NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMILIH MEMAAFKAN ATAU MENUNTUT

Bab 13..

DESA AMBULU – DUA HARI SETELAH PENANGKAPAN

Keputusan itu mengejutkan banyak orang.

O Kim Eng dan O Alung tidak ditahan.

Bukan karena kurang bukti—

melainkan karena Sandi dan tim tidak membuat laporan resmi pidana atas intimidasi dan penyerangan.

Kasus obat kedaluwarsa tetap berjalan di jalur administrasi dan kesehatan.

Sanksi berat menanti.

Namun untuk konflik fisik dan teror, Sandi memilih jalan lain.

“Bukan karena saya lupa,” katanya pada Pak Kades,

“tapi karena saya ingin mereka berhenti… bukan membusuk di penjara.”

Akhirnya, kepolisian memutuskan:

Wajib lapor

Pengawasan ketat

Larangan membuka usaha obat sementara

O Kim Eng menerima keputusan itu dengan kepala tertunduk.

Sore itu, sebuah undangan datang ke Puskesmas.

Undangan makan malam.

Dari rumah O Kim Eng.

Amelia membaca undangan itu pelan.

“Ini… serius?”

Bima menyandarkan punggung ke dinding.

“Orang yang anak buahnya kita bikin babak belur?”

Eren menyeringai tipis.

“Kalau ini jebakan, gue paling depan.”

Sandi terdiam sejenak, lalu berkata pelan,

“Kalau kita percaya pada damai… kita harus berani duduk satu meja.”

Malamnya, mereka datang.

Rumah O Kim Eng bersih dan terang. Tak ada penjaga. Tak ada aura ancaman.

Di meja makan, pecel lele tersaji rapi—

ikan digoreng kering sempurna, sambal merah menyala, lalapan segar, nasi hangat mengepul.

Disusun rapi.

Nyaris seperti restoran mewah.

O Kim Eng berdiri menyambut mereka.

“Saya minta maaf,” katanya lirih.

“Untuk semua yang saya lakukan.”

O Alung ikut menunduk.

“Kalau bukan karena kalian,” katanya pelan,

“saya mungkin masih mengira kekerasan itu solusi.”

Suasana canggung menyelimuti meja.

Tak ada yang langsung menjawab.

Hingga Sandi duduk… dan mulai makan.

Lahap.

Sangat lahap.

Bima meliriknya sambil berbisik,

“Lu nggak takut, Sand?”

Sandi mengunyah sambil tersenyum kecil.

“Gue lapar. Dan ini enak.”

Ketegangan mencair.

Perlahan, percakapan mengalir.

Tentang desa.

Tentang anak-anak.

Tentang usaha yang salah arah.

Malam itu, tak ada pembenaran.

Tak ada ceramah.

Hanya kesediaan untuk mengakui salah dan mencoba berubah.

Hari Minggu tiba.

Lapangan desa kembali ramai.

Spanduk besar terbentang:

TURNAMEN SEPAK BOLA ANAK DESA AMBULU

Disponsori: O Kim Eng

Anak-anak berlarian mengenakan jersey baru.

Sepatu bola masih kebesaran.

Tawa mereka jujur dan penuh.

Pak Kades membuka acara.

“Ini bukan soal siapa yang paling benar,” katanya.

“Tapi siapa yang mau berubah.”

O Kim Eng berdiri di pinggir lapangan, tak lagi mencolok.

Hanya seorang warga desa yang mencoba menebus kesalahan.

Sandi berdiri bersama Amelia dan Bima.

Melihat anak-anak berlari di rumput—

tanpa takut penyakit,

tanpa takut penipuan.

Amelia menoleh ke Sandi.

“Kamu yakin dengan pilihanmu?” tanyanya pelan.

Sandi mengangguk.

“Kalau perdamaian bisa dimulai dari satu meja makan,” katanya,

“maka semua luka punya peluang sembuh.”

Amelia tersenyum.

Di dadanya, perasaan itu tumbuh lagi—

lebih tenang,

lebih dewasa.

Dan di Desa Ambulu,

hari itu bukan tentang siapa yang menang.

Melainkan tentang manusia yang memilih berhenti saling melukai.

SMA NEGERI 1 AMBULU – PAGI CERAH

Aula sekolah penuh.

Spanduk sederhana terbentang di dinding depan:

SOSIALISASI POLA HIDUP SEHAT & PENCEGAHAN MALARIA

Bersama Tim Medis Desa Ambulu

Saat Sandi melangkah masuk mengenakan kemeja putih berlengan panjang dan stetoskop di leher,

suasana aula mendadak riuh.

Bisik-bisik kecil berubah jadi tawa.

“Eh itu dokternya ganteng banget…”

“Masih muda ya?”

“Kayak aktor sinetron.”

Amelia berdiri di sampingnya, tersenyum tipis—

namun matanya menangkap semuanya.

