NovelToon NovelToon
TAHANAN OBSESI

TAHANAN OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Misteri / Psikopat / Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.

apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.

mencari ide itu sulit gusy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARIS

Guntur menggelegar, menggetarkan fondasi gubuk kayu yang rapuh itu seolah-olah alam semesta sendiri sedang berusaha meruntuhkan persembunyian Kayla. Di luar, hujan turun begitu deras hingga suara air yang menghantam atap terdengar seperti ribuan peluru yang menghujam. Namun, suara yang paling mematikan bagi Kayla adalah keheningan yang menyusul setelah ketukan berirama itu berhenti.

Kayla berdiri membeku. Pisau dapur di tangannya terasa berat dan licin karena keringat dingin. Perutnya yang besar terasa sangat kencang, kontraksi braxton-hicks yang dipicu oleh adrenalin membuat napasnya pendek dan tersengal.

"Kayla... aku tahu kau di dalam. Jangan biarkan ayah dari anakmu ini kedinginan di bawah badai."

Suara itu. Dingin, berwibawa, namun kali ini ada nada serak yang baru—seperti suara yang muncul dari tenggorokan yang pernah terbakar. Itu suara Aris. Pria yang seharusnya sudah menjadi debu di reruntuhan rumah mewah itu kini berdiri hanya terhalang selembar pintu kayu darinya.

Dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, Kayla mendekat. Ia tidak membuka kunci, melainkan berteriak dari balik pintu. "Pergi! Kau sudah mati, Aris! Aku melihat rumah itu meledak! Kau adalah hantu!"

"Api tidak bisa mengambil apa yang menjadi milikku, Kayla," sahut suara di luar itu. "Ledakan itu memang menghancurkan segalanya, tapi keinginanku untuk melihatmu lagi memberiku kekuatan untuk merangkak keluar dari neraka. Buka pintunya, atau aku akan menghancurkannya seperti aku menghancurkan hidupmu dulu."

Kayla tidak punya pilihan. Jika Aris selamat, pintu kayu ini tidak akan bisa menahannya. Dengan tangan gemetar, ia memutar kunci dan menarik palang pintu.

Pintu terbuka lebar, dan petir menyambar di belakang sosok itu, menciptakan siluet yang mengerikan. Aris berdiri di sana. Wajah bagian kirinya kini dihiasi luka bakar permanen yang menjalar hingga ke leher, memberikan penampilan yang jauh lebih jahat daripada sebelumnya. Matanya yang sebelah kiri tampak sedikit redup, namun mata kanannya masih berkilat dengan obsesi posesif yang sama.

Ia melangkah masuk, membiarkan angin dan hujan ikut menyeruak ke dalam gubuk. Aris menutup pintu dengan tenang dan menguncinya kembali. Tatapannya langsung jatuh ke perut Kayla yang membuncit.

"Lihatlah..." bisik Aris. Ia menjatuhkan tas hitam yang dibawanya dan melangkah mendekat. "Mahakaryaku yang paling murni. Dia tumbuh dengan baik di sini."

Kehidupan dalam Cengkeraman Kembali

Kayla mundur hingga punggungnya menabrak dinding kayu. Ia mengarahkan pisau itu ke dada Aris. "Jangan mendekat! Satu langkah lagi dan aku akan membunuhmu!"

Aris hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak ganjil di wajahnya yang cacat. Ia tidak takut pada pisau itu. Dengan gerakan lambat, ia meraih tangan Kayla yang memegang pisau. Kayla mencoba menghujamkannya, namun Aris dengan mudah memelintir pergelangan tangannya dan merebut senjata itu, lalu membuangnya ke sudut ruangan.

"Kau masih mencoba melawan, bahkan saat kau sudah membawakan hartaku selama delapan bulan?" Aris mencengkeram bahu Kayla dan memaksanya duduk di kursi kayu.

Aris kemudian berlutut di depan Kayla, persis seperti yang sering ia lakukan dulu. Ia menempelkan telapak tangannya yang kasar ke perut Kayla. Kayla memejamkan mata, air mata mengalir deras. Ia merasa kotor, merasa gagal melindungi dirinya sendiri.

