillah, jangan keterusan...mau ke Ciwidey. Mana dingin." Ucap mama diangguki Dea yang kemudian bergegas ke depan, wajahnya cukup khawatir dan tegang manakala melihat tas Rifal di samping sofa yang di duduki Gibran, dimana mereka asik mengobrol.
"De...gimana? Udah baikan?"
"Udah. Tapi masih ada sedikit demam sama pusing. Tenggorokan gue masih sakit." Dea duduk mencoba menyingkirkan tas Rifal dan menyembunyikan itu di tempat yang lebih tersembunyi, "ya ampun, mas Elok, tas dimana-mana..." lirihnya. Sementara Rifal sudah berhasil keluar dan pulang.
"De, tadi gue liat motor di depan rumah, motor siapa?" tanya Inggrid diangguki Gibran.
"Kurir paket lagi bukan, De? Padahal udah sempet ditegur RT kemaren kan?" tanya Gibran seiring dengan mama yang membawa es teh manis.
"Baru pada pulang ini tuh?"
"Iya Tante."
"Loh!" mama terlihat terkejut dan aneh, bukan Inggrid dan Gibran yang panik dan khawatir, melainkan Dea. Takut jika mama membahas Rifal.
Mama lantas melirik jam dinding, "kok baru pulang, ada ekskul?"
Dea sudah menghela nafasnya lemas.
"Iya, habis makan dulu di cafe baru, Tante..." jawab Willy.
"Iya loh, Tan...cafenya bagus. lagi ada promo grand opening, cocok buat arisan."
"De, keringetan gitu?" Gibran cukup peka melihatnya.
"Oh, efek obat demam." Jawab Dea.
.
.
.
.
ini air mataku balek lagi nih, aku sedih... kenapa kamu bikin jokes bapak² sih Rio 🥺
jadi LDR nggak ada di kamus percintaan mu kan fal
tapi gak tau juga seh kalau kamu tipe nya mengusahakan nggak LDR, misal Dea pindah tempat tinggal , kamu nyusul
blm baca tp komen dulu ini...
kaget bngt kenapa udah puluhan bab tp GK dpt notif auto nangis kejer ini AQ
😭😭😭😭😭 pdhl AQ tengok bolak balik profil teh sin juga GK ada.... hah gilakkk....