NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Bos yang dingin dan menuntut

Bos yang dingin dan menuntut ini ternyata menyimpan rencana besar yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar penggusuran kedai kecil miliknya. Anindira berdiri mematung di tengah ruangan berdebu itu sambil menatap map yang memuat nama mendiang ibunya. Ia merasakan sebuah getaran hebat merambat dari telapak kakinya hingga ke jantung saat menyadari betapa dalam Devan telah menggali masa lalunya.

Devan melangkah mendekat ke arah tumpukan arsip tersebut dengan ekspresi yang tetap datar dan sulit dibaca. Cahaya lampu yang sangat redup menciptakan bayangan panjang yang nampak sangat mengancam di dinding bangunan tua itu. Ia mengambil map tersebut lalu menyerahkannya langsung ke tangan Anindira yang masih gemetar karena rasa terkejut yang luar biasa.

"Baca bagian halaman terakhir, dan beri tahu saya apa yang Anda lihat di sana," perintah Devan dengan suara yang sangat rendah.

"Mengapa Anda memiliki dokumen pribadi milik keluarga saya, Tuan?" tanya Anindira sambil berusaha menahan tangisnya.

Anindira membuka lembaran kertas yang sudah mulai menguning itu dengan gerakan yang sangat perlahan-lahan dan penuh dengan rasa takut. Matanya membelalak saat melihat sebuah surat wasiat yang menyatakan bahwa sebagian besar saham perusahaan seharusnya jatuh ke tangan ibunya. Kebenaran ini adalah sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh ayahnya dengan sangat rapi melalui berbagai-macam tipu daya hukum.

Ia merasakan dadanya sesak karena menyadari bahwa pengusiran dirinya lima tahun lalu bukan sekadar karena masalah aib semata. Ada kepentingan harta yang jauh lebih besar yang membuat ibu tiri dan ayahnya begitu tega membuangnya ke jalanan seperti sampah. Devan memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Anindira dengan tatapan yang sangat tajam dan sangat teliti.

"Ayah Anda bukan hanya seorang penguasa yang kejam, tetapi juga seorang pencuri hak milik orang lain," ujar Devan dengan nada bicara yang penuh dengan kebencian.

"Lalu apa hubungannya semua ini dengan posisi saya sebagai asisten Anda, Tuan Devan?" tanya Anindira sambil menuntut penjelasan yang lebih jujur.

Devan tidak segera menjawab dan justru berjalan menuju jendela yang tertutup oleh papan kayu yang sudah sangat lapuk. Ia menjelaskan bahwa dirinya juga merupakan korban dari intrik keluarga Adiguna yang haus akan kekuasaan dan kekayaan pribadi. Pria itu membutuhkan seseorang yang memiliki motivasi dendam yang sama kuatnya untuk meruntuhkan dinasti tersebut dari dalam sistem mereka.

Anindira menyadari bahwa dirinya kini bukan lagi sekadar pelarian yang sedang bersembunyi di balik nama samaran yang sederhana. Ia telah direkrut menjadi senjata rahasia oleh pria yang dikenal sebagai iblis di dalam ruang rapat dewan direksi. Meski merasa sangat ngeri, ada secercah harapan di hatinya bahwa ia bisa mendapatkan kembali apa yang menjadi hak milik putranya nanti.

"Saya akan membantu Anda, tetapi tolong jangan pernah libatkan anak saya ke dalam urusan berdarah ini," tegas Anindira dengan keberanian yang mendadak muncul.

"Kesepakatan tercapai, sekarang bersihkan wajah Anda karena kita harus kembali ke kantor pusat sebelum rapat malam dimulai," sahut Devan sambil melangkah keluar.

Perjalanan kembali ke kantor pusat grup Adiguna terasa jauh lebih berat dengan beban rahasia yang baru saja ia ketahui dari mulut Devan. Anindira duduk di kursi belakang mobil sambil memandang ke luar jendela, memikirkan Arkan yang mungkin sudah tertidur lelap di rumah Bibi Mirna. Ia harus pandai bersandiwara di depan semua orang agar rencananya tidak hancur berantakan sebelum sempat dimulai dengan baik.

