Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perceraian Tanpa Suara
Zizi tidak pulang ke rumah malam itu.
Ia duduk di kursi penumpang mobil Danu, memandangi jalanan yang basah oleh hujan. Tidak ada percakapan panjang. Danu tidak bertanya. Ia hanya menyetir dengan tenang, seolah ini bukan pelarian—melainkan pemindahan hidup.
Mereka berhenti di sebuah bangunan kecil di pinggir kota. Apartemen lama. Sederhana. Bersih.
“Kamu bisa tinggal di sini sementara,” kata Danu. “Tidak ada yang tahu. Bahkan aku jarang ke sini.”
Zizi mengangguk. “Terima kasih.”
Danu menyerahkan kunci, lalu melangkah mundur satu langkah. Tidak masuk.
“Kalau kamu berubah pikiran,” katanya, “telepon aku. Tapi kalau tidak, aku anggap besok kamu sudah siap.”
Zizi menatapnya. “Aku tidak akan berubah pikiran.”
Danu mengangguk sekali, lalu pergi.
Hari pertama, Zizi hampir tidak melakukan apa pun.
Ia mandi lama, membiarkan air hangat mengenai tubuhnya. Tangannya masih perih. Luka itu kecil, tapi terasa nyata. Untuk pertama kalinya, ia mengoleskan salep tanpa tergesa—tanpa ada yang memanggil, tanpa ada yang menyuruh. Ia tidur. Lama. Tanpa mimpi.
Hari kedua, Zizi bangun pagi.
Ia membuka jendela. Cahaya masuk perlahan. Tidak ada suara orang. Tidak ada perintah. Tidak ada tatapan menghakimi.
Ia membuat teh sendiri. Duduk. Menyeruput perlahan.
Lalu ia membuka tasnya.
Dokumen pernikahan. KTP. Buku tabungan lama. Semua yang ia perlukan untuk berdiri sendiri.
Zizi menyusunnya rapi. Bukan karena gugup. Tapi karena ia sudah selesai.
Di sore hari, ia menatap bayangannya di kaca. Wajah itu tampak berbeda. Bukan lebih cantik. Lebih tenang.
Kalau aku kembali sekarang, pikirnya, itu hanya untuk mengakhiri.
Dan dua hari itu bukan tentang melarikan diri.
Itu adalah waktu yang ia butuhkan untuk memastikan
bahwa saat ia pergi nanti,
ia tidak akan menoleh lagi.
.
Zizi mendatangi rumah Arman.
Ia tidak membawa koper besar. Hanya satu tas sedang berisi pakaian dan beberapa dokumen. Tidak ada yang ia tinggalkan dengan sengaja karena sebenarnya, ia sudah lama tidak memiliki apa pun di rumah itu.
Pagi masih muda ketika ia melangkah masuk. Anggun sedang duduk di ruang makan, membaca koran. Anggi belum turun. Rumah tampak seperti biasa. Terlalu biasa untuk sesuatu yang akan berakhir.
“Kamu dari mana?” tanya Anggun tanpa menoleh.
Zizi berhenti di hadapannya.
“Saya mau bicara dengan Arman.”
Anggun menurunkan korannya perlahan. Menatap Zizi, kali ini lebih lama dari biasanya. “Dia kerja,” jawabnya dingin. “Kamu pikir rumah ini hotel?”
Zizi mengangguk pelan. “Kalau begitu saya tunggu.” Nada suaranya datar. Tidak menantang. Tidak takut.
Anggun mendengus kecil. “Jangan buat masalah.”
Zizi tidak menjawab.
Ia duduk di sofa ruang tengah. Menunggu. Jam dinding berdetak seperti hitungan mundur yang terlalu tenang.
Arman pulang lebih cepat dari biasanya sore itu.
Ia terkejut melihat Zizi duduk rapi di ruang tengah, tas di samping kakinya. “Kamu kenapa?” tanyanya. Bukan khawatir—lebih ke heran.
“Kita perlu bicara,” kata Zizi.
Arman menoleh ke arah ibunya. Anggun berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan.
“Bicaralah,” kata Anggun. “Di sini saja.”
Zizi menatap Arman. “Berdua.”
Ada jeda singkat. Arman menghela napas, lalu mengangguk.
Mereka masuk ke ruang kerja kecil di samping ruang tamu. Pintu ditutup. “Ada apa?” tanya Arman, suaranya lelah. “Kalau soal kemarin....”
“Aku mau cerai,” potong Zizi.
Kata itu jatuh tanpa penekanan. Tanpa getar.
Arman membeku beberapa detik. Lalu tertawa kecil, tidak percaya. “Kamu lagi sakit. Jangan ngomong yang aneh-aneh.”
Zizi menggeleng. “Aku sehat. Justru sekarang.”
Arman menatapnya, mencoba membaca wajahnya. Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Itu yang membuatnya tidak nyaman. “Kamu kenapa sih? Ibu juga cuma....”
