NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Isekai
Popularitas:850
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 13: Perdebatan dan Perebutan

"Lepaskan Alice! Dia akan bermain denganku!"

"Tidak! Aku tidak mau! Aku akan bermain dengan Alice!"

Ditarik di kedua sisi berlawanan dengan kedua tangannya dipegang dan ditarik oleh Eri dan Edi, Alice terlihat datar seolah-olah tidak menyangka kalau ia diperebutkan untuk bermain dengan mereka.

"Kenapa malah seperti ini? Mengapa mereka malah memperebutkan aku?!"

Ada teriak dalam hati Alice, ia tidak menyangka kalau sikapnya membawa ke situasi saat ini membuatnya tidak memahami apa yang mereka inginkan dari dirinya.

Beberapa saat lalu.

Selesai mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing, Eri dan Edi menatap ke Alice dengan wajah penasaran membuatnya sedikit tidak nyaman.

"Kenapa mereka menatapku seperti itu?"

Keduanya saling mendekati Alice, jaraknya sangat dekat yang bisa dikatakan beberapa inci dari wajah mereka dengan wajah Alice.

"Bisakah aku mengetahui kenapa kau melakukan latihan fisik?"

"Hei Alice, bolehkah aku tahu alasanmu pingsan waktu itu?"

"Kalian ini seperti wartawan!"

Tersenyum pada rasa penasaran mereka terhadapnya, Alice mengumpat dalam hatinya yang membuatnya tidak memahami kenapa mereka berdua tertarik padanya seolah-olah ia terlihat berbeda dari mereka.

Padahal Alice sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlihat mencolok, menyembunyikan kesibukannya tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk ibunya, kecuali ayahnya yang sudah tahu latihan fisik yang dijalaninya.

"Sayang, bisakah kamu jelaskan pada Ibu tentang latihan fisik itu?"

"Ah..."

"Gawat... Ibu benar-benar marah padaku!"

Meskipun ekspresi Luna tersenyum padanya sebagai ibunya, entah mengapa Alice merasakan amarah yang ditunjukkan secara tidak langsung dari ibunya padanya membuatnya bingung bagaimana menjelaskan hal ini padanya.

"A-Aku minta maaf.... aku seharusnya tidak merahasiakan ini darimu, Bu."

Keringat mengalir deras diwajah Alice membuat Luna yang diam selagi menatap tajam pada putrinya, membuat perasaan Alice tidak enak yang pikirannya membayangkan kalau ia akan diawasi oleh para maid maupun ibunya yang membuat pergerakannya terbatas nanti.

"Tidak perlu marah seperti itu, Luna."

"Apa maksudmu, Lisa? Sudah jelas kalau putriku salah saat ini."

"Biar bagaimanapun putrimu melakukannya bukan untuknya sendiri, ia pasti memiliki alasannya. Kan, Alice?"

Alice tidak mengatakan apapun melainkan mengangguk untuk menanggapi pertanyaan dari Lisa yang terlihat santai dihadapannya untuk menenangkan temannya, Luna.

"Tapi tetap saja putriku–"

"Aku setuju pada perkataan Lisa. Yah, setidaknya kau bisa mendengar alasan dari putrimu terlebih dahulu agar kau tidak salah langkah menghukumnya nanti yang berakhir penuh penyesalan setelahnya."

"....."

Merenung sejenak mendengar perkataan Edi, Luna berpikir untuk kedua kalinya untuk mempertimbangkan perkataan dari kedua temannya; Edi dan Lisa agar ia tidak salah langkah mengambil keputusan untuk menghukum putrinya, Alice saat ini yang berakhir dengan penyesalan sesudahnya.

"Baiklah, aku akan memikirkannya lagi nanti."

Melihat ibunya yang menyerah pada pendapat dari kedua temannya; Edi dam Lisa, Alice tersenyum pada mereka lalu mendekati ibunya yang memegang tangannya menatapnya dengan wajah ceria.

"Aku janji Bu, aku akan beritahu Ibu di kamar nanti."

"Ya, ya."

Melihat sikap Alice yang ceria, hati Luna luluh melihat putrinya yang terlihat menggemaskan dan imut membuatnya tidak bisa menghukumnya saat ini.

"Ibu akan mendengarkan pendapatmu nanti."

"Yeay! Ibu tidak marah padaku!"

Melihat tingkah ceria dan kekanak-kanakan dari Alice, Luna hanya cekikikan melihat putrinya se-imut dan se-menggemaskan itu membuatnya yakin kalau keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat.

Sedangkan Edi dan Lisa yang melihat Luna tidak lagi menghukum putrinya, Alice, keduanya saling bertukar pandang satu sama lain selagi tersenyum meskipun mereka sebelumnya saling bermusuhan, tapi terkadang mereka bisa akur terhadap satu hal.

Alice yang kembali ke mereka, Ken dan Eri yang terlihat penasaran terpaksa untuk menjawab rasa penasaran mereka seadanya meskipun dibumbui oleh kebohongan didalamnya.