Di barisan belakang aula, Sersan Bima berdiri tegap dengan seragam dinas lengkap, baret rapi, sepatu mengilap.

Kehadirannya membuat guru-guru menegakkan punggung,

sementara siswa-siswa lelaki berusaha tampak sok dewasa.

Sandi menjelaskan dengan tenang.

Tentang:

Nyamuk Anopheles

Genangan air

Pentingnya kelambu

Menjaga kebersihan lingkungan sekolah

Bahasanya sederhana.

Mudah dipahami.

Para siswa menyimak—

sebagian karena peduli,

sebagian karena… dokternya menarik.

Sesi tanya jawab dibuka.

Beberapa pertanyaan standar muncul.

Hingga seorang siswi berdiri.

Cantik. Rambut panjang diikat rapi.

Seragamnya pas.

“Nama saya Susanti, Pak,” katanya lantang.

“Kalau mau tanya… boleh yang agak pribadi?”

Aula langsung ribut.

“Wooo…!”

“Huuu…!”

Sandi tersenyum santai.

“Selama masih sopan, silakan.”

Susanti menarik napas, lalu dengan wajah sedikit memerah bertanya:

“Pak Dokter…

sudah punya pacar belum?”

Aula meledak.

“HUUUUU—!!!”

“CIHUUU—!!!”

Amelia terdiam.

Tangannya yang memegang map terasa sedikit dingin.

Sandi mengangkat tangan, meminta tenang.

Ia menatap Susanti sebentar, lalu berkata dengan nada bercanda:

“Emang kamu mau jadi pacar saya?”

DETIK ITU JUGA—

Susanti langsung menutup wajahnya.

Malu bukan main.

“E-eh… saya cuma nanya, Pak!”

“T-tidak gitu maksudnya!”

Seluruh aula: “HUUUUU—!!!”

“PAK DOKTER NEMBAK—!!!”

Guru BK sampai menggeleng-gelengkan kepala.

Amelia tersenyum…

tapi senyumnya tipis. Terlalu tipis.

Bima memperhatikan semuanya dari belakang aula.

Ia menoleh ke Amelia.

“Lu cemburu,” bisiknya pelan.

Amelia cepat-cepat menyangkal.

“Enggak.”

Bima terkekeh kecil.

“Dari tadi tangan lu dingin.”

Amelia terdiam.

“Sandinya nggak peka,” lanjut Bima pelan.

“Dia nganggep lu sahabat. Tapi dari cara lu ngeliat dia… itu bukan cuma sahabat.”

Amelia menunduk.

“Aku takut,” katanya lirih.

“Takut kalau perasaan ini… cuma aku sendiri yang punya.”

Bima menatap Sandi yang masih melayani pertanyaan siswa dengan senyum tulus.

“Kadang,” ujar Bima,

“orang yang paling kuat di medan perang… justru paling lemah membaca hati.”

Sosialisasi ditutup dengan tepuk tangan meriah.

Siswa-siswa berebut foto.

Ada yang minta tanda tangan.

Ada yang sekadar ingin dekat.

Sandi melayani semuanya dengan ramah.

Namun saat ia menoleh ke Amelia,

ia melihat sesuatu yang berbeda di matanya.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Melainkan… jarak.

“Mel?” panggilnya.

Amelia tersenyum.

“Kamu hebat hari ini, Sand.”

Tapi Sandi tak sadar—

senyum itu bukan senyum yang sama seperti biasanya.

Dan di halaman SMA Negeri 1 AmBulu,

di antara tawa remaja dan semangat hidup sehat,

sebuah rasa yang lama dipendam

mulai menuntut kejelasan.

HALAMAN SMA NEGERI 1 AMBULU – MENJELANG SIANG

Acara resmi sudah selesai.

Namun kerumunan justru makin rapat.

Susanti dan beberapa siswi lain mendekat, membawa ponsel masing-masing.

“Pak Dokter, foto bareng ya!”

“Selfie dong, Pak!”

“Yang rame-rame!”

Sandi tertawa kecil.

“Gantian ya, jangan dorong-dorong.”

Satu foto.

Dua foto.

Lalu selfie berdekatan.

Terlalu dekat.

Salah satu siswi memiringkan wajah—

pipi mereka nyaris bersentuhan.

Klik.

Amelia berdiri beberapa langkah di belakang.

Matanya tak berkedip.

Dadanya terasa sesak,

namun ia tetap tersenyum sopan.

“Pak, tanda tangan di seragam aku boleh?” tanya Susanti lagi.

Sandi kaget kecil.

“Di seragam?”

“Iya, Pak! Biar kenang-kenangan.”

Sandi ragu sesaat, lalu mengangguk.

“Oke, tapi cuma nama ya.”

Satu…

dua…

tiga seragam ditandatangani.