"Aku sudah mengawasimu sejak kau tiba di desa ini, Kayla," ucap Aris pelan. "Simbol di pohon, kotak vitamin itu... itu adalah caraku menyapamu. Aku ingin kau merasa aman sebentar, memberikan nutrisi yang baik untuk anak kita, sebelum aku datang menjemput."

"Kenapa kau tidak membiarkan aku tenang?!" raung Kayla. "Kau sudah menghancurkan segalanya! Kau sudah kehilangan rumahmu, kakakmu, bisnismu! Apa lagi yang kau inginkan?!"

"Aku menginginkan apa yang memang milikku sejak awal," jawab Aris dingin. "Adrian memang bodoh, dia terlalu memikirkan bisnis. Tapi aku? Aku hanya memikirkan warisan. Anak ini tidak akan lahir di rumah sakit kota yang bising. Dia akan lahir di bawah pengawasanku."

Sejak malam badai itu, kehidupan Kayla kembali menjadi penjara. Aris tidak membawanya pergi segera karena ia tahu kondisi fisik Kayla terlalu lemah untuk perjalanan jauh di tengah bulan kedelapan. Aris menetap di gubuk itu, mengambil alih setiap jengkal kehidupan Kayla.

Aris memperbaiki gubuk itu dari dalam, memperkuat pintu-pintu, dan memasang kamera pengintai nirkabel kecil yang ia bawa dalam tasnya. Ia kembali menjadi sang penguasa, dan Kayla kembali menjadi subjeknya. Namun kali ini, Aris jauh lebih waspada. Ia tidak pernah membelakangi Kayla, dan ia selalu memastikan semua benda tajam berada dalam jangkauannya sendiri.

Yang paling mengerikan bagi Kayla adalah cara Aris memperlakukannya. Aris bersikap sangat lembut, menyuapinya makanan yang ia masak sendiri, memijat kakinya yang bengkak, dan membacakan buku untuk janin di perutnya. Kelembutan ini jauh lebih menyiksa daripada kekerasan, karena Kayla tahu di balik semua itu ada ancaman kematian jika ia berani mencoba lari lagi.

"Kita akan menjadi keluarga kecil yang sempurna, Kayla," ucap Aris suatu malam saat mereka duduk di depan perapian. "Aku sudah menyiapkan tempat baru di luar negeri. Setelah bayi ini lahir, kita akan pergi dari negara ini selamanya."

Namun, di tengah kepatuhan yang dipaksakan, Kayla mulai memperhatikan sesuatu. Aris sering meringis kesakitan dan memegangi sisi kepalanya yang terbakar. Sepertinya ledakan itu meninggalkan cedera dalam yang tidak bisa disembunyikan oleh Aris selamanya. Terkadang, Aris akan mengalami semacam kejang singkat atau kehilangan fokus selama beberapa detik.

Kayla mulai mencatat pola itu. Ia tahu ia tidak bisa melawan Aris dengan kekuatan fisik, apalagi dalam kondisi hamil besar. Satu-satunya kesempatannya adalah saat Aris sedang berada di titik terlemahnya akibat cedera otak tersebut.

Ia mulai mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia tidak lagi menangis di depan Aris. Ia mulai membalas sentuhan Aris, berpura-pura bahwa hatinya sudah kembali padanya.

"Kau benar, Aris," ucap Kayla sambil mengelus luka bakar di wajah Aris. "Hanya kau yang bisa melindungiku dan anak ini. Adrian jahat, tapi kau... kau mencintai kami dengan caramu sendiri."

Aris menatapnya, mencari kebohongan di mata Kayla. Namun Kayla telah belajar dari guru yang paling ahli—Aris sendiri. Ia berhasil meyakinkan Aris. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Aris menurunkan kewaspadaannya.

Malam itu, saat Aris tertidur di sampingnya sambil memegang tangannya erat, Kayla merasakan janinnya menendang dengan sangat kuat. Seolah-olah nyawa di dalam sana juga sedang bersiap untuk perang yang akan datang. Kayla menatap langit-langit gubuk, menghitung hari menuju persalinan, dan menghitung saat yang tepat untuk memberikan serangan terakhirnya.

Persiapan persalinan semakin dekat, dan Aris semakin bergantung pada 'kesetiaan' palsu Kayla. Namun, cedera Aris mulai semakin parah.

1
Agus Barri matande
semangat thor
Thecel Put
omg saya sangat suka cerita dengan genre seperti ini❤️‍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!