"Alasanku melatih fisik untuk diriku adalah aku ingin menjadi kuat agar aku bisa menjadi penerus tahta berikutnya."

"Whoa! Kau benar-benar luar biasa, Alice!"

"Hehehe... terimakasih."

Cengengesan mendengar pujian dari Ken, menurut Alice kalau ia melakukan hal tersebut dianggap normal untuknya yang sudah memahami sistem dunia lain yang ditempatinya sekarang melalui buku komik maupun novel jadi ia tidak terkejut bila ia melakukan ini untuk pertama kalinya.

"Bagaimana denganmu yang pingsan saat itu?"

"Hmmm..."

Berpikir sejenak untuk menanggapi jawaban dari Eri, menurut Alice pertanyaan darinya terlihat ambigu.

Bila Alice mengatakan jujur karena ia membaca buku tentang pengetahuan umum untuk mempelajari sihir untuk membuatnya menjadi kuat, ada kemungkinan tak hanya Eri, tapi juga kedua orang tua mereka seperti; Edi dan Lisa yang ikut tertarik padanya.

"Yah, bisa dikatakan kalau aku hanya penasaran jadi aku mencobanya namun berakhir pingsan."

Cekikikan mendengar jawaban dari Alice, Eri yang berpura-pura tidak tahu tentang ini beranggapan kalau ia hanya tahu kalau Alice pingsan, padahal kenyataannya ia sudah tahu kalau Alice berbeda dari dirinya maupun Ken.

"Kalau begitu, bisakah kau menjawab pertanyaan ku lagi?"

"Kalau begitu, bisakah kamu menjawab pertanyaan ku lagi?"

"Ahahaha..."

Keduanya saling kompak untuk melempar pertanyaan pada Alice membuat Alice hanya mengeluarkan tawa kecil dihadapan mereka.

"Mereka berbakat menjadi wartawan berita," keluhnya dalam batinnya melihat tingkah mereka yang penasaran padanya.

"Lupakan tentang itu. Bagaimana kalau aku menanyakan sesuatu pada kalian karena aku sudah menjawab pertanyaan kalian untuk mengenal satu sama lain?"

"Tentu, tidak masalah."

"Ya, aku juga tidak keberatan."

Keduanya yang terlihat setuju membuat Alice merasa lega kalau ia bebas dari pertanyaan mereka, membuatnya tidak ingin menanyakan sesuatu yang simpel pada mereka melainkan sesuatu yang dapat menjaga percakapan ini untuk tidak membuat mereka bertanya lagi tentang sesuatu padanya.

Mengangguk pada dirinya, Alice sudah mendapatkan ide untuk menjaga percakapan ini tetap berlangsung agar mereka berdua tidak melempar pertanyaan padanya seperti sebelumnya.

"Apa yang kalian lakukan selama ini sebelum kita saling berkenalan?"

Keduanya saling bertukar pandang dalam diam lalu menatap ke Alice.

"Untukku, aku selalu bermain boneka kayu yang dibuatkan oleh Ibuku di kamarku."

Mengangguk pada jawaban dari Eri, Alice menatap ke Ken dengan wajah penasaran. Tak hanya Alice, Eri juga ingin tahu atas apa yang Ken lakukan sebelumnya sebelum mereka saling kenal satu sama lain.

"Aku... bisa dikatakan aku memainkan permainan ksatria..."

Selagi membayangkan hal tersebut dalam benaknya, senyum terlihat dibibir Ken selagi ia membuka matanya setelah tertutup membayangkan masa-masa itu, menatap ke Alice dan Eri secara bergantian.

"Begitu ya."

"Permainan ksatria... permainan para pria..."

"Kamu tahu tentang ini, Eri?"

"Ya," angguk Eri yang menatap ke Alice. "Bisa dikatakan permainan itu diharuskan untuk dimainkan secara banyak orang, untuk minimal bisa dikatakan dua orang."

Memahami apa yang dijelaskan oleh Eri, Alice membayangkan permainan ksatria seperti apa dalam benaknya.

Setahu Alice, permainan ksatria sama seperti peran ksatria pada umumnya yaitu mendedikasikan dirinya sebagai pelindung atau perisai untuk orang yang ia lindungi sekaligus penyerang atau pedang untuk melawan orang-orang yang menyakiti orang yang dilindungi olehnya.

Tapi, Alice ragu jikalau permainan tersebut mirip seperti aslinya karena ia tidak pernah tahu permainan ksatria di dunia ini seperti apa, tidak ingin berspekulasi tanpa tahu betul aturan dan syarat untuk memainkan permainan tersebut.

"Ah, benar. Mengenai permainan boneka kayu, bisakah aku tahu apa yang kamu mainkan, Eri?"

Menatap kembali ke Eri, sebisa mungkin Alice menjaga percakapan diantara mereka berusaha untuk menghindari rentetan pertanyaan dari mereka padanya.