Tiba-tiba SuSanti, Siswi kls 12 yang ikut membantu kegiatan, berseru dengan nada bercanda:

“I love you dokter ganteng!” katanya.

Seketika halaman sekolah meledak tawa.

Sandi refleks tertawa, agak salah tingkah.

“Eh… eh… jangan gitu dong.”

Kalimat itu…

terdengar jelas oleh Amelia.

Senyumnya menghilang.

Wajahnya memerah—

bukan karena malu,

melainkan karena rasa yang terlalu penuh untuk ditahan.

Ia menoleh ke arah lain.

Bima dan Eren berdiri tak jauh.

Mereka melihat semuanya.

Eren menghela napas pelan.

“Parah.”

Bima hanya diam.

Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur.

“Bukan tempat kita,” katanya singkat.

Setelah kerumunan bubar, Sandi mendekati Amelia.

“Kamu nggak apa-apa, Mel?”

Amelia mengangguk cepat.

“Enggak. Capek aja.”

Sandi mengangguk tanpa curiga.

“Abis ini kita lanjut ke MAN 1 Ambulu, ya.”

“Ya.”

Suaranya pelan. Terlalu pelan.

MAN 1 AMBULU – SIANG MENUJU SORE

Suasana sekolah berbeda.

Lebih tertib.

Lebih tenang.

Siswi-siswi MAN menyimak serius.

Tak ada teriakan.

Tak ada godaan berlebihan.

Sandi kembali menjadi dirinya yang tenang dan fokus.

Ia menjelaskan:

Bahaya malaria

Pencegahan sejak dini

Peran pelajar menjaga lingkungan

Amelia berdiri di sampingnya.

Profesional.

Tenang.

Tapi jarak itu…

masih ada.

Bima memperhatikan dari belakang aula.

“Kalau begini terus,” gumamnya,

“dia bakal kehilangan tanpa sadar.”

Sore menjelang.

Langit Ambulu berubah jingga.

Kegiatan ditutup dengan doa.

Saat mereka melangkah keluar gerbang MAN 1 Ambulu,

Sandi merasa sesuatu mengganjal.

Bukan di kepalanya.

Tapi di hatinya.

Ia menoleh ke Amelia—

yang berjalan setengah langkah di belakangnya.

Untuk pertama kalinya,

Sandi merasa…

kehilangan sesuatu yang belum pernah ia miliki.

KOS PUTRI – MALAM HARI

Lampu kamar redup.

Amelia duduk di tepi ranjang, memeluk lutut.

Wajahnya tertunduk.

Air mata jatuh satu-satu—

tanpa suara.

Tak ada isak.

Tak ada ratapan.

Hanya napas yang tertahan terlalu lama.

Di sudut kamar, Santi dan Sinta saling pandang.

“Kamu kenapa, Mel?” tanya Sinta pelan.

Amelia menggeleng.

“Enggak apa-apa.”

Tapi bahunya bergetar.

Santi mendekat, duduk di sampingnya.

“Kalau bukan apa-apa, kamu nggak akan nangis kayak gini.”

Amelia menutup wajahnya.

Untuk beberapa detik…

ia bertahan.

Lalu jebol.

“Aku capek,” katanya lirih.

“Capek pura-pura kuat.”

Sinta memegang tangannya.

“Ini soal Sandi?”

Amelia tak menjawab.

Tangisnya cukup menjadi jawaban.

“Kenapa kamu nggak ngomong aja?” tanya Santi hati-hati.

Amelia menggeleng pelan.

“Dia nganggep aku sahabat. Aku takut… kalau aku ngomong, aku kehilangan itu juga.”

Ruangan hening.

Sinta menghela napas.

“Kadang orang nggak bodoh… cuma nggak berani mikir.”

Amelia menyeka air mata.

“Kalau dia memang bukan untuk aku… aku cuma mau kuat.”

KOS PUTRA – MALAM YANG SAMA

Sandi duduk sendirian.

Pikirannya tak tenang sejak sore.

Bukan wajah siswi-siswi itu yang terbayang.

Melainkan satu wajah—

Amelia.

Ketukan keras di pintu memecah lamunannya.

“Sand. Buka.”

Suara Bima.

Sandi membuka pintu.

Bima masuk tanpa basa-basi.

“Lu sadar nggak hari ini lu ngapain?” tanya Bima, nadanya tajam.

Sandi mengernyit.

“Kenapa?”

Bima mendekat.

“Lu bikin orang yang paling peduli sama lu ngerasa kecil.”

Sandi terdiam.

“Amelia cinta sama lu,” lanjut Bima, tegas.

“Bukan kagum. Bukan nyaman. Tapi cinta.”

Sandi terperanjat.

“Lu pikir dia berdiri di samping lu tiap hari buat apa?”

“Ngobatin orang bareng lu tanpa bayaran?”

