"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lift Menuju Masa Lalu
Jarum jam di lobi Apartemen The Peak menunjukkan pukul 23.15 WIB.
Adinda Elizabeth melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa remuk redam, bukan karena latihan fisik, melainkan karena lelah berpura-pura. Berakting sebagai "mahasiswi seni yang ceroboh" di depan Arthur dan teman-temannya tadi menguras energi mentalnya lebih banyak daripada pertarungan sungguhan.
Penampilannya malam itu jauh dari kata elegan. Kemeja flanelnya yang kebesaran memiliki noda cat minyak di lengan kanan. Celana jeans-nya kotor di bagian lutut—bekas "jatuh pura-pura" saat menghajar preman tadi. Rambutnya yang panjang terurai berantakan, dan ada noda debu di pipinya.
"Selamat malam, Nona Adinda," sapa sekuriti lobi dengan ramah. Mereka sudah hapal dengan penghuni lantai 30 yang pendiam namun sopan ini.
"Malam, Pak," balas Adinda singkat, memaksakan senyum tipis.
Adinda berjalan menuju deretan lift khusus penghuni high zone. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: mandi air panas, mengoleskan salep pada memar di bahunya (akibat benturan saat menjatuhkan diri ke aspal), dan tidur.
Ia menekan tombol panggil lift.
Ting.
Pintu lift di depannya terbuka.
Adinda melangkah masuk sambil menunduk, sibuk mencari kartu akses di dalam tas ranselnya yang penuh kuas.
"Lantai 30," gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Namun, saat ia mendongak untuk menekan tombol, tangannya membeku di udara.
Lift itu tidak kosong.
Di sudut belakang kabin lift yang berlapis cermin dan marmer itu, berdiri seorang pria. Pria itu mengenakan tuksedo hitam formal dengan dasi kupu-kupu yang sudah dilepas dan tergantung longgar di leher kemejanya yang terbuka kancing atasnya. Jasnya tersampir di lengan kiri.
Aroma itu. Aroma sandalwood, musk, dan sedikit tembakau mahal yang sangat familiar, langsung menyerbu indra penciuman Adinda, melumpuhkan saraf motoriknya seketika.
William Bagaskara.
Mata mereka bertemu.
Dunia seakan berhenti berputar. Suara dengung halus mesin lift terdengar seperti raungan jet di telinga Adinda.
William tampak sama terkejutnya. Matanya yang lelah melebar sedikit saat melihat sosok berantakan yang baru saja masuk. Ia baru saja pulang dari acara makan malam amal yang membosankan, dan hal terakhir yang ia harapkan adalah bertemu dengan hantu masa lalunya di dalam kotak besi ini.
Pintu lift tertutup perlahan secara otomatis, mengurung mereka berdua dalam kecanggungan yang menyesakkan.
Adinda mundur selangkah, refleks tubuhnya ingin kabur, tapi pintu sudah tertutup rapat. Ia berdiri kaku di dekat panel tombol, membelakangi William. Jantungnya berdegup kencang, menabrak rusuknya seolah ingin melompat keluar.
"Adinda," suara William terdengar. Rendah, berat, dan... bergetar.
Adinda memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa ketenangannya. Ia berbalik perlahan, berusaha memasang wajah datar—topeng yang selama ini ia pakai.
"Selamat malam... Pak William," jawab Adinda. Lidahnya terasa kelu saat mengucapkan panggilan formal itu lagi.
William tidak membalas sapaan itu. Matanya menyusuri penampilan Adinda dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia tidak melihat Adinda yang rapi dengan setelan jas hitam. Ia melihat seorang gadis muda dengan baju belel, noda cat warna-warni, dan rambut acak-acakan.
Adinda terlihat... berbeda. Lebih muda. Lebih hidup. Namun juga lebih rapuh.
"Kau... darimana?" tanya William, melanggar janjinya sendiri untuk tidak mencampuri urusan pribadi gadis itu.
"Kampus, Pak. Mengerjakan tugas studio," jawab Adinda, meremas tali tas ranselnya. "Bapak sendiri?"
"Acara amal. Membosankan seperti biasa," jawab William singkat.
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Angka indikator lantai di atas pintu berganti perlahan. 5... 6... 7...
Terasa sangat lambat.
William melangkah maju satu langkah. Adinda menahan napas.
"Celanamu," William menunjuk lutut Adinda yang kotor oleh debu aspal hitam. "Dan pipimu kotor. Apa yang terjadi?"
Insting protektif William menyala otomatis. Matanya menyipit, mencari tanda-tanda bahaya. "Apa ada yang mengganggumu?"
Adinda buru-buru mengusap pipinya, justru membuat noda debu itu makin melebar. "Tidak ada, Pak. Saya cuma... ceroboh. Tadi tersandung di trotoar saat jalan pulang sama teman-teman. Biasa, anak seni, jalannya sambil melamun."
Kebohongan itu meluncur mulus, konsisten dengan peran barunya.
William menatapnya sangsi. "Tersandung?"
"Iya. Saya tidak sejago dulu, Pak. Tanpa latihan rutin, keseimbangan saya jadi buruk," Adinda tertawa kecil, tawa yang terdengar sumbang di telinganya sendiri. "Sekarang saya cuma mahasiswi biasa yang sering jatuh kesrimpet tali sepatu."