“Aku tidak datang untuk menyalahkan siapa pun,” sela Zizi. “Aku datang untuk mengakhiri.”
Arman mengerutkan kening. “Kamu sadar nggak, cerai itu apa artinya?”
“Aku sadar,” jawab Zizi. “Artinya aku berhenti hidup sebagai seseorang yang tidak dianggap.”
Arman berdiri. “Kamu berlebihan. Semua rumah tangga juga begitu.”
Zizi tersenyum tipis. “Kalau begitu, kamu tidak akan keberatan.”
Arman terdiam. “Kamu mau apa?” tanyanya akhirnya. “Harta? Uang?”
Zizi menggeleng. “Aku tidak mau apa pun dari kamu.”
Jawaban itu justru membuat Arman semakin gelisah.
“Jangan main drama, Zi,” katanya lebih keras. “Kita bisa bicarakan baik-baik.”
“Ini baik-baik,” jawab Zizi pelan. “Dan ini pembicaraan terakhir.”
Ia mengeluarkan map tipis dari tasnya. Meletakkannya di meja.
“Aku sudah bicara dengan pengacara. Gugatan cerai akan masuk minggu ini. Tanpa tuntutan. Tanpa ribut.”
Arman menatap map itu lama. Terlalu lama. “Kamu sudah rencanakan ini,” katanya akhirnya.
Zizi mengangguk. “Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak aku berhenti berharap.”
Hening.
Untuk pertama kalinya, Arman merasa kehilangan kendali. Bukan karena Zizi pergi, tapi karena ia pergi tanpa meminta izin, tanpa meminta apa pun.
“Kamu akan menyesal,” kata Arman dingin.
“Mungkin,” jawab Zizi. “Tapi bukan karena ini.”
Anggun menunggu di luar dengan wajah keras.
“Sudah puas?” tanyanya sinis saat Zizi keluar membawa tasnya.
Zizi menatapnya. Tidak menunduk. Tidak melawan.
“Terima kasih sudah mengajarkan saya satu hal,” katanya tenang.
“Apa?”
“Bahwa bertahan tidak selalu mulia.”
Anggun tertawa kecil. “Perempuan seperti kamu tidak akan bertahan di luar.”
Zizi tersenyum tipis. “Kita lihat saja.”
Ia melangkah pergi. Tidak menoleh. Tidak pamit.
Di ambang pintu, Anggi baru turun tangga. Mereka berpapasan. Anggi melirik tas Zizi. “Mau ke mana?” tanyanya ketus.
Zizi berhenti sejenak. Menatap gadis itu. “Ke hidupku sendiri,” jawabnya. Lalu ia pergi.
Malam itu, Arman duduk sendiri di ruang kerja. Map tipis masih terbuka di meja. Kata cerai tercetak jelas di dokumen itu. Tidak ada teriakan. Tidak ada air mata. Tidak ada adegan dramatis yang bisa ia salahkan.
Hanya keheningan dan rasa kehilangan yang datang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Dan untuk pertama kalinya,
Arman menyadari satu hal yang terlambat: Zizi tidak meninggalkannya karena emosi.
Ia pergi karena sudah selesai.
Keesokan paginya, Anggi mondar-mandir di depan lemari, wajahnya merengut. Laci dibuka, ditutup lagi, lalu dibuka kembali seolah kaus kakinya akan tiba-tiba muncul jika ia memandang lebih lama.
“Kenapa sih nggak ada apa-apa di sini?” gerutunya. “Biasanya sudah disiapin Zizi.”
Gadis berseragam putih abu - abu itu membongkar tumpukan pakaian secara serampangan. Satu kaus kaki ditemukan, tapi pasangannya entah ke mana. Ia menghela napas panjang, separuh kesal, separuh bingung—sesuatu yang tak pernah ia rasakan saat Zizi masih ada di rumah.
Di ruang tengah, Anggun juga mengalami hal serupa. Ia menatap dapur yang terasa asing. Meja makan kosong, tidak ada aroma masakan hangat, tidak ada teh manis kesukaannya yang biasanya sudah mengepul sejak subuh.
“Kenapa air belum direbus?” gumamnya kesal, padahal suaranya terdengar lebih seperti keluhan pada dirinya sendiri.
Ia membuka lemari piring, mencari-cari tanpa tujuan. Untuk pertama kalinya ia sadar, betapa banyak pekerjaan rumah yang diam-diam ditangani Zizi—tanpa suara, tanpa dipuji.
Anggi keluar dari kamarnya dengan rambut berantakan.
“Mama… kaus kaki Anggi mana? Besok-besok suruh Zizi jangan ngilang, ribet jadinya,” katanya ketus.
Anggun terdiam.
Ada jeda hampa menggantung di udara—diisi oleh nama yang selama ini mereka rendahkan, tetapi diam-diam menopang keseharian mereka.
Rumah itu masih sama, tapi terasa lebih dingin, lebih berisik oleh keluhan yang tak menemukan siapa pun untuk disalahkan selain diri mereka sendiri.