“Dengerin semua cerita lu?”

Sandi menggeleng pelan.

“Dia nggak pernah bilang.”

“Karena dia takut,” potong Bima.

“Takut kehilangan lu.”

Ruangan sunyi.

“Dan lu?” Bima melanjutkan.

“Lu malah senyum-senyum sama cewek SMA. Pipi nempel. Selfie.”

Sandi menunduk.

Rahangnya mengeras.

“Gue bukan marah karena cemburu,” kata Bima lebih pelan.

“Gue marah karena lu orang baik… tapi lu lalai.”

Sandi menarik napas dalam.

“Apa yang harus gue lakuin?”

Bima memandangnya lama.

“Jujur. Sama diri lu sendiri dulu.”

Bima lalu berdiri.

“Gue balik ke kesatuan malam ini. Besok gue dinas lagi di Arhanud 14 Pilang, Cirebon.”

Ia menepuk bahu Sandi.

“Jangan tunggu sampai orang yang paling setia pergi… baru lu nyesel.”

Pintu tertutup.

Sandi duduk kembali.

Kata-kata itu berputar di kepalanya.

Amelia.

Tangis.

Diam.

Malam itu, untuk pertama kalinya,

Sandi merasa takut.

Bukan takut pada perang.

Bukan takut pada kematian.

Melainkan takut…

kehilangan seseorang yang selama ini selalu ada.

KOS PUTRI – LARUT MALAM

Sandi berdiri di depan pagar kos.

Di sampingnya, Nurdin menunggu dengan wajah ragu.

“Kita beneran mau masuk?” tanya Nurdin pelan.

Sandi mengangguk.

“Kalau malam ini gue nggak datang… gue takut makin terlambat.”

Sandi mengetuk pagar.

Sekali.

Dua kali.

Pintu terbuka.

Amelia berdiri di sana.

Wajahnya tenang—

terlalu tenang.

Seolah semua tangisnya sudah habis malam sebelumnya.

“Iya?” tanyanya singkat.

“Mel… aku mau ngomong,” kata Sandi.

Amelia menatapnya sebentar, lalu menggeleng halus.

“Bukan sekarang, Sand.”

“Aku cuma—”

“Aku capek,” potong Amelia pelan.

“Dan aku butuh jarak.”

Kata jarak itu jatuh pelan…

tapi menghantam keras.

Nurdin melangkah maju sedikit.

“Mel, Sand cuma mau jelasin—”

Amelia tersenyum tipis.

“Semuanya jelas, Din.”

Ia lalu menatap Sandi.

“Kamu orang baik. Jangan merasa bersalah cuma karena aku berharap lebih.”

Pintu ditutup perlahan.

Tanpa bentakan.

Tanpa air mata.

Justru itu yang paling menyakitkan.

Sandi berdiri lama di depan kos.

Tak mengetuk lagi.

KEESOKAN PAGI – BALAI DESA AMBULU

Langit cerah.

Warga desa berkumpul.

Tak ada lagi wajah pucat karena demam.

Tak ada lagi kelambu penuh pasien.

Wabah malaria telah dinyatakan hilang.

Pak Kades berdiri di depan, suaranya bergetar oleh haru.

“Atas nama Desa Ambulu,” katanya,

“kami mengucapkan terima kasih.”

Tepuk tangan bergema.

Sandi berdiri bersama tim.

Amelia ada…

tapi tak di sisinya.

Ia berdiri bersama Santi dan Sinta, menjaga jarak yang ia minta sendiri.

O Kim Eng dan O Alung maju.

Mereka membawa banyak bingkisan:

Beras

Buah

Madu

Hasil kebun warga

“Ini bukan bayaran,” kata O Kim Eng.

“Ini rasa terima kasih.”

O Alung menunduk.

“Kalian mengubah kami… bukan cuma desa ini.”

Sandi menerimanya dengan sopan.

“Terima kasih. Tapi yang terpenting… jaga kesehatan warga.”

O Kim Eng mengangguk mantap.

Saat warga satu per satu menyalami tim medis,

Amelia akhirnya berdiri di depan Sandi.

Hanya beberapa detik.

“Terima kasih sudah jadi dokter yang baik,” katanya pelan.

“Kamu juga,” jawab Sandi.

“Terima kasih sudah selalu ada.”

Amelia tersenyum.

Senyum perpisahan.

Ia lalu berjalan pergi.

Tak menoleh lagi.

Mobil tim perlahan meninggalkan Desa Ambulu.

Di kaca spion, Sandi melihat warga melambaikan tangan.

Desa itu sembuh.

Tapi hatinya…

baru saja kehilangan sesuatu yang tak sempat ia genggam.

Dan jauh di dalam dirinya,

sebuah pertanyaan mulai tumbuh:

Apakah pengabdian selalu harus dibayar dengan kesepian?

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!