"Ya," angguk Eri yang tidak keberatan untuk menjelaskan pada Alice. "Bisa dikatakan kalau aku bermain permainan keluarga dalam boneka kayu, pangeran dam putri, pelayan restoran terhadap bangsawan, dan masih banyak lagi."

"Luar biasa pemikiran kanak-kanaknya."

Tampak takjub atas imajinasi yang dimainkan oleh Eri saat menjelaskan pada Alice, Alice merasa kalau ia tidak dewasa sebelum reinkarnasi kemari mungkin ia akan berakhir seperti mereka, memiliki imajinasi luar biasa.

Tapi sayangnya pemikiran dewasa sudah ada di dirinya sejak lama, memungkinkan ia mustahil untuk berimajinasi selain menciptakan sihir yang lebih dasar karena ia sudah tidak bisa berhalusinasi seperti yang dilakukan sewaktu gadis SMP maupun SMA di kehidupan lamanya sebagai Nia.

"Bisakah kita melakukan permainan itu nanti?"

"Ya, tentu saja."

"Tidak, aku keberatan!"

"Huh! Apa maksudmu?"

"Aku keberatan karena Alice lebih memilih bermain bersamamu daripada aku!"

"Justru aku yang seharusnya mengatakan bahwa ia lebih pantas bermain denganku ketimbang bermain bersamamu, permainan ksatria yang dikhususkan untuk para pria."

"Tidak mau!"

"Aku juga sama!"

Eri dan Ken, keduanya saling memegang tangan Alice dan menariknya untuk memperebutkannya agar Alice memutuskan untuk memilih siapa.

Apakah ia harus memiliki permainan ksatria yang dianjurkan oleh Edi ataukah permainan boneka kayu yang dimainkan oleh Eri? Keduanya sangat penasaran selagi tetap menarik tangan Alice selagi menunggu keputusannya.

"Seseorang tolong aku... aku tidak ingin diperebutkan seperti barang saat ini!"

Teriakan dalam hati terdengar dari hati Alice, berharap ada seseorang yang memiliki indra keenam yang bisa mendengar hati orang lain seperti yang dirasakan oleh Alice saat ini.

"Semuanya, tenanglah dulu! Aku akan putuskan untuk siapa yang akan bermain denganku."

Keduanya yang terdiam, mereka melepaskan tangan Alice membuat Alice lega karena mereka tidak keras kepala seperti sebelumnya.

"Anak-anak sungguh mengerikan."

Jikalau Alice tidak menengahi mereka, mereka akan ribut lagi untuk memperebutkannya membuatnya tidak ingin itu terjadi lagi jadi ia memilih untuk memikirkan solusi agar keduanya tidak saling iri satu sama lain.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian putuskan dengan melakukan suit?"

"Suit?"

"Ah, benar juga."

Baru ingat kalau ia berada di abad pertengahan, Alice tahu kalau menyuruh mereka melakukan suit akan sulit untuk melakukan andil agar tidak ada iri dari mereka karena suit belum ada di abad pertengahan.

"Seperti ini...."

Dilakukan dihadapan mereka, Alice mencontohkan untuk membuat gerakan tangan membentuk; gunting, batu, kertas yang membuat Eri dan Ken saling bertukar pandang lalu mengangguk, memahami apa yang Alice lakukan.

"Jikalau kalian gunakan kertas, lawan kalian menggunakan batu maka kalian menang."

Mencontohkan dengan kedua tangannya dihadapan mereka, Alice memperlihatkan pada mereka kelemahan dan kelebihan dari satu bentuk dengan bentuk lain.

"Jika lawan kalian kertas, kalian menggunakan gunting maka kalian menang. Jika lawan kalian menggunakan gunting, kalian menggunakan batu maka kalian menang."

Eri dan Ken saling mendengarkan penjelasan dari Alice, mereka mengangguk memahami apa yang dikatakannya membuat mereka saling memandang satu sama lain siap untuk melakukan suit yang diusulkan oleh Alice pada mereka.

"Mereka mirip satu sama lain ya."

"Ya, kau benar."

Edi dan Lisa saling tersenyum melihat tingkah laku dari Alice yang mirip seperti Luna menengahi pertengkaran antara Eri, putri dari Lisa dan Ken, putra dari Edi yang membuat mereka dejavu atas masa lalu mereka yang selalu bertengkar satu sama lain karena ketidaksukaan mereka.

"Entah mengapa mereka berdua mengingatkanku akan seseorang."

Sekilas, tatapan mata crimson milik Luna menatap ke Lisa dan Edi yang melihat anak mereka, Eri dan Ken membuatnya yakin kalau anak mereka mirip seperti mereka, kedua orangtuanya.

Melihat tingkah anak mereka, mereka yakin kalau mereka akan menjadi dekat satu sama lain disaat keduanya mulai akrab dengan permainan yang ingin mereka tunjukkan pada Alice, putri dari Luna.

Tapi, itu semua di lain waktu. Dimana Alice bermain dengan Eri permainan kesukaannya, dan Ken nanti.

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!