Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penilaiaan Ulang
Satu hari setelah kejadian...
Anne biasanya tidak pernah memperhatikan siapa pun selain dirinya sendiri.
Hari itu berbeda.
Dari koridor, matanya mengikuti satu sosok Bonnie.
Bonnie duduk di bangku paling belakang kelas 3 E.
Kepala bertumpu di lengan mata terpejam tidak bicara tidak tertawa.
Tidak ada geng.
Tidak ada suara.
Anne berhenti melangkah, “Dia sendirian?” gumamnya pelan.
Anne pura-pura lewat depan kelas 3 E.
Tak ada yang berubah Bonnie tetap tidur tak ada yang menegur, tak ada yang menyapa.
Anne melangkah pergi dengan perasaan aneh di dadanya.
Jam istirahat Anne berdiri di depan gudang olahraga.
dia ragu sejenak lalu membuka pintu.
Asap rokok menyambutnya Bonnie duduk di tempat yang sama seperti biasa rokok di jari, tatapan kosong.
“Lo mau ngelapor lagi?” tanya Bonnie santai tanpa menoleh.
Anne menggeleng, “nggak.”
Bonnie menoleh alisnya terangkat sedikit, “Aneh,” katanya. “Biasanya lo tukang lapor,”
Anne melangkah masuk, berdiri tidak terlalu dekat, “Aku ke sini bukan untuk itu.”
“Terus?”
Anne menarik napas, “Semalam… aku nggak mengucapkan terima kasih dengan benar.”
Bonnie diam, “Aku takut,” lanjut Anne pelan.
“Dan gengsi." Potong Bonnie
Bonnie menghembuskan asap ke samping, “Wajar Anak baik-baik.”
Anne menatapnya.
“Terima kasih. Karena kamu mengejar mereka." Ucapannya terhenti sejenak " Karena kamu mengembalikan tas ku, dan… karena kamu tidak memanfaatkan situasi.”
Bonnie mematikan rokoknya di lantai, “Sama-sama,” katanya singkat.
Hening
“Kamu memang berandalan,” kata Anne jujur. “Tapi kamu tidak jahat.
Bonnie terkekeh, “Gue tau.”
Bonnie menatapnya lama, “Penilaian ulang?”
“Ya.”
Bonnie berdiri.
“Jangan disebarkan. Gue nggak pengen dapet reputasi baik.”
Anne mengangkat alis, “Kamu takut?” Anne berhenti sejenak, "Kalau Aku bilang ke orang kamu baik,"
“Gue cuman males menjelaskan,” Jawab Bonnie datar.
Anne mengangguk kecil, "Ok aku nggak akan bilang siapa-siapa,"
Sebelum Anne beranjak dari tempat itu dia menoleh ke arah Bonnie.
“Sampai jumpa, Bonnie.” kata Anne lagi.
Bonnie melirik sekilas, “Jangan sering-sering ke sini.”
“Kenapa?” Anne sedikit terkejut.
“Orang bisa salah paham.”
Anne hanya mengangguk kemudian menutup pintu gudang.
Bonnie berdiri sendirian, untuk pertama kalinya…
ucapan terima kasih terasa lebih berat daripada tuduhan.
***Jam Istirahat — Hari Berikutnya**
Gudang olahraga kembali sunyi pintu terbuka pelan.
Bonnie mendongak, alisnya langsung naik.
“Lo lagi?” nada suaranya datar, tapi jelas heran.
Anne mengangguk sambil mengangkat kantong kertas di tangannya.
“Jam istirahat.” kata Anne ceria
“Gue tau, makannya gue ngerokok,” sahut Bonnie.
Anne melangkah masuk. “Aku bawa makanan.”
Bonnie menatap kantong itu beberapa detik, “Kenapa?”
“Karena aku perhatiin,” kata Anne jujur,
“Kamu nggak pernah ke kantin, nggak pernah makan bakso, nggak pernah nongkrong.”
Bonnie menyeringai kecil, “Lu merhatiin gue.”
Anne meletakkan bekal di lantai,“ Ini bukan karena aku tertarik.”
Bonnie mendengus, “Bagus. Gue juga nggak lagi nyari temen.
Hening.
Aroma makanan pelan-pelan menyebar bonnie melirik, “Isinya apa?"
“Nasi, ayam goreng, tempe , tahu Biasa.” Jawab Anne menjelaskan.
Bonnie menghela napas, “Oke. Gue makan.”