Sesampainya di gedung pencakar langit itu, Devan langsung memberinya tumpukan-tugas baru yang sangat menuntut ketelitian tingkat tinggi. Anindira dipaksa untuk memeriksa ribuan data transaksi keuangan yang nampak sangat mencurigakan selama sepuluh tahun terakhir pimpinan ayahnya. Ia bekerja tanpa henti di bawah pengawasan langsung dari Devan yang tidak memberikan toleransi sedikit pun pada kesalahan kecil.

"Jika Anda salah memasukkan satu angka saja, maka seluruh rencana kita akan terbongkar oleh tim audit mereka," tegur Devan saat melihat Anindira sedikit melamun.

"Maafkan saya, Tuan, saya akan lebih fokus dan memastikan semua data ini akurat sesuai dengan arsip asli," jawab Anindira sambil memperbaiki posisi kacamatanya.

Malam semakin larut dan suasana kantor pusat menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara ketikan papan tombol komputer milik Anindira. Devan masih duduk di meja kerjanya sambil membaca beberapa dokumen hukum yang nampak sangat rumit dan sangat tebal. Anindira sesekali mencuri pandang ke arah bosnya dan mulai bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu pria tersebut.

Tanpa ia sadari, Devan bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati meja kerja Anindira dengan membawa sebuah botol air mineral. Ia meletakkan botol itu di samping tangan Anindira dan menatapnya dengan tatapan yang sedikit lebih lembut dari biasanya. Namun, kelembutan itu segera hilang saat ia kembali memberikan instruksi untuk agenda pertemuan besok pagi yang sangat padat.

"Besok jam tujuh pagi Anda harus sudah berada di sini untuk menyiapkan presentasi rahasia di depan para pemegang saham," perintah Devan tanpa bantahan.

"Baik, Tuan, saya akan datang tepat waktu dan memastikan semuanya sudah siap untuk Anda gunakan," balas Anindira dengan nada suara yang patuh.

Anindira akhirnya diperbolehkan pulang saat jam menunjukkan pukul dua pagi, saat jalanan kota sudah sangat sepi dan sangat dingin. Ia berjalan menuju parkiran dengan langkah yang gontai karena rasa lelah yang amat sangat mulai menyerang seluruh persendian tubuhnya. Saat hendak masuk ke dalam taksi, ia merasakan seseorang sedang mengawasinya dari balik bayangan pilar beton yang gelap gulita.

Rasa takut kembali menyergapnya saat ia menyadari bahwa musuhnya mungkin sudah mulai mencium keberadaan orang baru di sekitar Devan. Ia segera menutup pintu taksi dan meminta sopir untuk melaju secepat mungkin menuju kawasan pemukiman penduduk yang lebih ramai. Sepanjang jalan, ia terus berdoa agar rahasianya tetap terjaga demi keselamatan nyawa Arkan yang sangat ia cintai.

Keesokan paginya, Anindira kembali ke kantor dengan semangat yang baru meski matanya nampak sedikit sembab karena kurang tidur. Ia segera menyiapkan ruangan rapat dan menyemprotkan pengharum ruangan agar suasana menjadi lebih nyaman bagi para tamu penting. Namun, saat ia sedang merapikan kursi pimpinan, ia mencium sesuatu yang sangat tidak asing bagi indra penciumannya.

Aroma parfum itu sangat khas, manis namun memiliki sentuhan yang sangat tajam dan sangat menusuk ke dalam rongga hidung. Anindira mematung di tempatnya berdiri saat pintu ruangan rapat terbuka dan menampakkan sosok wanita yang paling ia hindari. Aroma parfum yang familiar ini seolah menjadi pertanda bahwa badai besar akan segera datang menerjang hidupnya sekali lagi.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!