Mata William melembut. Ada rasa lega sekaligus nyeri di dadanya. Lega karena Adinda tampak hidup normal—ceroboh, punya teman, pulang malam dari kampus—tapi nyeri karena itu berarti Adinda benar-benar telah meninggalkan dunia lamanya. Dunia di mana mereka bersama.
"Baguslah," gumam William, suaranya terdengar sedih. "Itu artinya kau benar-benar menjalani hidupmu. Menjadi gadis normal yang ceroboh jauh lebih baik daripada menjadi perisai yang sempurna."
Adinda menunduk, menatap sepatu kets-nya yang penuh cat. Kalimat William menusuk hatinya. Jika saja William tahu bahwa noda di lututnya itu didapat karena ia baru saja menjatuhkan preman berbadan dua kali lipat darinya.
"Bapak... bagaimana kabarnya?" tanya Adinda pelan, memberanikan diri. "Saya lihat di berita, saham perusahaan naik."
"Angka di kertas," William mendengus, bersandar pada dinding lift dengan lelah. "Perusahaan baik-baik saja. Asisten baru saya sangat kompeten. Lulusan Harvard, rapi, tidak pernah membantah."
"Bagus kalau begitu."
"Tapi dia tidak tahu cara membuat kopi yang benar," lanjut William, menatap punggung Adinda. "Dan dia tidak pernah melarang saya minum kopi jam sepuluh malam. Dia juga lari ketakutan kalau ada kucing lewat."
Adinda tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Mungkin Bapak harus memberinya waktu. Tidak semua orang terbiasa dengan... keunikan Bapak."
"Atau mungkin," William melangkah mendekat lagi, kini jarak mereka hanya satu meter. Adinda bisa merasakan hawa tubuh pria itu. "Mungkin standar saya yang sudah terlalu tinggi karena pernah memiliki yang terbaik."
Napas Adinda tercekat. Ia tidak berani menoleh. Kalimat itu terlalu berbahaya. Terlalu intim.
Ting.
Lantai 30.
Pintu lift terbuka. Penyelamat Adinda.
"Saya... saya duluan, Pak," kata Adinda cepat, hendak melangkah keluar.
Namun, saat ia melewati William, langkahnya terhenti. William memegang lengannya. Sentuhan itu ringan, namun menyengat seperti listrik ribuan volt.
Adinda menoleh, menatap mata William. Jarak mereka begitu dekat. Ia bisa melihat guratan lelah di wajah tampan itu, dan kerinduan yang telanjang di matanya.
"Adinda," bisik William. "Apakah kau bahagia?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya rumit. Apakah dia bahagia dengan uang miliaran dan hidup aman? Ya. Apakah dia bahagia tanpa William? Tidak.
Adinda menatap mata cokelat gelap itu. Ia ingin jujur. Ia ingin bilang bahwa ia merindukan adrenalin, merindukan omelan William, merindukan perasaan dibutuhkan.
Tapi Adinda ingat janjinya. Ia ingat pengorbanan William melepaskannya agar ia selamat.
Jadi, Adinda berbohong.
"Saya bahagia, Pak," jawab Adinda, memaksakan senyum paling meyakinkan yang ia miliki. "Kuliah menyenangkan. Teman-teman saya baik. Hidup saya tenang."
Cengkeraman tangan William di lengannya mengendur, lalu terlepas. Wajah pria itu tampak kecewa, namun ia mengangguk pasrah.
"Syukurlah," ucap William serak. "Itu... itu yang terpenting."
William mundur, memberikan jalan.
Adinda melangkah keluar dari lift. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia berjalan cepat menuju pintu apartemennya, menekan kode akses dengan jari gemetar.
Di dalam lift, William tidak segera menekan tombol tutup. Ia memandang punggung Adinda yang menjauh. Punggung kecil yang dulu berdiri tegap melindunginya, kini terlihat membungkuk lelah dengan tas ransel besar.
"Selamat tidur, Adinda," bisik William pada udara kosong.
Pintu lift tertutup, membawa William naik ke lantai 40, ke penthouse-nya yang sunyi dan dingin.
Sementara itu, Adinda masuk ke apartemennya dan langsung bersandar di balik pintu yang terkunci. Kakinya lemas. Ia merosot duduk di lantai.
Pertahanan dirinya runtuh. Pertemuan singkat itu merobohkan tembok yang ia bangun susah payah selama tiga bulan.
Adinda menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya. Ia melihat lutut celananya yang kotor.
"Kau pembohong yang hebat, Adinda," rutuknya pada diri sendiri. "Kau bilang kau bahagia, padahal kau baru saja ingin menangis hanya karena dia memegang lenganmu."
Adinda bangkit, berjalan menuju kanvas kosong yang berdiri di ruang tengahnya. Ia mengambil kuas, tidak peduli ia belum mandi.
Malam ini, ia tidak akan bisa tidur. Bayangan wajah lelah William dan aroma parfumnya terlalu kuat menghantui pikirannya. Maka, ia akan melukisnya. Melukis kesedihan di mata pria itu, melukis jarak yang terbentang di antara lantai 30 dan 40, jarak yang terasa lebih jauh daripada jarak bumi dan bulan.
Di luar jendela, Jakarta tetap bising dan sibuk, tidak peduli pada dua hati yang saling merindukan namun terpisah oleh dinding ego dan rasa takut akan kehilangan.
Bersambung...
terimakasih