Anne tersenyum kecil lalu Bonnie menambahkan:
“Tapi ada syarat nya.”
Anne mengangkat alis, “Apa?”
“Setelah ini, jangan datang lagi ke gudang.”
Anne terdiam sesaat, “Kenapa?”
“Ini tempat gue.” Bonnie membuka bekal itu.
“Dan gue nggak nyaman lo di sini.”
Anne mengangguk pelan, “Oke.”
Bonnie mulai makan lahap tanpa basa-basi.
Anne duduk agak jauh, memerhatikan Bonnie dia berkata dalam hatinya.
Dia… tampan.
Rahang tegas.
Hidung mancung lurus.
Mata tajam.
Bukan tipe cowok manis, tapi tipe yang bikin orang takut duluan sebelum kenal.
“Kalo mau ngeliatin, jangan diem-diem,” kata Bonnie tanpa menoleh.
Anne kaget, “Ma—maaf,"
Anne tersenyum kecil tak sadar.
“Kenapa senyum?” tanya Bonnie.
“Nggak apa-apa,” jawab Anne cepat, “Lucu aja.”
“Apa yang lucu dari orang makan?”
“Kamu lucu kalau lagi makan.”
Bonnie terkekeh pendek.
“Hah, Lo aneh.”
Anne tertawa pelan.
Bonnie menghabiskan makanannya, menutup kotak bekal. “Terimakasih Anne,” kata Bonnie singkat.
Anne berdiri, seraya berkata“Sama-sama Bonnie,"
Anne melangkah ke pintu.
Sebelum Anne keluar Bonnie bilang:
“Anne.”
Anne menoleh.
“Lo nggak seburuk yang gue kira.”
Anne tersenyum, “Kamu juga.”
Pintu tertutup Bonnie duduk sendiri lagi.
Tapi hari itu untuk pertama kalinya… Bonnie tidak merasa lapar.
***Gang Dekat Les Musik***
Malam itu Anne berdiri di pinggir gang, tas biola digendong di punggung.
Matanya celingak-celinguk sepi lampu jalan mulai menyala satu-satu.
“Nyari siapa?” Suara itu bikin Anne menoleh cepat.
Bonnie berdiri di dekat motor, jaket hitam, helm masih di tangan.
“Oh.” Anne menghela napas lega. “Bonnie,”
Bonnie mengernyit, “Lu ngariin gue ada apa?.”
Anne berdiri lebih dekan ke arah Bonnie “Bonnie, bisa anterin aku pulang?”
Bonnie menatapnya heran, “Kenapa minta tolong ke gue?”
Anne mengangkat bahu,“Hari ini aku nggak dijemput sopir.”
“Kan ada ojek online,” jawab Bonnie santai.
Anne menatapnya serius, “Aku lebih ngerasa aman kalau di antar kami.”
Bonnie terdiam, Alisnya naik.
“Lo sadar nggak lagi ngomong ke siapa?”
Anne mengangguk, “Sadar.”
Bonnie mendecak pelan, "Lu berteman sama orang yang salah,”
“Bisa jadi,” Anne tersenyum kecil, “Tapi aku mau berteman sama kami.”
Bonnie menoleh ke motornya, lalu ke Anne lagi, “Gratisan?”
Anne cepat menggeleng, “Nggak.”
merogoh tas, “Aku bayar.”
Bonnie menatapnya lama, “Lo nawarin gue jadi sopir,”
“Anggap aja freelancer,” jawab Anne tenang.
Bonnie terkekeh kecil, “Gue mahal.”
“Berapa?” Anna bertanya serius.
Bonnie berpikir sebentar lalu berkata, “Es teh manis. sama Nasi padang.”
Anne tersenyum, “Deal.”
Bonnie menghela napas, “Oke.”
Bonnie memberikan helm “Pake.”
Anne menerimanya, sedikit canggung,
“Jalannya Pelan ya.” kata Anne lagi
Bonnie naik ke atas motor, “Pegangan yang kuat.”
Anne naik, ragu-ragu memegang jaketnya.
“Bukan segitu,” kata Bonnie, “Jatuh nanti.”
Anne memegang lebih erat melingkarkan tangannya
Tanpa Bonnie sadari dia tersenyum kecil, nyaris tak terlihat.
“Berangkat.” Motor melaju keluar gang.
Dan entah kenapa… Anne merasaini jauh lebih aman daripada ojek online mana pun.